Kebohongan, Kesaksian, dan Rasa

Pondok Gede, 30 September 2017

Lubang Buaya tentu saja ramai. Lapangan Pondok gede pun padat demi sebuah film propaganda kebohongan yang dibuat untuk mempertahankan kekuasaan dengan memelihara kebodohan.

Nyatanya kita masih harus berhadapan dengan hal-hal tak logis yang bisa dengan begitu mudahnya menyulut kemarahan dengan keberingasan. Nyatanya pendidikan dan bangku sekolah tak melulu menghasilkan kemauan berpikir apalagi daya kritis terhadap informasi di hadapan. Nyatanya laju teknologi informasi justru lebih mudah digunakan untuk menyulut kemarahan dengan kebohongan, daripada pencapaian tujuan ilmu pengetahuan.

Selamat memperingati hari yang menjadi gerbang kejatuhan bangsa ini. Jatuh semakin miskin karena sumber daya dieksploitasi, bumi dirusak, manusia diperbudak.

Kawan, benar sekali katamu.

Kita bisa bertemu lagi dalam keadaan hidup rasanya begitu takjub.

Kamu memeluk erat sekali tubuhku.

Seakan berkata nyaris saja kita tak lagi bisa bertemu.

Minggu, 17 September 2017

Tubuh ini tidak mau menyerah pada lelah. Meski baru 1,5 jam menginjak rumah Mama, sudah kutinggalkan untuk berangkat ke LBH Jakarta. Syukurlah, kali ini Mama begitu memahami kenapa anaknya harus pergi cepat sekali.

Sekitar pukul 13:20, saya sampai di sana, mulai menyiapkan acara Asik Asik Aksi bersama kawan-kawan muda lainnya. Dari mulai angkat meja, mengatur panggung, sampai mengatur rundown acara, dengan harapan kami bisa mulai tepat waktu. Malam sebelumnya kegiatan ini baru direncanakan. Beberapa pengisi acara setuju untuk hadir meski diberitahu dadakan. Selebihnya kami siapkan sendiri, bersama Kawan-kawan LBH Jakarta.

Keterlibatanku di sana tentu saja bukan kebetulan. Siapa tak marah mendengar Gedung YLBHI diserbu polisi. Apalagi menyusul larangan sebuah diskusi yang diselenggarakan para korban 65. Mereka yang kehilangan kehormatan, kehilangan keluarga, namun tidak kehilangan harapan. Tak ada percakapan tentang isme-isme apalagi hendak membangkitkan sebuah ideologi. Diskusi diselenggarakan semata-mata untuk mencari kebenaran, menelusuri sejarah, memahami peristiwa, mencoba menemukan keping-keping jawaban dari berbagai pertanyaan mereka yang kehilangan orang-orang tersayang. Dibunuh, diculik, disiksa, dipenjara, diperkosa, dihinakan.

Kegiatan pun berjalan lancar meski dibuka sedikit lebih lambat dari waktu yang tertera di publikasi. Peserta begitu ramai. Kami tak menyangka begitu banyak Kawan dan Solidaritas yang hadir. Bercerita, membaca puisi, menyanyi. Anak-anak, remaja, dewasa, tua, mereka berbicara tentang kecintaan pada negeri, mereka berekspresi untuk demokrasi. Tak lupa kawan-kawan dari berbagai organisasi hadir membacakan pernyataan bersama. Sebuah pernyataan yang dibuat seorang Kawan. Sebuah pernyataan untuk mengajak agar bersama menjadi berani, menjadi terang yang menyilaukan bagi tirani dan represi namun di saat yang bersamaan menghangatkan perjuangan untuk peradaban kemanusiaan. [1]

Sekitar pukul 21.15

Acara hampir selesai.  Aku tersenyum kepada dua orang Kawan. Kami takjub betapa persiapan yang tak sampai 12 jam, tapi dengan hasil yang melebihi ekspektasi kami. Lega. Sudah terbayang segera pulang dan istirahat. Apalagi keesokan paginya tugas memfasilitasi Sekolah Kepemimpinan Feminis telah menanti.

21.36

Informasi baru masuk. Depan gedung YLBI kedatangan Laskar-laskar. Kami pun berbagi tugas. Beberapa melihat situasi, beberapa bertahan mengawal acara di dalam. Aku masih terus menyanyi.

Dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu. Tuk mengingatnya di saat dia taka da. Esok pasti jumpa[2]

Tak lama kemudian

Seorang kawan memanggilku, berbisik

Ca, per sel ya, lantai 2 dan lantai 3. Aku terdiam. Aku tahu persis apa yang dia maksud, tapi aku tak tahu harus berpikir apa, hanya berusaha untuk tenang.

Hingga akhirnya acara dihentikan, satu persatu peserta menaiki tangga menuju lantai 2 dan 3. Aku pun mengikuti mereka, masuk ke dalam ruangan di lantai 3. Sesampainya di sana, yang coba kami lakukan adalah menenangkan peserta. Banyak di antara mereka kawan-kawan mahasiswa yang masih sangat muda. Mereka yang mungkin belum pernah terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi, atau kegiatan diskusi politik. Hari itu mereka harus menunda kepulangan, meski sudah begitu malam.

Awalnya kami mencoba mencairkan suasana, mengobrol ringan, memberikan senyuman, dan sapaan, sekedar untuk menenangkan. Aku cek persediaan air di dalam ruangan, setengah di satu galon, dan setengah di tempat air (p*re it) lainnya. Gelas plastik ada beberapa. Bisa juga kami gunakan bergantian. Semoga cukup untuk kami semua di ruangan lantai 3 yang ternyata berjumlah lebih dari 50 orang.

