Dari Tepi Sungai Rhein

Tepi sungai Rhein, 18 November 2017

Jembatan sungai Rhein begitu terkenal dengan kisah tentang gembok cinta. Permukaannya dipenuhi berbagai bentuk gembok dengan berbagai nama. Tapi bagiku cerita paling menarik tentang sungai Rhein justru diceritakan oleh Bude.

Pada suatu masa, sungai ini menjadi pemisah antara si miskin dan si kaya. Kisah tentang ketidaksetaraan yang telah berjalan sekian lama. Kisah yang tak pernah berakhir, tetapi justru terus menguat hingga hari ini.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.54 AM

“Buk, Pak, aku keterima beasiswa! Tiga bulan lagi sudah harus berangkat ke kampus khayalan di negeri impian.”

Ibu dan Bapak memelukku. Aku bisa merasakan air mata mereka menetas perlahan. Kabar ini memang tak akan bisa membayar perjuangan mereka membesarkanku anak semata wayangnya. Mati-matian mereka bertani, menggarap sawah kami yang tak seberapa hingga aku bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Tapi setidaknya aku bisa meringankan sedikit beban mereka dengan sebuah kebanggaan.

Negeri ini sungguh makmur. Kesejahteraannya tergambar dari teknologi di berbagai hal. Transportasi publik yang jadualnya tak meleset meski semenit. Mobil yang mesinnya mati otomatis setelah berhenti sekian detik. Budaya tepat waktu, hingga disiplin di jalan raya, juga bersih tanpa sampah.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.54 AM1

Penyesuaian diri bukan proses yang terjadi begitu saja. Jet lag, ketinggalan bus karena tak mampu mengukur cepat langkah kaki. Di negeri ini kamu bisa merencanakan perjalanan dengan sangat mudah. Satu aplikasi menunjukkan jarak, waktu, dan alat tranportasi apa yang bisa kita tempuh. Tapi jangan sekali-sekali percaya dengan prediksi waktu untuk berjalan kaki. Kalau mereka bilang bisa ditempuh dalam 10 menit. Setidaknya kaki pendekku baru bisa sampai dalam 15 menit.

Proses di kelas pun bukan persoalan mudah. Bukannya aku tidak bisa mengikuti pelajaran. Kurikulum di sini sangat mendorong kita untuk berbicara di kelas. Ketika mereka, yang mayoritas dari negara-negara adikuasa, fasih berbahasa inggris dengan percaya dirinya. Sementara aku, perempuan yang lahir di sebuah desa di tengah pulau Jawa. Anak gadis yang terbiasa manut dan diam seribu Bahasa. Lebih terbiasa mendengar dan mengangguk, ketimbang berbicara dan menyanggah. Di ruang kelas ini, pun di kepalaku sesak akan jawaban dan pernyataan yang menyeruak ingin ke luar, aku tetap diam. Tersenyum, dan mendengarkan.

Di malam hari, ketika tugas-tugas sudah berhasil terisi, adalah waktu untuk diriku sendiri. Karena kelelahan sepanjang hari hanya bisa diobati dengan sendirian. Kadang kulewati dengan berjalan sendirian di jalan setapak menuju taman. Sesekali mampir di sebuah bar, sekedar menikmati musik dan sebotol minuman.

Di situlah aku bertemu dia.

Dia menyapa di tengah keramaian, ketika aku hampir jatuh tertabrak orang-orang. Detik itu tubuhku tak jadi roboh, tapi hatiku jelas-jelas jatuh. Dia bukan pria dengan wajah manis dan senyum ramah. Kerutan di dahi melengkapi wajahnya yang selalu terlihat serius. Tapi matanya. Mata di balik bingkai persegi panjang itu terlihat sangat tajam dan menyala.

“Hai, kamu gapapa?”

Aku hanya terpaku. Dia menjulurkan tangannya, memperkenalkan diri, dan mengingatkan bahwa kami ada di kelas yang sama.

Sejak itu, kami sering jalan bersama. Waktu untukku sendiri menjadi sering lenyap. Tapi berdua dengannya, aku tak pernah merasakan lelah. Kami berjalan bersama, seringkali tanpa kata. Menyusuri jalan di taman, atau berdansa menikmati sedikit musik dengan sebotol minuman.

Kami menjadi dekat karena sebuah persamaan. Kami sama-sama berasal dari negara berkembang, berjuang hanya untuk sekedar melanjutkan kehidupan. Berkerja dua kali lipat hanya untuk mendapat uang, makan, dan sedikit lembar pakaian.

