Laki-laki Feminis?

Laki-laki Feminis?

 

Pertanyaan ini makin sering menggelitik seiring dengan berbagai kegiatan dan program (yang katanya) untuk perempuan, tetapi menyasar laki-laki sebagai ‘pelaku’ utama atas nama keterlibatan. Saya sendiri belajar feminis, betul-betul melalui proses panjang, dari pemahaman sekedarnya, mencoba memfasilitasi berbagai ruang penguatan pemahaman dan kesadaran feminis, dan masih terus berproses hingga sekarang. Dalam proses tersebut, pemikiran saya pun menggeliat dengan begitu dinamis. Hasil bacaan, yang mayoritas bukan saya dapatkan dari buku, melainkan buah dari proses refleksi mendalam terkait pengalaman saya sendiri, maupun pengalaman perempuan lainnya.

 

Refleksi Pengalaman Perempuan kemudian menjadi kunci. Kenapa? Karena feminisme itu sendiri merupakan ideologi yang berbasis pengalaman perempuan. Karena pengalaman itu sendiri, tidak bisa disamakan, digeneralkan, ataupun diklaim juga bisa dirasakan orang lain. Pengalaman sangat menyangkut rasa, personal, sehingga bekas yang digoreskan pun menjadi begitu personal, dan lekat, tanpa bisa ditukar semata-mata hanya melalui cerita lisan, atau deretan kata di buku bacaan. Pengalaman perempuan yang mengalami ketertindasan karena berbagai struktur kuasalah yang akan mampu menghadirkan kesadaran feminis. Kesadaran feminis yang kemudian menggerakkan kita untuk berjuang melawan berbagai ketertindasan tersebut.

 

Lalu, siapa yang mengalami pengalaman perempuan, sehingga bisa merefleksikan ketertindasan perempuan?

 

Ya, Perempuan.

 

Jadi siapa yang paling tahu strategi apa yang harus dilakukan, agenda apa yang menjadi target, dan bagaimana memimpin gerakan?

 

Ya, Perempuan

 

Bahwa salah satu tujuan feminis adalah betul untuk perubahan nilai, dengan menghapuskan budaya patriarki. Bahwa perubahan nilai perlu dilakukan dan didukung oleh semua orang tidak terkecuali laki-laki di dalam setiap ranah, dan aspek kehidupan. Maka keterlibatan laki-laki, serta idelogisasi feminis untuk laki-laki adalah benar dibutuhkan. Bahwa para our supporting brother selalu bisa bergerak bersama dan mendukung di belakang kita.

 

Namun demikian, mengubah budaya patriarki sendiri berarti merombak struktur kuasa. Tidak akan cukup hanya bicara pola relasi, ataupun ketimpangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki. Pada struktur kuasa yang berlapis-lapis tersebut, perempuan dengan berbagai keragaman identitasnya telah menjadi yang disubordinasi di dalam setiap lapisannya.

 

Ruang perempuan telah sedemikian sempit, bukan hanya terkait ruang aman untuk tidak mengalami kekerasan, tetapi juga ruang untuk bergerak, bersuara, ber-ide dan menuangkan gagasannya, merancang, merumuskan, apalagi memimpin. Sedemikian sempit dalam berbagai sektor dan aspek kehidupan. Dari mulai menentukan apakah dia ingin sekolah atau menikah, ingin punya anak atau tidak, menentukan tanaman yang ingin ditanam, dengan benih yang mana, menentukan akan menjual tanah yang selama ini digarap, atau mempertahankannya, menentukan hendak dibuat apa uang hasil berkerjanya, apalagi bicara menentukan arah pembangunan, kebijakan publik dan pemerintahan.

 

Di tengah ruang perempuan yang telah sedemikian sempit di atas, kemudian muncul He for She, atau program lainnya yang bertajuk Man for Woman. For adalah untuk. Dia (laki-laki) untuk dia (perempuan), Laki-laki untuk perempuan. Seolah-olah hanya kelelakianlah yang bisa berbuat sesuatu untuk perempuan, maka persoalan perempuan akan bisa selesai. Lagi-lagi, laki-laki menjadi subjek, yang (dianggap) mampu/bisa melakukan sesuatu untuk perempuan. Cara pandang yang demikian mereplikasi objektifikasi perempuan yang dilanggengkan oleh patriarki. Dengan mengatasnamakan program perempuan, semata-mata hanya menargetkan perempuan sebagai objek, bukan subjek utama yang bergerak apalagi memimpin gerakan.