Ada sekitar 4 atau 5 orang panitia yang ada di sana, berusaha berbagi tugas, dan melakukan apapun yang bisa kami lakukan. Menjaga pintu, menyiapkan sofa dan kursi-kursi tepat di depan pintu.

Kami terus memantau informasi dari bawah, sambil memberikan informasi kepada Kawan-kawan di luar yang terlanjur tahu keadaan kami. Situasi masih aman, aku merasa kami hanya tinggal menunggu negosiasi, agar kami semua bisa pulang.

Malam semakin larut. Mungkin sudah lewat tengah malam. Aku tidak lagi mengecek waktu. Suara di bawah semakin terdengar. Suasana pun mulai mencekam. Kami mulai mematikan lampu dengan tujuan agar tak terlihat.

Entah berapa jumlah mereka, yang jelas suaranya cukup banyak. Aku sungguh tak bisa membayangkan. Puluhan? Ratusan? Baru berhari kemudian aku dapat jawaban bahwa kami dikepung sekitar 1500 massa di malam itu.

Massa di luar menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kami mendengarnya dengan jelas. Tiba-tiba lagu Indonesia Raya terdengar dari dalam ruangan. Peserta yang ada di lantai 3 pun panik ketakutan. Mendorong sofa agar pintu tak bisa dibuka dari luar. Berlarian menuju ruangan yang tak seberapa besar. Merapat saling berdekatan. Aku berada di tengah ruangan. Mengenggam tangan seorang kawan. Kita tidak boleh panik, agar apapun yang terjadi, kita bisa putuskan tindakan kita secara jernih.

Syukurlah tak berapa lama ada kawan dari bawah yang mengabarkan. Tadi yang bernyanyi di dalam bukan massa. Melainkan kawan-kawan di bawah yang ikut menyanyikan Indonesia Raya. Hendak mengingatkan massa bahwa kita sama Indonesia. Tak ada massa yang masuk ke dalam gedung. Ketegangan sedikit reda. Tapi tidak hilang.

Kemudian ada peserta yang sakit, vertigo, sesak nafas. Ada juga yang menangis, sembari memeluk lengan temannya. Berusaha tetap tersenyum ketika mataku menyapa. Dua orang kawan mengajak peserta membentuk lingkaran. Saling berbagi perasaan, saling berbagi dukungan.

Aku tak bisa lagi mengingat kejadian detik per detik malam itu. tak sanggup mengingat rasanya. Namun yang jelas suara-suara di bawah begitu membekas

Bakar

Ganyang  — dengan nada yang biasa kami gunakan ketika aksi tolak WTO

Suara pecahan kaca mulai terdengar bertubi-tubi . Ya, mereka tak hanya berteriak. Mereka melempari dengan batu, kayu, benda-benda yang entah mereka dapatkan dari mana. Bisa jadi sudah sengaja mereka bawa.

Dan suara yang juga paling sering adalah

Allahu Akbar

Sempat sejenak aku terdiam

Bagaimana bisa manusia yang mengingat Tuhan adalah manusia yang sama yang hendak membunuh manusia lainnya?

Lalu dalam bayanganku muncul kobaran api hingga sejenak panasnya bisa kurasakan

Pikirku, bagaimana aku bisa meyakinkan kawan-kawan di sini, sementara aku pun meragu. Malam itu bisa jadi saat terakhirku di dunia. Aku menarik nafas panjang. Mengalihkan pikiran dengan kembali melihat mereka yang bersama satu ruangan denganku. Mencari apa yang bisa kulakukan. Menyibukkan pikiranku agar tak dilintasi bayangan-bayangan menakutkan.

Kejadian-kejadian berikutnya begitu cepat, penuh kepanikan dan tekanan. Proses evakuasi sedapat mungkin kami lakukan dengan tertib. Kawan-kawan yang sakit, kawan-kawan yang ekspresinya rentan, kawan-kawan mahasiswa, dan publik umum, baru kami yang aktivis. Hampir semua muda, hampir semua adalah perempuan. Semua berharap melihat jalan pulang. Tapi nyatanya kami masih harus duduk di sudut gang. Di sudut gang, di mana kami bisa saja diserang dari dua jalan. Di situ kami menunggu evakuasi hingga pagi menjelang. Tersudut. Tertekan. Ketakutan.

18 September 2017

Menjelang Subuh aku sampai di kantor. Berpelukan, dan mencoba istirahat sejenak, sebelum masuk sesi SKF tepat jam sembilan. Pikirku aku baik-baik saja. Aku tak tahu benar apa yang kurasakan. Marah? Marah pada siapa? Pada massa yang terbakar fitnah? Aku tak bisa marah pada mereka. Apakah aku sedih? Apakah aku takut? Apakah aku lelah? Apakah aku trauma? Aku tidak tahu apa yang kurasa. Bercerita pun aku bingung mulai dari mana. Aku hanya tahu hari harus berjalan seperti biasanya.

Barulah beberapa hari setelahnya, ketika bertemu mereka yang juga berada di tempat kejadian, seorang kawan berkata: Kita bisa ketemu lagi, kita masih hidup.

Aku baru sadar sejadi-jadinya. Bahwa aku takut, bahwa aku marah, bahwa aku sedih, bahwa aku bingung, bahwa aku kecewa, bahwa aku ingin menangis. Menangis sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya.

Tuhan kasih kita hidup untuk terus berjuang. Bukan untuk melangkah mundur.

