Ngelindur

Adakah kiranya sisa energi yang bisa kau bagi? Di tengah hari penuh kehampaan di mana jemari hanya bisa bergerak menurut perintah sang otak. Bersemburan kata demi kata yang melintas begitu saja tanpa dirangkaikan. Malam sudah lewat. Dini hari masih menjelang. Mata tak mengantuk. Meski lelah telah menggantung siap menghadang. Apalah aku ini di antara miliaran manusia yang masing-masing berjalan ke arah yang berlainan. Kadang dengan tujuan, kadang mengikuti saja kaki melangkah.

 

Ah, kakiku yang mulai kebas. Mataku yang mulai berkedut. Rambutku yang tidak rontok namun helainya kian menipis. Rasa-rasanya menjadi lebih tua dari usia. Tak bisa dicegah, meski setengah mati mencari jalan. lalu sampai kapan bisa bertahan? Mana aku tahu?

 

Sejauh mana manusia punya kuasa atas dirinya? Sedang hidup mati saja tak berani diputuskan sendiri. Lalu haruskah kita menyerah dan mengakui akan adanya kuasa besar yang mencengkram hidup kita? Adakah kita memang hanya wayang, meski sang dalang tak pernah kelihatan wujudnya?

 

Untuk apa hidup? Hidup untuk apa? Itu saja yang menari-nari menjadi tanya. Tanya yang mungkin bisa saja dijawab. Tapi bahkan diri ini yang mengajukan tanya, hanya ingin lemparkan tanya. Tanpa ada keinginan untuk menjawabnya.

 

Apalah yang bisa dijawab? Memangnya jika terjawab lalu mau apa? Apa bisa mengubah kuasa? Apa bisa mengubah langkah-langkah yang setiap hari itu-itu saja? Langkah setia menyusuri jalan dengan tujuan tak berwujud. Jalan terus sekedar untuk mengisi hidup.

 

Malam telah lewat, Kawan. Dini hari pun belum datang.

Dan ngelindur menjadi satu-satunya yang mampu dilakukan.

18 September 2017

Menjelang Subuh, 18 September, Setahun yang lalu

Kami berhasil ke luar

Tapi ada luka yang membekas di dalam

 

Tepat menjelang subuh, saya sampai di kantor. Kawan-kawan memeluk. Saya tersenyum dan tertawa. Tenang, saya baik-baik saja. Kami pun istirahat sejenak sebelum melanjutkan sesi Sekolah Kepemimpinan Feminis di pagi hari.

 

Pukul 09:00

Mulai memfasilitasi kegiatan yang sudah berlangsung selama beberapa bulan. Sekilas aku bisa merasakan tatapan yang berbeda dari mereka. Terkadang terasa seakan hanya sekilas, namun betul-betul berbeda. Mati-matian aku mencoba meyakinkan. menangkap energi baik dari setiap jengkal ruangan. Menghadirkan senyum di segala sudut. Sekedar hendak menyampaikan: Tenang. Saya baik-baik saja.

 

Siang hari tangis pertama pun pecah. Lalu muncul rasa bersalah. Bahkan rasa sesal tak mampu kuhindari.

Menjelang malam, takut itu datang. Disusul lemah, kalah. Bertubi kata-kata itu menyesak di kepalaku. Membuat sesak dadaku. Semakin sesak karena marah kemudian juga datang. Menghimpit, sekaligus mengguncang.

 

Hari ini

Sudah satu tahun,

Berbagai berbagai perasaan masih saling mengikat, bercampur, mencampuri, dan enggan pergi. Takut tidak pernah benar-benar meninggalkan. Sesak masih datang sesekali. Marahpun kadang datang tanpa diundang.

 

Sudah setahun

Pemikiran berkelindan saling menimbulkan pertanyaan. Tidak hanya soal ‘kenapa,’ lebih banyak ‘untuk apa.’ Untuk apa hidup, atau hidup untuk apa? Bisakah kita punya daya untuk bertahan, sementara kuasa mereka begitu besar?

 

Sudah Satu tahun

Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk bisa memetik pembelajaran dari setiap peristiwa yang aku lalui. Karena aku yakin, semua yang terjadi mengandung hal penting. Asal kita mau belajar.

