Semua Konstruksi, Kadang Ilusi

Pada pagi yang bersinar, sering kukatakan aku tak mau kalah dari sinarnya

Pernahkah kamu merasa sebagai orang yang gagal? Sesederhana menutup mata dan telinga, tapi ngiang kegagalan itu melompoat-lompat di dalam benak.

Semenjak kecil, kata kuat menjadi berhala. padahal lemah adalah bagian dari hidup, yang sulit diakui, tapi begitulah adanya.

“Kita harus kuat”

“Jadi perempuan itu harus kuat”

“Hidup itu menanjak, dan belajar, dan berproses, menjadi lebih baik, menjadi lebih hebat, menjadi lebih kuat”

“dia saja bisa, masa saya ga bisa?”

Nyatanya semua adalah konstruksi. bentukan. yang kadang kala malah mendekati ilusi

 

Hey, gagal pun tak mengapa..

Satu-satunya yang merugi adalah yang tak pernah mencoba.

Ke-millenial-an dan Perlawanan terhadap Penindasan Global

“Minke itu millennial, tapi pada masanya. Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun. Memang anak-anak muda, buku ini pun bicara tentang gejolak anak muda.” (Pernyataan Hanung Bramantyo di Konpers Film Bumi Manusia)

 

“Pertama kali membaca Bumi Manusia saat kuliah. Waktu saya baca novel ini merasa apa yang disampaikan sangat penting sekali. Pada saat membaca, saya menjadi remaja yang keren kemudian terbawa dan menemui Pak Pram.” (pernyataan Hanung Bramantyo sebagaimana dikutip di kapanlagi.com).[1]

Berbeda dengan Hanung, saya yang waktu itu adalah anak kemarin sore dan begitu dangkal pemahaman mengenai Pram dan tetralogi Burunya justru merasa keheranan. Ada ekspektasi saya, meski saat itu masih begitu minim membaca karya-karya Pram (Bumi Manusia adalah karya Pram keempat yang saya baca setelah Arok Dedes, Gadis Pantai, dan Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer), yang tak terpenuhi. Membaca Bumi Manusia membuat saya berpikir, kenapa tokoh di dalam novel ini, begitu tergila-gila dengan pendidikan Eropa, begitu menyanjung Belanda. Saya pun bertanya-tanya, di mana perlawanan terhadap kolonialisme yang seharusnya ada. Meski, kesadaran-kesadaran tentang ketidakdilan telah tersaji dengan jelas. Baru kemudian setelah membaca 3 buku berikutnyalah saya takjub dengan bagaimana Pram membawa kita pada proses kesadaran Minke, hingga menetapkan keberpihakan dan melakukan perlawanan nyata terhadap penjajahan.

 

Adil sejak dalam pikiran nyatanya memang sulit. Apalagi untuk tidak mengadili sutradara hingga pemain utamanya. Tapi saya akan berusaha tidak menghakimi apa yang sedang dibuat oleh Hanung dkk. Saya hanya bertanya-tanya apa yang dimaksud Hanung dengan, “Waktu saya baca novel ini merasa apa yang disampaikan sangat penting sekali.” Atau apa yang membuat dia merasan sebagai remaja yang keren? Apakah karena memahami pergolakan batin Minke yang berusia 20 tahun di Bumi Manusia, lalu mampu merasakan dan menganalisis kegelisahan yang sama pada dirinya sebagai remaja usia kuliah? Atau merasa keren dengan sekedar sudah membaca karya dari satu-satunya sastrawan Indonesia yang diusulkan sebagai peraih Nobel Sastra?

Millenial

“Minke itu millennial, tapi pada masanya,” kata Hanung. “Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun.”[3]

“Iqbaal dan Mawar anak milenial, yang sadar dengan kebudayaan.”[2]

Bumi Manusia adalah seri pertama dari tetralogi Buru, menceritakan Minke yang meski pada awalnya sangat menggilai Eropa (kemudian dianggap Millenial), lalu memperoleh kesadarannya atas penindasan akibat penjajahan dan kolonialisme. Tak hanya itu, dia melakukan perlawanan terhadap penjajahan tersebut dengan cara menulis, dan mendirikan surat kabarnya sendiri hingga dinobatkan sebagai Bapak Pers Indonesia.

