Berdaulat seperti Amba

amba

Baru semalam aku menghabiskan buku berjudul Amba. Sebuah buku berlatar sejarah Buru, dan sekitarnya karya Laksmi Pamuntjak. Biasanya untuk buku setebal hampir 500 halaman itu, aku hanya membutuhkan waktu semalaman. Namun untuk Amba, aku cukup bersabar, membaca kata per kata, menikmati setiap kisah menawan, melompat dari serat centhini, ke berthold brecht. Hingga total tiga hari aku membaca buku ini. meski memang aku tidak membaca terus menerus, melainkan diselingi oleh berbagai kegiatan, dari mulai kondangan sampai mengejar deadline laporan tahunan.

Aku ingin membahas mengenai Amba, meskipun bukan seperti resensi yang akan banyak membahas mengenai isi buku, kelayakan cerita, dan lain-lain. Secara umum, aku pribadi menikmati buku ini. meski memang ceritanya sendiri tidak terlalu istimewa, dan endingnya datar. Namun buku ini mengupas berbagai latar belakang secara detil. Buku ini tidak hanya menceritakan tentang Amba, yang bertunangan dengan Salwa, kemudian berhubungan seks dengan Bhisma, dan akhirnya lari bersama Adalhard. tapi jauh sebelum iu. Bagaimana karakter Amba dibentuk, bagaimana kisah sebuah serat centhini sudah mengukir takdir Amba sejak nama itu dilekatkan kepadanya. Bahkan jauh sebelum itu, buku ini bercerita bagaimana latar belakang Ibu dan Bapak Amba.

Buku ini juga bercerita tentang Bhisma jauh sebelum ia menjadi dokter. Bagaimana si bungsu terbentuk dengan kesehariannya sejak kecil, ketika dia memilih merantau, dan bagaimana akhirnya dia memutuskan untuk mengambil kuliah kedokteran di Leipzig, mengenal Berthold Brecht, dan  Rosa Luxemburg. Buku ini seakan ingin menunjukan, bahwa kadang kala kita hanya melihat segala sesuatu di ujung, atau mungkin di permukaan. Padahal, segala hal datang dengan alasan. Dengan sebab muasabab. Maka kisah Amba Bhisma bukan berawal ketika mereka bertemu di dekat pohon di suah RS Kediri. Tetapi jauh sebelum itu, ketika karakter Amba terbentuk, begitupun Bhisma.

Well, sepertinya pembahasanku sudah meracau kemana-mana. Padahal yang ingin kuraikan di tulisan ini adalah bahwa aku jatuh pada sosok Aba. aku belum pernah membaca serat Centhini, ataupun Mahabarata. Maka Amba yang kukenal melalui buku Amba, adalah Amba yang pertama kukenal.

Amba memperlihatkanku tentang makna berdaulat. Tentang betapa ingingnya seorang perempuan memiliki kedaulatannya sendiri, memiliki otoritas untuk membuat keputusan, menjalankan keputusannya, termasuk segala risikonya. Amba tidak hanya mempercayai ‘keberdayaan’ perempuan tersebut sejak ia kecil. Tapi Amba benar-benar membuktikannya dalam langkah-langkah hidupnya. Bagaimana dia yang lahir di sebuah desa kecil, dengan ayah kepala sekolah, dan Ibu rumah tangga yang mencari hasil tambahan dengan berjualan kue. Tapi Amba punya mimpi. Dia ingin meneruskan pendidikannya sampai ke jenjang kuliah. Maka ketika di usianya yang 19 dia dianggap perawan tua oleh lingkungan, dia memantapkan langkahnya masuk Fakultas Sastra UGM.

Satu hal yang kupelajari sejak dulu, terutama melalui pengalaman, bahwa ketika kita (setidaknya saya), mengambil keputusan sendiri, maka keputusan tersebut lebih mudah untuk dijalani, juga konsekuensi-konsekuensinya, pun konsekuensi itu mengandung hal yang membuat tidak nyaman. Tapi begitulah. Bagiku berdaulat menjadi begitu penting. Bagaimana aku memilih mauku, sikapku, langkahku. Bagaimana aku menentukan apa yang aku lakukan, bagaimana aku mengambil keputusan, dan menjalani keputusan itu beserta segala konsekuensinya.

