Satu Lagi, Hilang

Saya pengen nyekolahin Ayip sampe kuliah

Saya juga pengen punya rumah layak, ga gede gapapa, tapi layak

WhatsApp Image 2017-08-23 at 11.00.55 PM

Dari semburat jingga langit sore Karawang yang tengah menantimu

Ayip adalah anak laki-laki semata wayangnya, yang akhirnya lahir setelah tujuh tahun dalam perkawinan menantikan kehamilan. Saat ini Ayip sudah lulus dari SMA nya, tengah menunggu ijazah. Ketika ditanya apakah ia ingin kuliah, ia mengatakan ingin bekerja. Jikalau memungkinkan bekerja sambil kuliah, barulah dia terpikir akan kuliah juga.

 

Rumah mereka adalah bangunan kota sekitar 2 x 3 meter saja. Temboknya sudah retak-retak, catnya terkelupas di mana-mana. Lantainya rusak, bisa diduduki karna dilapisi tikar sederhana. Hanya ada 1 kamar tidur tanpa peralatan rumah tangga seperti TV, kulkas, ataupun kompor gas. Kamar mandinya tak lagi bisa dipakai. Semenjak banjir beberapa tahun lalu, pintunya lapuk tak bisa dipasang, sistem pembuangannya pun rusak tak lagi berjalan. Selama ini Teteh, suami dan anaknya menumpang kamar mandi di musola seberang jalan.

 

Beberapa bulan sebelum lebaran, Teteh ingin berangkat ke Brunei Darusallam. Bekerja, menjadi Buruh Migran. Sang suami sempat melarang. Tak mengizinkan, tak menandatangani surat izin suami yang menjadi persyaratan. Namun keinginan Teteh untuk menguliahkan anak, impian Tetah untuk punya rumah yang layak meruntuhkan keteguhan sang suami. Izin pun diberikan.

 

Teteh pun mencari sponsor setempat. Namun si sponsor hanya bisa memberangkat ke Malaysia atau Singapur. Teteh cuma mau ke Brunei Darussalam. Tempat dia pernah bekerja bertahun-tahun silam, pekerjaan rumah tangga hingga menjual sayuran. Tempat yang menurutnya masih lebih baik, ketimbang negara yang gemar menyiksa dan melarang Buruh Migrannya ke luar rumah. Satu-satunya alternatif bagi Teteh meski dia sadar kerentanan yang akan dia hadapi sebagai Buruh Migran. Dia pun mencari sponsor lain, hingga ke Kranji, Bekasi.

 

Teteh sempat dinyatakan unfit. Artinya dia tidak bisa bekerja menjadi Buruh Migran. Namun dia tetap berusaha, berobat selama empat bulan, di Jakarta. Dua minggu sekali dia pulang ke Karawang. Meski gajinya akan dipotong 5 bulan untuk mengganti biaya rumah sakit. 3 hari sebelum lebaran, Teteh pun berangkat ke Brunei Darussalam.

 

Senin malam kemarin, Teteh menelepon suaminya. Hanya bilang ingin pulang. Suaminya pun mengiyakan.

Selasa, sekitar jam 10 malam, telepon datang dari sopir travel. Teteh sakit, dalam perjalanannya melalui dari Brunei ke Indonesia lewat Malaysia. Dadanya sesak dan telah dilarikan untuk dirawat di rumah sakit di Malaysia.

Rabu, sekitar 1.30 pagi telepon suami Teteh berdering tidak terangkat. Sopir travel yang menelepon pun beralih ke nomor Ayip. Mengabarkan Teteh sudah tak lagi bersama kita, hilang, tak lagi merasa sakit, pergi.

 

Tak ada lagi Teh Ipah yang tomboy dan ceplas ceplos

Teh Ipah yang ceria dan selalu membuat suasana ramai

Teh Ipah yang menyenangkan dan penuh kasih sayang

 

Sudah bertahun lalu kita bertemu, Teh

Rencana ke rumahmu terpaksa dipercepat. Bukan untuk bertemu, tetapi untuk melepasmu

Iklan

Hujan

Hujan

Banyak orang bicara tentang hujan

Ada yang bilang benci hujan karena menggeser cerah cahaya

Tapi lebih banyak yang bicara suka

Tentang bulir-bulirnya yang menjadi sumber kehidupan

Atau titik-titiknya yang jatuh ke wajah

Hingga samarkan air mata kesedihan

 

Benci atau suka

Perasaan kita bukan urusannya

Biar dia menderap menapaki jejak-jejak gelap

Seraya menjanjikan tidur lelap bagi yang bisa terlelap

Kala malam telah lewat, oh sayangku

Mata sendu itu tetap pekat di hadapku

Andai bisa kugeser sendumu ke luar pintu

Hingga merekah seulas senyum di bibirmu

 

Kala pagi mulai datang menjanjikan harapan

Tapi kita tetap lekang dari segala ingatan

Hanya kita berdua saling tatap hingga petang

Satu hari kembali hilang tanpa mimpi tergapai rengkuhan

 

DNY-280116-00.44

#latepost

Gundah

Sebotol teh dingin dan wafer coklat. Berharap bisa membantuku untuk menghilangkan kegundahan yang hampir meluap. Bukan karena rasa gundah itu sendiri yang kurasa tak nyaman. Tapi keinginan agar rasa itu tak terbaca di saat dia begitu membuncah.