Maka mengaitkannya dengan Ke-Milenial-an seharusnya hendak menyampaikan pesan penting serupa ‘penjajahan’ itu masih terus berlangsung di Indonesia. Ketimpangan negara-negara utara dan negara selatan terus berlanjut, bahkan di berbagai meja perundingan dunia. ‘Kolonialisme’ masih berwujud di mana segala sistem ekonomi kita diarahkan dan dikendalikan untuk kepentingan kapital atau mereka yang bermodal besar. ‘Tanam Paksa’ masih dipraktikkan melakukan Praktik Perkebunan Kelapa Sawit, atau Perkebunan Tebu milik BUMN (PTPN), yang merampas lahan masyarakat, menyebabkan masyarakat menjadi buruh di tanahnya sendiri, dan menanam komoditas yang bukan untuk kepentingan kita, demi memperkaya yang sudah begitu kaya. Pun Poligami, Perkawinan Anak, hingga kontrol terhadap keputusan, dan kehidupan perempuan yang merupakan penindasan terhadap seksualitas perempuan tetap berlangsung hingga hari ini. Maka mengaitkannya dengan Ke-Milenilai-an sejatinya mengandung pesan, bahwa di tengah gempuran ekonomi politik global, perlawanan harus dilakukan, dan bukannya sekedar simbol-simbol serupa baju adat, kereta kuda, apalagi soal anak pribumi yang jatuh cinta pada bule.

“Saya tidak perlu kasih buku tebal ke Iqbaal, tinggal pakaikan baju adat, yah jadilah Minke,” [4]

Foto Preskon ‘Bumi Manusia’ Para Pemain Datang Naik Kereta Kuda[5]

Novel ini menceritakan kisah roman Minke, seorang pribumi di zaman kolonial Belanda, yang jatuh cinta kepada Annelies, anak blasteran seorang Belanda dengan seorang nyai bernama Nyai Ontosoroh. Ceritanya berlatar belakang sekitar tahun 1890 sampai 1918. [6]

WhatsApp Image 2018-05-27 at 15.52.41

sumber gambar: Sebuah Grup Whatsap, verified

 

[1] https://www.kapanlagi.com/showbiz/film/indonesia/saat-mahasiswa-hanung-pernah-ditolak-pramoedya-adaptasi-2268364732bumi-manusia22683648482-fb3906.html

[2] https://www.viva.co.id/showbiz/film/1040104-alasan-hanung-bramantyo-pilih-iqbaal-di-film-bumi-manusia

[3] Pernyataan Hanung di Konpers, sebagaimana dikutip di https://www.vice.com/id_id/article/evkvak/tak-terima-iqbaal-ramadhan-jadi-minke-santai-kalau-ga-kontroversial-bukan-film-bumi-manusia-dong

[4] https://www.dream.co.id/showbiz/alasan-hanung-bramantyo-pilih-iqbaal-di-bumi-manusia-1805252.html

[5] https://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/indonesia/66924cast_bumi_manusia-20180525-005-bintang.html

[6] http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2018/05/25/film-bumi-manusia-segera-digarap-iqbaal-tertantang-perankan-minke-424948

Di Tengah Ramai

WhatsApp Image 2018-05-17 at 10.44.09 PM

 

Apa yang akan kamu lakukan, kalau kamu bisa memilih menggunakan 8 jam waktu dalam satu hari?

 

Aku?

Akan memilih jam yang paling ramai

Ditemani kopi, buku, dan musik kencang di telingaku

Membaca, menulis, kemudian diam sejenak

 

Selintas mencuri dengar pembicaraan meja sebelah

Tentang dua insan manusia yang saling merayu

Atau meja di depan

Yang penuh ungkapan saling membagakan diri

Banyak bicara tapi sepertinya kurang mendengar

 

Selintas memutarkan pandangan

Menangkap senyum malu-malu

Atau tatapan arogan tak mau mendengar

 

Kadang juga ada gelak tawa

Atau pandangan penuh perhatian yang tulus

Kehangatannya sampai bisa kurasa

 

Manusia,

Selalu menarik untuk diamati

Membuatku nyaman ketika dikelilingi

Asalkan

Tidak harus berinteraksi

Kirana

Hidup emang ga pernah mudah, tapi di sela-sela hidup yang begitu rumit, selalu ada kebahagiaan kecil terselip.

 

Di sini sudah lewat tengah malam, ketika aku menerima pesan dari Mama. Lima jam jarak waktu kami. Mama sudah bangun pagi, sementara aku masih berusaha setengah mati untuk bisa tidur.

 

Di tengah kepenatan di antara berbagai terminologi, APA Item 3, article 6 — mitigasi, conflict of interest, navigation tools, NDC, non-market mechanism, corresponding adjustment, gender action plan, (ok, gw harus stop di sini, biar ga balik jadi kebelinger lagi). Belum lagi muncul kabar ga enak dari rumah beberapa hari sebelumnya. Setidaknya malam tadi ada secercah kelegaan yang hadir.

 

Kirana.