 

Maka ketika Amba  memilih untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan kehidupan kecilnya dan keluarganya di Kadipura, meninggalkan Salwa, tunangannya yang begitu mencintai dan mempercayainya, juga meninggalkan Bhisma yang telah menanamkan benih di rahimnya. Itulah keputusan Amba, suka tidak suka, manis atau pahit, Amba menjalaninya. Menjalaninya sampai akhir

Iklan

Tentang Perahu Kertas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buku:

Judul: Perahu Kertas

Penulis: Dewi Lestari

Penerbit: Bentang Pustaka

Film:

Judul: Perahu Kertas

Produser : Chand Parwez Servia, Putut Widjanarko

Produksi : STARVISION, MIZAN PRODUCTIONS & DAPUR FILM

Sutradara : Hanung Bramantyo

Well, lagi-lagi mungkin ini ga tepat disebut resensi si, tapi ulasan yang pengen gw ulas aja soal Perahu Kertas. Setelah baca bukunya, akhirnya gw juga nonton filmnya, karena penasaran bakal kayak gimana. Secara garis besar, ya gw lebih suka bukunya daripada filmnya. Tapi wajar, karena dari buku gw bisa dengan bebas mengkhayal, dan memvisualisasikannya dengan amat kaya. Dan juga bukan berarti filmnya ga bagus. Menurut gw filmnya bagus kok. Ada beberapa improvisasi dari bukunya meski ga banyak, dan karena ga banyak jadi ya ketebak hampir seluruh adegannya, hehe.

Intinya, kalo bisa melepaskan apa yang udah kita baca di bukunya, filmnya pasti jadi bagus banget. Sayangnya, gw udah baca bukunya, dan lebih sayangnya, gw baca bukunya ga lama sebelum filmnya tayang. Jadi masih bener-bener inget sama jalan cerita, bahkan detil ceritanya. Ohiya, sebelum lanjut ngebahas, peringatan aja, bisa jadi ini Spoiler. So, buat yang belum baca atau nonton dan berencana baca atau nonton, kayaknya lebih baik ga lanjut baca. hehe

Tokoh dalam bayangan dan dalam Film

Kalo dibandingin sama bukunya, di awal film udah ada improvisasi, ketika Kugy mau pindahan pake dus, padahal kalo di buku, Kugy Cuma bawa tas ransel. Selain itu di beberapa adegan Kugy nya juga rada kurang berantakan. Kelihatan cuek iya si, tapi ga berantakan, hehe. Cuma jujur gw juga ga kepikiran si siapa lagi yang lebih cocok meranin Kugy, dibanding Maudy Ayunda.

Sementara tokoh yang lain terasa pas. Eh nggak juga de, soalnya tokoh Eko yang gw bayangin ga sekonyol yang ada di film. Hehe. Tapi yang lainnya pas. Baik itu Wanda, Ojos, Luhde, Noni, dan juga Keenan.

Ah ya, khusus untuk Keenan, Adipati Dolken itu emang ganteng banget ya. Mancung, keriting, dan mukanya juga pas disorot kamera ga terlalu mulus. dan gw suka banget sama tatapan mata dia, baik ke Kugy maupun ke Luhde. Berasa kalo dia lagi jatuh cinta, meski tanpa kata. Haha.

Sementara untuk Remi, alias Reza Rahardian, ga tepat kalo gw bilang dia ga pas. Tapi dia tetep beda sama yang gw bayangin di buku. Bukan soal fisik, tapi visualisasi-visualisasi lainnya, gimana sikapnya, gimana dia natap Kugy, dll. Soalnya Remi yang ada di film lebih keren daripada Remi yang ada di bayangan gw pas gw baca bukunya. Seperti biasalah ya, Reza Rahardian emang keren. Secara fisik si ga ganteng versi gw, tapi entah kenapa selalu terlihat keren.

Adegan yang Terlewat

Ohiya, beberapa adegan di buku juga di cut. Misalnya waktu mereka lagi main truth or dare, dan Eko ngaku pernah suka sama Kugy. Menurut gw itu cukup signifikan, karena ngegambarin gimana akhirnya mereka berempat terbonding, dan sebenernya akan signifikan juga kalo konfliknya Kugy-Noni lebih dipertajam kayak di buku. Karena di filmnya, konfliknya diper-simple hanya karena Kugy ga dateng ke ulang tahunnya Noni.

Nah, sebenernya adegan di buku yang paling bikin air mata gw berderai-derai tu adegan pas Noni akhirnya ngebaca buku yang Kugy buat untuk ulang tahun Keenan, dan akhirnya Noni sadar kalo kugy jatuh cinta sama Keenan. Tapi pas di film agak kurang dramatis si. Meski gw tetep nangis (secara emang cengeng, hee).

