Sederhana

Aku merindukan masa-masa di mana semuanya jauh lebih sederhana
Sesederhana inginku untuk berada di tempat paling terpencil pun di dunia
melakukan apa yang bisa kulakukan, karena ingin kulakukan, karena membuatku bahagia jika bisa melakukannya
cukup itu saja

sesederhana konsep yang menurut sebagian besar manusia tak pantas untuk dipertahankan
bagi mereka yang percaya bahwa hidup adalah anak tangga, yang harus dinaiki satu per satu hingga mencapai puncaknya

aku merinedukan konsep yang ‘biasa’
Bukan karena tuntutan memberat
Bukan karena tantangan meningkat

Tapi karena
aku mulai seperti mereka
mengejar yang lain selain yang sederhana
lalu cemburu
juga rasa-rasa yang meracuni kesederhanaanku

ah,, aku merindukan masa-masa di mana semuanya jauh lebih sederhana

Nyaman

Hari ini diawali dengan sebuah konversasi soal comfort zone. Soal usia yang hendak meninggalkan muda, dengan berbagai tawaran tentang ‘mapan’ yang menggiurkan. Aku percaya diri. Merasa masih jauh dari kompromi.

Sore menjelang petang, kepercayaan diriku mulai pudar. Seseorang mengingatkanku tentang impian masa lalu. Seorang kawan lama, yang bersama keluarganya merintis sebuah PAUD di Tasikmalaya. PAUD itu didirikan melihat ketiadaan pelayanan serupa. Separuh siswanya tidak bisa membayar biayanya, yang hanya 10.000-15.000 per bulan. Kawanku datang meminta bantuan. Utang keluarganya untuk membangun PAUD berjumlah belasan juta. Uang itu digunakan untuk membeli perlengkapan. Meja, kursi, membangun ruang kelas, dan sebagainya. Jika dia tidak bisa melunasinya, maka ada setidaknya 22 anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar.

Kawanku itu juga bercerita. Kurikulum yang diterapkan adalah kombinasi. Sebagian dia ambil dari standar nasional pendidikan yang termuat di dalam sebuah Perpres. Namun dia tambahkan muatan keadilan gender meski sederhana. Tak lupa juga soal cinta lingkungan.

Cerita soal PAUD itu mendatangkan sebuah ingatan. Kala itu, aku membayangkan sebuah sekolah untuk anak jalanan. Sekolah untuk mereka yang terlanggar hak atas pendidikannya bisa mengecap pendidikan. Pendidikan bukan sekedar matematika, atau sejarah putih yang penuh manipulasi. Bukan pula soal agama atau moralitas yang sering dijadikan legitimasi kekerasan. Aku membayangkan sebuah ruang aman. Tempat mereka berbagi cerita, berbagi pengetahuan dan pengalaman, berbagi ide dan gagasan, hingga merancang kemandirian dan masa depan.

Tahun 2008, mimpi itu kupancangkan begitu tinggi. 2014 menjadi target tahun tuk kupenuhi. Tapi sore ini, mimpi itu terasa layaknya asap rokok yang kuhembuskan. Pekat sesaat, menyesak, lalu menguap tak terlihat.

Pembahasan mengenai comfort zone kembali menyeruak. Apa sebenarnya definisi dari comfort zone? Atau jangan-jangan, posisiku sekarang ada di comfort zone? Apakah proses ‘struggling’ itu sendiri bisa berubah menjadi sebuah kenyamanan? Apakah tantangan dari berbagai pihak, pelabelan, underestimate, protes sana protes sini, justru menjadi sebuah klaim bahwa kita bertahan dari zona nyaman? Padahal jangan-jangan segala caci maki itu sudah menjadi bagian dari kenyamanan yang kita rasakan?

Jadi apa yang dimaksud dengan zona nyaman?

Bebas, mandiri, punya otoritas untuk ngambil keputusan-keputusan terkait hidup, karier, dll, single (ga berkeluarga), punya uang secukupnya buat setiap bulannya bayar kontrakan, hidup sehari-hari, sepotong pakaian, nonton, karokean, dan sesekali ganti warna rambut, punya ruang berekspresi dan aktualisasi diri, secara bertahap menggapai sesuatu yang masih relevan untuk ada dalam jangkauan.

Tidakkah itu nyaman?

Tengah malam, 28 Desember 2015-29 Desember 2015.

Tak Harus

Ada kerja-kerja yang tak perlu diberi deadline.

Dia tercetus, menggerakan hati dan pikiran, lalu ter follow up langsung dengan tindakan.

Mungkin itu kenapa menjadi pemimpin harus menjadi pilihan.