Dia mungkin manusia paling spesial di dalam hidupku. Menyaksikan dia tumbuh dari bayi kecil, hingga saat ini berusia 18 tahun, rasanya begitu menakjubkan. Dia memberikan pembelajaran yang begitu dalam. Tidak hanya soal kasih sayang dan ketulusan. Justru dia yang mengajarkan saya untuk menjadi kuar, untuk menjadi tangguh. Sekaligus untuk percaya, untuk mengatasi ketakutan dan kekhawatiran, untuk belajar mengendalikan diri, agar tidak posesif, dan tidak control freak.

 

Dia tumbuh menjadi gadis dewasa yang bertanggung jawab, mengetahui apa yang ia mau, mengejarnya tanpa ragu. Termasuk untuk ujian ke luar kota, di mana Kampus impiannya berada. Berangkat sendiri ke sana, menjadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Sendiri, aku tidak bisa menemani.

 

Ahh, rasa takut dan khawatir itu

Gimana kalo dia ga lulus ujian

Gimana kalo dia kuliah di luar kota? Siapa yang nemenin kalo dia sedih?

Anak ini masih bocah dan lugu, apa bisa menghadapi kehidupan di kampus?

Pokoknya gimana pun dia harus tinggal sama gw, dan cari kampus yang deket dari kontrakan gw.

 

Nyatanya, semua pertanyaan pernyataan itu, salah. Bukan cuma salah, tapi juga politically incorrect. Kirana adalah telaga bagi kami. Dia sudah sanggup menghidupi dan menerangi kami. Tidak ada alasan merasa dia tidak mampu menjalani hidupnya.

 

Malam tadi (atau pagi tadi waktu Indonesia bagian barat), dia mengabariku sedang dalam perjalanan untuk ujian Keterampilan.

Malam tadi (atau pagi tadi waktu Indonesia bagian barat), Mama mengabariku bahwa Kirana lulus di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

 

Di manapun dia lulus ujian nanti, yang manapun yang dia pilih,

 

Kirana sudah siap kuliah

Gadis kecilku sudah dewasa

Gadis kecilku tumbuh dengan mengenal dirinya sendiri, mampu menentukan pilihannya, dan menjalaninya dengan tanggung jawab.

 

Di antara segala keruwetan hidup,

Malam tadi aku menangis lega.

Bonn, 9th of May 2018

A Play

This world is not more than a play. We are puppets. Playing a role. Sometimes we can improvise the script. But we will never able to change the bigger agenda.

 

But, for whom? Who is watching our play? Who is laughing when a ‘clown government’ success to impress their people, without doing nothing than continuing inequality and injustice that have been played for decades? Who is crying when a baby girl killed because there is no food for her. Their land was grabbed; their food was destroyed.

 

What is the reason behind life? What the meaning of living, trying hard to scream, but in fact we can’t change anything? What reflection I can have? What lesson learn I can take?

 

Life is never fair. Life is never easy.

 

Another world is possible? It is! Another world is always possible. Only if people want to share power. Fairly. And that is the main problem.

 

We make them richer, they make us weaker. Indeed, human is the worst creature ever.

Bad Godesberg, 4th of May 2018

Survive

Survival,

Is the strongest power

Sometimes I wonder, how we can survive in this insane world.

 

Sometimes I feel that give up is the easiest way to take.

This life isn’t beautiful

And human is the worst creature ever.

 

If you ever trying

To cut your arm

Or drink poison

Or prepare the rope to hanging yourself

 

Please tell me

How you finally manage to survive

Tell me

Cause it is a precious power to be life

 

Bad Godesberg, 4th of May 2018

Laki-laki Feminis?

Laki-laki Feminis?

 

Pertanyaan ini makin sering menggelitik seiring dengan berbagai kegiatan dan program (yang katanya) untuk perempuan, tetapi menyasar laki-laki sebagai ‘pelaku’ utama atas nama keterlibatan. Saya sendiri belajar feminis, betul-betul melalui proses panjang, dari pemahaman sekedarnya, mencoba memfasilitasi berbagai ruang penguatan pemahaman dan kesadaran feminis, dan masih terus berproses hingga sekarang. Dalam proses tersebut, pemikiran saya pun menggeliat dengan begitu dinamis. Hasil bacaan, yang mayoritas bukan saya dapatkan dari buku, melainkan buah dari proses refleksi mendalam terkait pengalaman saya sendiri, maupun pengalaman perempuan lainnya.