Banyak adegan yang dipotong si, tapi wajar lah ya, karena persoalan durasi. Ohiya, Perahu Kertas juga rencananya akan dibagi jadi dua film, makanya yang film pertama ini belum selesai. Posisinya masih Kugy sama Remi, Keenan sama Luhde. Sementara Noni nikah sama Eko. Meski sebenernya udah lebih dari setengah buku (kalo ga salah), tqpi memang konflik pasca pernikahan Eko Noni sampe akhir lumayan seru si. Jadi gw menduga akan ada banyak adegan di buku yang dipertahankan. Harapan gw, dan sepertinya memang akan menjadi kenyataan, Reza Rahardian tetep akan meranin Remi. Karena gw si ngebayangin beberapa adegan Remi di buku itu bakal keren banget kalo Reza Rahardian yang bawain.

Dari semua yang kepotong-potong, gw agak menyayangkan nama panggilan sayang Keenan ke Kugy yang ga dipake. Kecil. Menurut gw nama panggilan itu jadi faktor yang signifikan di Perahu Kertas. Karena gw selalu dapet kesan yang special tiap Keenan manggil Kugy dengan panggilan Kecil. Karena Kugy memang kecil, dan entah kenapa terasa begitu intim, dan special.

Dramatisasi

Nah, selain adegan yang dipotong, ada juga adegan-adegan lain, yang sepertinya memang ditujukan untuk mendramatisasi cerita. Misalnya Bayu yang terlihat cemburu ngeliat kedekatan Keenan sama luhde, atau partner kerjanya Remi (gw lupa namanya) yang juga terlihat cemburu ngeliat kedekatan Kugy dan Remi. Karena adegan-adegan itu ga gw tangkap di buku,

Terus, seinget gw di buku justru Kugy ga buatin kopi pas lagi magang. dan itu dipertegas lewat kalimat di dalam cerita. tapi di film, Kugy justru terlihat beberapa kali sibuk membagikan kopi untuk tim Advocado yang lain.

Selain itu, pas adegan ultahnya Noni, ada adegan Noni sangat terlihat tidak menikmati pesta, dan langsung meninggalkan ‘panggungnya’ setelah meniup lilin di kue ulang tahunnya, sehingga mengundang pertanyaan dari para undangan. Padahal kalo di buku ceritanya para undangan ga sadar bahwa sebenarnya pesta itu sudah kacau, dan buat gw justru itu (yang di buku) terasa lebih miris. Tapi ya mungkin sulit untuk menggambarkan kekecewaan di dalam hati Noni ke dalam wujud film, kecuali kalo kekecewaan itu diperlihatkan.

Dipermanis

Selain itu ada degan yang menurut gw ‘dipermanis.’ Adegan apa itu? Adegan ciuman! Kalo di buku ada beberapa kali ciuman antara Luhde dan Keenan, juga Kugy dan Remi, tapi di film masing-masing Cuma sekali. Dan dijadikan berbarengan. Tapi jadinya ‘manis’ banget, dan jadi ‘aman’ ditonton sama remaja si. Hehe.

Jalan memutar

Baik di buku maupun di film pasti ada unsusr-unsur utama yang ga mungkin dihilangkan. Kayak gaya Kugy dengan tangan antena neptunusnya, karakter Kugy yang berantakan, dan Keenan yang cool, si Fuad yang sering mogok, dan lain-lain.

Dan yang pasti merasuk ke setiap pembaca dan penonton adalah pesan bahwa cita-cta kadang harus memutar. Tapi meskipun kita harus jadi orang lain dulu, cepat atau lambat, kita akan menjadi diri kita sendiri.

“Jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri.”

– Keenan to Kugy.

Tapi ternyata jalan memutar itu ga Cuma buat cita-cita, tapi juga cinta. Memang seinget gw ga ada quoteyang menjelaskan itu secara tersurat si. Tapi kita semua pasti tau bahwa cinta Kugy dan Keenan harus memutar melalui Luhde dan Remi. Buat gw, intinya, cita-cita ataupun cinta, kalaupun dia harus berputar, cepat atau lambat dia harus kembali ke tujuan yang tepat.

Meleleh

Siapa si yang ga meleleh ngeliat mata Bruno Mars yang berbinar-binar lagi memuji ceweknya.

Bukan hanya video klip-nya, lirik lagu yang dinyanyikan si ganteng ini bener-bener bikin meleleh. Siapa si yang ga mau disayang dan diterima apa  adanya. Ketika pria kita menganggap kita cantik dan amazing dengan apa yang sudah kita punya.

Dan yang bikin lagu ini lebih membuat meleleh, karena kriteria amazing itu justru ga ditetapkan sama Mas Bruno. Kalau saja dia mengatakan perempuannya cantik karena hidungnya mancung, rambutnya lurus panjang, matanya belo, mungkin gw yang berhidung pesek, mata sipit, dan rambut ikal ini ga akan segitu melelehnya. Tapi Mas Bruno justru memilih deskripsi yang tepat untuk membuat setiap perempuan mampu merasa cantik dengan lagu itu.

her eyes, her eyes, make the stars look like they’re not shining

ga peduli mata kita sipit atau belo, mata kita bisa bersinar-sinar hingga cantik melebihi bintang.

