Bukan Miliknya Lagi

Seorang gadis tumbuh dewasa lebih matang dari yang semua orang perkirakan. Ibunya berpikir gadis manjanya tak mungkin jadi semandiri sekarang. Kawan-kawannya berpikir dia akan terus menjadi bocah yang tak pernah serius menghadapi hidup. Bahkan dirinya sendiri tak pernah menginkan loncatan tinggi atau ambisi tentang posisi.

Sekali dia berkata dengan jelas. Aku hanya orang biasa, yang ingin jadi biasa, menjalani hidup biasa dan sederhana

Sejelas hijaunya daun di pagi hari, sejelas itu pula dia menetapkan diri sebagai manusia tanpa ambisi. tak pernah ia pasang mimpi terlalu tinggi, hanya menetapkan target yang hampir pasti dapat dia raih. Setidaknya begitulah hidupnya berjalan hingga pertengahan usia 20-an.

Tapi bukan hidup namanya jika ia tidak mempermainkan. Ketika ekspektasi datang satu per satu tiada henti. hingga dia merasa hidupnya bukan miliknya lagi.

Perempuan Pertama

“Telepon dari siapa? Serius sekali sepertinya.”

“Dia, Hmm, aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Dia laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi kami tidak pernah memiliki komitmen. Tiba-tiba saja meneleponku. Bertanya apakah aku mau menikah dengannya.”

Gadis ini. Entah apa yang dia lakukan padaku. Ini baru kedua kalinya kami bertemu. Tapi benakku tak pernah kehilangan wajahnya. Dia masih sangat muda dengan semangat yang begitu menyala. Kadang terlihat malu-malu, tapi ketegasan di matanya tak pernah bisa bersembunyi.

 

“Wow, isn’t it good? Bagaimana perasaanmu padanya?”

“Aku menyayanginya. Kami berteman baik belasan tahun.”

“Lalu? Apakah hanya sayang sebatas teman?”

“Tidak juga. Lebih. Perasaan seperti ini tidak pernah ada untuk yang lainnya.”

 

Nafasku menjadi tertahan. Seperti ada yang sesak di dada.

 

“Lalu apa yang membuatmu ragu?”

“Entahlah. Orang bilang menikah adalah untuk selamanya. Memangnya ada perasaan yang untuk selamanya?”

Aku seperti melihat diriku yang dulu. Takut akan komitmen. Awalnya tak menjadi masalah karena pernikahan sesama jenis tak bisa dilakukan di negara ini. Tapi begitu bisa dilakukan, aku menikah dengan perempuan yang telah menjadi pacarku selama 6 tahun. Perempuan yang namanya terukir di cincin kawin yang selalu kukenakan.

“Apakah itu mudah? Memutuskan untuk menikah, dan berkomitmen panjang padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan?”

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Ketiba-tibaannya menyambar pintu kejujuranku, membuka segala kata yang ingin meluncur sejak kami pertama bertemu.

“Menikah memang soal merawat komitmen. Sementara perasaan akan datang dan pergi tanpa kita punya kendali. Kadang kita menemukan cinta yang lain. Seperti saat ini aku jatuh cinta padamu.”

“Maksudmu?”

“Isn’t it obvious?”

“Is it?”

“I am Madly in love with you.”

Dia hanya tersenyum. Tak menjawab perasaanku. Tapi juga tak menjauh dariku.

Cinta dan pernikahan tak selalu berjalan segaris. Aku bisa saja jatuh cinta pada gadis yang belum kukenal lama ini. Tapi ada nama yang terukir pada cincin di jemariku. Pada nama itu aku mengikatkan komitmen. Pada nama itu akan pulang.

Aku hanya bisa tersenyum. Tak bisa menjawab karena tak akan pernah ada jawaban yang tepat. Dia sudah menikah. Cincinnya sudah bicara sejak awal kami bertemu. Meski pengakuannya beberapa hari yang lalulah yang membuat pupus harapanku.

Ini malam terakhir kami bertemu. Besok aku akan kembali ke kotaku, dia pun akan kembali ke negaranya dalam beberapa hari ke depan. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain saling menatap lekat, saling melemparkan senyum. Aku kehilangan kata-kata. Dia pun seperti tak berhasrat tuk bicara.

Jika malam ini lewat, maka berakhir sudah waktuku bersamanya. Aku tak ingin memeluknya apalagi mencumbunya. Aku hanya ingin menikmati wajahnya, menghafal relung-relung senyumnya. Aku hanya ingin menatapnya lekat-lekat dan lama-lama. Merekam tatapan matanya yang begitu manis. Membiarkannya merasuk dan menghangatkan hingga ke dalam lubuk hatiku.