 

Tidak hanya itu, jengah rasanya melihat atau mendengar berbagai kegiatan yang berbicara tentang perempuan, tetapi justru di-narasumber-i oleh mayoritas (bahkan seluruhnya) laki-laki. Berapa kali saya dengar orasi dan pidato laki-laki membicarakan tentang perempuan, masalah perempuan, dan bagaimana gerakan perempuan harus dijalankan.

 

Mari kembali bicara soal struktur kuasa. Maka ‘hadirnya’ laki-laki sebagai yang terus bicara dan harus didengar, sebagai yang memimpin dan menggurui tentang perempuan dan gerakan perempuan. Ini adalah contoh nyata bagaimana struktur kuasa bekerja. Mendominasi, merebut, membungkam, mempersempit ruang perempuan. Dan yang menyakitkan, mereka hadir dengan mendompleng gerakan perempuan. Atas nama keterlibatan, atas nama kesetaraan, atas nama sebagai laki-laki feminis, mereka tengah menjalankan struktur kuasa, persis yang diciptakan oleh budaya patriarki.

 

 

Catatan: Tulisan ini dibuat berdasarkan refleksi dan kegelisahan terkait gerakan feminis, yang diperkaya melalui diskusi dengan beberapa kawan.

Perkosaan oleh Hukum dan Masyarakat

Diperkosa 15 Orang, Rahim Korban Membusuk

http://regional.kompas.com/read/2014/01/28/1017386/Diperkosa.15.Orang.Rahim.Korban.Membusuk

Pertama membaca berita di atas, perasaan tu rasanya kecabik-kecabik. Kasus ini menunjukan betapa hukum, masyarakat, budaya, dan banyak aspek lainnya tidak berpihak pada perempuan, dalam hal ini perempuan korban perkosaan.

Ketika di berita diungkapkan bahwa LBH Bandar Lampung tidak lagi mendampingi korban dengan alasan korban tidak kooperatif pada saat menjalani pemeriksaan, saya kembali teringat pengalaman beberapa orang kawan:

“Dia ga mau lagi ke penyidik, karena dia merasa ditelanjangi lagi ketika ditanya oleh penyidik.”

“Sama polisi itu, bahkan ditanya alas kaki apa yang kita pakai. Waktu aku bilang pakai sandal jepit, dia menuduhku berbohong dan aku pasti menggunakan high heels.”

Dari dua pernyataan di atas, bisa dibayangkan situasi yang dihadapi ketika korban perkosaan berhadapan dengan hukum, juga apa yang ada di pikiran para penyidik? Bagaimana mereka malah cenderung mencari-cari sebab perempuan diperkosa. Apakah bajunya, apakah alas kakinya, apakah prilakunya. Pendeknya, mereka justru berusaha dengan segala cara untuk menyalahkan korban.

“Lagian kalaupun pelakunya dihukum paling beberapa tahun, ga sebanding sama perasaan diperkosa berkali-kali.”

Berapa banyak si kasus perkosaan yang benar-benar berakhir dengan keadilan bagi para korban? Seberat apa si mereka dihukum? Padahal mau seberat apapun hukuman mereka, tetap tidak akan sebanding dengan trauma seumur hidup yang dialami oleh korban.

Beberapa tahun yang lalu, waktu masih kuliah, sempat ada kasus perkosaan yang dialami kakak kelasku oleh dosen pembimbingnya yang juga dosenku. Seorang pengacara terkenal yang baru-baru ini muncul kembali di televisi karena membela seorang koruptor.

Lalu bagaimana dengan kasus perkosaannya? Dia dipecat. Itu saja. Proses hukumnya tidak dilanjutkan dengan alasan pembuktian yang sulit. Selesai. Dia kembali berkarier, sementara sang korban kehilangan keceriaan yang dulu menjadi ciri khasnya.

Pasal untuk perkosaan yang tidak mengakomodir seluruh bentuk perkosaan, proses pembuktian yang sulit, dan perspektif aparat penegak hukum yang cenderung menyalahkan perempuan. Itulah dunia hukum kita. Namun kita tidak akan selesai jika hanya berbicara masalah hukum. Hukum buatan manusia, didasari oleh cara pandang yang ada di masyarakat, diwakili oleh para pejabat yang merumuskan kebijakan-kebijakan.