Her hair, her hair, falls perfectly without her trying

Mau keriting, lurus, atau ikal. Mau hitam, pirang, atau merah

Rambut kita bisa tergerai indah dengan alami begitu saja.

Her lips, her lips, I could kiss them all day if she let me

Lagi-lagi ga dibilang kan, apakah bibirnya tipis, tebel, atau dower (*ngaca)  sekalipun :p

Her laugh, her laugh, she hates but I think it’s so sexy

Kalau yang dimaksud Mas Bruno seksi adalah tubuh atau bagian tubuh.. hmmm, gw pasti ga segitu ngefans nya sama lagu ini. Tapi ternyata yang dibilang seksi itu adalah tawa si perempuan. Dan yakinlah, ketika hati kita bahagia, jiwa kita senang, maka hanya keindahan yang akan tampak di wajah dan tawa kita..

Dan yang terpenting,

Ketika dia adalah orang yang tepat untuk kita

Ketika dia adalah orang yang pantas untuk kita

Ketika dia adalah orang yang memang diciptakan untuk kita

Dia akan menerima kita apa adanya,

Tanpa pernah meminta kita untuk berubah

bagaimanapun adanya kita.

Oh, you know, you know, you know, I’d never ask you to change
If perfect’s what you’re searching for then just stay the same

Babies: Empat Peradaban dalam Satu Negara

Babies

Jenis Film
Documentary

Produser
Alain Chabat, Amandine Billot, Christine Rouxel

Sutradara
Thomas Balmes

Produksi
Focus Feature

Durasi
79 menit

Ponijao, BayarJargal, Mari, dan Hattie. Namibia (Afrika), Mongolia, Tokyo (Jepang), dan San Fransisco (Amerika). Empat bayi, empat Negara, empat kebudayaan, dan empat kehidupan yang berbeda di atas bumi yang sama.

Menonton film Babies membuatku mengagumi penciptanya. Kagum bukan karena melihat hal baru yang ditunjukan di dalam layar itu. Tapi karena ide dan upayanya merekam empat peradaban anak manusia yang sangat berbeda. Memperlihatkan betapa empat bayi yang mungil yang lahir di atas bumi yang sama, namun mengalami jalan hidup yang sangat berbeda.

Film tanpa dialog bukan berarti membosankan. Dari awal sampai akhir, kita disajikan proses tumbuh para bayi yang sangat berbeda. Kadang membuat kita tersenyum, kadang geli, kadang miris, dan kadang-kadang menjerit-jerit karena si bayi melakukan sesuatu yang mungkin takkan kita biarkan anak kita melakukannya.

Well, menonton film Babies, pastilah meninggalkan kesan berbeda2 di setiap orang yang menonton. Film ini mengajarkanku tentang kasih sayang orang tua, terutama Ibu. Bagaimana mereka melahirkan anak-anaknya ke dunia. Dengan kondisi apapun, dengan atau tanpa fasilitas, satu hal yang sama, bahwa keempat bayi tumbuh di dalam kasih sayang orang tuanya.

Melihat Hattie yang baru lahir tertawa-tawa ketika ditiup Mamanya, membuatku ingin mendekap bayi di dalam pelukanku. Tawa Ponijao yang memperlihatkan gigi putihnya di tengah2 tubuh tembaganya, Bayarjargal yang menatap polos Ibunya ketika dimarahi, juga Mari yang menangis kesal karena geregetan sama mainannya sendiri, membuatku melihat betapa bayi merupakan sebuah keajaiban dalam keluarga. Betapa mereka tumbuh dalam keceriaan, baik yang tidur di atas tempat tidur, atau dipangkuan kakaknya di atas tanah. Baik yang mandi dengan shower, maupun hanya dibersihkan dengan mulut Ibunya. Apapun kondisi mereka, aku percaya bahwa Ibu mereka telah memberikan yang terbaik yang bisa diberikan.

Ketika menilik lebih jauh lagi, film ini tak sekedar menampilkan perbedaan. Tapi bagaimana suatu kesenjangan semakin lebar. Kapitalisme Global. Entahlah satu frase yang mungkin tengah diperlihatkan di sepanjang film. Satu Frase yang membuatku berpikir setengah mati bagaimana menjelaskan kepada empat anakku yang ikut menonton bersamaku saat itu. Mimpi2 yang banyak menjadi slogan. Kita begandengan tangan, dunia penuh keadilan dan kesetaraan, dan slogan-slogan lainnya. Ahh,, mereka hanya slogan. Sementara nyatanya kesenjangan itu terus melebar.