Dari Tepi Sungai Rhein

Tepi sungai Rhein, 18 November 2017

Jembatan sungai Rhein begitu terkenal dengan kisah tentang gembok cinta. Permukaannya dipenuhi berbagai bentuk gembok dengan berbagai nama. Tapi bagiku cerita paling menarik tentang sungai Rhein justru diceritakan oleh Bude.

Pada suatu masa, sungai ini menjadi pemisah antara si miskin dan si kaya. Kisah tentang ketidaksetaraan yang telah berjalan sekian lama. Kisah yang tak pernah berakhir, tetapi justru terus menguat hingga hari ini.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.54 AM

“Buk, Pak, aku keterima beasiswa! Tiga bulan lagi sudah harus berangkat ke kampus khayalan di negeri impian.”

Ibu dan Bapak memelukku. Aku bisa merasakan air mata mereka menetas perlahan. Kabar ini memang tak akan bisa membayar perjuangan mereka membesarkanku anak semata wayangnya. Mati-matian mereka bertani, menggarap sawah kami yang tak seberapa hingga aku bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Tapi setidaknya aku bisa meringankan sedikit beban mereka dengan sebuah kebanggaan.

Negeri ini sungguh makmur. Kesejahteraannya tergambar dari teknologi di berbagai hal. Transportasi publik yang jadualnya tak meleset meski semenit. Mobil yang mesinnya mati otomatis setelah berhenti sekian detik. Budaya tepat waktu, hingga disiplin di jalan raya, juga bersih tanpa sampah.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.54 AM1

Penyesuaian diri bukan proses yang terjadi begitu saja. Jet lag, ketinggalan bus karena tak mampu mengukur cepat langkah kaki. Di negeri ini kamu bisa merencanakan perjalanan dengan sangat mudah. Satu aplikasi menunjukkan jarak, waktu, dan alat tranportasi apa yang bisa kita tempuh. Tapi jangan sekali-sekali percaya dengan prediksi waktu untuk berjalan kaki. Kalau mereka bilang bisa ditempuh dalam 10 menit. Setidaknya kaki pendekku baru bisa sampai dalam 15 menit.

Proses di kelas pun bukan persoalan mudah. Bukannya aku tidak bisa mengikuti pelajaran. Kurikulum di sini sangat mendorong kita untuk berbicara di kelas. Ketika mereka, yang mayoritas dari negara-negara adikuasa, fasih berbahasa inggris dengan percaya dirinya. Sementara aku, perempuan yang lahir di sebuah desa di tengah pulau Jawa. Anak gadis yang terbiasa manut dan diam seribu Bahasa. Lebih terbiasa mendengar dan mengangguk, ketimbang berbicara dan menyanggah. Di ruang kelas ini, pun di kepalaku sesak akan jawaban dan pernyataan yang menyeruak ingin ke luar, aku tetap diam. Tersenyum, dan mendengarkan.

Di malam hari, ketika tugas-tugas sudah berhasil terisi, adalah waktu untuk diriku sendiri. Karena kelelahan sepanjang hari hanya bisa diobati dengan sendirian. Kadang kulewati dengan berjalan sendirian di jalan setapak menuju taman. Sesekali mampir di sebuah bar, sekedar menikmati musik dan sebotol minuman.

Di situlah aku bertemu dia.

Dia menyapa di tengah keramaian, ketika aku hampir jatuh tertabrak orang-orang. Detik itu tubuhku tak jadi roboh, tapi hatiku jelas-jelas jatuh. Dia bukan pria dengan wajah manis dan senyum ramah. Kerutan di dahi melengkapi wajahnya yang selalu terlihat serius. Tapi matanya. Mata di balik bingkai persegi panjang itu terlihat sangat tajam dan menyala.

“Hai, kamu gapapa?”

Aku hanya terpaku. Dia menjulurkan tangannya, memperkenalkan diri, dan mengingatkan bahwa kami ada di kelas yang sama.

Sejak itu, kami sering jalan bersama. Waktu untukku sendiri menjadi sering lenyap. Tapi berdua dengannya, aku tak pernah merasakan lelah. Kami berjalan bersama, seringkali tanpa kata. Menyusuri jalan di taman, atau berdansa menikmati sedikit musik dengan sebotol minuman.

Kami menjadi dekat karena sebuah persamaan. Kami sama-sama berasal dari negara berkembang, berjuang hanya untuk sekedar melanjutkan kehidupan. Berkerja dua kali lipat hanya untuk mendapat uang, makan, dan sedikit lembar pakaian.

Negerinya berada di satu benua dengan negeri adikuasa, di bagian selatannya. Bahasa Spanyol yang menjadi Bahasa sehari-harinya pun buah warisan dari penjajahan 3 abad lamanya.

“Belanda menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Dari penjajahan itulah mereka bisa membangun teknologi demikian dasyat. Menjadi negeri makmur dan maju, meninggalkan kami dalam kondisi miskin dan tereksploitasi.”