Ketika perkosaan dianggap biasa, ketika bahkan banyak laki-laki yang melakukan perkosaan, merasa berhak melakukannya.

 

“Bayangkan saja kalau orang naik Mikrolet duduknya pakai Rok Mini, kan agak gerah juga” (Fauzi Bowo- saat itu Gubernur DKI Jakarta)
“Soalnya ada yang sengaja, kadang-kadang ada yang sama-sama senang, mengaku diperkosa,” (M. Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)
“Yang diperkosa dengan yang memerkosa ini sama-sama menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati.” (Daming Sunusi, Calon Hakim Agung, Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin)

Pada kasus yang sebutkan di awal, keluarga, dalam hal ini ayah korban yang mengambil keputusan atas perkosaan terhadap anaknya, memilih untuk berdamai dengan pelaku. Mungkin karena perkosaan dianggap biasa, atau mungkin karena yang memiliki kuasa untuk mengambil keputusan adalah sang ayah, bukan yang mengalami perkosannya. Entahlah.

Untuk kasus RW yang juga ramai diberitakan media. Bagaimana kita melihat media justru memperkosa korban berkali-kali dengan pemberitaan-pemberitaan yang menyudutkan.

SPEKTANEWS (Jakarta) Mahasiswi berinisial RW (22) yang hamil diakibatkan hubungan asmaranya dengan seorang penyair, Sitok Srengenge bersikap cukup membingungkan. Pasalnya ia tak ingin Sitok bertanggung jawab dengan cara menikahinya. (http://www.spektanews.com/2013/12/tak-sudi-dinikahi-sitok-rw-harus-ungkap.html)

Lalu kembali ke kasus yang terjadi ketika aku kuliah. Bahkan dukungan bagi korban terdengar terlalu samar dari fakultas kami. Sebuah seminar tentang kekerasan seksual justru dilakukan di Fakultas sebelah. Dan yang paling mencengangkan bagiku ketika mendengar komentar seorang adik kelas ketika si pelaku berpamitan di kelasnya, karena tidak lagi bisa mengajar.

“Sedih banget deh tadi bg TN (pelaku) pamitan, semua angkatan gw juga pada sedih dia ga bisa ngajar lagi.”

Karena perkosaan dianggap biasa? Karena mereka merasa si pelaku berhak mempekosa, maka kepergian si pelaku yang mendapat sanksi tidak lagi bisa mengajar pantas disesali dan disedihkan? Entahlah.

Padahal trauma itu lekatnya seumur hidup. Aku merasa perasaan yang dialami oleh korban perkosaan tidak bisa dirasakan oleh orang lain yang tidak merasakannya. Maka setiap berhadapan dengan mereka, aku tak pernah mengatakan bahwa aku memahami apa yang kamu rasakan, atau aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Tidak. Aku tidak sanggup merasakannya.

“Termasuk 7 (tujuh) kali perkosaan, mulai dari pelaku, masyarakat, pendamping korban, agama (institusi/individu), polisi, pengadilan, dan media.”

Kenapa OBR

Kenapa aku ikut One Billion Rising?

Well, ada banyak sekali alasan untuk ikut gerakan ini. Karena bagiku OBR merupakan gerakan positif yang memberikan kesan tersendiri bagiku. Untuk ulasan pengalamanku tahun lalu, kawan-kawan bisa membacanya di tautan berikut, yang menunjukan betapa aku mendapatkan banyak hal dengan mengikuti OBR https://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2013/02/15/melawan-bersama-menari-bersama-bangkit-bersama/.

Namun ada salah satu alasan yang belum pernah aku ungkapkan. Aku mengalami pelecehan seksual sejak kecil, oleh orang-orang di sekitarku. Terkait bentuk pelecehan seksual, masih sulit rasanya untuk kupaparkan di sini. ‘Tidak sampai’ peneterasi memang. Namun trauma dan dampaknya masih bersisa hingga sekarang.

Ada banyak cerita yang aku dengar tentang kekerasan terhadap perempuan. Perkosaan dan kekerasan seksual adalah salah satunya. Menjadi berat ketika di dalam budaya kita korban perkosaan justru kerap dipersalahkan. Perkosaan bukan sekedar menjadi persoalan personal, persoalan pelaku, tetapi juga budaya, tuduhan yang dilontarkan, perilaku aparat hukum, stigma yang dilekatkan, membuat trauma yang dirasakan korban menjadi berlipat, berlapis, dan lebih menyakitkan.