Masalahnya gundah mengundang berbagai pikiran buruk. Hampir menyerah, seperti itulah kira-kira. Kenapa juga aku lebih peduli untuk menjaga agar rasa itu tak tumpah ke luar. Padahal di dalam dia telah menggerogoti jengkal demi jengkal. Hingga kopong, hingga kosong.

Kutarik nafas dalam lalu kusesap lagi teh dingin itu. Secuil wafer coklat pun melumer di lidahku. Gundahnya tak hilang. Tapi dia bisa tertahan, terjaga, biar tetap menjadi rahasia.

Meracau

Well, I know that I can never rely on others
I know it exactly since a long time ago
I only trust myself and my dear diary to share my sadness, my worries, and even my happiness.

It always difficult only to decide whether I will share my story or not, which part that I should share which part that I should keep, or who will be a good one to hear it.
Always like that, until I decide to keep it just for myself.

Gosh, writing is much more easier than telling. I wish I don’t have to face anyone every day. I wish I could type, write and send all messages, all thought, all feelings, and other persons can understand it.

Even this post is too disorganized, doesn’t have flow, no connection between one and another. I don’t know what happen in my mind, I don’t know how it direct my finger to type these words.

22 November 2015

28 tahun!

Tapi berasanya si masih 22 tahun. Haha.

Apa yang spesial di ulang tahun, tahun ini? Well, sebenernya biasanya moment ultah buatku bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Tapi kenapa kali ini sampai aku tulis, karena memang ada yang berbeda.

Beberapa tahun belakangan aku selalu merayakan ultah bersama temen-temen. Tahun lalu bareng beberapa temen kantor, tahun lalunya lagi sama temen-temen kuliah. Ngerayain sama keluarga tu kayaknya udah ga kepikiran. Bahkan 2 tahun yang lalu, ketika ponakan-ponakanku udah nyiapin surprise dengan kue dan lilin, mereka malah sampe ketiduran karna aku pulang terlalu malam.

Tapi ya, beberapa bulan belakangan ini memang banyak yang terjadi di keluarga. Bukan hal yang menyenangkan. Satu persatu persoalan muncul, dari yang besar, sampai persoalan kecil sehari-hari. Tapi justru yang kami hadapi itu malah mengikat kami satu sama yang lain. Sebelumnya jarang ngobrol serius, kali ini beberapa kali harus diskusi mendalam sama kakak-kakak soal satu dua tiga hal yang lagi terjadi. Dalam proses itu, aku menanggalkan kebungsuanku, sebisanya mengambil bagian dari tanggung jawab yang bisa kuambil.

Lalu ketika ulang tahunku mulai dekat, aku tidak berada di tanah air. Aku ingat bagaimana wajah mereka satu persatu muncul. Mama, papa, mbak kie, mbak rie, mbak sie, mas puji. Wajah kedelapan ponakanku pun tak ketinggalan. Rasanya aku sangat merindukan mereka. Rasanya aku ingin berada di dekat mereka.

Maka meski sangat lelah lantaran aktivitas yang padat tanpa sempat libur selama dua minggu. Ditambah penerbangan tertunda akibat rombongan APEC yang diprioritaskan. Meski biasanya aku akan memilih tidur panjang untuk memulihkan tenaga. Hari itu, aku bangun sepagi kubisa, kemudian meluncur ke rumah Mama.

Hari itu sangat singkat, tak lebih dari 8 jam aku hadir di tengah mereka. Tapi hari itu hatiku dipenuhi dengan kehangatan dan kasih sayang.

Tak satupun dari delapan malaikatku absen hari itu. Mereka hadir dan bernyanyi bersama. Memelukku, mendekapku, mengecupku.

Lalu ucapan-ucapan dari orang tua dan kakak-kakakku yang kudapatkan hari itu, adalah hadiah paling berharga di ulang tahunku. Telepon Papa, pernyataan kakak-kakaku yang menungguku pulang ke rumah, dukungan dan semangat untuk menjalani hidup, serta doa tulus yang mereka berikan.

Rasanya panjang sekali sampai aku mendapatkan dukungan dari keluargaku. Hingga tahun lalu pun, yang kuhadapi hanya tantangan. Ketidaksetujuan akan jalan yang aku pilih. Penolakan ketika keinginan kuatku di dalam aktivisme yang kulalui sama sekali berbeda dengan ekspektasi mereka.

Tapi tahun ini, segala perhatian dan dukungan yang mereka berikan menjadi sebuah semangat baru. Tidak ada lagi debat soal materi yang harus dikejar, atau soal peran lebih yang mereka harapkan. Yang ada hanya dukungan. Dukungan untuk si bungsu, untuk terus menjalani apa yang telah dipilih. Dukungan itu menjadi kemewahan termahal yang pernah aku dapatkan, pernah aku nikmati.

They deserve my love more than anyone…

*Celebrating with beloved persons: checked!