Pilihan untuk iya bagi yang menginginkan,

tetapi tidak semua orang harus menjadi pimpinan.

apalagi terjebak lika liku manajemen yang seringkali membosankan

Karena laporan donor, sudah diberi deadline pun masih enggan tuk disentuh dan dikerjakan

Lebih baik berdiskusi sepanjang malam, lalu aksi di pagi hingga petang.

Meracau

Well, I know that I can never rely on others
I know it exactly since a long time ago
I only trust myself and my dear diary to share my sadness, my worries, and even my happiness.

It always difficult only to decide whether I will share my story or not, which part that I should share which part that I should keep, or who will be a good one to hear it.
Always like that, until I decide to keep it just for myself.

Gosh, writing is much more easier than telling. I wish I don’t have to face anyone every day. I wish I could type, write and send all messages, all thought, all feelings, and other persons can understand it.

Even this post is too disorganized, doesn’t have flow, no connection between one and another. I don’t know what happen in my mind, I don’t know how it direct my finger to type these words.

22 November 2015

28 tahun!

Tapi berasanya si masih 22 tahun. Haha.

Apa yang spesial di ulang tahun, tahun ini? Well, sebenernya biasanya moment ultah buatku bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Tapi kenapa kali ini sampai aku tulis, karena memang ada yang berbeda.

Beberapa tahun belakangan aku selalu merayakan ultah bersama temen-temen. Tahun lalu bareng beberapa temen kantor, tahun lalunya lagi sama temen-temen kuliah. Ngerayain sama keluarga tu kayaknya udah ga kepikiran. Bahkan 2 tahun yang lalu, ketika ponakan-ponakanku udah nyiapin surprise dengan kue dan lilin, mereka malah sampe ketiduran karna aku pulang terlalu malam.

Tapi ya, beberapa bulan belakangan ini memang banyak yang terjadi di keluarga. Bukan hal yang menyenangkan. Satu persatu persoalan muncul, dari yang besar, sampai persoalan kecil sehari-hari. Tapi justru yang kami hadapi itu malah mengikat kami satu sama yang lain. Sebelumnya jarang ngobrol serius, kali ini beberapa kali harus diskusi mendalam sama kakak-kakak soal satu dua tiga hal yang lagi terjadi. Dalam proses itu, aku menanggalkan kebungsuanku, sebisanya mengambil bagian dari tanggung jawab yang bisa kuambil.

Lalu ketika ulang tahunku mulai dekat, aku tidak berada di tanah air. Aku ingat bagaimana wajah mereka satu persatu muncul. Mama, papa, mbak kie, mbak rie, mbak sie, mas puji. Wajah kedelapan ponakanku pun tak ketinggalan. Rasanya aku sangat merindukan mereka. Rasanya aku ingin berada di dekat mereka.

Maka meski sangat lelah lantaran aktivitas yang padat tanpa sempat libur selama dua minggu. Ditambah penerbangan tertunda akibat rombongan APEC yang diprioritaskan. Meski biasanya aku akan memilih tidur panjang untuk memulihkan tenaga. Hari itu, aku bangun sepagi kubisa, kemudian meluncur ke rumah Mama.

Hari itu sangat singkat, tak lebih dari 8 jam aku hadir di tengah mereka. Tapi hari itu hatiku dipenuhi dengan kehangatan dan kasih sayang.

Tak satupun dari delapan malaikatku absen hari itu. Mereka hadir dan bernyanyi bersama. Memelukku, mendekapku, mengecupku.

Lalu ucapan-ucapan dari orang tua dan kakak-kakakku yang kudapatkan hari itu, adalah hadiah paling berharga di ulang tahunku. Telepon Papa, pernyataan kakak-kakaku yang menungguku pulang ke rumah, dukungan dan semangat untuk menjalani hidup, serta doa tulus yang mereka berikan.

Rasanya panjang sekali sampai aku mendapatkan dukungan dari keluargaku. Hingga tahun lalu pun, yang kuhadapi hanya tantangan. Ketidaksetujuan akan jalan yang aku pilih. Penolakan ketika keinginan kuatku di dalam aktivisme yang kulalui sama sekali berbeda dengan ekspektasi mereka.

Tapi tahun ini, segala perhatian dan dukungan yang mereka berikan menjadi sebuah semangat baru. Tidak ada lagi debat soal materi yang harus dikejar, atau soal peran lebih yang mereka harapkan. Yang ada hanya dukungan. Dukungan untuk si bungsu, untuk terus menjalani apa yang telah dipilih. Dukungan itu menjadi kemewahan termahal yang pernah aku dapatkan, pernah aku nikmati.

They deserve my love more than anyone…

*Celebrating with beloved persons: checked!