Dan bagiku, perbedaan serta kesenjangan yang diwakili empat Negara di tiga benua itu tidak perlu jauh2 ditemukan. Karena ada sebuah Negara, di mana di dalamnya terdapat kesenjangan yang sangat lebar. Dimana empat peradaban yang sangat berbeda itu ada di dalamnya. Itulah negaraku, Indonesia.

Ponijao (Namibia)
Bayerjargal (Mongolia)

Mari (Tokyo)

Hattie (San Fransisco)

Alangkah Lucunya Negeri Ini: Satir Politik Tanpa Solusi

Ulasan Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Hanya untuk yang sudah menonton

(Dilarang keras bagi yang belum menonton)

#bagi yang belum menonton silahkan baca:

https://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2010/04/17/alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi/

Satir Politik Tanpa Solusi

Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya!

Sepenggal jargon itu adalah kata-kata penyemangat sahabat-sahabat kecil kita mengawali harinya sebagai pencopet. Mereka yang di mall, mereka yang di pasar, dan mereka yang di angkot, berlomba-lomba mencari sebanyak-banyaknya uang yang bisa mereka dapatkan. Suatu perjuangan yang keras bagi anak negeri ini. Anak-anak yang kata UUD 1945 harus dipelihara oleh negara. Yang harus mendapatkan hak atas pendidikan. Dan dilindungi dari kekerasan dan ancaman ketakutan.

Komet, Glen, Ribut, dan teman-temannya mendapatkan jauh dari itu. Untuk makan sehari-hari mereka harus mencopet. Itu pun hanya untuk makan. Pendidikan? Mereka semua tak bisa membaca, menulis, dan menghitung.

Di sisi lain, Jupri sedang memamerkan leptop barunya kepada Rohmah. Tercengang menikmati gambar ikan berwarna warni. Tahu bahwa leptop itu bisa digunakan untuk internet, untuk bisa mengetahui dunia. Kenyataanya leptop itu hanya dipakai untuk memandangi screensaver dan main game saja.

Realitas itulah yang diangkat Dedy Mizwar dan kawan-kawan dalam film bertajuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Komedi Satir yang mengungkapkan ‘keajaiban’ Indonesia.

Keseluruhan film dipenuhi satir2 politik yang cerdas. Jauh dari itu film ini membuka mata kita semua. Tentang pendidikan, tentang pengangguran, tentang kerasnya hidup di jalanan, serta kritik pada penguasa negeri ini. Tanpa pemahaman, filmi ini hanya akan sekedar menjadi komedi belaka. Tanpa tahu apa maksud indonesia raya dinyanyikan dan disertai “Amiiinnnn.” Tidak merasa adanya sindiran ketika si calon anggota dewan hanya memandangi gambar ikan di leptopnya. Dan tertawa ketika seorang waria diseret sat pol PP. Semoga para anggota dewan yang menonton cukup cerdas, agar satir yang ditampilkan tak sekedar menjadi humor saja.

Pendidikan Tidak Menjamin Kesejahteraan

Buktinya, Muluk yang menyandang gelar Sarjana Manajemen (atau sarjana Ekonomi-red) mengalami kesulitan mecari kerja. Begitu juga yang dialami Syamsul yang menyandang title Sarjana Pendidikan. Sementara dua kakak Rohmah yang hanya lulusan Tsanawiyah dan Madrasah (CMIIW) sukses dengan kios dan konveksi sablonnya.

Satu realita yang kita hadapi sehari-hari. Betapa banyak sarjana yang menganggur. Sebagian yang lebih beruntuk beralih profesi. Berdagang, sopir angkutan, bahkan pemulung. Pengangguran merupakan fenomena sosial yang menjadi permasalahan di negara kita. Apakah kita harus menyalahkan lapangan kerja yang kurang, atau sistem pendidikan kita yang dibuat untuk mencetak buruh. Yang jelas pengangguran dan kemiskinan merupakan persoalan yang kompleks, yang membutuhkan penanganan komprehensif.

Pendidikan yang tidak membebaskan

Itulah kurikulum kita. Pendidikan yang tidak membebaskan. Dimana kita selalu diajar dengan buku dan mendengarkan kata Pak/Bu Guru. Dimana kita disajikan berbagai teori yang seringkali ga match sama realita. Dimana kita selalu dihadapkan dengan papan tulis, pinsil, buku, meja kayu, dan seragam yang kaku.

“Kalian boleh menulis dengan cara apapun, asal hasilnya menjadi huruf A.” Satu kritik  terhadap pendidikan kita yang seringkali dipenuhi kata harus. Memang lucu melihat cara2 mereka dalam menulis huruf A. namun kebebesan menentukan kemauan anak-anak untuk belajar.