“Iya, dan penjajahan di negerimu, di negeriku, masih terus terjadi sampai sekarang. Lihat saja sistem perdagangan, yang memang didesain untuk menjadikan kita smakin miskin dan mereka semakin kaya. Petani tradisional, disuruh bersaing dengan teknologi tinggi, ga boleh disubsidi, import pun ga boleh dibatasi meski hanya melalui pajak atau tarif masuk.”

Baru sekarang aku menyadarinya. Di kampusku dulu, aku belajar soal pembangunan. Katanya pembangunan itu untuk kemajuan, supaya manusia bisa semakin terpenuhi kebutuhannya dan hidup semakin layak. Investasi itu katanya alih teknologi. Membuka lapangan pekerjaan dan memberi orang banyak uang.

“Coba kamu sekali-sekali lihat di negerimu. Berapa banyak investasi yang menggusur penduduk? Bukan hanya menggusur rumahnya, tapi juga lahan untuk bertani, atau bahkan menggusur nelayan dari laut tempat mereka mencari ikan. Belum lagi industri yang ekspolitatif, dan begitu merusak lingkungan, membunuh ekosistem termasuk manusianya. Hari ini kita miskin uang. Anak cucu kita nanti bisa jadi sudah tak punya bumi untuk mereka tinggal.”

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.55 AM

Satu hari dia mengajakku ke sebuah tambang batu bara. Jalanan menuju ke sana awalnya adalah perumahan dengan berbagai pohon dan sawah. Namun tiba-tiba kita disuguhkan pada pemandangan tambang yang membuat perasaanku menjadi kering. “Aku dengar di negerimu, ada tambang emas yang lebih parah dari ini.”

Hari lainnya dia mengajakku ke sebuah perpustakaan yang ada di dalam hutan. Hutan itu tidak jauh dari lokasi tambang. “Hutan ini mulai rusak karena tambang. Kami tinggal di sini, mencoba merawatnya. Sekarang kami sudah 40 orang.”

Hutan itu tentu saja dingin, dan jauh dari teknologi yang bisa berjalan sendiri hanya dengan mencemplungkan koin. Tetapi mereka hadir di sini untuk menciptakan kehidupan. Merawat kehidupan dengan kehidupan.

DN4ryCOWkAEw52V.jpg_large

credit: 350 twitter

Awal November 2017. Konferensi tentang Perubahan Iklim diadakan di negeri ini. Kami tentu tak punya akses untuk masuk ke dalamnya. Maka kami melakukan satu-satunya hal yang bisa kami lakukan. Berteriak di jalanan, berdemo, bergabung bersama ribuan orang.

Keep coal in the ground

Keep oil in the soil

We say Hey, Hey, Ho, Ho, Fossil Fuel has got to go

No Deforestation, No False Solution

What do we want? Climate Justice. When we do want it? Now

We are unstoppable, another world is possible

People gonna rise like the water we gonna calm this crisis down

We hear the voices of great granddaughter, saying climate justice now.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.56 AM

Kami berdemo dengan riang. Musik, kostum, patung. Kami menyanyi, menari, berpelukan, dan berciuman. Kami gembira karena kami tahu bahwa kami tak sendirian. Karena kami yakin solidaritas ini adalah kekuatan dalam berjuang.

Minggu ketiga November. Hari ini dia mengajakku bertemu dengan banyak orang. Mereka datang dari berbagai negara untuk masuk ke dalam Konferensi sebagai observer. Hari ini Konferensi Dunia itu hampir selesai. Mereka bilang pemimpin-pemimpin negara akan memberikan pernyataan. Ah, betapa banyak istilah rumit yang mereka sampaikan. Meski aku berusaha setengah mati, nyatanya tak banyak yang bisa kumengerti

Aku sampai ke kamar, ketika malam sudah datang. Kunyalakan ponselku yang baterainya sudah habis berjam-jam lalu. Ketika sebuah sms kuterima. Dari Bibiku:

“Nak, pulang Nak. Bapak Ibumu mati. Ditembak tentara yang mau ambil tanahmu untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Di televisi, kulihat seorang menteri dari sebuah negeri.

“Kami siap untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi. Kami siap meningkatkan produksi kelapa sawit, sebagai bio energi.”

Dan orang-orang di dalam ruangan itu bertepuk tangan.

Diam

Diam

Kita tetap diam dalam bicara

Ketika huruf demi huruf, kata demi kata mengalir tak terhambat

Mereka menceritakan banyak hal

Tapi tetap menyembunyikan yang terpendam

Rasa

 

Betapapun kita sering bersua

Merangkai kata mengujar tanya

Namun tetap menyisakan satu yang tak terungkap

Hingga menjadi mustahil tuk terjawab

 

Kita diam dalam bicara

Bercerita dalam rahasia

Terbuka dalam persembunyian yang tertutup dalam

 

Diam

Tak terungkap

Tak terjawab

Kemudian

Luka

Ketiadaanmu

Jikakah engkau sadar, betapa ketiadaanmu bukan hanya sekedar kamu tak terlihat

 

Sofa sederhana di sudut ruangan termenung bingung. Tak ada lagi jemarimu yang menggelitik seraya menggodaku di atasnya.

