Pembelajaran, Energi, dan Persahabatan yang Jujur

WhatsApp Image 2018-10-15 at 23.41.49

Persahabatan yang jujur adalah adalah alat politik utama dari pergerakan kita

(Komunike Musyawarah “Dunia Warga Yang Melampaui Kuasa Bank”)

Rasa-rasanya merupakan kalimat yang repesentatif menggambarkan pembelajaran yang didapatkan selama berproses dalam perlawanan terhadap Bank Dunia, IMF, dan sistem ekonomi global. Ini tentunya bukan sekedar kegiatan. Karena World Beyond Banks sendiri tidak dirancang untuk hanya sekedar menjadi kegiatan. Bukan hanya melalui World Beyond Banks, perlawanan juga digelorakan melalui beberapa kegiatan lainnya seperti Festival Pangan Perempuan, dan Feminist Carnival.

WhatsApp Image 2018-10-15 at 23.41.53

Persahabatan yang jujur.

Ini telah menjadi refleksi besar dan dalam sejak sebelum kegiatan dimulai. Tentu saja persahabatan yang jujur tidak bisa didapat lewat senyum pemerintah yang tak pernah berpihak pada rakyatnya. Persahabaran yang jujur juga selayaknya tegas berposisi terhadap ruang keterlibatan yang disediakan oleh aktor-aktor serupa Bank Dunia dan IMF. Atas nama perbaikan mekanisme, atas nama perbaikan standard pengamanan, nyatanya menambah deretan legitimasi agar ia bisa terus melancarkan serangan. Merampas tanah, air, dan sumber-sumber kehidupan, menenggelamkan desa, merusak tatanan sosial, budaya dan ilmu pengetahuan, membunuh manusia, dan menambah lapisan penindasan perempuan.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.02

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.26

Maka pilihan kami kemudian menjadi tegas. Sejak awal gagasan World Beyond Banks dibangun dengan kesepakatan bahwa kami tidak mengkritisi Bank Dunia dan IMF sebagai institusi, melainkan sebagai sebuah ideologi. Ideologi yang kemudian menghadirkan paham-paham serupa ekstrativisme, infrastrukturisme, moneteisme, dan komodifikasi.

Sejak hari pertama pun Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional sudah ‘dimatikan’ sebagaimana yang tertuang di dalam narasi dan video framing. Maka pilihan kami tegas bahwa yang banyak perlu disuarakan adalah korban, komunitas yang mengalami langsung berbagai persoalan ketidakadilan dan penidasan akibat sistem ekonomi yang dibangun berdasarkan ideologi keruk ini. Mereka yang juga memiliki geliat dan inisiatif tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga melawan seraya melestarikan sistem hidup yang adil, setara, serta menjaga keberlangsungan alam dan kehidupan.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.50

WhatsApp Image 2018-10-14 at 14.24.41

Sejak awal pun kami memiliki kesepahaman bahwa perempuan bukanlah sektor, maka suara perempuan harus ada di setiap sesi, situasi perempuan harus disuarakan dalam setiap diskusi. Maka aku mengulum senyum ketika seorang jurnalis asal Korea bercerita kepadaku: “Tadi saya wawancara juga peserta perempuan yang dari Korea, dia bilang surprise sekali melihat ada banyak perempuan yang aktif bicara pada forum ini.”

Sejak awal gagasan World Beyond Banks sebagai gerakan pun dipahami seluruh pihak. Maka kawan-kawan musisi dari berbagai negara, tidak sekedar datang untuk performance. Melainkan untuk mengikuti seluruh proses, mendengarkan cerita, terinspirasi dan menciptakan sebuah karya. Pada akhirnya, sebuah lagu berjudul World Beyond Banks pun dinyanyikan bersama.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.29.18

WhatsApp Image 2018-10-12 at 14.36.38

Sejak awal kami tahu persis bahwa kapitalisme menciptakan pemerintahan oligraki. Menghancurkan demokrasi, bahkan megkooptasi gerakan rakyat. Para pengusaha di balik pemerintah, kriminalisasi rakyat yang memperjuangkan haknya, pembubaran diskusi di mana-mana, hingga penurunan dan perusakan baliho, yang terjadi menjelang pertemuan bank dunia dan IMF. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tak lebih dari alat untuk menyerang warga negaranya demi kepentingan mereka yang melihat Indonesia tak lebih sebagai keuntungan yang bisa dikeruk.