Hari ini, seorang kawan lama menghubungiku dan menceritakan bahwa temannya menjadi korban perkosaan. Aku membagikan sedikit informasi yang aku tahu mengenai langkah-langkah yang bisa dilakukan. Temanku berkata, temannya tidak lagi ingin berurusan dengan polisi.

“Dia ngerasa ‘ditelanjangi’ lagi kalo harus berurusan sama penyidik. Dan si rapist nanti Cuma dihukum beberapa tahun aja. Ga sepadan sama malu dan sakit yang dia tanggung.”

Yup. Betapa hukum dan budaya tak berpihak pada perempuan, pada korban perkosaan. Ini harus dilawan. Kita tidak bisa diam.

Maka insiatif apapun yang kita lakukan untuk melawan, mari kita lakukan. Karena diam bukan pilihan.

Kain Batik untuk Simbok

Terinspirasi dari kisah nyata seorang Pekerja Rumah Tangga, Marlena
 
Anak perempuan itu. Tak lebih dari 14 tahun usianya, Remaja, Belia
Di saat kawan-kawan seusianya sibuk dengan buku dan pena, Marlena meninggalkan bangku sekolah. Dia tinggalkan rumah sederhananya di Tuban, menuju kota Surabaya. Untuk bekerja. Untuk mencari nafkah. Untuk menghidupi keluarganya.
 
Dalam setiap langkahnya menuju Surabaya. Ada cita-cita yang dia gantungkan setinggi bintang, ada harapan yang ia tanam dalam-dalam. “aku ingin kehidupan yang lebih baik, ingin punya uang, ingin belikan Simbok kain batik, Sepeda untuk Bapak, dan permen besar yang kemarin waktu di pasar, dipandangi Adik sampai air liurnya menetas.”
 
Marlena tersenyum. Langkah kanak-kanaknya yang riang, mengantarkannya ke kota besar. Membuatnya luluh pada keramaian yang menjanjikan, kesibukan yang melenakan.
 
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, kabar pun datang dari Marlena. Bukan, bukan kabar tentang cita-cita, bukan kabar tentang kain batik, sepeda, ataupu permen besar. Surat kabar Surabaya, menulis begini:
 
“Korban sering dihukum, tidak diberi makan selama berhari-hari dan sering dipaksa makan makanan membusuk dan dipaksa minum air bekas cucian,”
 
“Gajiannya dibawa majikan. Kalau korban melakukan kesalahan seperti mencuci pakaiannya dan luntur, gajinya langsung dipotong. Lemari es rusak dan diservice, tapi biaya service diklaim ke korban karena tersangka menuduh lemari es itu dirusakkan korban.
 
“Korban sering disiksa, dipukuli dengan sapu, alat penggorengan yang masih panas, diinjak, disiram air panas, dicubit, ditendang dan dirantai yang dilakukan tersangka pada waktu berurutan dan disiksa secara perorangan kadang kala bersama-sama diantara tersangka,”
 
korban yang pernah disekap dan tidak diberikan makan dan minum selama seminggu itu, disuruh tidur bersama anjing herder. Kandang anjing itu juga kotor dan bau pesing. Korban hanya tidur berlaskan bekas daun pintu yang terbuat dari triplek.
 
“Dengan kondisi kaki dirantai, korban disuruh ngepel mulai pagi sampai malam hari. Kalau salah, langsung ditendang dan injak-injak,”
 
“Marlena mengalami cacat tubuh permanen. Tubuhnya mengalami luka bakar permanen, memar, melepuh. Bagian tubuh yang mengalami luka, antara lain, kaki, tangan, dan punggung. bahkan paha remaja itu terancam diamputasi akibat luka yang sangat parah.”
 
Marlena. Itukah Marlena kita yang lugu dan plos? Yang usianya tak lebih dari 14 ketika meninggalkan rumah sederhananya di desa?
 