Negerinya berada di satu benua dengan negeri adikuasa, di bagian selatannya. Bahasa Spanyol yang menjadi Bahasa sehari-harinya pun buah warisan dari penjajahan 3 abad lamanya.

“Belanda menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Dari penjajahan itulah mereka bisa membangun teknologi demikian dasyat. Menjadi negeri makmur dan maju, meninggalkan kami dalam kondisi miskin dan tereksploitasi.”

“Iya, dan penjajahan di negerimu, di negeriku, masih terus terjadi sampai sekarang. Lihat saja sistem perdagangan, yang memang didesain untuk menjadikan kita smakin miskin dan mereka semakin kaya. Petani tradisional, disuruh bersaing dengan teknologi tinggi, ga boleh disubsidi, import pun ga boleh dibatasi meski hanya melalui pajak atau tarif masuk.”

Baru sekarang aku menyadarinya. Di kampusku dulu, aku belajar soal pembangunan. Katanya pembangunan itu untuk kemajuan, supaya manusia bisa semakin terpenuhi kebutuhannya dan hidup semakin layak. Investasi itu katanya alih teknologi. Membuka lapangan pekerjaan dan memberi orang banyak uang.

“Coba kamu sekali-sekali lihat di negerimu. Berapa banyak investasi yang menggusur penduduk? Bukan hanya menggusur rumahnya, tapi juga lahan untuk bertani, atau bahkan menggusur nelayan dari laut tempat mereka mencari ikan. Belum lagi industri yang ekspolitatif, dan begitu merusak lingkungan, membunuh ekosistem termasuk manusianya. Hari ini kita miskin uang. Anak cucu kita nanti bisa jadi sudah tak punya bumi untuk mereka tinggal.”

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.55 AM

Satu hari dia mengajakku ke sebuah tambang batu bara. Jalanan menuju ke sana awalnya adalah perumahan dengan berbagai pohon dan sawah. Namun tiba-tiba kita disuguhkan pada pemandangan tambang yang membuat perasaanku menjadi kering. “Aku dengar di negerimu, ada tambang emas yang lebih parah dari ini.”

Hari lainnya dia mengajakku ke sebuah perpustakaan yang ada di dalam hutan. Hutan itu tidak jauh dari lokasi tambang. “Hutan ini mulai rusak karena tambang. Kami tinggal di sini, mencoba merawatnya. Sekarang kami sudah 40 orang.”

Hutan itu tentu saja dingin, dan jauh dari teknologi yang bisa berjalan sendiri hanya dengan mencemplungkan koin. Tetapi mereka hadir di sini untuk menciptakan kehidupan. Merawat kehidupan dengan kehidupan.

DN4ryCOWkAEw52V.jpg_large

credit: 350 twitter

Awal November 2017. Konferensi tentang Perubahan Iklim diadakan di negeri ini. Kami tentu tak punya akses untuk masuk ke dalamnya. Maka kami melakukan satu-satunya hal yang bisa kami lakukan. Berteriak di jalanan, berdemo, bergabung bersama ribuan orang.

Keep coal in the ground

Keep oil in the soil

We say Hey, Hey, Ho, Ho, Fossil Fuel has got to go

No Deforestation, No False Solution

What do we want? Climate Justice. When we do want it? Now

We are unstoppable, another world is possible

People gonna rise like the water we gonna calm this crisis down

We hear the voices of great granddaughter, saying climate justice now.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.56 AM

Kami berdemo dengan riang. Musik, kostum, patung. Kami menyanyi, menari, berpelukan, dan berciuman. Kami gembira karena kami tahu bahwa kami tak sendirian. Karena kami yakin solidaritas ini adalah kekuatan dalam berjuang.

Minggu ketiga November. Hari ini dia mengajakku bertemu dengan banyak orang. Mereka datang dari berbagai negara untuk masuk ke dalam Konferensi sebagai observer. Hari ini Konferensi Dunia itu hampir selesai. Mereka bilang pemimpin-pemimpin negara akan memberikan pernyataan. Ah, betapa banyak istilah rumit yang mereka sampaikan. Meski aku berusaha setengah mati, nyatanya tak banyak yang bisa kumengerti

Aku sampai ke kamar, ketika malam sudah datang. Kunyalakan ponselku yang baterainya sudah habis berjam-jam lalu. Ketika sebuah sms kuterima. Dari Bibiku:

“Nak, pulang Nak. Bapak Ibumu mati. Ditembak tentara yang mau ambil tanahmu untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Di televisi, kulihat seorang menteri dari sebuah negeri.

“Kami siap untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi. Kami siap meningkatkan produksi kelapa sawit, sebagai bio energi.”

Dan orang-orang di dalam ruangan itu bertepuk tangan.

Iklan