[1] Penggalan pernyataan sikap bersama yang dibacakan oleh beberapa organisasi pro demokrasi yang hadir pada Asik Asik Aksi. Pernyataan ini disusun oleh seorang perempuan aktivis muda yang telah bertahun-tahun berjuang bersama korban-korban pelanggaran Hak Asasi Manusia

[2] Lagu Banda Neira berjudul Esok Pasti Jumpa. Malam itu dinyanyikan Ananda Badudu sesaat sebelum evakuasi ke lantai 2 dan 3.

Iklan

Luka

Saya lahir di akhir tahun 1987. Sudah jauh dari angka 65. Sungai-sungai tak lagi berdarah. Kuburan massal telah tertutup ilalang.

 

Tapi Luka

Tersisa tanpa mampu diobati.

Kurasakan saat tetes air matanya bercerita. Atau ketika wajah tuanya gemetaran hanya karena mendengar suara truk. Teringat truk yang membawa Kakak laki-laki, satu-satunya perlindungan bagi dia saat itu. Setelah Ayahnya dikejar di setiap semak dan tikungan, dan Ibunya ditahan di balik jeruji.

 

Luka

Masih bisa kurasakan ketika dia bercerita. Tentang kebencian yang ditebarkan, menjauhkan saudara dan teman-teman. Menyudutkannya dalam tuduhan berkepanjangan. Harus dia tanggung meski di usia belianya tak ada politik yang ia mengerti. Terpisah dari orang-orang tercinta hanya untuk mencari selamat. Kehilangan dan menghilang dari orang-orang kesayangan. Menahun tak berkabar. Saling menduga telah tertelan kematian.

 

Luka

Ketika harapan demi harapan tepupuskan. Di masa senjanya masih berkeliling mencari kuburan. Desa ke desa mencari informasi. Bertanya-tanya masih bisakah bertemu sang Ayah, meski jika sudah berupa tanah dan batu nisan.

 

Luka yang terasa nyata meski 51 tahun telah lewat. Tak ada obat. Takkan pernah ada. Takkan pernah bisa.

The Globalization Tapes: Kelapa Sawit dan Pemotongan Subsidi Pangan

Apa hubungannya ‘World Bank’ dengan Pemiskinan?

Pada sebuah pemutaran The Act of Killing, satu jam sebelumnya, panitia memutar film lain yang juga ‘dibuat’ oleh Joshua Oppenheimer, bertajuk The Globalization Tapes. Buat gw, film ini seperti: ini dia ni yang bisa ngejelasin ke orang-orang bagaimana World Bank, dan kawan-kawan itu memiskinkan masyarakat.

Film TGT ini sendiri ada dan bisa diunggah di Youtube. Dia dibagi menjadi delapan bagian. Sayangnya, saya baru menonton sampai bagian kelima, dan belum sampai bagian akhir. Meski demikian, saya tertarik untuk menuliskan ulasannya di sini, karena saya menemukan banyak pernyataan menarik, dan buat saya menjadi kunci dalam memahami tentang globalisasi itu sendiri.

Film yang dibuat oleh Buruh Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera Utara ini diawali pemahaman mengenai globalisasi. Mereka menggambarkan bagaimana Negara kolonial menjadikan bangsa kita budak, dengan cara penjajahan. Namun rupanya penjajahan ini tidak berhenti setelah tahun 45. Juga tidak berhenti pada saat agresi militer pertama dan kedua dilancarkan di bumi Indonesia. penjajahan ini bahkan terus berlanjut hingga sekarang, atas nama GLOBALISASI.

Dalam satu sekmen, film ini mempertanyakan ungkapan yang selama ini menyatakan bahwa globalisasi merupakan suatu kodrat  yang tidak bisa dihindari. Nyatanya, mereka meyakini bahwa globalisasi merupakan sistem yang mereka (pemodal) ciptakan untuk kepentingan mereka. Dan sebenarnya globalisasi bisa dihindari dan ditiadakan.

Para buruh kelapa sawit ini tidak hendak berbicara jauh dari kehidupan mereka. Mereka mengungkapkan skema ekonomi global, justru melalui pengalaman mereka sehari-hari. Mereka menyebut industri kelapa sawit sebagai ledakan industri dengan rencana perluasan secara cepat. Perusahaan atau pemodal dalam industri ini kebanyakan mendapat dana pinjaman dari bank-bank besar seperti Citibank, HSBC, dan juga Bank Dunia.

Setidaknya ada tiga akibat yang mereka identifikasikan dari perluasan lahan besar-besaran dalam industri kelapa sawit tersebut:

1. Terjadinya pengambilalihan tanah secara paksa yang mengakibatkan penduduk kehilangan tanahnya

2. Penghancuran Hutan dimana-mana

3. Gaji Buruh di Indonesia paling rendah dibandingkan Negara penghasil kelapa sawit lainnya

Sebagai salah satu gambaran, seorang buruh yang sudah bekerja di perusahaan kelapa sawit selama dua puluh tahun. Setiap harinya, dia mengangkut 1 ton kelapa sawit, dan hanya dibayar sebesar Rp12 ribu (film ini dibuat pada tahun 2001). Pihak perusahaan tidak menyediakan alat untuk mempermudah pengangkutan. Anaknya yang ikut membantu bekerja tidak digaji sama sekali, dan tidak mendapatkan jaminan kesehatan dan keselamatan kerja.

Selain itu, seorang buruh perempuan mengeluhkan suatu zat kimia bernama gromoxone. Setiap harinya, dia bersama teman-temannya harus menyemprotkan zat tersebut ke tanaman di perkebunan, yang mengakibatkan mata mereka pedih, bau, rambut rontok, dan pantat gatal-gatal. Sebagai kompensasi dari risiko kerja yang mereka alami karena bergaul dengan gromoxone, mereka hanya diberikan susu tiga bulan sekali, yang katanya untuk membuang racun.

