Kita Semua Korban 65

Saya adalah keluarga korban 65

Eyang Kakung hilang tak ada kabar

Kalau masih hidup tak tahu berada di mana

Kalau sudah meninggal pun entah di mana kuburannya

 

Saya adalah keluarga korban 65

Mama masih gemetaran setiap mendengar suara truk

Teringat waktu Pakde malam-malam diciduk

 

Saya adalah keluaga korban 65

Pakde, Bude, Mama, Om semua tercerai berai

Puluhan tahun berjauhan lintas benua

Tak saling tahu kabar, saling diam dalam ketakutan

Bersembunyi dalam kesunyian

 

Saya sendiri juga korban 65

Merasakan hidup penuh ketakutan, terbungkam

Jangan pernah bilang siapa kamu!

Jangan ikut-ikutan organisasi ini itu!

 

“Kamu cuma akan diperalat politik, politik itu jahat!”

Teriak Ibunda menangis histeris

ketika mengetahui aku berdemo menentang Undang-undang Privatisasi Pendidikan

 

Tapi, bukankah kita semua korban 65?

Ketika keran ekploitasi dan penjajahan lewat investasi dibuka lebar atas nama pembangunan

Ketika gerakan-gerakan kritis dibungkam, ditindas, dimatikan atas tuduhan pemberontakan

 

Sawah-sawah dirampas

Tanah-tanah dikuasai oleh mereka yang punya kuasa

Rakyat dimiskinkan

Perempuan diperkosa dan mengalami berlapis-lapis ketidakadilan

 

Bukankah kita semua korban 65?

Masa ketika rezim tirani berkuasa

Rakyat yang mempertahankan haknya langsung ditumpas

Suara-suara kritis langsung dibungkam

 

Rezim yang kita pikir telah mati-matian berusaha kita gulingkan

Tapi ternyata

masih berlanjut sampai sekarang

 

Sampai hari ini

Demokrasi nyaris mati

 

Kita semua korban 65

Iklan