Kebohongan, Kesaksian, dan Rasa

Pondok Gede, 30 September 2017

Lubang Buaya tentu saja ramai. Lapangan Pondok gede pun padat demi sebuah film propaganda kebohongan yang dibuat untuk mempertahankan kekuasaan dengan memelihara kebodohan.

Nyatanya kita masih harus berhadapan dengan hal-hal tak logis yang bisa dengan begitu mudahnya menyulut kemarahan dengan keberingasan. Nyatanya pendidikan dan bangku sekolah tak melulu menghasilkan kemauan berpikir apalagi daya kritis terhadap informasi di hadapan. Nyatanya laju teknologi informasi justru lebih mudah digunakan untuk menyulut kemarahan dengan kebohongan, daripada pencapaian tujuan ilmu pengetahuan.

Selamat memperingati hari yang menjadi gerbang kejatuhan bangsa ini. Jatuh semakin miskin karena sumber daya dieksploitasi, bumi dirusak, manusia diperbudak.

Kawan, benar sekali katamu.

Kita bisa bertemu lagi dalam keadaan hidup rasanya begitu takjub.

Kamu memeluk erat sekali tubuhku.

Seakan berkata nyaris saja kita tak lagi bisa bertemu.

Minggu, 17 September 2017

Tubuh ini tidak mau menyerah pada lelah. Meski baru 1,5 jam menginjak rumah Mama, sudah kutinggalkan untuk berangkat ke LBH Jakarta. Syukurlah, kali ini Mama begitu memahami kenapa anaknya harus pergi cepat sekali.

Sekitar pukul 13:20, saya sampai di sana, mulai menyiapkan acara Asik Asik Aksi bersama kawan-kawan muda lainnya. Dari mulai angkat meja, mengatur panggung, sampai mengatur rundown acara, dengan harapan kami bisa mulai tepat waktu. Malam sebelumnya kegiatan ini baru direncanakan. Beberapa pengisi acara setuju untuk hadir meski diberitahu dadakan. Selebihnya kami siapkan sendiri, bersama Kawan-kawan LBH Jakarta.

Keterlibatanku di sana tentu saja bukan kebetulan. Siapa tak marah mendengar Gedung YLBHI diserbu polisi. Apalagi menyusul larangan sebuah diskusi yang diselenggarakan para korban 65. Mereka yang kehilangan kehormatan, kehilangan keluarga, namun tidak kehilangan harapan. Tak ada percakapan tentang isme-isme apalagi hendak membangkitkan sebuah ideologi. Diskusi diselenggarakan semata-mata untuk mencari kebenaran, menelusuri sejarah, memahami peristiwa, mencoba menemukan keping-keping jawaban dari berbagai pertanyaan mereka yang kehilangan orang-orang tersayang. Dibunuh, diculik, disiksa, dipenjara, diperkosa, dihinakan.

Kegiatan pun berjalan lancar meski dibuka sedikit lebih lambat dari waktu yang tertera di publikasi. Peserta begitu ramai. Kami tak menyangka begitu banyak Kawan dan Solidaritas yang hadir. Bercerita, membaca puisi, menyanyi. Anak-anak, remaja, dewasa, tua, mereka berbicara tentang kecintaan pada negeri, mereka berekspresi untuk demokrasi. Tak lupa kawan-kawan dari berbagai organisasi hadir membacakan pernyataan bersama. Sebuah pernyataan yang dibuat seorang Kawan. Sebuah pernyataan untuk mengajak agar bersama menjadi berani, menjadi terang yang menyilaukan bagi tirani dan represi namun di saat yang bersamaan menghangatkan perjuangan untuk peradaban kemanusiaan. [1]

Sekitar pukul 21.15

Acara hampir selesai.  Aku tersenyum kepada dua orang Kawan. Kami takjub betapa persiapan yang tak sampai 12 jam, tapi dengan hasil yang melebihi ekspektasi kami. Lega. Sudah terbayang segera pulang dan istirahat. Apalagi keesokan paginya tugas memfasilitasi Sekolah Kepemimpinan Feminis telah menanti.

21.36

Informasi baru masuk. Depan gedung YLBI kedatangan Laskar-laskar. Kami pun berbagi tugas. Beberapa melihat situasi, beberapa bertahan mengawal acara di dalam. Aku masih terus menyanyi.

Dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu. Tuk mengingatnya di saat dia taka da. Esok pasti jumpa[2]

Tak lama kemudian

Seorang kawan memanggilku, berbisik

Ca, per sel ya, lantai 2 dan lantai 3. Aku terdiam. Aku tahu persis apa yang dia maksud, tapi aku tak tahu harus berpikir apa, hanya berusaha untuk tenang.

Hingga akhirnya acara dihentikan, satu persatu peserta menaiki tangga menuju lantai 2 dan 3. Aku pun mengikuti mereka, masuk ke dalam ruangan di lantai 3. Sesampainya di sana, yang coba kami lakukan adalah menenangkan peserta. Banyak di antara mereka kawan-kawan mahasiswa yang masih sangat muda. Mereka yang mungkin belum pernah terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi, atau kegiatan diskusi politik. Hari itu mereka harus menunda kepulangan, meski sudah begitu malam.

Awalnya kami mencoba mencairkan suasana, mengobrol ringan, memberikan senyuman, dan sapaan, sekedar untuk menenangkan. Aku cek persediaan air di dalam ruangan, setengah di satu galon, dan setengah di tempat air (p*re it) lainnya. Gelas plastik ada beberapa. Bisa juga kami gunakan bergantian. Semoga cukup untuk kami semua di ruangan lantai 3 yang ternyata berjumlah lebih dari 50 orang.

Ada sekitar 4 atau 5 orang panitia yang ada di sana, berusaha berbagi tugas, dan melakukan apapun yang bisa kami lakukan. Menjaga pintu, menyiapkan sofa dan kursi-kursi tepat di depan pintu.

Kami terus memantau informasi dari bawah, sambil memberikan informasi kepada Kawan-kawan di luar yang terlanjur tahu keadaan kami. Situasi masih aman, aku merasa kami hanya tinggal menunggu negosiasi, agar kami semua bisa pulang.

Malam semakin larut. Mungkin sudah lewat tengah malam. Aku tidak lagi mengecek waktu. Suara di bawah semakin terdengar. Suasana pun mulai mencekam. Kami mulai mematikan lampu dengan tujuan agar tak terlihat.

Entah berapa jumlah mereka, yang jelas suaranya cukup banyak. Aku sungguh tak bisa membayangkan. Puluhan? Ratusan? Baru berhari kemudian aku dapat jawaban bahwa kami dikepung sekitar 1500 massa di malam itu.

Massa di luar menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kami mendengarnya dengan jelas. Tiba-tiba lagu Indonesia Raya terdengar dari dalam ruangan. Peserta yang ada di lantai 3 pun panik ketakutan. Mendorong sofa agar pintu tak bisa dibuka dari luar. Berlarian menuju ruangan yang tak seberapa besar. Merapat saling berdekatan. Aku berada di tengah ruangan. Mengenggam tangan seorang kawan. Kita tidak boleh panik, agar apapun yang terjadi, kita bisa putuskan tindakan kita secara jernih.

Syukurlah tak berapa lama ada kawan dari bawah yang mengabarkan. Tadi yang bernyanyi di dalam bukan massa. Melainkan kawan-kawan di bawah yang ikut menyanyikan Indonesia Raya. Hendak mengingatkan massa bahwa kita sama Indonesia. Tak ada massa yang masuk ke dalam gedung. Ketegangan sedikit reda. Tapi tidak hilang.

Kemudian ada peserta yang sakit, vertigo, sesak nafas. Ada juga yang menangis, sembari memeluk lengan temannya. Berusaha tetap tersenyum ketika mataku menyapa. Dua orang kawan mengajak peserta membentuk lingkaran. Saling berbagi perasaan, saling berbagi dukungan.

Aku tak bisa lagi mengingat kejadian detik per detik malam itu. tak sanggup mengingat rasanya. Namun yang jelas suara-suara di bawah begitu membekas

Bakar

Ganyang  — dengan nada yang biasa kami gunakan ketika aksi tolak WTO

Suara pecahan kaca mulai terdengar bertubi-tubi . Ya, mereka tak hanya berteriak. Mereka melempari dengan batu, kayu, benda-benda yang entah mereka dapatkan dari mana. Bisa jadi sudah sengaja mereka bawa.

Dan suara yang juga paling sering adalah

Allahu Akbar

Sempat sejenak aku terdiam

Bagaimana bisa manusia yang mengingat Tuhan adalah manusia yang sama yang hendak membunuh manusia lainnya?