Di saat kawan-kawan seusianya tengah mencapai puncak remaja, merangkai cita, menggapai cinta. Marlena kita terbaring tak berdaya di rumah sakit. Tubuhnya tak lagi sama dengan berbagai legam, dan bilur. Dalam tidurnya Marlena melihat rumahnya yang teramat sederhana. Tapi di rumah sederhana itu, ada Simbok, ada Bapak ada adik. Mereka sedang tersenyum, seraya merentangkan tangan, menyongsong kedatangan Marlena dengan pelukan

(Sumber berita yg dikutip: detik.com Surabaya)

Berdaulat seperti Amba

amba

Baru semalam aku menghabiskan buku berjudul Amba. Sebuah buku berlatar sejarah Buru, dan sekitarnya karya Laksmi Pamuntjak. Biasanya untuk buku setebal hampir 500 halaman itu, aku hanya membutuhkan waktu semalaman. Namun untuk Amba, aku cukup bersabar, membaca kata per kata, menikmati setiap kisah menawan, melompat dari serat centhini, ke berthold brecht. Hingga total tiga hari aku membaca buku ini. meski memang aku tidak membaca terus menerus, melainkan diselingi oleh berbagai kegiatan, dari mulai kondangan sampai mengejar deadline laporan tahunan.

Aku ingin membahas mengenai Amba, meskipun bukan seperti resensi yang akan banyak membahas mengenai isi buku, kelayakan cerita, dan lain-lain. Secara umum, aku pribadi menikmati buku ini. meski memang ceritanya sendiri tidak terlalu istimewa, dan endingnya datar. Namun buku ini mengupas berbagai latar belakang secara detil. Buku ini tidak hanya menceritakan tentang Amba, yang bertunangan dengan Salwa, kemudian berhubungan seks dengan Bhisma, dan akhirnya lari bersama Adalhard. tapi jauh sebelum iu. Bagaimana karakter Amba dibentuk, bagaimana kisah sebuah serat centhini sudah mengukir takdir Amba sejak nama itu dilekatkan kepadanya. Bahkan jauh sebelum itu, buku ini bercerita bagaimana latar belakang Ibu dan Bapak Amba.

Buku ini juga bercerita tentang Bhisma jauh sebelum ia menjadi dokter. Bagaimana si bungsu terbentuk dengan kesehariannya sejak kecil, ketika dia memilih merantau, dan bagaimana akhirnya dia memutuskan untuk mengambil kuliah kedokteran di Leipzig, mengenal Berthold Brecht, dan  Rosa Luxemburg. Buku ini seakan ingin menunjukan, bahwa kadang kala kita hanya melihat segala sesuatu di ujung, atau mungkin di permukaan. Padahal, segala hal datang dengan alasan. Dengan sebab muasabab. Maka kisah Amba Bhisma bukan berawal ketika mereka bertemu di dekat pohon di suah RS Kediri. Tetapi jauh sebelum itu, ketika karakter Amba terbentuk, begitupun Bhisma.

Well, sepertinya pembahasanku sudah meracau kemana-mana. Padahal yang ingin kuraikan di tulisan ini adalah bahwa aku jatuh pada sosok Aba. aku belum pernah membaca serat Centhini, ataupun Mahabarata. Maka Amba yang kukenal melalui buku Amba, adalah Amba yang pertama kukenal.

Amba memperlihatkanku tentang makna berdaulat. Tentang betapa ingingnya seorang perempuan memiliki kedaulatannya sendiri, memiliki otoritas untuk membuat keputusan, menjalankan keputusannya, termasuk segala risikonya. Amba tidak hanya mempercayai ‘keberdayaan’ perempuan tersebut sejak ia kecil. Tapi Amba benar-benar membuktikannya dalam langkah-langkah hidupnya. Bagaimana dia yang lahir di sebuah desa kecil, dengan ayah kepala sekolah, dan Ibu rumah tangga yang mencari hasil tambahan dengan berjualan kue. Tapi Amba punya mimpi. Dia ingin meneruskan pendidikannya sampai ke jenjang kuliah. Maka ketika di usianya yang 19 dia dianggap perawan tua oleh lingkungan, dia memantapkan langkahnya masuk Fakultas Sastra UGM.

Satu hal yang kupelajari sejak dulu, terutama melalui pengalaman, bahwa ketika kita (setidaknya saya), mengambil keputusan sendiri, maka keputusan tersebut lebih mudah untuk dijalani, juga konsekuensi-konsekuensinya, pun konsekuensi itu mengandung hal yang membuat tidak nyaman. Tapi begitulah. Bagiku berdaulat menjadi begitu penting. Bagaimana aku memilih mauku, sikapku, langkahku. Bagaimana aku menentukan apa yang aku lakukan, bagaimana aku mengambil keputusan, dan menjalani keputusan itu beserta segala konsekuensinya.