Bantal di beranda depan kesepian. Tak merasakan tanganmu yang sesekali menyentuhnya saat membelai kepalaku

Televisi berbicara sendirian, kehilangan sambutan yang biasanya dia dapatkan dari diskusi panjang kita hingga larut malam

Tirai-tirai tak bergerak. Tak lagi tersibak seperti kala kamu menarikku tuk menengok bulan penuh di luar

 

 

 

Aku..

Setengah hidupku hilang bersamamu

 

 

Romansa di Tanah Anarki

Pukul 7 pagi

Sepagi ini kita sudah bangun. Kucoba memaksamu memakan roti dengan selai coklat seadanya. Seperti biasa kamu menolak. Bilang akan mencari gorengan dalam perjalanan.

 

Sebuah kecupan mendarat begitu lekat di keningku. Kutatap dalam tatapan matamu, membelai lesung pipitmu sejenak, sebelum melepaskan langkahmu ke luar pintu.

 

Pukul 9 pagi

Pesan pendek masuk melalui whats app. “Hari ini aku berangkat ke Semarang, ada konflik petani dengan tentara.” Aku sudah tahu, tidak pernah ada opsi untuk melarang. Maka yang bisa kukirim hanya satu frasa pesan: “Hati-hati.”

 

Pukul 10 pagi

Rapat bulanan dimulai. Program demi program, kegiatan demi kegiatan kami bahas bersama. Lengkap dengan capaian maupun tantangan. Perkembangan maupun persoalan. Tak lupa solusi penyelesaian.

 

Pukul 2 siang

Break Rapat. Televisi menayangkan berita. Tentang demonstrasi besar berkedok agama, tentang dilarangnya perayaan natal, ataupun hasil tanding bola semalam.

 

Padahal di sebuah tempat, di mana seorang pemimpin telah mengeluarkan surat izin untuk perusahaan yang merampas lahan rakyatnya.

 

Petani sedang berjuang mempertahankan tanahnya. Berhadapan dengan pentungan dan gas air mata. Perempuan-perempuan maju di garis terdepan seraya menangis dan berteriak, anak-anak pun ketakutan.

 

Tak ada beritanya. Seolah berjuang dalam senyap.

 

“Ras, pacarmu ke Semarang?” kawanku bertanya.

Aku hanya mengangguk perlahan.

“Semoga aman di sana ya”

Aku tersenyum. Berharap yang sama.

 

Pukul 4 sore

Rapat baru saja selesai. Baru kulihat sebuah pesan pendek di ponselku.

“Kamu dapet salam dari Bu Diah. Dia kangen.”

“Bilang aku juga kangen. Gimana kondisi di sana?”

Tak ada jawaban

 

Pukul 6 petang

Pesanmu baru datang, “Apapun yang terjadi memang harus terjadi.”

Deg.

Aku tak bisa mencegah gelisah. Resah menjalar di sekujur tubuh. Tapi aku bisa apa?

Kucoba menyibukkan diri tenggelam dalam berbagai diskusi, koordinasi, dan dokumen yang harus diselesaikan. Sejenak melupakan.

 

Pukul 8 malam

Ponsel tak lepas dari tangan dan pandangan. Berharap datang sebuah pesan atau panggilan. Namun dia hanya memberiku sunyi. Menambah gelisah yang kian menyergap, membuatku tak bisa bergerak.

 

Pukul 11 malam

Belum juga ada kabar, hingga ku langkahkan kaki tuk pulang.

 

Kutatap sepetak kecil kontrakan yang sudah kita tinggali 3 tahun belakangan. Baru kusadar pintu lemari telah kamu perbaiki. Begitupun kunci kamar mandi yang sempat rusak. Kusentuh mereka seakan ingin merasakan sentuhanmu. Mencari jejak-jejak kehadiranmu meski hanya melalui benda-benda yang selama ini telah menjadi saksi bisu.

 

Kucoba membaringkan tubuh seraya mendekap guling kesayanganmu. Menghirup sedikit aroma yang tertinggal. Berharap bisa terlelap dan bermimpi kamu mendekap.

 

Pukul 1 pagi

Pesan pendek masuk. Dari Bu Diah.

“Nak, Masmu sama Bapak dipukuli dan ditangkap aparat. Kita harus bagaimana?”

 

Aku harus bagaimana?

 

inspirasi dari Sunset di Tanah Anarki (Superman is Dead) dan beberapa situasi saat ini.