Lalu dalam bayanganku muncul kobaran api hingga sejenak panasnya bisa kurasakan

Pikirku, bagaimana aku bisa meyakinkan kawan-kawan di sini, sementara aku pun meragu. Malam itu bisa jadi saat terakhirku di dunia. Aku menarik nafas panjang. Mengalihkan pikiran dengan kembali melihat mereka yang bersama satu ruangan denganku. Mencari apa yang bisa kulakukan. Menyibukkan pikiranku agar tak dilintasi bayangan-bayangan menakutkan.

Kejadian-kejadian berikutnya begitu cepat, penuh kepanikan dan tekanan. Proses evakuasi sedapat mungkin kami lakukan dengan tertib. Kawan-kawan yang sakit, kawan-kawan yang ekspresinya rentan, kawan-kawan mahasiswa, dan publik umum, baru kami yang aktivis. Hampir semua muda, hampir semua adalah perempuan. Semua berharap melihat jalan pulang. Tapi nyatanya kami masih harus duduk di sudut gang. Di sudut gang, di mana kami bisa saja diserang dari dua jalan. Di situ kami menunggu evakuasi hingga pagi menjelang. Tersudut. Tertekan. Ketakutan.

18 September 2017

Menjelang Subuh aku sampai di kantor. Berpelukan, dan mencoba istirahat sejenak, sebelum masuk sesi SKF tepat jam sembilan. Pikirku aku baik-baik saja. Aku tak tahu benar apa yang kurasakan. Marah? Marah pada siapa? Pada massa yang terbakar fitnah? Aku tak bisa marah pada mereka. Apakah aku sedih? Apakah aku takut? Apakah aku lelah? Apakah aku trauma? Aku tidak tahu apa yang kurasa. Bercerita pun aku bingung mulai dari mana. Aku hanya tahu hari harus berjalan seperti biasanya.

Barulah beberapa hari setelahnya, ketika bertemu mereka yang juga berada di tempat kejadian, seorang kawan berkata: Kita bisa ketemu lagi, kita masih hidup.

Aku baru sadar sejadi-jadinya. Bahwa aku takut, bahwa aku marah, bahwa aku sedih, bahwa aku bingung, bahwa aku kecewa, bahwa aku ingin menangis. Menangis sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya.

Tuhan kasih kita hidup untuk terus berjuang. Bukan untuk melangkah mundur.

[1] Penggalan pernyataan sikap bersama yang dibacakan oleh beberapa organisasi pro demokrasi yang hadir pada Asik Asik Aksi. Pernyataan ini disusun oleh seorang perempuan aktivis muda yang telah bertahun-tahun berjuang bersama korban-korban pelanggaran Hak Asasi Manusia

[2] Lagu Banda Neira berjudul Esok Pasti Jumpa. Malam itu dinyanyikan Ananda Badudu sesaat sebelum evakuasi ke lantai 2 dan 3.

Iklan

Revolusi Agraria

Sesungguhnya aku malu Eyang,

Tapi juga bingung

Berkali teriakkan Reforma Agraria

Padahal sejak tahun 1961 sudah engkau kritik habis-habisan

Katamu UU Pokok Agraria tidak akan bisa menyelesaiankan persoalan ketimpangan yang telah terjadi

Katamu yang kita butuhkan adalah Revolusi Agraria

Katamu sejak tahun enam satu

 

Seaandainya aku punya kesempatan berdiskusi denganmu, Yang

atau setidaknya menemukan literatur-literatur tentang pemikiran Eyang.

Kita Semua Korban 65

Saya adalah keluarga korban 65

Eyang Kakung hilang tak ada kabar

Kalau masih hidup tak tahu berada di mana

Kalau sudah meninggal pun entah di mana kuburannya

 

Saya adalah keluarga korban 65

Mama masih gemetaran setiap mendengar suara truk

Teringat waktu Pakde malam-malam diciduk

 

Saya adalah keluaga korban 65

Pakde, Bude, Mama, Om semua tercerai berai

Puluhan tahun berjauhan lintas benua

Tak saling tahu kabar, saling diam dalam ketakutan

Bersembunyi dalam kesunyian

 

Saya sendiri juga korban 65

Merasakan hidup penuh ketakutan, terbungkam

Jangan pernah bilang siapa kamu!