Tengoklah apa yang dilakukan sebuah lembaga pendidikan alternatif Qori’ah Thoyibah. Atau mungkin ada di antara teman-teman yang sudah membaca buku Toto Chan. Mereka menentukan kurikulum mereka sendiri. Mereka boleh memilih pelajaran mana yang ingin mereka pelajari terlebih dahulu. Sistem belajar mereka sungguh menyenangkan, dinamis, dan jauh dari membosankan.

Suatu kali saya bertemu dengan Bapak Utomo Dananjaya. Pada hari yang sama saya diperlihatkan kegiatan di Qori’ah Thoyibah melalu video singkat. Kegiatan yang benar-benar mencari ilmu pengetahuan. Bukan sekedar mencari nilai. Adakah relevansi seragam dengan kecerdasan? Adakah relevansi definisi absolut dari sebuah buku dengan pemahaman murid? Maka lepaskan semua ketidakbebasan. Karena ilmu pengetahuan jauh lebih bebas, jauh lebih liar, dan jauh lebih luas.

Mengejar nilai, itulah yang diterapkan di sekolah-sekolah konvensional. Dengan sistem kaku yang menjemukan. Yang memberikan nilai kuantitatif tanpa ada relasinya dengan kecerdasan. Suatu sistem yang juga dikritik lewat film India 3idiots. Suatu sistem yang juga dilanggengkan di Indonesia.

Koruptor: Profesi untuk yang Berpendidikan

Lagi-lagi pendidikan dikritik. Pendidikan membuat orang menjadi pintar. Bukan hanya lebih pintar dalam mengelola negara, tetapi juga lebih pintar mengeruk uang negara. Nyatanya pendidikan tidak membuat orang taat hukum. Pendidikan tidak membuat orang mampu membedakan mana uang mereka dan yang bukan. Pendidikan tidak membuat orang bisa menbedakan yang benar dan yang salah. Tanpa pendidikan orang hanya bisa jadi copet. Dengan pendidikan, orang bisa jadi koruptor.

“Kalo korupsi bisa kan bg? Kan kita sudah berpendidikan.”

Sebuah Dilema: Budi Luhur vs Haram

Yang dilakukan Muluk, Pipit, dan Syamsul, adalah satu tindakan progresif untuk mengembangkan Komet dan kawan-kawan. Tindakan mereka patut diacungi jempol. Walau bertahap, namun arah mereka jelas, untuk membantu teman-teman kecil mereka meninggalkan profesi haram mereka. Toh segala sesuatunya tidak bisa instan. Nyatanya mereka tetap butuh uang. Dan jadilah mereka digaji dari hasil mencopet murid-murid mereka.

Kenyataan itu begitu pahit ditelan oleh orang tua Pipit dan Muluk. Uang haram telah mengalir di darah mereka. Kedua sahabat seperguruan pesantren itu menangis sejadi-jadinya. Meratapi jerih payah mereka selama ini untuk selalu jujur, selalu memberi makan dan membesarkan anak mereka dengan uang yang halah. Kenyataannya, anak mereka mendapatkan uang haram.

Di satu sisi, perbuatan mereka adalah budi luhur untuk membantu orang lain. Namun nilai agama mengutuki mereka. Menyudutkan apa yang mereka lakukan ke tempat yang haram, ke tempat yang salah, ke tempat yang dosa.

Ingatkan kata-kata Pipit? Seandainya Pipit anak orang kaya, tidak membutuhkan uang, dia akan melakukan pekerjaan itu, mendidik anak-anak itu tanpa mengambil bagian uang hasil mencopet mereka. Apa mau dikata, Pipit butuh uang untuk kehidupan sehari-harinya.

DPR: Bukan Cerdas yang Dicari

Jupri sang calon anggota legislatif. No urut 200 sekian (lupa euy) dari Partai Asam Lambung. Semua pasti tertawa begitu melihat apa yang ia tunjukan kepada Rohmah. Gambar ikan, itu saja. Leptop itu tidak untuk mengetik visi misi,program, dan renstra. Tidak untuk menjabarkan permasalahan rakyat dan penanggulangannya. Tidak juga berisikan data-data kebutuhan rakyat yang akan menjadi knstituennya.

Mungkin adegan ini mengingatkan kita pada satu peristiwa. Ketika anggota DPR menuntut untuk dibelikan leptop, dan kita pun bertanya-tanya. “Apa mereka semua bisa menggunakannya?”