Maka ketika tindakan-tindakan represif mulai datang. Sembayang diintimidasi, pemakaian tempat dibatalkan sepihak, kami tahu persis bahwa kami tak ingin masuk pada jebakan mereka. Menyikapi sesuai porsi menjadi pembelajaran yang begitu berharga di tengah kemarahan dan keinginan untuk mengamuk segera.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.27.37

WhatsApp Image 2018-10-19 at 12.59.24 (1)

Pun aku belajar menerima tentang apa yang disebut seorang kawan sebagai berantakan. Rundown yang tak kunjung final, penerjemah dan alatnya yang tak tersedia di semua forum paralel, tenda panggung utama yang begitu panas, video yang tidak terlihat, dan masih banyak deretan kekurangan lainnya, selayaknya diterima sebagai kekurangan tanpa perlu embel-embel tetapi. Berbagai keterbatasan yang membuat mata dan rasaku menyaksikan mereka yang bekerja begitu keras. Berdiskusi siang malam, berpikir substansi hingga teknis. Mereka yang ringan tangan meski tidak berasal dari panitia, bahkan tak berasal dari Indonesia. Mereka yang aku yakin bergerak karena merasa turut memiliki forum ini.

WhatsApp Image 2018-10-14 at 17.11.37

Betapa komunitaslah yang mendukung kami berkumpul dan menyelenggarakan musyawarah ini. Hingga panganan sepiring 15 ribu namun dengan menu yang luar biasa lezatnya. Dilengkapi teh manis dingin dengan cita rasa tinggi, memberimu energi di bawah langit Bali yang begitu terik. Dimasak dan disiapkan dengan cinta oleh Bu Tini, meski sebelumnya dia sempat diintimidasi dan ditanya macam-macam soal kegiatan seputaran mengkritik Bank Dunia dan IMF.

Pun Komunitas Jatijagat Kampung Puisi, yang menyambut kami dengan rangkulan persahabatan. Memberikan ruang dan karyanya untuk bersama-sama melawan. Saling menjaga, saling menguatkan.

WhatsApp Image 2018-10-14 at 21.51.24

Maka di forum ini kami tak hanya saling berbagai cerita dan pembelajaran. Tetapi juga berbagi energi untuk saling menguatkan. Seperti ketika bernyanyi bersama Kawan-kawan komunitas SP diiringi petikan gitar Mas Budi Pego. Atau ketika menggenggam tangan Ibu Asnir menatap senyumnya yang mencuat di sela-sela kegelisahan memikirkan kampung halaman. Juga tetap setia mendengar cerita bu Halimah, yang terus setia melawan privatisasi air. Energi yang begitu hangat tersebut, sesungguhnya merupakan kemewahan yang tiada tara.

Persahabatan yang jujur

Ketika di akhir hari seseorang memelukku dan berkata, “Mbak, jangan bosan mempersatukan gerakan.” Kami pun bersepakat. Mempersatukan apa yang memang selayaknya diperjuangkan. Dalam sebuah solidaritas ideologis. Pertemanan yang jujur. Jumlah kami memang kecil, tapi kami layak untuk terus ada. Semakin kuat. Semakin solid.

Kejahatan ini dilakukan secara global. Maka perlawanannya pun harus global, menembus ruang, waktu, dengan keberlanjutan yang konsisten dan kesetaraan antar generasi. Meski global, perlawanan itu harus tetap terasa dekat. Perlawanan itu melekat dengan tekad di dalam hati kita. Mengisi setiap jengkal tubuh kita. Mengalir seperti darah. Sedekat nadi yang berdenyut. Begitu ia terasa.

Di atas langit Denpasar menuju Jakarta, 17 Oktober 2018

 WhatsApp Image 2018-10-19 at 12.59.24