Jangan ikut-ikutan organisasi ini itu!

 

“Kamu cuma akan diperalat politik, politik itu jahat!”

Teriak Ibunda menangis histeris

ketika mengetahui aku berdemo menentang Undang-undang Privatisasi Pendidikan

 

Tapi, bukankah kita semua korban 65?

Ketika keran ekploitasi dan penjajahan lewat investasi dibuka lebar atas nama pembangunan

Ketika gerakan-gerakan kritis dibungkam, ditindas, dimatikan atas tuduhan pemberontakan

 

Sawah-sawah dirampas

Tanah-tanah dikuasai oleh mereka yang punya kuasa

Rakyat dimiskinkan

Perempuan diperkosa dan mengalami berlapis-lapis ketidakadilan

 

Bukankah kita semua korban 65?

Masa ketika rezim tirani berkuasa

Rakyat yang mempertahankan haknya langsung ditumpas

Suara-suara kritis langsung dibungkam

 

Rezim yang kita pikir telah mati-matian berusaha kita gulingkan

Tapi ternyata

masih berlanjut sampai sekarang

 

Sampai hari ini

Demokrasi nyaris mati

 

Kita semua korban 65

Seandainya Kita Mau Belajar

Semalam di sini ada perayaan Supersemar. Rupanya 19 tahun Reformasi tak membuat bangsa ini belajar. Padahal, literature sudah begitu banyak. Menampilkan versi lain dari sejarah buku putih yang penuh kebohongan. Film kesaksian algojo yang dibuat dengan dasyatnya, seolah tak berarti meski telah melalui riset bertahun-tahun lamanya. Sidang rakyat pun telah digelar meski meminjam negara lain. Hanya diabaikan tak lebih berarti dari angin lalu.

 

Hari ini orang-orang masih berteriak ‘awas bahaya komunis.’ Padahal yang hadir adalah bahaya orba dengan otoritarianismenya. Orang-orang menutup mata dari fakta komunis telah ditumpas habis dengan begitu kejinya. Bahkan mereka yang tak bersalah ikut dibunuh, dihilangkan, dianiaya, dipenjara. Orde baru juga sangat senang dengan bumbu-bumbu kengerian yang dibuat-buat. Tetapi cukup untuk membuat siapapun ketakutan. Takut untuk bicara, takut untuk mengkritik, takut untuk protes, apalagi melawan.

 

Sementara hari ini tumbuh menguat kelompok-kelompok yang merasa paling benar. Menghakimi, megkafirkan, menguasai, melakukan kekerasan dengan menggadang-gadang agama. Bersekongkol dengan kuasa modal menjadi anjing-anjing penjaga asset mereka. Merasa paling berkuasa dan bertindak semaunya. Dan negara diam saja.

 

Ah Negara

Negara tidak berdaya di hadapan mereka

Tetapi negara yang sama menggunakan daya untuk menekan rakyatnya.

 

Rezim ini dimulai ketika tempat aksi diistana semakin dipukul mundur. Begitu pun ruang-ruang aspirasi yang terus dibatasi. Diatur sana-sini. Pembunuhan aktivis pun dibiarkan. Waktu berjalan terus tanpa ada kejelasan. Aksi-aksi kerap dibubarkan. Beribu alasan disiapkan tak satu pun masuk akal. Konstitusi dilangkahi SOP polisi. Rakyat diusir, perempuan ditekan, dihadang, dipelintir.

 

Inilah yang terjadi ketika bangsa ini tak pernah belajar. Tak pernah belajar dari masa lalu saat pembunuhan massal dilakukan dengan dilumuri fitnah-fitnah keji. Tak pernah belajar dari kekejaman orde baru ketika suara dibungkam, kecerdasan dan kekritisan dibunuh, yang progresif ditumpas habis.

 

Apakah kita tengah menjelang kembalinya hari-hari di mana kita dipaksa diam? Bergerombol dengan tidak aman, berbicara pun merasa terancam. Apakah kita akan akan membiatkan negara ini kembali ke masa kegelapan? Menjadi negara pelanggar HAM yang kerap menyerang rakyatnya sendiri.

 

Coba pikirkan

Coba renungkan

Untuk negara yang tak mau belajar ini, setidaknya kita telah belajar. Dan diam jelas bukan pilihan.