Penegak Hukum = Bos Mafia

Dua orang berbadan besar, menghampiri Muluk, Jarot, dan kawan-kawan kecil kita. menegur dan bertanya, “Omset lagi gede ni?” Terlihat oleh kita, Jarot memberikan lipatan rupiah kepada salah satu dari mereka, dan mereka pun pergi.

Muluk pun bertanya siapa mereka. Anak-anak butuh pelindung. Jarot lah yang melindungi. Jarot pun butuh pelindung. Kedua orang itulah yang melindungi. Polisi, sudah pasti profesi itulah yang terlintas di kepala kita. mereka berdua pasti polisi.

Di banyak negara, mafia diburu. Mafia menjadi musuh penegak hukum. Mereka dengan gerakan bawah tanahnya senantiasa berhadapan dengan polisi. Tapi di Indonesia, di negeri yang alangkah lucunya ini, mafia berasal dari penegak hukum.

(Belum) Indonesia Raya

Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Cermatilah kata per kata lagu kebangsaan kita tercinta. Sungguh indah bukan? Sayangnya Indonesia Raya masih menjadi doa. Indonesia Raya belum menjadi nyata. “Amiiiiinnnn” pun menjadi kalimat yang paling cocok tuk diucapkan selesai menyanyikan Indonesia Raya.

Pedagang Asongan vs Koruptor

Pedagang Asongan diburu Sat Pol PP. Sementara koruptor dibiarkan bebas begitu saja. Kenapa? Karena koruptor tidak mengganggu jalan. Karena itu, daripada mengganggu jalan dengan berdagang asongan, lebih baik merusak jalan, dengan mengkorup dana pembangunan jalan tersebut sehingga pembangunannya tidak maksimal.

Ending yang Menampar: Law in the book vs Law in action

Muluk tampak tersenyum senang. Setelah mati-matian mengajarkan mereka. Memberikan pemahaman moral, pancasila, dan agama. Membuat mereka mengerti mana yang haram dan mana yang halal. Mendapat penolakan dan keengganan untuk berubah. Akhirnya kotak asongan yang dibelinya dipakai juga oleh Komet dan kelima temannya. Komet dan teman-temannya pun senang bisa melihat Muluk lagi. Mereka saling menyapa, melambaikan tangan dan tertawa bahagia. Syamsul pun pernah bilang , “kalau jadi tukang asongan, kalian tidak akan dikejar polisi lagi.”

Tiba-tiba tawa Muluk berubah. Kekhawatiran membayangi wajahnya ketika ia berteriak sambil berusaha keluar dari kobil. “Lari,” ujarnya. Komet dan kawan-kawan pun lari seketika. Mereka memang tak dikejar polisi, mereka juga tidak dikejar massa. Tapi mereka dikejar sat Pol PP yang siap menggaruk pedagang asongan, gelandangan, pengemis, dan anak jalanan.

Mencopet adalah pekerjaan haram. Risiko ditangkap, dipenjara, dan digebuki massa pun menjadi tantangan yang biasa. Dan ketika niat berubah sudah dilaksanakan, profesi mencopet sudah ditinggalkan, toh mereka dikejar-kejar juga.

Satir Politik Tanpa Solusi

Bagi yang berharap kisah ini akan berakhir bahagia, tidak akan menemukan apa yang dicari dalam film ini. Sepotong kalimat dari UUD 1945 mengakhiri film ini. Sepotong kata yang semakin absurd. Yang jelas diakui dan wajib dijalankan oleh negara karena tertuang dalam landasan hukum tertinggi negeri kita.

Film ini tak menyajikan akhir yang menjawab pertanyaan kita. Dia hanya menangkat realita yang ada. Yang dibenturkan dengan “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.” Satu tamparan besar bagi negeri ini. Apa yang ada di UUD, sama sekali tak terjadi.

Tanpa solusi, saya dan kawan-kawan beasumsi Dedy Mizwar pun tak menemukan solusi. Memangnya solusi apa yang bisa kita dapatkan dalam kondisi negeri sekarang ini? Saking ‘ajaibnya’ Indonesia. Saking ‘istimewanya’ sistem hukum kita. Tak ada solusi, di Negeri yang alangkah gilanya ini.

Alangkah Lucunya Negeri Ini: Satir Cerdas Realita Negeri

Alangkah Lucunya (Negeri Ini):

Satir Cerdas Realita Negeri

Pendidikan adalah alat untuk melompat.

Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Muluk, yang menyandang gelar Sarjana Manajemen. Muluk, seperti banyak sarjana lainnya kesulitan dalam memperoleh pekerjaan. Muluk kerap kali ditantang dan disindir untuk mendapatkan pekerjaan. Hingga akhirnya Muluk dipertemukan dengan seorang pencopet kecil bernama Komet. Pertemuannya dengan Komet mengantarkannya pada satu pekerjaan yang dilematis.

