Kebohongan, Kesaksian, dan Rasa

Pondok Gede, 30 September 2017

Lubang Buaya tentu saja ramai. Lapangan Pondok gede pun padat demi sebuah film propaganda kebohongan yang dibuat untuk mempertahankan kekuasaan dengan memelihara kebodohan.

Nyatanya kita masih harus berhadapan dengan hal-hal tak logis yang bisa dengan begitu mudahnya menyulut kemarahan dengan keberingasan. Nyatanya pendidikan dan bangku sekolah tak melulu menghasilkan kemauan berpikir apalagi daya kritis terhadap informasi di hadapan. Nyatanya laju teknologi informasi justru lebih mudah digunakan untuk menyulut kemarahan dengan kebohongan, daripada pencapaian tujuan ilmu pengetahuan.

Selamat memperingati hari yang menjadi gerbang kejatuhan bangsa ini. Jatuh semakin miskin karena sumber daya dieksploitasi, bumi dirusak, manusia diperbudak.

Kawan, benar sekali katamu.

Kita bisa bertemu lagi dalam keadaan hidup rasanya begitu takjub.

Kamu memeluk erat sekali tubuhku.

Seakan berkata nyaris saja kita tak lagi bisa bertemu.

Minggu, 17 September 2017

Tubuh ini tidak mau menyerah pada lelah. Meski baru 1,5 jam menginjak rumah Mama, sudah kutinggalkan untuk berangkat ke LBH Jakarta. Syukurlah, kali ini Mama begitu memahami kenapa anaknya harus pergi cepat sekali.

Sekitar pukul 13:20, saya sampai di sana, mulai menyiapkan acara Asik Asik Aksi bersama kawan-kawan muda lainnya. Dari mulai angkat meja, mengatur panggung, sampai mengatur rundown acara, dengan harapan kami bisa mulai tepat waktu. Malam sebelumnya kegiatan ini baru direncanakan. Beberapa pengisi acara setuju untuk hadir meski diberitahu dadakan. Selebihnya kami siapkan sendiri, bersama Kawan-kawan LBH Jakarta.

Keterlibatanku di sana tentu saja bukan kebetulan. Siapa tak marah mendengar Gedung YLBHI diserbu polisi. Apalagi menyusul larangan sebuah diskusi yang diselenggarakan para korban 65. Mereka yang kehilangan kehormatan, kehilangan keluarga, namun tidak kehilangan harapan. Tak ada percakapan tentang isme-isme apalagi hendak membangkitkan sebuah ideologi. Diskusi diselenggarakan semata-mata untuk mencari kebenaran, menelusuri sejarah, memahami peristiwa, mencoba menemukan keping-keping jawaban dari berbagai pertanyaan mereka yang kehilangan orang-orang tersayang. Dibunuh, diculik, disiksa, dipenjara, diperkosa, dihinakan.

Kegiatan pun berjalan lancar meski dibuka sedikit lebih lambat dari waktu yang tertera di publikasi. Peserta begitu ramai. Kami tak menyangka begitu banyak Kawan dan Solidaritas yang hadir. Bercerita, membaca puisi, menyanyi. Anak-anak, remaja, dewasa, tua, mereka berbicara tentang kecintaan pada negeri, mereka berekspresi untuk demokrasi. Tak lupa kawan-kawan dari berbagai organisasi hadir membacakan pernyataan bersama. Sebuah pernyataan yang dibuat seorang Kawan. Sebuah pernyataan untuk mengajak agar bersama menjadi berani, menjadi terang yang menyilaukan bagi tirani dan represi namun di saat yang bersamaan menghangatkan perjuangan untuk peradaban kemanusiaan. [1]

Sekitar pukul 21.15

Acara hampir selesai.  Aku tersenyum kepada dua orang Kawan. Kami takjub betapa persiapan yang tak sampai 12 jam, tapi dengan hasil yang melebihi ekspektasi kami. Lega. Sudah terbayang segera pulang dan istirahat. Apalagi keesokan paginya tugas memfasilitasi Sekolah Kepemimpinan Feminis telah menanti.