Sementara itu, Pengusaha diuntungkan dengan bahan baku murah, buruh murah, tidak adanya aturan mengenai lingkungan, serta akses yang luar terhadap pasar loakal. Selain itu, pembayaran utang dengan bunga menyebabkan upah rendah, pemotongan subsidi pangan, dan biaya pangan yang melonjak naik. Pinjaman uang ke IMF dan Bank Dunia, harus dibayarkan dengan mengorbankan buruh dan lingkungan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Amerika Latin, Arfika, dan Negara Asia tenggara lainnya. Karena itulah, untuk mengimbangi pemodal yang multinasional, maka serikat buruh juga harus multinasonal.

Menariknya, mereka juga mencoba mensimulasikan kepada penduduk sekiar, bagaimana Worls Bank dan IMF bekerja. Seorang agen mendatangi penduduk yang memiliki warteg, dll, dan menawarkan pinjaman. Untuk membayar pinjaman mereka, sang agen menawarkan berbagai cara memperluas usaha mereka, dari mulai menggususr penduduk, membayar buruh dengan upah murah, dan lain-lain.

Kritik terhadap pembangunan dengan menggunakan pinjaman luar negeri, dikemukakan dalam bentuk pertanyaan mengenai pinjaman itu sendiri. Pasalnya bank-bank itu meminjamkan uang untuk memperbesar perusahaan yang sudah besar, sehingga membunuh usaha lokal yang kecil. Dengan pinjaman-pinjaman itu pulalah orang kaya dapat membeli tanah yang tadinya dimiliki orang miskin, sehingga tanah yang tadinya ditanami dengan beras dan tanaman bangan lainnya, diganti menjadi sawit.

65 dan Pembungkaman Gerakan Buruh

Sebagai film yang dibuat oleh pekerja untuk pekerja, TGT juga menyoroti tentang mati surinya gerakan buruh pasca terjadinya pembantaian 65. Mereka meyakini pengusiran Soekarno terhadap Bank Dunia, dan IMF, serta nasionalisasi perusahaan asing lah yang mendorong terjadinya kudeta tahun 65. Menurut mereka, negara-negara maju dan pemilik modal memiliki kepentingan, bagaimana mereka bisa berusaha leluasa tanpa tantangan dan kendala di Indonesia. karena itu mereka membutuhkan pemimpin yang mendukung ‘pengusaha.’ Pada masa itulah banyak orang yang dibunuh hanya karena bergabung di serikat Buruh Independen. Padahal mereka bergabung di serikat buruh untuk melawan penindasan.  “Perjuangan PKI yang sebenarnya itu, belum ada saksi mata yang berani menyatakan perjuangannya.”

Di bawah ini, saya menyadur sebuah analogi yang dituliskan di dalam TGT:

Once upon a time

Colonial Provided

Cheap Raw materials

For Foreign Masters

Later The old masters

Still wanted

Cheap raw materials

They said, grow palm oil

And you’ll be rich like us

In no time at all

We’ll lend you the money

To rip up your rice fields

And grow

Palm oil

Coffee

Rubber

Chocolate

(everything master needs)

Okay okay

We’ll grow pam oil

And ship it to you

But they said the same

To all the former colonies

So we all plant

Palm oil

Coffee

Rubber

Chocolate

Too much of everything!

Overproduction!

Price crash

The prices are so low

How can we survive?

We can’t afford imported

Food

Machinery

Medicine

We all borrow more money

We all plant more

Palm oil

Coffee

Rubber

Chocolate

To keep up with

Interest payments

Price crash!

How can we manage?

We all borrow money

We all plant more

To pay the bank interest

Price Crash!

Borrow…

(pay the bank interest)

Plant…

(pay the bank interest)

Crash!

(pay the bank interest)

Borrow

(pay the bank interest)

Plant

(pay the bank interest)

Crash

(cut basic food subsidies)

Borrow

(cut health and education

Plant

(pay the bank interest)

Crash

(privatize the national bank)

Borrow

(privatize everything)

Plant

(don’t forget to pay the bank interest)

CRASH!

Perempuan di Tengah Konflik

Bebrapa hari yang lalu, SP menyelenggarakan konferensi pers terkait 16 hari anti kekerasan tergadap perempuan. saya masih ingat proses diskusi untuk mempersiapkan acara tersebut, salah satunya adalah ketika menentukan tema. Saat itu, kami juga membicarakan serangan Israel terhadap palestina, dimana perempuan dan anak-anak banyak menjadi korban. diskusi kami pun terus mengalir betapa di berbagai konflik yang ada, perempuan kerap menjadi korban.

Para perempuan tidak hanya kehilangan suami atau ayahnya. Kadang mereka pun menjadi korban serangan, dan kehilangan nyawanya. Namun yang juga ironis adalah di dalam peperangan/konflik banyak perempuan yang diperkosa, atau dipaksa melayani nafsu para pria yang terlibat dalam konflik dan peperangan tersebut.

Kita sama-sama tahu bahwa Komisi Nasional Anti kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dibentuk pasca terjadinya kerusuhan Mei 98. Berbagai penelitian yang dilakukan telah membuktikan banyaknya perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa ketika itu. Sayangnya, banyak pihak yang menolak penelitian tersebut, dengan alasan selama ini korbannya ‘tidak kelihatan.’ Tampaknya banyak yang tidak memahami bahwa pemerkosaan pasti menimbulkan trauma kepada perempuan, dan sangat wajar apabila banyak perempuan korban perkosaan yang tidak mau muncul di publik.