 

Maka ketika Amba  memilih untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan kehidupan kecilnya dan keluarganya di Kadipura, meninggalkan Salwa, tunangannya yang begitu mencintai dan mempercayainya, juga meninggalkan Bhisma yang telah menanamkan benih di rahimnya. Itulah keputusan Amba, suka tidak suka, manis atau pahit, Amba menjalaninya. Menjalaninya sampai akhir

Perempuan di Tengah Konflik

Bebrapa hari yang lalu, SP menyelenggarakan konferensi pers terkait 16 hari anti kekerasan tergadap perempuan. saya masih ingat proses diskusi untuk mempersiapkan acara tersebut, salah satunya adalah ketika menentukan tema. Saat itu, kami juga membicarakan serangan Israel terhadap palestina, dimana perempuan dan anak-anak banyak menjadi korban. diskusi kami pun terus mengalir betapa di berbagai konflik yang ada, perempuan kerap menjadi korban.

Para perempuan tidak hanya kehilangan suami atau ayahnya. Kadang mereka pun menjadi korban serangan, dan kehilangan nyawanya. Namun yang juga ironis adalah di dalam peperangan/konflik banyak perempuan yang diperkosa, atau dipaksa melayani nafsu para pria yang terlibat dalam konflik dan peperangan tersebut.

Kita sama-sama tahu bahwa Komisi Nasional Anti kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dibentuk pasca terjadinya kerusuhan Mei 98. Berbagai penelitian yang dilakukan telah membuktikan banyaknya perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa ketika itu. Sayangnya, banyak pihak yang menolak penelitian tersebut, dengan alasan selama ini korbannya ‘tidak kelihatan.’ Tampaknya banyak yang tidak memahami bahwa pemerkosaan pasti menimbulkan trauma kepada perempuan, dan sangat wajar apabila banyak perempuan korban perkosaan yang tidak mau muncul di publik.

Ketika menceritakan kejadian yang membuat trauma, tentunya akan membuat kita merasakan lagi sakit yang kita rasakan ketika mengalami kejadian tersebut. Artinya, ketika korban pemerkosaan menceritakan kasusnya, maka dia akan merasa seperti diperkosa lagi. Apalagi, perspektif publik soal seksualitas kerap menyalahkan perempuan. sehingga korban perkosaan, cenderung dihakimi dan dicari kesalahannya oleh masyarakat.

Contoh  lainnya adalah ketika saya menonton The Act of Killing, sebuah film documenter tentang Algojo 65. Ada satu adegan yang buat saya paling menjijikan. Ketika mereka mempraktikan peristiwa penyerbuan terhadap sebuah kampung, seorang tokoh Pemuda Pancasila menyatakan apabila ada perempuan muda, bisa diperkosa. Dia bahkan menyatakan dulu ‘mendapatkan’ korban usia belasan. Pernyataan itu diikuti dengan komentar-komentar yang jelas-jelas menempatkan perempuan sebagai objek seks.

Dalam  kasus 65, perempuan menjadi korban tidak hanya soal kekerasan fisik dan seksual. Putu Oka sempat mendokumentasikannya dalam sebuah buku bertajuk Istana Jiwa. Dalam buku tersebut dia menggambarkan bagaimana istri-istri kehilangan suaminya dan harus mengambil alih peran sebagai ‘breadwinner.’ Padahal, selama ini perempuan dilekatkan pada peran domestik, dan dibatasi akses ekonominya.  Dalam buku tersebut digambarkan bagaimana sebuah keluarga yang Ibunya menjadi tulang punggung keluarga harus bekerja keras agar bertahan hidup. Si Ibu juga berjuang untuk bertemu suaminya yang berada di penjara, membawa makanan, dan mencarinya lagi ketika sang suami dipindahkan ke rumah tahanan lain.

Ketika si suami akhirnya pulang, dia melihat sang istri telah berhasil melewati masa-masa sulit tanpa dia. Kerja keras sang istri untuk menghidup keluarga mereka, sementara dia kesulitan mendapatkan penghasilan, membuat dia frustasi. Akhirnya dia pergi dari rumah, dan menikah dengan perempuan lain.

Begitulah perempuan, dengan kerentanan dan kekerasan yang kompleks. Kalau mendengar kekerasan terhadap perempuan, kita hanya terbayang kekerasan fisik atau seksual saja, sesungguhnya kekerasan terhadap perempuan jauh lebih kompleks dan memiliki dimensi yang beragam.