WhatsApp Image 2017-03-14 at 12.22.47 AM

Taman Mini, 12 Maret 2017

 

Debu

Kita adalah debu-debu berterbangan di jalan raya

terlindas mobil, tersepak angin

tak terlihat meski sudah sekian lama berteriak di jalan yang sama

 

Kita adalah sebutir tanah tak terlihat

diinjak disingkirkan

meski telah memberi kehidupan pada mereka di balik tembok sana

 

Senin, kita teriakkan nama-nama para koruptor

Selasa, merundung malang untuk lahan-lahan yang dirampas

Rabu, kelabu oleh air mata perempuan teraniaya

Kamis, mencari mereka yang dihilangkan paksa

Jumat, terus menggugat hak-hak yang tak pernah didapat

Sabtu, kencan pun harus menunggu

Minggu, berteriak pada publik yang lebih banyak tak mau tahu

 

Bagi mereka

Kita cuma debu

Serpihan suara yang tak lebih dari angin lalu

 

Bagi mereka

Kita cuma debu

Menemukan Hidup

Hidup dengan pengetahuan dan melihat langsung realita sosial seringkali memang membuat frustasi. Rasanya seperti waktu tidur yang hanya 3-6 jam setiap hari, berjibaku dengan berbagai dokumen, hingga debu-debu jalanan, berpikir keras untuk tak sekedar mengkritik tapi memberikan konsep-konsep hingga pasal demi pasal draft UU tandingan itu tidak mampu mendorong roda ini untuk bergerak.

bukan tidak ada gerakan memang. kemenangan-kemenangan kecil, soal gugatan yang dikabulkan, gagalnya Raperda yang akan melegitimasi lebih banyak perampasan lahan, terjadi satu dua, mungkin belasan kali. tapi kemudian apa yang kita hadapi tetap lebih besar dan seperti tidak bisa dilawan. sistem ekonomi, hukum, apalagi politik sudah jelas keberpihakan. dilanggengkan pula dengan sistem sosial, serta apa yang dipercaya sebagai agama.

Satu kali menang ketika MK mencabut aturan yang mengkriminalisasi benih, dan melanggengkan privatisasi Sumber Daya Air. Langkah berikutnya Indonesia kegenitan untuk ikut serta dalam RCEP, dan TPP, mekanisme perdagangan bebas yang menjadikan kebijakan proteksi menjadi ilusi.

Sementara gerakan makin abu-abu, terkubu-kubu cuma gara-gara eleksi yang kepentingannya pun tak kan menguntungkan rakyat banyak. mereka yang mengklaim bicara HAM dan kemanusian, hingga hak perempuan menjadi setuju bahwa HAM itu sendiri terbagi-bagi. di satu sisi menentang fundamentalisme yang mengancam demokrasi, keberagaman dan hak sipil politik, tetapi menutup mata akan pelanggaran HAM secara masif yang terjadi akibat penggusuran dan proyek reklamasi. sementara di sisi lainnya berteriak atas nama rakyat yang digusur, tetapi lupa bahwa teriakan itu bisa ada karena kebebasan bicara. kebebasan berpendapat yang bisa jadi hilang bila sekelompok orang yang merasa mayoritas dan merasa paling benar memberangus keberagaman, demokrasi, dan toleransi.

Rasanya semakin ingin berhenti. ketika sebuah keyakinan yang sekian lama dipertahankan menjadi tercabik-cabik oleh realita yang menenggelamkan.

tapi kemudian bersentuhan langsung dengan mereka memberikan harapan untuk hidup. Hidup yang seharusnya tak sekedar makan, minum, mencari uang, membeli pakaian dan segala barang yang tak diperlukan tapi diinginkan semata-mata karena iklan di televisi.

hidup ada pada suara mereka yang mulai berani menceritakan berbagai persoalan ketidakadilan yang dialami setelah sebelumnya selalu diam

hidup ada pada air mata mereka yang meskipun menangis, tetapi siap melanjutan hidup, menapaki masa depan, keluar dari siklus kekerasan yang bernama poligami

hidup ada pada lantunan teriakkan mereka ketika menyerukan tuntutan pada debu-debu jalanan dan teriknya matarhari

hidup ada pada komitmen mereka yang berkata, “saya bicara karena tidak ingin saudara-saudara saya, perempuan buruh migran yang lain mengalami apa yang saya alami.”

hidup ada pada nyala mata mereka yang bersemangat ketika berdiskusi tentang bagaimana merebut lagi tanah yang dirampas perkebunan tebu.