Ketika menceritakan kejadian yang membuat trauma, tentunya akan membuat kita merasakan lagi sakit yang kita rasakan ketika mengalami kejadian tersebut. Artinya, ketika korban pemerkosaan menceritakan kasusnya, maka dia akan merasa seperti diperkosa lagi. Apalagi, perspektif publik soal seksualitas kerap menyalahkan perempuan. sehingga korban perkosaan, cenderung dihakimi dan dicari kesalahannya oleh masyarakat.

Contoh  lainnya adalah ketika saya menonton The Act of Killing, sebuah film documenter tentang Algojo 65. Ada satu adegan yang buat saya paling menjijikan. Ketika mereka mempraktikan peristiwa penyerbuan terhadap sebuah kampung, seorang tokoh Pemuda Pancasila menyatakan apabila ada perempuan muda, bisa diperkosa. Dia bahkan menyatakan dulu ‘mendapatkan’ korban usia belasan. Pernyataan itu diikuti dengan komentar-komentar yang jelas-jelas menempatkan perempuan sebagai objek seks.

Dalam  kasus 65, perempuan menjadi korban tidak hanya soal kekerasan fisik dan seksual. Putu Oka sempat mendokumentasikannya dalam sebuah buku bertajuk Istana Jiwa. Dalam buku tersebut dia menggambarkan bagaimana istri-istri kehilangan suaminya dan harus mengambil alih peran sebagai ‘breadwinner.’ Padahal, selama ini perempuan dilekatkan pada peran domestik, dan dibatasi akses ekonominya.  Dalam buku tersebut digambarkan bagaimana sebuah keluarga yang Ibunya menjadi tulang punggung keluarga harus bekerja keras agar bertahan hidup. Si Ibu juga berjuang untuk bertemu suaminya yang berada di penjara, membawa makanan, dan mencarinya lagi ketika sang suami dipindahkan ke rumah tahanan lain.

Ketika si suami akhirnya pulang, dia melihat sang istri telah berhasil melewati masa-masa sulit tanpa dia. Kerja keras sang istri untuk menghidup keluarga mereka, sementara dia kesulitan mendapatkan penghasilan, membuat dia frustasi. Akhirnya dia pergi dari rumah, dan menikah dengan perempuan lain.

Begitulah perempuan, dengan kerentanan dan kekerasan yang kompleks. Kalau mendengar kekerasan terhadap perempuan, kita hanya terbayang kekerasan fisik atau seksual saja, sesungguhnya kekerasan terhadap perempuan jauh lebih kompleks dan memiliki dimensi yang beragam.

The Act of Killing: Pembantaian 65 dari Kacamata sang Pembunuh

Judul Film: The Act of Killing

Sutradara: Joshua Oppenheimer

*Spoiler Warning*

“Kalau PKI Kejam, kita lebih kejam”

(Adi Zulkadry dalam The Act of Killing)

Beberapa waktu yang lalu akhirnya saya berkesempatan menonton The Act of Killing. Sayangnya pada kesempatan tersebut kami tidak sempat berdiskusi, sehingga banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya setelah menonton film tersebut. Namun sebelum membahas pertanyaan atau memberi komentar pada filmnya, saya akan sedikit membahas mengenai film tersebut.

Review Singkat

The Act of Killing menceritakan tentang seorang ‘algojo’ 65 bernama Anwar Congo, yang menuturkan pengalamannya bersama beberapa kawannya ‘mengeksekusi’ orang-orang yang dianggap sebagai PKI di wilayah Medan. Film ini memperlihatkan bahwa peembantaian 65 banyak menggunakan’jasa’ organisasi pramiliter, salah satunya Pemuda Pancasila dimana Anwar menjadi anggotanya.

Dalam film berdurasi 140 menit tersebut, Anwar dan beberapa orang kawannya menceritakan dengan bangga, bagaimana mereka ‘berjasa’ menumpas komunis di Indonesia. Anwar juga menceritakan, dan mempraktikan bagaimana cara mereka mengintrogasi, membunuh, bahkan metode mana yang paling efisien dalam membunuh, yang didapatkan Anwar dari film-film gangster yang biasa dia tonton.

Selain kesaksian Anwar, di dalam film ini juga menampilkan kesaksian beberapa orang lainnya yang terlibat di dalam pembantaian 65 tersebut. Salah satunya adalah Ibrahim SInik, pemilik harian Medan Pos, yang kantornya juga digunakan untuk tempat menginterogasi dan membunuh orang-orang PKI. Tak hanya itu, ia juga mengaku dalam proses interogasi untuk keperluan berita, memang ‘diusahakan’ agar pemberitaan memancing kebencian masyarakat terhadap PKI.

Adegan dalam Adegan

Film The Act of Killing, kabarnya menghabiskan waktu hampir tujuh tahun untuk proses pembuatan. Kalau boleh saya memisahkan, di dalam film ini ada dua kelompok adegan. Pertama adalah adegan wawancara dengan beberapa ‘tokoh.’ Kelompok kedua adalah adegan di dalam adegan. Jadi, memang Anwar Congo dkk yang tergabung di dalam kelompok preman bioskop, berniay untuk membuat  film bertajuk Arsan dan Aminah, untuk mengenang jasa mereka dalam membantai PKI.

Adegan demi adegan dimana Anwar Congo dkk menjadi bintang filmnya. Juga ditampilkan di dalam The Act of Killing. Namun, kita tidak hanya menonton adegan Arsan dan Aminah, tetapi juga adegan di balik pembuatannya, termasuk berbagai wawancara dengan tokohnya.

Adegan di dalam adegan tersebut langsung dimainkan oleh Anwar dengan mempraktikan adegan-adegan interogasi dan pembunuhan. Di dalam salah satu adegan, tokoh PKI yang diinterogasi diperankan oleh pria yang ayah angkatnya menjadi korban pembunhan 65, ketika dia kecil. Setelah  adegan selesai dia perankan, dia terus menangis.