21.36

Informasi baru masuk. Depan gedung YLBI kedatangan Laskar-laskar. Kami pun berbagi tugas. Beberapa melihat situasi, beberapa bertahan mengawal acara di dalam. Aku masih terus menyanyi.

Dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu. Tuk mengingatnya di saat dia taka da. Esok pasti jumpa[2]

Tak lama kemudian

Seorang kawan memanggilku, berbisik

Ca, per sel ya, lantai 2 dan lantai 3. Aku terdiam. Aku tahu persis apa yang dia maksud, tapi aku tak tahu harus berpikir apa, hanya berusaha untuk tenang.

Hingga akhirnya acara dihentikan, satu persatu peserta menaiki tangga menuju lantai 2 dan 3. Aku pun mengikuti mereka, masuk ke dalam ruangan di lantai 3. Sesampainya di sana, yang coba kami lakukan adalah menenangkan peserta. Banyak di antara mereka kawan-kawan mahasiswa yang masih sangat muda. Mereka yang mungkin belum pernah terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi, atau kegiatan diskusi politik. Hari itu mereka harus menunda kepulangan, meski sudah begitu malam.

Awalnya kami mencoba mencairkan suasana, mengobrol ringan, memberikan senyuman, dan sapaan, sekedar untuk menenangkan. Aku cek persediaan air di dalam ruangan, setengah di satu galon, dan setengah di tempat air (p*re it) lainnya. Gelas plastik ada beberapa. Bisa juga kami gunakan bergantian. Semoga cukup untuk kami semua di ruangan lantai 3 yang ternyata berjumlah lebih dari 50 orang.

Ada sekitar 4 atau 5 orang panitia yang ada di sana, berusaha berbagi tugas, dan melakukan apapun yang bisa kami lakukan. Menjaga pintu, menyiapkan sofa dan kursi-kursi tepat di depan pintu.

Kami terus memantau informasi dari bawah, sambil memberikan informasi kepada Kawan-kawan di luar yang terlanjur tahu keadaan kami. Situasi masih aman, aku merasa kami hanya tinggal menunggu negosiasi, agar kami semua bisa pulang.

Malam semakin larut. Mungkin sudah lewat tengah malam. Aku tidak lagi mengecek waktu. Suara di bawah semakin terdengar. Suasana pun mulai mencekam. Kami mulai mematikan lampu dengan tujuan agar tak terlihat.

Entah berapa jumlah mereka, yang jelas suaranya cukup banyak. Aku sungguh tak bisa membayangkan. Puluhan? Ratusan? Baru berhari kemudian aku dapat jawaban bahwa kami dikepung sekitar 1500 massa di malam itu.

Massa di luar menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kami mendengarnya dengan jelas. Tiba-tiba lagu Indonesia Raya terdengar dari dalam ruangan. Peserta yang ada di lantai 3 pun panik ketakutan. Mendorong sofa agar pintu tak bisa dibuka dari luar. Berlarian menuju ruangan yang tak seberapa besar. Merapat saling berdekatan. Aku berada di tengah ruangan. Mengenggam tangan seorang kawan. Kita tidak boleh panik, agar apapun yang terjadi, kita bisa putuskan tindakan kita secara jernih.

Syukurlah tak berapa lama ada kawan dari bawah yang mengabarkan. Tadi yang bernyanyi di dalam bukan massa. Melainkan kawan-kawan di bawah yang ikut menyanyikan Indonesia Raya. Hendak mengingatkan massa bahwa kita sama Indonesia. Tak ada massa yang masuk ke dalam gedung. Ketegangan sedikit reda. Tapi tidak hilang.

Kemudian ada peserta yang sakit, vertigo, sesak nafas. Ada juga yang menangis, sembari memeluk lengan temannya. Berusaha tetap tersenyum ketika mataku menyapa. Dua orang kawan mengajak peserta membentuk lingkaran. Saling berbagi perasaan, saling berbagi dukungan.