Film yang digarap Dedy Mizwar ini mengangkat realita sosial dengan komedi satir yang cerdas. Perdebatan diawali dengan penting tidaknya pendidikan. Satu kondisi yang riil dewasa ini, karena pendidikan tinggi ternyata tidak menjamin kesejahteraan sesorang. Buktinya, Muluk yang notabene sarjana, belum juga mendapatkan pekerjaan.

Akhirnya, Muluk memutuskan untuk berbuat sesuatu terhadap Komet dan teman-teman pencopetnya yang berusia belasan. Dia melakukan kesepakatan dengan bos para mereka yang bernama Jarot untuk membantu para pencopet itu berkembang dengan ilmu manajemen yang ia miliki. Syaratnya, 10% dari seluruh hasil mencopet harus diserahkan ke Muluk setiap harinya.

Judul Film: Alangkah  Lucunya (Negeri Ini)
Jenis Film : Comedy Satire
Sutradara : Deddy Mizwar
Penulis : Musfar Yasin
Produser : Zairin Zain
Produksi : Citra Sinema
Pemain Reza Rahadian, Deddy Mizwar , Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo , Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting , Sonia

Impian Muluk begitu besar, ia ingin anak-anak itu berhanti mencopet di suatu saat nanti. “Pendidikan itu alat untuk melompat,” ujarnya. Menrut dia, menjadi pedagang asongan adalah lompatan pertama, sebelum lompatan-lompatan yang lebih tinggi seperti membuka kios, dan akhirnya membuka mall.

Sehari-hari, kelompok copet ini dibagi menjadi tiga kelompok kecil. Pencopet mall, pencopet pasar, dan pencopet angkutan umum. Masing-masing dari mereka memiliki jargon. Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya. Muluk tidak muluk-muluk dengan langsung melarang mereka mencopet

Muluk tidak sendirian. Dia ditemani Syamsul yang pekerjaan sehari-harinya bermain gaple walau ber-title Sarjana Pendidikan, dan Pipit, seorang pengangguran yang hobinya mengikuti undian. Ketiganya datang ke markas Komet dimana terkumpul sekitar 18 anak. Setiap harinya, ketiganya datang untuk memberikan mereka pendidikan, termasuk pendidikan pancasila, moral, dan agama. Kepada ayah mereka, Muluk dan Pipit mengaku bekerja di bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia suatu perusahaan.

Proses yang mereka lalui bukanlah mudah. Mereka menghadi berbagai masalah, dari mulai ketidakpercayaan dari anak-anak, ketidakinginan diatur, hingga tantangan dari ayah mereka ketika mengetahui anak-anaknya mendapatkan uang dari hasil mencopet.

Hingga suatu hari, jumlah uang yang dikumpulkan sudah cukup besar. Sebagian digunakan Muluk untuk membeli beberapa keranjang asongan. Muluk menyemangati anak-anak untuk beralih profesi dari pencopet ke pedagang asongan. Anak-anak itu menolak karena berdagang asongan lebih lelah dengan hasil yang lebih sedikit ketimbang mencopet.

Saat itulah Muluk dan kawan-kawan mendapatkan tantangan. Orang tua mereka tiba-tiba datang dan mengetahui apa yang selama ini dikerjakan anak-anaknya. Para orang tua yang notabene satu perguruan pesantren itu terpukul dan kecewa terhadap anak-anak mereka. Muluk dan Pipit harus menyaksikan kedua ayah mereka menangis sambil berdoa memohon ampun bersama di masjid dekat rumah mereka.

Akankah sikap orang tua mereka menghentikan perjuangan Muluk dan Pipit? Akankah Syamsul yang mulai merasa hidupnya bermakna harus kembali menghabiskan hari-harinya dengan bermain gaple? Akankah anak-anak itu mengambil keranjang asongan dan meninggalkan profesi mencopetnya? Untuk mengetahui jawabannya, silahkan langsung tonton film ini. Tidak hanya penikmat film, film ini bahkan penting untuk ditonton para wakil rakyat. Hanya saja, film ini dipenuhi satir cerdas yang bisa membuka mata tentang realitas sosial bangsa ini. Perlu suatu pemahaman, agar film ini tak sekedar menjadi komedi penghibur biasa. Apapun endingnya, film ini hendak mengangkat realita yang ada. Dan realita yang ada menunjukkan Alangkah Lucunya Negeri Ini.

#untuk yang sudah nonton, silahkan lihat ulasannya di

http://publite.wordpress.com/2010/04/18/ulasan-film-alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi/

atau

https://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2010/04/17/alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi-2/