Adegan lainnya menunjukan penyerbuan Pemuda Pancasila ke sebuah perkampungan, menyeret orang-orang yang dianggap PKI, dan membakar rumah mereka. Adegan ini juga melibatkan anak-anak dan perempuan. Bagi saya, adegan tersebut menunjukan kengerian yang luar biasa. Visualisasi diseretnya para pria, diiringi suara bentakan dari orang-orang Pemuda Pancasila, dilengkapi dengan jeritan dan tangisan perempuan dan anak-anak yang memekakan telinga. Adegan itu, sukses mencekam perasaan saya. Setelah adegan selesai, sejumlah anak yang terlibat dalam film tersebut tidak berhenti menangis, sementara  seorang perempuan pingsan.

Preman = Freeman?

Peran organsiasi paramiliter dalam hal ini Pemuda Pancasila juga sangat menonjol di dalam film. Peran-peran untuk ‘membela’ Pancasila melalui forum-forum pertemuan mereka terus digelorakan. Berkali-kali istilah preman dikaitkan dengan free man. Bebagai argumentasi tentang perlunya ada preman juga keluar di dalam film ini. bukan hanya dari Anwar, dkk, tapi juga dari sejumlah tokoh, seperti Yapto, Gubernur Sumatera Utara, anggota MPR, Deputi Kementerian Pemuda dan Olah Raga, serta Jusuf Kalla. Melihat sejumlah tokoh di dalam film ini, saya menjadi yakin bahwa negara ini dijalankan oleh Preman.

Kekuasaan Pemuda Pancasila sebagai preman pun masih berlanjut sampai saat ini. bahkan, dalam salah satu adegan sempat ditunjukan bagaimana seorang pimpinan Pemuda Pancasila Medan ‘mengemis dengan kekerasan’ kepada para pedagang Tionghoa di Pasar.

Kasihan Itik

Adegan ‘menarik’ lainnya adalah ketika Anwar Congo bersama kedua cucunya sedang memberi makan ituk. Dalam adegan tersebut, Anwar menyuruh cucunya meminta maaf kepada salah satu ana itik yang kakinya pincang, karena terpukul/tertendang (saya lupa persisinya) oleh cucu Anwar. Anwar sempat berkata, kasihan itiknya. Kontras, mengingat dia telah membunuh manusia tanpa rasa kasihan.

Ruang untuk Pelaku

Sebenarnya pertanyaan saya lebih banyak tertuju kepada proses produksi dari film The Act of Killing. Apakah para aktor diberikan ruang dan dilibatkan dalam menentukan plot cerita, adegan mana yang dimasukan ke dalam film, adegan mana yang di cut, dll. Karena saya mendapatkan kesan, seolah-olah mereka memang ingin membuat sebuah film, untuk memperingati jasa mereka sebagai penumpas PKI, serta mengingatkan agar PKI tidak muncul lagi. Namun, secara keseluruhan saya justru mendapat kesan bahwa film ini hendak membongkar sebuah ‘kejahatan kemanusiaan’ yang jelas terjadi di Indonesia.

Di dalam film juga terlihat perdebatan mengenai salah atau benar tindakan para algojo membunuhi warga sipil ini. Joshua Oppenheimer bahkan menegaskan bahwa berdasarkan hukum internasional yang berlaku, perbuatan para algojo ini salah, dan bisa disidangkan di Pengadilan Ham Internasional Den Haag.

Di beberapa media, Anwar mengemukakan keberatannya terhadap The Act Of Killing. Bahkan dalam sebuah media yang saya baca Anwar merasa ditipu. Di media lain, Anwar juga mengaku belum menonton hasil akhir dalam film tersebut.

Tapi apapun itu, film ini menjadi bukti bahwa impunitas terjadi di Indonesia. seorang pembunuh (menurut pengakuannya 100 korban), yang secara gamblang menceritakan perbuatannya, masih bisa berkeliaran dan hidup tenang. Sementara keluarga korban tidak mendapatkan pemulihan apapun, malah masih banyak yang ketakutan dengan stigma PKI, mengalami pengucilan, dan lain-lain.

Trauma Healing

Hal lainnya, yang menjadi concern saya adalah beberapa orang yang dilibatkan dalam proses pembuatan film, yang berpotensi trauma. Saya pribadi saja, yang hanya menonton merasakan sebuah kegoncangan. Apalagi orang-orang yang terlibat di dalam pembuatan film tersebut. Antara lain, seorang pria yang memerankan PKI yang diinterogasi. Mungkin dia meningat ayah angkatnya yang dulu ikut dibunuh. Selain itu, beberapa anak-anak dan perempuan juga mengalami histeris setelah memerankan penduduk kampung yang suami/ayahnya dituduh PKI, sehingga diseret, dibunuh, dan rumah mereka dibakar.

Bagaimana kabar mereka sekarang? Apakah mereka mengalami trauma? Adakah upaya untuk pemulihan bagi mereka?

Menarikan Apa?

Pertanyaan saya lainnya adalah soal beberapa adegan perempuan-perempuan yang menari, yang menjadi pembuka film, dan muncul melalui beberapa adegan lainnya. katakanlah saya tidak mengerti seni perfilman. Tapi saya memang tidak paham keterkaitan adegan tersebut dengan isi cerita.