Maka jika kerumitan ibu kota mematikan segala hasrat untuk hidup, maka aku menemukan hidup yang kuat dan menguatkan, hidup dan menghidupi. panjang umur perjuangan

Romansa di Tanah Anarki

Pukul 7 pagi

Sepagi ini kita sudah bangun. Kucoba memaksamu memakan roti dengan selai coklat seadanya. Seperti biasa kamu menolak. Bilang akan mencari gorengan dalam perjalanan.

 

Sebuah kecupan mendarat begitu lekat di keningku. Kutatap dalam tatapan matamu, membelai lesung pipitmu sejenak, sebelum melepaskan langkahmu ke luar pintu.

 

Pukul 9 pagi

Pesan pendek masuk melalui whats app. “Hari ini aku berangkat ke Semarang, ada konflik petani dengan tentara.” Aku sudah tahu, tidak pernah ada opsi untuk melarang. Maka yang bisa kukirim hanya satu frasa pesan: “Hati-hati.”

 

Pukul 10 pagi

Rapat bulanan dimulai. Program demi program, kegiatan demi kegiatan kami bahas bersama. Lengkap dengan capaian maupun tantangan. Perkembangan maupun persoalan. Tak lupa solusi penyelesaian.

 

Pukul 2 siang

Break Rapat. Televisi menayangkan berita. Tentang demonstrasi besar berkedok agama, tentang dilarangnya perayaan natal, ataupun hasil tanding bola semalam.

 

Padahal di sebuah tempat, di mana seorang pemimpin telah mengeluarkan surat izin untuk perusahaan yang merampas lahan rakyatnya.

 

Petani sedang berjuang mempertahankan tanahnya. Berhadapan dengan pentungan dan gas air mata. Perempuan-perempuan maju di garis terdepan seraya menangis dan berteriak, anak-anak pun ketakutan.

 

Tak ada beritanya. Seolah berjuang dalam senyap.

 

“Ras, pacarmu ke Semarang?” kawanku bertanya.

Aku hanya mengangguk perlahan.

“Semoga aman di sana ya”

Aku tersenyum. Berharap yang sama.

 

Pukul 4 sore

Rapat baru saja selesai. Baru kulihat sebuah pesan pendek di ponselku.

“Kamu dapet salam dari Bu Diah. Dia kangen.”

“Bilang aku juga kangen. Gimana kondisi di sana?”

Tak ada jawaban

 

Pukul 6 petang

Pesanmu baru datang, “Apapun yang terjadi memang harus terjadi.”

Deg.

Aku tak bisa mencegah gelisah. Resah menjalar di sekujur tubuh. Tapi aku bisa apa?

Kucoba menyibukkan diri tenggelam dalam berbagai diskusi, koordinasi, dan dokumen yang harus diselesaikan. Sejenak melupakan.

 

Pukul 8 malam

Ponsel tak lepas dari tangan dan pandangan. Berharap datang sebuah pesan atau panggilan. Namun dia hanya memberiku sunyi. Menambah gelisah yang kian menyergap, membuatku tak bisa bergerak.

 

Pukul 11 malam

Belum juga ada kabar, hingga ku langkahkan kaki tuk pulang.

 

Kutatap sepetak kecil kontrakan yang sudah kita tinggali 3 tahun belakangan. Baru kusadar pintu lemari telah kamu perbaiki. Begitupun kunci kamar mandi yang sempat rusak. Kusentuh mereka seakan ingin merasakan sentuhanmu. Mencari jejak-jejak kehadiranmu meski hanya melalui benda-benda yang selama ini telah menjadi saksi bisu.

 

Kucoba membaringkan tubuh seraya mendekap guling kesayanganmu. Menghirup sedikit aroma yang tertinggal. Berharap bisa terlelap dan bermimpi kamu mendekap.

 

Pukul 1 pagi

Pesan pendek masuk. Dari Bu Diah.

“Nak, Masmu sama Bapak dipukuli dan ditangkap aparat. Kita harus bagaimana?”

 

Aku harus bagaimana?

 

inspirasi dari Sunset di Tanah Anarki (Superman is Dead) dan beberapa situasi saat ini.