 

Belajar menerima diri dengan segala kelemahan, kekurangan, ketakutan, ketidaksempurnaan. Menerima diri sebagai manusia, mencoba lepas dari segala konstruksi yang ada.

 

Sudah satu tahun

Hidup tak pernah menjadi lebih mudah sejak hari itu

Tak juga lebih ramah, tak juga adil

 

Tapi kita hanya tahu berjalan

Meski membawa luka yang takkan padam

 

Cerita kejadian di: https://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2017/09/30/kebohongan-kesaksian-dan-rasa/

Pilihan

Ketika kata kunci ‘Ciri ciri Depresi’ di google membawaku pada sebuah artikel[1]:

 

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM-V), diagnosis depresi dapat diberikan (hanya melalui pemeriksaan oleh profesional, seperti psikolog/ psikiater!) jika terjadi kemunculan atas setidaknya 5 gejala dari set gejala berikut selama dua minggu berturut-turut:

 

– Merasa tertekan (sedih, kosong)

– Kehilangan minat beraktivitas

– Nafsu makan/ berat badan terganggu

– Masalah tidur

– Gangguan psikomotorik

– Merasa lelah atau tidak berenergi

– Merasa tidak berharga/ bersalah

– Sulit berpikir/ konsentrasi/ mengambil keputusan

– Berpikir tentang kematian atau mencoba bunuh diri.

Setidaknya enam dari sembilan, kini begitu sering menghampiri

 

Bagaimana melihat batas antara depresi dengan kelelahan sesaat? Ketika saya memang tidak menangis selama 2 minggu berturut-turut, namun perasaan gagal kerap datang dan pergi selama 2 minggu, 3 hari, apa artinya? Depresi? Atau cemas sesaat saja? Atau ketika sesekali pikiran tentang mati terlintas, namun semua aktivitas tidak pernah terlewat. Atau ketika mata berkedut terus menerus, namun nafsu makan justru meningkat. Atau ketika bersikap biasa sepanjang hari, rapat, mengetik, berdiskusi, sambil setengah mati menahan air mata yang hampir menyeruak ke luar.

 

Apakah saya depresi, atau lelah sesat? Atau mungkin juga saya tengah menyerah. Bahwa lemah adalah keniscayaan. Bahwa menjadi kuat bukan kewajiban. Bawa menerima kekalahan adalah pilihan.

[1] Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Apakah Saya Depresi? Kenali Tanda-tandanya”, https://sains.kompas.com/read/2015/02/05/100320523/apakah-saya-depresi-kenali-tanda-tandanya. Penulis : Retha Arjadi, M.Psi

Semua Konstruksi, Kadang Ilusi

Pada pagi yang bersinar, sering kukatakan aku tak mau kalah dari sinarnya

Pernahkah kamu merasa sebagai orang yang gagal? Sesederhana menutup mata dan telinga, tapi ngiang kegagalan itu melompoat-lompat di dalam benak.

Semenjak kecil, kata kuat menjadi berhala. padahal lemah adalah bagian dari hidup, yang sulit diakui, tapi begitulah adanya.

“Kita harus kuat”

“Jadi perempuan itu harus kuat”

“Hidup itu menanjak, dan belajar, dan berproses, menjadi lebih baik, menjadi lebih hebat, menjadi lebih kuat”

“dia saja bisa, masa saya ga bisa?”

Nyatanya semua adalah konstruksi. bentukan. yang kadang kala malah mendekati ilusi

 

Hey, gagal pun tak mengapa..

Satu-satunya yang merugi adalah yang tak pernah mencoba.

Di Tengah Ramai

WhatsApp Image 2018-05-17 at 10.44.09 PM

 

Apa yang akan kamu lakukan, kalau kamu bisa memilih menggunakan 8 jam waktu dalam satu hari?

 

Aku?

Akan memilih jam yang paling ramai

Ditemani kopi, buku, dan musik kencang di telingaku

Membaca, menulis, kemudian diam sejenak

 

Selintas mencuri dengar pembicaraan meja sebelah

Tentang dua insan manusia yang saling merayu

Atau meja di depan

Yang penuh ungkapan saling membagakan diri

Banyak bicara tapi sepertinya kurang mendengar

 

Selintas memutarkan pandangan

Menangkap senyum malu-malu

Atau tatapan arogan tak mau mendengar

 

Kadang juga ada gelak tawa

Atau pandangan penuh perhatian yang tulus

Kehangatannya sampai bisa kurasa

 

Manusia,

Selalu menarik untuk diamati

Membuatku nyaman ketika dikelilingi

Asalkan

Tidak harus berinteraksi

Kirana

Hidup emang ga pernah mudah, tapi di sela-sela hidup yang begitu rumit, selalu ada kebahagiaan kecil terselip.