Apresiasi

Bagaimanapun, buat saya film ini harus diapresiasi. Film ini menjadi begitu jujur dalam menceritakan sejarah kelam bangsa Indonesia. kalau biasanya, film-film dokumenter menjadi ruang bagi para korban 65 bercerita, kali ini, yang diangkat adalah sutu pandang si pelaku. Buat saya pribadi tidak terlalu penting seberapa bangga mereka sebagai pelaku pembunuhan. Toh kita sama-sama tahu betapa propaganda Orba memberangus nilai kemanusiaan kita terhadap orang-orang yang dilabel PKI. Namun yang penting adalah bahwa fakta-fakta yang mereka paparkan harusnya menjadi modal bagi kita dalam mengungkap sejarah bangsa ini. pembantaian 65 jelas terjadi tidak hanya dibuktikan oleh para korban/keluarga, tetapi juga secara gamblang dipaparkan oleh para pelaku.

Tapi saya perlu mengingatkan kawan-kawan yang ingin menonton film ini. terutama apabila kawan-kawan memiliki keterkaitan dengan para korban. Keinginan kita untuk membongkar sejarah kelam bangsa ini, dimulai dari diri kita sendiri. Seberapa bisa kita menghadapi kisah yang (setidaknya bagi saya pribadi) menggoncang rasa kemanusiaan kita. Cerita 65 itu sangat kelam, tetapi itulah kenyataan bangsa ini.

65: Tentang Gerakan Rakyat yang Ditumpas

Postingan kali ini, adalah copas-an dari tweet2 saya semalam. Masih terkait 65, namun berbeda dari postingan-postingan sebelumnya yang lebih banyak membahas mengenai pelanggaran HAM yang terjadi, dan menuntut pengungkapakn fakta/sejarah.

Kali ini, saya ingin membahas mengenai pembungkaman gerakan-gerakan rakyat progresif yang sepertinya menjadi relevan untuk kondisi Indonesia saat ini.

Selamat menikmati, dan semoga bisa berdiskusi, karena pemikiran ini masih ‘mentah’ dan sangat membutuhkan proses diskusi di sana sini.

1. Kalo buat gw, #1Okt atau #30Sept adalah momen dimulainya pembungkaman terhadap gerakan-gerakan rakyat progresif..

2. Misalnya BTI, mengorganisir petani, menyadarkan hak-hak mereka, sehingga petani-petani tersebut bisa membela, memperjuangkan, & mempertahankan hak-hak mereka

3.Atau gerwani dengan pemberantasan buta huruf untuk perempuan, memperjuangkan mendidikan untuk perempuan, menentang poligami, memperjuangkan suara perempuan di ruang publik, termasuk di ranah politik

4. Atau Lekra yang membangkitkan semangat kebangsaan dan perjuangan melalui sastra

5. Dan banyak organ-organ progresif lainnya, termasuk organ-organ lokal yg ditumpas habis pada masa itu, dgn tuduhan PKI/Komunis

6. Setelah gerakan-gerakan itu ditumpas, kondisi pasca #1Okt juga mematikan potensi munculnya gerakan-gerakan progresif di kemudian hari.

7. Banyak yang dibungkam, hanya karna berbeda suara dengan penguasa, lagi-lagi menggunakan dalih PKI/Komunis.

8. Akibatnya selama puluhan tahun, bangsa ini dikekang dr ide-ide kemajuan, terutama ide-ide kekuatan rakyat

9. Padahal kita sangat membutuhkan dokumentasi tentang gerakan-gerakan tersebut, yang ternyata relevan dengan keadaan sekarang

10. Apabila melihat situasi Indonesia sekarang dimana penguasa sangat korup & sangat tidak berpihak pada rakyat. Maka setidaknya menurut gw yang perlu dilakukan adalah pengorganisasian-pengorganisasian di tingkat akar rumput. Petani, nelayan, buruh, masy miskin kota,dll

11. Bagaimana menguatkan mereka untuk akhirnya mereka memiliki posisi politik yg kuat dlm berhadapan dengan pemerintah

12. Sulit untuk mengharapkan keberpihakan negara(pemerintah), maka rakyat harus kuat & memiliki bargaining position di hadapan negara

13. Sebenarnya saat ini sudah banyak ‘letupan-letupan’ di berbagai daerah. Banyak pengorganisasian yang dilakukan meski cakupannya hanya komunitas

14. Ke depannya, tidak hanya perlu memperluas gerakan-gerakan tersebut,tapi juga bagaimana gerakan-gerakan yang ada bisa terkoneksi & saling menguatkan satu sama lain

15. Dari satu komunitas petani misalnya, kepada anak-anak kita bisa ‘bermain’ melalui pendidikan. Membangun kesadaran kritis & semangat untuk ‘melawan’

16. Melalui perempuan-perempuan, diawali dengan pemberantasan buta huruf, lalu masuk ke hak perempuan, struktur relasi kuasa, termasuk dengan negara, dll

17. Juga untuk petaninya (perempuan/laki-laki) masuk dari problem pertanian, lalu soal lahan, akses & kontrol terhadap sumber daya alam memperjuangkan hak mereka termasuk dengan melawan penguasaan sepihak baik oleh korporasi maupun negara

18. Bayangannya si gitu,  dan letupan-letupan itu ga akan jadi letupan kecil kalau bisa saling terkoneksi & mendukung tadi

19. Kita yangg di kota besar misalnya menangkap letupan mereka dengan dukungan penuh termasuk advokasi level nasional dan internasional, bantuan hukum, dll

20. Balik ke #1Okt gw pikir perlu banyak belajar dr orang-orang yang masih hidup gimana menjalankan pengorganisasian grassroot seperti yg dilakukn BTI,gerwani,dll

Kasus 65 dan Pembuktian Bersama

Tanggal 23 Juli lalu, akhirnya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengeluarkan rekomendasinya terkait pelanggaran HAM 65-69. Rekomendasi tersebut merupakan hasil dari penyelidikan Komnas HAM selama kurang lebih empat tahun. Mengutip kalimat pertama dari Dokumen Pernyataan Komnas HAM, Peristiwa 1965-1966 merupakan suatu peristiwa tragedi kemanusiaan yang menjadi lembaran sejarah hitam bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi sebagai akibatdari adanya kebijakan negara pada waktu itu untuk melakukan penumpasan terhadap para anggota dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dianggap telah melakukan tindakan perlawanan terhadap negara.”

