Buku

Aku terjebak di antara deretan panjang kata. Tak pernah membingungkan, hanya menenggelamkan. Membuat larut tak tersisa, melupakan dunia di sekitar kita.

 

Berhadapan dengan kata-kata yang tertulis menjadi sebuah zona nyaman. Membaca ekspresi tanpa melihat, memahami perasaan tanpa harus menyentuh dan saling menatap. Kita ada di dunia yang sama, saling berinteraksi tanpa suara. Hanya kedalaman perasaan dan pengertian yang tanpa batas di antara kita. Tak terganggu oleh gimmick yang membuat curiga, atau nada suara yang memekakkan telinga.

 

Biarkan aku berdua saja dengannya. Yang lebih memahamiku daripada kebanyakan manusia di dunia. Membiarkanku menjelajahi lembar demi lembar, menyusuri huruf demi huruf, paragraf demi paragraf, menghadirkan berbagai perasaan yang begitu kaya. Biarkan dia saja yang menjadi duniaku. Di mana aku bisa bereaksi tanpa menimbulkan reaksi, merespon tanpa takut dinilai.

 

Berikan aku buku saja. Boleh juga dengan pena. Biar aku mengukir dunia. Dunia milikku saja. Dunia dimana aku menjadi aku.

Iklan

Ketika Sri Mulyani Melupakan Marsinah

Berada di organisasi perempuan dengan banyak kesempatan untuk bersentuhan langsung dan berinteraksi dengan perempuan akar rumput di berbagai konteks mengajarkan saya bahwa persoalan perempuan tidak pernah sederhana.

WhatsApp Image 2018-03-08 at 11.17.23 PM

Berkata bahwa Marsinah dibunuh dan diperkosa semata-mata karena dia perempuan sama tidak tepatnya dengan berkata bahwa ia dibunuh dan diperkosa semata-mata karena dia buruh dan miskin. Berbagai identitas perempuan nyatanya menambah lapisan penindasan yang dialami serupa kulit bawang merah yang setiap kupas lapisannya menjadi semakin pedas.

 

Marsinah tidak sendiri. Marsinah adalah perempuan, Marsinah adalah kita. Perempuan yang mengalami penindasan berlapis sejak kita kecil, bahkan sebelum kita terlahir. Kita yang tanahnya dirampas, pesisirnya diprivatisasi, yang lautnya direklamasi. Kita adalah perempuan yang lingkungannya dihancurkan, airnya dicemari dan diambil perusahaan. Kita perempuan yang sumber-sumber kehidupannya dirampas, diusir dari tanah kita sendiri, menjadi pekerja rumah tangga dan buruh migran, didera kekerasan dan penyiksaan. Kita adalah perempuan yang diperkosa namun disalahkan ketika memakai rok pendek, yang dikeluarkan dari kampus ketika mengenakan cadar. Kita adalah perempuan yang dicambuk di depan umum hanya karena berdekatan dengan laki-laki, diperkosa karena mencintai sesama perempuan, dikejar di gang-gang oleh Satpol PP dan Wilayatul Hisbah hanya karena kita perempuan yang lahir dengan penis.

 

Lalu ada perempuan-perempuan yang juga mengalami diskriminasi dan kekerasan. Tetapi memiliki privilege lebih dibandingkan perempuan-perempuan lainnya. Mereka yang bersekolah tinggi, hingga mendapat kesempatan sebagai pengambil kebijakan. Iya, mereka perempuan. Tapi apakah keperempuanannya menjadi jaminan untuk mengakui, menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak perempuan lainnya?

 

Memperjuangkan hak-hak perempuan adalah memperjuangkan pengakuan bahwa perempuan memiliki posisi setara, punya hak untuk berpendidikan tinggi, dan berkiprah di ruang publik hingga mengurus negara. Memperjuangkan hak-hak perempuan adalah bersuara bahwa tidak ada seorang perempuan pun boleh mengalami kekerasan, perempuan tidak boleh dipukul, disakiti, diperkosa, dilecehkan, dan lain sebagainya. Memperjuangkan hak-hak perempuan adalah memberikan pilihan sepenuhnya pada perempuan, apa yang mau dikenakan, kemana dia akan pergi, dengan siapa dia jatuh cinta, apakah dia ingin mengambil peran sebagai ibu atau tidak, dan sebagainya.

 

Itu betul. Tapi tidak cukup.

 

Bagaimana dengan perempuan miskin yang tanahnya dirampas karena proyek-proyek yang didanai World Bank, ADB atau Lembaga Keuangan Internasional Lainnya. Mereka yang hutan, laut, airnya tercemar akibat investasi yang setengah mati dibela dan digadang-gadang oleh mereka (termasuk perempuan) atas nama mengoleksi pajak untuk pertumbuhan ekonomi. Bagaimana dengan perempuan yang menjadi pekerja rumah tangga migran karena tanah, hutan, dan lautnya dirampas, diprivatisasi untuk investasi? Perempuan buruh yang keringatnya diperas tanpa gaji layak, semata-mata karena pemerintah (di mana perempuan ada di dalamnya) lebih senang memperlancar investasi ketimbang mewujudkan perlindungan hak-hak buruh.