 

Di sini sudah lewat tengah malam, ketika aku menerima pesan dari Mama. Lima jam jarak waktu kami. Mama sudah bangun pagi, sementara aku masih berusaha setengah mati untuk bisa tidur.

 

Di tengah kepenatan di antara berbagai terminologi, APA Item 3, article 6 — mitigasi, conflict of interest, navigation tools, NDC, non-market mechanism, corresponding adjustment, gender action plan, (ok, gw harus stop di sini, biar ga balik jadi kebelinger lagi). Belum lagi muncul kabar ga enak dari rumah beberapa hari sebelumnya. Setidaknya malam tadi ada secercah kelegaan yang hadir.

 

Kirana.

Dia mungkin manusia paling spesial di dalam hidupku. Menyaksikan dia tumbuh dari bayi kecil, hingga saat ini berusia 18 tahun, rasanya begitu menakjubkan. Dia memberikan pembelajaran yang begitu dalam. Tidak hanya soal kasih sayang dan ketulusan. Justru dia yang mengajarkan saya untuk menjadi kuar, untuk menjadi tangguh. Sekaligus untuk percaya, untuk mengatasi ketakutan dan kekhawatiran, untuk belajar mengendalikan diri, agar tidak posesif, dan tidak control freak.

 

Dia tumbuh menjadi gadis dewasa yang bertanggung jawab, mengetahui apa yang ia mau, mengejarnya tanpa ragu. Termasuk untuk ujian ke luar kota, di mana Kampus impiannya berada. Berangkat sendiri ke sana, menjadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Sendiri, aku tidak bisa menemani.

 

Ahh, rasa takut dan khawatir itu

Gimana kalo dia ga lulus ujian

Gimana kalo dia kuliah di luar kota? Siapa yang nemenin kalo dia sedih?

Anak ini masih bocah dan lugu, apa bisa menghadapi kehidupan di kampus?

Pokoknya gimana pun dia harus tinggal sama gw, dan cari kampus yang deket dari kontrakan gw.

 

Nyatanya, semua pertanyaan pernyataan itu, salah. Bukan cuma salah, tapi juga politically incorrect. Kirana adalah telaga bagi kami. Dia sudah sanggup menghidupi dan menerangi kami. Tidak ada alasan merasa dia tidak mampu menjalani hidupnya.

 

Malam tadi (atau pagi tadi waktu Indonesia bagian barat), dia mengabariku sedang dalam perjalanan untuk ujian Keterampilan.

Malam tadi (atau pagi tadi waktu Indonesia bagian barat), Mama mengabariku bahwa Kirana lulus di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

 

Di manapun dia lulus ujian nanti, yang manapun yang dia pilih,

 

Kirana sudah siap kuliah

Gadis kecilku sudah dewasa

Gadis kecilku tumbuh dengan mengenal dirinya sendiri, mampu menentukan pilihannya, dan menjalaninya dengan tanggung jawab.

 

Di antara segala keruwetan hidup,

Malam tadi aku menangis lega.

Bonn, 9th of May 2018

A Play

This world is not more than a play. We are puppets. Playing a role. Sometimes we can improvise the script. But we will never able to change the bigger agenda.

 

But, for whom? Who is watching our play? Who is laughing when a ‘clown government’ success to impress their people, without doing nothing than continuing inequality and injustice that have been played for decades? Who is crying when a baby girl killed because there is no food for her. Their land was grabbed; their food was destroyed.

 

What is the reason behind life? What the meaning of living, trying hard to scream, but in fact we can’t change anything? What reflection I can have? What lesson learn I can take?

 

Life is never fair. Life is never easy.

 

Another world is possible? It is! Another world is always possible. Only if people want to share power. Fairly. And that is the main problem.

 

We make them richer, they make us weaker. Indeed, human is the worst creature ever.

Bad Godesberg, 4th of May 2018