Masalahnya, kebijakan tersebut diikuti oleh serangkaian tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat, maupun kelompok-kelompok masyarakat sipil yang terprovokasi oleh berbagai propaganda yang saat itu didengungkan mengenai PKI. Masalah menjadi lebih tragis, ketika kekerasan tersebut meluas, dan menjadikan banyak pihak yang sama sekali tidak terlibat, dan tidak tahu menahu, turut menjadi korban.

Kejadian tahun 65-69 merupakan kejadian yang luar biasa hingga menyisakan begitu banyak trauma bagi banyak orang. Sarwo Edi Wibowo pada saat itu mengklaim telah membunuh 1 juta orang yang ‘dianggap’ PKI. Kabar yang saya dengar dari mulut ke mulut, setiap pejabat setempat harus ‘menyetor’ kematian orang-orang yang ‘dianggap’ PKI, dengan menyerahkan kepala mereka. Baru kemudian untuk ‘lebih praktis’ yang ‘disetorkan’ adalah kuping orang-orang yang sudah tidak bernyawa.

Kekerasan terhadap mereka yang dituduh PKI terus berlanjut di berbagai penjara, rumah tahanan, hingga ke pulau buru. Juga menjalar ke rumah-rumah keluarga yang dicap PKI, yang diambil alih dengan dalih pos pengamanan. Kekerasan itu terus membuntuti anggota keluarga tersebut dengan berbagai stigma dan pengucilan yang dilakukan oleh masyarakat. Belum lagi berbgai pemberitaan berisi propaganda kebohongan yang tidak henti-hentinya menenggelamkan masyarakat dalam kesimpangsiuran sejarah bangsan ini.

Lalu kekerasan itu terus berlanjut hingga saat ini. ketika sebuah monument berdiri dan menudingkan bebagai tuduhan keji ke sekelompok orang yang dulu berjuang dengan progresif untuk petani, untuk nelayan, untuk perempuan. Sebuah film diproduksi dan ditayangkan berulang-ulang untuk menumbuhkan ketakutan masyarakat terhadap tiga huruf P, K, dan I. Kekerasan terus diproduksi melalui buku-buku pelajaran, surat kabar, dan berbagai media lainnya. Sekaligus melalui pelarangan, bahkan pembakaran buku yang dianggap memuat versi berbeda dari sejarah putih yang buatan penguasa. Kekerasan-kekerasan tersebut terus membangun ketakutan, membangun kebencian, sekaligus membungkam kebenaran dan kemanusiaan.

Ketika Komnas HAM akhirnya menyatakan bahwa peristiw 65-69 merupakan Pelanggaran HAM berat, yang harus ditindaklanjuti melalui Pengadilan HAM, maka saya harus memberi apresiasi kepada Komnas HAM. Karena Komnas HAM sudah mengerjakan porsinya. Sekarang tinggal bagaimana pihak lain (Kejaksaan Agung, DPR, Presiden), juga mengerjakan porsinya, dan berkomitmen dalam penegakan hak asasi manusia.

Hal terbesar yang harus dilakukan adalah bangsa ini harus keluar dari kepengecutan yang telah dibangun selama lebih dari 32 tahun. Bangsa ini harus membuka mata bahwa penah ada masa kelam ketika Negara ini membunuhi penduduknya, memenjarakan mereka, memisahkan mereka dari keluarga, memperbudak mereka, dan terus menstigma dan mengucilkan mereka. Negara ini harus sadar akan kesalahan yang pernah diperbuat, dan berani minta maaf. Negara ini juga harus berani merevisi buku-buku sejarah, dan menuturkan kebenaran kepada generasi-generasi mendatang.

Tantangannya tidak hanya  pada Komnas HAM, Kejagung, DPR, dan Presiden. Tapi juga pada kita, sebagai anak bangsa yang ingin Negara ini maju ke arah yang lebih baik, yang harus menerima sejarah bangsa ini apa adanya, menerima betapa manipulasi sejarah pernah dilakukan melalui propaganda keji atas demi sebuah kekuasaan.

Sebelumnya, Komnas HAM berdasarkan kewenangannya telah menyelesaikan penyelidikan lima kasus pelanggaran HAM berat, antara lain:

1.Trisakti, semanggi I, dan semanggi II pada tahun 2002

2. Mei 98 pada tahun 2003

3. Wasior Wamena pada tahun 2004

4. penculikan dan penghilangan paksa pada tahun 2007

5. Talang Sari pada tahun 2008.

6. Penembakan Misterius pada tahun 31 Juni 2011

Kita sama-sama tahu, bahwa hingga detik ini tak ada satupun dari kasus-kasus di  atas diungkapkan. Namun momen kali ini adalah momen penting untuk kembali menguji komitmen Negara ini dalam Penegakan Hak Asasi Manusia. Tidak hanya untuk Pelanggaran HAM Berat yang terjadi pada tahun 65-69, tetapi juga untuk kasus-kasus lainnya yang sebelumnya sama sekali belum menemukan titik penyelesaian.

Maka inilah saatnya untuk membuktikan bahwa Bangsa ini bisa keluar dari kepengecutan yang telah dibangun selama lebih dari 32 tahun itu.