Bagaimana dengan perempuan yang ditangkap dan dikriminalisasi saat memperjuangkan tanahnya yang dirampas perusahaan. Perempuan yang miskin, mengalami trafficking, kemudian dihukum mati karena mengantar narkoba tanpa dia tahu apa yang dia bawa. Perempuan yang nyata-nyata menghadapi penderitaan, bukan hanya karena dia perempuan, tapi juga karena pemiskinan struktural yang dihasilkan sejumlah proyek dan kebijakan yang juga turut dibanggakan oleh sebagian perempuan.

 

Memperjuangkan perempuan adalah tentang membangun solidaritas. Menembus batas-batas ke-aku-an dan ke-dia-an. Bahwa perempuan yang mengalami penindasan semenjak dahulu, sejatinya mampu merasakan penindasan yang dialami perempuan lain.

 

8 Maret adalah hari kita, adalah ruang konsolidasi kita, adalah solidaritas yang semakin menguat, adalah gerakan yang semakin kuat. Kita perempuan di berbagai konteks di berbagai sektor dengan berbagai pengalaman penindasan, dengan solidaritas membangun perjuangan bersama, memperjuangkan hak-hak, mencapai kedaulatan.

 

Selamat Hari Perempuan Sedunia.

WhatsApp Image 2018-03-08 at 11.16.04 PM

Bukan Miliknya Lagi

Seorang gadis tumbuh dewasa lebih matang dari yang semua orang perkirakan. Ibunya berpikir gadis manjanya tak mungkin jadi semandiri sekarang. Kawan-kawannya berpikir dia akan terus menjadi bocah yang tak pernah serius menghadapi hidup. Bahkan dirinya sendiri tak pernah menginkan loncatan tinggi atau ambisi tentang posisi.

Sekali dia berkata dengan jelas. Aku hanya orang biasa, yang ingin jadi biasa, menjalani hidup biasa dan sederhana

Sejelas hijaunya daun di pagi hari, sejelas itu pula dia menetapkan diri sebagai manusia tanpa ambisi. tak pernah ia pasang mimpi terlalu tinggi, hanya menetapkan target yang hampir pasti dapat dia raih. Setidaknya begitulah hidupnya berjalan hingga pertengahan usia 20-an.

Tapi bukan hidup namanya jika ia tidak mempermainkan. Ketika ekspektasi datang satu per satu tiada henti. hingga dia merasa hidupnya bukan miliknya lagi.

Hilang

Marah, Sakit, Kecewa,

Rasanya menjadi berlipat-lipat ganda ketika tidak terungkapkan

Menahan api yang tidak mungkin padam

Menahan lelehan luka yang perihnya tak mungkin hilang

Menahan berjuta pertanyaan mengapa, tanpa pernah memiliki jawaban masuk akal.

 

Ah, rasanya begitu ingin menenggelamkan kepala dalam-dalam

berharap bisa meredakan sakit yang telah bersarang

syukur-syukur tak perlu muncul lagi

agar Hilang segala rasa yang menyakiti

Berisik

Cinta

Semua orang selalu berisik tentang cinta. Tentang yang membuat bahagia, namun tak jarang menghadirkan air mata. Perasaan yang katanya luar biasa, tak bisa diungkapkan kata-kata. Hanya bisa dirasa, dinikmati, atau mungkin disesali. Apapun rasanya, dia tetap dipuja. Dibicarakan, diperebutkan, diperdebatkan. Romansanya diperbincangkan di mimbar akademik, hingga lokalisasi pinggir statsiun tengah malam. dipertahankan mati-matian dijungjung tinggi seolah hal paling penting di dunia. Dewa dari segala dewa, Tuhan dari segala Tuhan.

 

Aku bosan

 

Nyatanya romansa tak datang pada setiap orang. Dan itu bukan sama sekali petaka. Cinta hanyalah tentang sebuah mindset. Sebuah kata yang meligitimasi perasaan menye-menye hingga hasrat sex yang menggebu. Komoditas yang laku setiap 14 Februari, atau sekedar perayaan malam minggu. Dibentuk iklan-iklan di tabloid hingga surat kabar. Film-film picisan, atau lagu-lagu mendayu. Membentuk khayalan, membangun keyakinan, yang sesungguhnya kita buat sendiri.

Berisik

Konsekuensi

Kadang kita tidak sadar pada jiwa yang tak berkembang meski usia terus bertambah.

Pada tanggung jawab yang membesar tanpa kita tahu ukuran kesanggupan yang kita miliki.

Tapi segala pilihan diambil bersamaan dengan konsekuensi.

Sementara waktu takkan pernah berputar mundur.

Maka menghadapi konsekuensi adalah satu-satunya pilihan yang bisa dijalani