Ke-millenial-an dan Perlawanan terhadap Penindasan Global

“Minke itu millennial, tapi pada masanya. Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun. Memang anak-anak muda, buku ini pun bicara tentang gejolak anak muda.” (Pernyataan Hanung Bramantyo di Konpers Film Bumi Manusia)

 

“Pertama kali membaca Bumi Manusia saat kuliah. Waktu saya baca novel ini merasa apa yang disampaikan sangat penting sekali. Pada saat membaca, saya menjadi remaja yang keren kemudian terbawa dan menemui Pak Pram.” (pernyataan Hanung Bramantyo sebagaimana dikutip di kapanlagi.com).[1]

Berbeda dengan Hanung, saya yang waktu itu adalah anak kemarin sore dan begitu dangkal pemahaman mengenai Pram dan tetralogi Burunya justru merasa keheranan. Ada ekspektasi saya, meski saat itu masih begitu minim membaca karya-karya Pram (Bumi Manusia adalah karya Pram keempat yang saya baca setelah Arok Dedes, Gadis Pantai, dan Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer), yang tak terpenuhi. Membaca Bumi Manusia membuat saya berpikir, kenapa tokoh di dalam novel ini, begitu tergila-gila dengan pendidikan Eropa, begitu menyanjung Belanda. Saya pun bertanya-tanya, di mana perlawanan terhadap kolonialisme yang seharusnya ada. Meski, kesadaran-kesadaran tentang ketidakdilan telah tersaji dengan jelas. Baru kemudian setelah membaca 3 buku berikutnyalah saya takjub dengan bagaimana Pram membawa kita pada proses kesadaran Minke, hingga menetapkan keberpihakan dan melakukan perlawanan nyata terhadap penjajahan.

 

Adil sejak dalam pikiran nyatanya memang sulit. Apalagi untuk tidak mengadili sutradara hingga pemain utamanya. Tapi saya akan berusaha tidak menghakimi apa yang sedang dibuat oleh Hanung dkk. Saya hanya bertanya-tanya apa yang dimaksud Hanung dengan, “Waktu saya baca novel ini merasa apa yang disampaikan sangat penting sekali.” Atau apa yang membuat dia merasan sebagai remaja yang keren? Apakah karena memahami pergolakan batin Minke yang berusia 20 tahun di Bumi Manusia, lalu mampu merasakan dan menganalisis kegelisahan yang sama pada dirinya sebagai remaja usia kuliah? Atau merasa keren dengan sekedar sudah membaca karya dari satu-satunya sastrawan Indonesia yang diusulkan sebagai peraih Nobel Sastra?

Millenial

“Minke itu millennial, tapi pada masanya,” kata Hanung. “Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun.”[3]

“Iqbaal dan Mawar anak milenial, yang sadar dengan kebudayaan.”[2]

Bumi Manusia adalah seri pertama dari tetralogi Buru, menceritakan Minke yang meski pada awalnya sangat menggilai Eropa (kemudian dianggap Millenial), lalu memperoleh kesadarannya atas penindasan akibat penjajahan dan kolonialisme. Tak hanya itu, dia melakukan perlawanan terhadap penjajahan tersebut dengan cara menulis, dan mendirikan surat kabarnya sendiri hingga dinobatkan sebagai Bapak Pers Indonesia.

Maka mengaitkannya dengan Ke-Milenial-an seharusnya hendak menyampaikan pesan penting serupa ‘penjajahan’ itu masih terus berlangsung di Indonesia. Ketimpangan negara-negara utara dan negara selatan terus berlanjut, bahkan di berbagai meja perundingan dunia. ‘Kolonialisme’ masih berwujud di mana segala sistem ekonomi kita diarahkan dan dikendalikan untuk kepentingan kapital atau mereka yang bermodal besar. ‘Tanam Paksa’ masih dipraktikkan melakukan Praktik Perkebunan Kelapa Sawit, atau Perkebunan Tebu milik BUMN (PTPN), yang merampas lahan masyarakat, menyebabkan masyarakat menjadi buruh di tanahnya sendiri, dan menanam komoditas yang bukan untuk kepentingan kita, demi memperkaya yang sudah begitu kaya. Pun Poligami, Perkawinan Anak, hingga kontrol terhadap keputusan, dan kehidupan perempuan yang merupakan penindasan terhadap seksualitas perempuan tetap berlangsung hingga hari ini. Maka mengaitkannya dengan Ke-Milenilai-an sejatinya mengandung pesan, bahwa di tengah gempuran ekonomi politik global, perlawanan harus dilakukan, dan bukannya sekedar simbol-simbol serupa baju adat, kereta kuda, apalagi soal anak pribumi yang jatuh cinta pada bule.

“Saya tidak perlu kasih buku tebal ke Iqbaal, tinggal pakaikan baju adat, yah jadilah Minke,” [4]

Foto Preskon ‘Bumi Manusia’ Para Pemain Datang Naik Kereta Kuda[5]

Novel ini menceritakan kisah roman Minke, seorang pribumi di zaman kolonial Belanda, yang jatuh cinta kepada Annelies, anak blasteran seorang Belanda dengan seorang nyai bernama Nyai Ontosoroh. Ceritanya berlatar belakang sekitar tahun 1890 sampai 1918. [6]

WhatsApp Image 2018-05-27 at 15.52.41

sumber gambar: Sebuah Grup Whatsap, verified

 

[1] https://www.kapanlagi.com/showbiz/film/indonesia/saat-mahasiswa-hanung-pernah-ditolak-pramoedya-adaptasi-2268364732bumi-manusia22683648482-fb3906.html

[2] https://www.viva.co.id/showbiz/film/1040104-alasan-hanung-bramantyo-pilih-iqbaal-di-film-bumi-manusia

[3] Pernyataan Hanung di Konpers, sebagaimana dikutip di https://www.vice.com/id_id/article/evkvak/tak-terima-iqbaal-ramadhan-jadi-minke-santai-kalau-ga-kontroversial-bukan-film-bumi-manusia-dong

[4] https://www.dream.co.id/showbiz/alasan-hanung-bramantyo-pilih-iqbaal-di-bumi-manusia-1805252.html

[5] https://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/indonesia/66924cast_bumi_manusia-20180525-005-bintang.html

[6] http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2018/05/25/film-bumi-manusia-segera-digarap-iqbaal-tertantang-perankan-minke-424948

Iklan