 

Refleksi Pengalaman Perempuan kemudian menjadi kunci. Kenapa? Karena feminisme itu sendiri merupakan ideologi yang berbasis pengalaman perempuan. Karena pengalaman itu sendiri, tidak bisa disamakan, digeneralkan, ataupun diklaim juga bisa dirasakan orang lain. Pengalaman sangat menyangkut rasa, personal, sehingga bekas yang digoreskan pun menjadi begitu personal, dan lekat, tanpa bisa ditukar semata-mata hanya melalui cerita lisan, atau deretan kata di buku bacaan. Pengalaman perempuan yang mengalami ketertindasan karena berbagai struktur kuasalah yang akan mampu menghadirkan kesadaran feminis. Kesadaran feminis yang kemudian menggerakkan kita untuk berjuang melawan berbagai ketertindasan tersebut.

 

Lalu, siapa yang mengalami pengalaman perempuan, sehingga bisa merefleksikan ketertindasan perempuan?

 

Ya, Perempuan.

 

Jadi siapa yang paling tahu strategi apa yang harus dilakukan, agenda apa yang menjadi target, dan bagaimana memimpin gerakan?

 

Ya, Perempuan

 

Bahwa salah satu tujuan feminis adalah betul untuk perubahan nilai, dengan menghapuskan budaya patriarki. Bahwa perubahan nilai perlu dilakukan dan didukung oleh semua orang tidak terkecuali laki-laki di dalam setiap ranah, dan aspek kehidupan. Maka keterlibatan laki-laki, serta idelogisasi feminis untuk laki-laki adalah benar dibutuhkan. Bahwa para our supporting brother selalu bisa bergerak bersama dan mendukung di belakang kita.

 

Namun demikian, mengubah budaya patriarki sendiri berarti merombak struktur kuasa. Tidak akan cukup hanya bicara pola relasi, ataupun ketimpangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki. Pada struktur kuasa yang berlapis-lapis tersebut, perempuan dengan berbagai keragaman identitasnya telah menjadi yang disubordinasi di dalam setiap lapisannya.

 

Ruang perempuan telah sedemikian sempit, bukan hanya terkait ruang aman untuk tidak mengalami kekerasan, tetapi juga ruang untuk bergerak, bersuara, ber-ide dan menuangkan gagasannya, merancang, merumuskan, apalagi memimpin. Sedemikian sempit dalam berbagai sektor dan aspek kehidupan. Dari mulai menentukan apakah dia ingin sekolah atau menikah, ingin punya anak atau tidak, menentukan tanaman yang ingin ditanam, dengan benih yang mana, menentukan akan menjual tanah yang selama ini digarap, atau mempertahankannya, menentukan hendak dibuat apa uang hasil berkerjanya, apalagi bicara menentukan arah pembangunan, kebijakan publik dan pemerintahan.

 

Di tengah ruang perempuan yang telah sedemikian sempit di atas, kemudian muncul He for She, atau program lainnya yang bertajuk Man for Woman. For adalah untuk. Dia (laki-laki) untuk dia (perempuan), Laki-laki untuk perempuan. Seolah-olah hanya kelelakianlah yang bisa berbuat sesuatu untuk perempuan, maka persoalan perempuan akan bisa selesai. Lagi-lagi, laki-laki menjadi subjek, yang (dianggap) mampu/bisa melakukan sesuatu untuk perempuan. Cara pandang yang demikian mereplikasi objektifikasi perempuan yang dilanggengkan oleh patriarki. Dengan mengatasnamakan program perempuan, semata-mata hanya menargetkan perempuan sebagai objek, bukan subjek utama yang bergerak apalagi memimpin gerakan.

 

Tidak hanya itu, jengah rasanya melihat atau mendengar berbagai kegiatan yang berbicara tentang perempuan, tetapi justru di-narasumber-i oleh mayoritas (bahkan seluruhnya) laki-laki. Berapa kali saya dengar orasi dan pidato laki-laki membicarakan tentang perempuan, masalah perempuan, dan bagaimana gerakan perempuan harus dijalankan.

 

Mari kembali bicara soal struktur kuasa. Maka ‘hadirnya’ laki-laki sebagai yang terus bicara dan harus didengar, sebagai yang memimpin dan menggurui tentang perempuan dan gerakan perempuan. Ini adalah contoh nyata bagaimana struktur kuasa bekerja. Mendominasi, merebut, membungkam, mempersempit ruang perempuan. Dan yang menyakitkan, mereka hadir dengan mendompleng gerakan perempuan. Atas nama keterlibatan, atas nama kesetaraan, atas nama sebagai laki-laki feminis, mereka tengah menjalankan struktur kuasa, persis yang diciptakan oleh budaya patriarki.

 

 

Catatan: Tulisan ini dibuat berdasarkan refleksi dan kegelisahan terkait gerakan feminis, yang diperkaya melalui diskusi dengan beberapa kawan.