Menyatakan Golput, Karena Nyatanya Kita Tidak Baik-baik Saja

Apatis, merugi,[1] pengecut, pecundang,[2] tolol, ga berguna, cari perhatian, tidak cinta pada negara, tidak strategis, tindak pidana, hantu, sampai TAIK[3], kata-kata yang dilontarkan kepada Golput akhir-akhir ini.[4]

Screen Shot 2019-02-03 at 00.58.18

Aneh. Golput itu ya biasa-biasa saja. Periode ke periode, Golput selalu ada, dengan berbagai alasannya.

Untuk kali ini, bagaimana bisa memilih Prabowo ketika kita ikut melingkar di aksi kamisan, diskusi dengan mereka yang pernah diculik, mewawancara langsung seorang Ibu yang anaknya dihilangkan paksa, tanpa ada kabar, bahkan hingga si Ibu meninggal dunia.

Bagaimana bisa memilih Jokowi ketika perampasan lahan, kekerasan, penangkapan, pembunuhan, dan kriminalisasi aktivis, kita geluti sehari-hari. Di Kulonprogro, Ogan Ilir, Takalar, Teluk Makassar, Tumpang Pitu, Taman Sari, Teluk Jakarta, Gunung Solok, di Papua, di mana-mana. Pun bertahun-tahun aksi kamisan tak ditanggapi secara serius oleh Jokowi yang sudah berjanji di nawacitanya. Sampai hari ini pelanggaran HAM masa lalu tak pernah disentuh apalagi diselesaikan. Malah deretan pelanggaran HAM terus bertambah

HAM bukanlah daftar check list yang dilihat sebagai pilihan. Bukan tentang melawan penculikan, namun kompromis terhadap perampasan lahan dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Prabowo adalah Orba. Banyak yang bersepakat dengan ini. Tapi bukankah Jokowi juga Orba?

  • Wiranto, Hendropriyono, Luhut Panjaitan, dan jenderal-jenderal Orde baru lain di belakangnya
  • Berbagai kejadian persekusi, terhadap kelompok minoritas orientasi seksual dan ekspresi gender, maupun minoritas politik yang didukung pembiaran bahkan difasilitasi oleh aparat keamanan maupun pernyataan dukungan pemerintah
  • Razia dan penyitaan buku-buku kiri dan yang dianggap kiri, pelarangan dan pembubaran diskusi, hingga pelarangan ibadah yang lagi-lagi juga didukung dan difasilitasi aparat
  • Penyelesaian Konflik Agraria dengan pendekatan represif dan militeristik
  • Keterlibatan Militer dalam Pertanian
  • Perppu Ormas, yang kemudian menjadi UU Ormas (Perubahan), RUU Permusikan, dan penggunaan UU ITE yang berpotensi maupun telah membungkam Hak Warga Negara

Kurang Orba apa??

Dan orba bukanlah sekedar bicara soal represi, dan militer. Orba juga mencerminkan perampasan hak-hak dan sumber kehidupan masyarakat atas nama ‘pembangunan’.

  • Berbagai proyek yang merampas sumber-sumber kehidupan rakyat
  • Aparat keamanan negara sebagai pengaman perusahaan
  • Orientasi Kebijakan Mempermudah Investasi, di antaranya PP One Single Submission, yang memungkinkan pengusaha/perusahaan mendapatkan izin sebelum AMDAL beres, Pencabutan Perda-perda dan Peraturan Mendagri yang memperketat Investasi, berbagai Perjanjian Perdagangan Bebas yang telah ditandatangani maupun sedang dinegosiasikan, dan lain sebagainya.

Belum lagi deretan nama pengusaha tambang, sawit, dll yang ada di belakang kedua calon, menjadikan ke-Orbaan Jokowi dan Prabowo semakin paripurna.

Maka pilihan sebagai Golput seharusnya sudah tidak lagi dipertanyakan. Pertanyaan yang kemudian dimunculkan kepada kami adalah kenapa Golput harus ribut? Kenapa tidak diam-diam saja? Belakangan, Golput justru mendapatkan banyak sorotan, caci maki (seperti di paragraf  pertama tulisan ini), bahkan diancam-ancam pidana dengan interpretasi pasal yang diada-adakan. Golput dimasukkan pula sebagai Ancaman Faktual di dalam Inpres Bela Negara

Mereka bertanya, ‘Kenapa Golput harus dinyatakan?’

Pertanyaan saya, ‘Kenapa Golput tidak boleh dinyatakan?’

Kenapa ketika menyatakan bahkan mengkampanyekan Jokowi-Prabowo bebas-bebas saja, lalu menyatakan Golput menjadi masalah?

Bagi saya, Golput merupakan sebuah sikap politik yang memang perlu dinyatakan. Di saat banyak yang terlena dengan jalan tol, bagi-bagi sertifikat, ataupun kursi-kursi pemerintahan [dan saham-saham BUMN] untuk segelintir orang yang masih mengaku Kawan, kita perlu suara yang mengkritisi. Sekedar mengingatkan untuk bilang, bahwa KITA TIDAK SEDANG BAIK-BAIK SAJA. Bahwa negara ini dijalankan dengan arah maupun sistem politik dan pembangunan yang tidak baik-baik saja. Bahwa berbagai penggusuran dan pelanggaran HAM yang terjadi adalah tidak baik-baik saja. Bahwa kekerasan, tuduhan, dan persekusi terus menerus terhadap kawan-kawan Papua, korban dan aktivis 65, kawan-kawan LGBT terutama transpuan adalah tidak baik-baik saja. Bahwa politik identitas yang dimainkan kedua kubu, tidak baik-baik saja. Bahwa demokrasi di Indonesia yang masih mengejar prosedural, dan menghilangkan substansi demokrasi itu sendiri, yaitu Hak Asasi Manusia, tidak baik-baik saja. Bahwa secara spesifik, sistem Politik dan sistem Pemilihan Umum hari ini juga tidak baik-baik saja.

Silahkan saja kalau mau pilih Jokowi, atau pilih Prabowo. Apapun hasilnya pemilu ini, tidak akan mengubah nasib kita yang terus ditekan dan ditindas. Kita telah bergelut dalam perjuangan setiap harinya. Sekian detikmu di bilik suara tidak akan membuat perjuangan menjadi lebih mudah.

 

NB:

Ga usah berharap mereka serius soal isu perempuan, kalau yang bisa mereka ungkapkan hanya sebatas perempuan di kursi menteri atau wakil ketua partai.

 


[1] Mahfud MD

[2] Budiman Sujatmiko

[3] Alit Ambara

[4] Kata-kata yang lain meski tidak mencantumkan narasumbernya namun nyata muncul di berbagai media sosial. Berkali-kali.