Aku tak bisa lagi mengingat kejadian detik per detik malam itu. tak sanggup mengingat rasanya. Namun yang jelas suara-suara di bawah begitu membekas

Bakar

Ganyang  — dengan nada yang biasa kami gunakan ketika aksi tolak WTO

Suara pecahan kaca mulai terdengar bertubi-tubi . Ya, mereka tak hanya berteriak. Mereka melempari dengan batu, kayu, benda-benda yang entah mereka dapatkan dari mana. Bisa jadi sudah sengaja mereka bawa.

Dan suara yang juga paling sering adalah

Allahu Akbar

Sempat sejenak aku terdiam

Bagaimana bisa manusia yang mengingat Tuhan adalah manusia yang sama yang hendak membunuh manusia lainnya?

Lalu dalam bayanganku muncul kobaran api hingga sejenak panasnya bisa kurasakan

Pikirku, bagaimana aku bisa meyakinkan kawan-kawan di sini, sementara aku pun meragu. Malam itu bisa jadi saat terakhirku di dunia. Aku menarik nafas panjang. Mengalihkan pikiran dengan kembali melihat mereka yang bersama satu ruangan denganku. Mencari apa yang bisa kulakukan. Menyibukkan pikiranku agar tak dilintasi bayangan-bayangan menakutkan.

Kejadian-kejadian berikutnya begitu cepat, penuh kepanikan dan tekanan. Proses evakuasi sedapat mungkin kami lakukan dengan tertib. Kawan-kawan yang sakit, kawan-kawan yang ekspresinya rentan, kawan-kawan mahasiswa, dan publik umum, baru kami yang aktivis. Hampir semua muda, hampir semua adalah perempuan. Semua berharap melihat jalan pulang. Tapi nyatanya kami masih harus duduk di sudut gang. Di sudut gang, di mana kami bisa saja diserang dari dua jalan. Di situ kami menunggu evakuasi hingga pagi menjelang. Tersudut. Tertekan. Ketakutan.

18 September 2017

Menjelang Subuh aku sampai di kantor. Berpelukan, dan mencoba istirahat sejenak, sebelum masuk sesi SKF tepat jam sembilan. Pikirku aku baik-baik saja. Aku tak tahu benar apa yang kurasakan. Marah? Marah pada siapa? Pada massa yang terbakar fitnah? Aku tak bisa marah pada mereka. Apakah aku sedih? Apakah aku takut? Apakah aku lelah? Apakah aku trauma? Aku tidak tahu apa yang kurasa. Bercerita pun aku bingung mulai dari mana. Aku hanya tahu hari harus berjalan seperti biasanya.

Barulah beberapa hari setelahnya, ketika bertemu mereka yang juga berada di tempat kejadian, seorang kawan berkata: Kita bisa ketemu lagi, kita masih hidup.

Aku baru sadar sejadi-jadinya. Bahwa aku takut, bahwa aku marah, bahwa aku sedih, bahwa aku bingung, bahwa aku kecewa, bahwa aku ingin menangis. Menangis sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya.

Tuhan kasih kita hidup untuk terus berjuang. Bukan untuk melangkah mundur.

[1] Penggalan pernyataan sikap bersama yang dibacakan oleh beberapa organisasi pro demokrasi yang hadir pada Asik Asik Aksi. Pernyataan ini disusun oleh seorang perempuan aktivis muda yang telah bertahun-tahun berjuang bersama korban-korban pelanggaran Hak Asasi Manusia

[2] Lagu Banda Neira berjudul Esok Pasti Jumpa. Malam itu dinyanyikan Ananda Badudu sesaat sebelum evakuasi ke lantai 2 dan 3.

Iklan

Sekali Lagi Saja

Sekali Lagi Saja

 

Pa,

Udah 12 hari Papa pergi. Rasanya masih kayak mimpi. 12 hari bukan cuma sekedar hitungan hari yang terus berganti. Tapi selama 12 hari, setiap harinya, adalah penantian penuh harap. Setiap hari Nisaa masih merasa Papa akan kembali. Nisaa bisa lihat papa ketawa lagi, liat Papa ngajak becanda dan ngasih joke yang meski kadang-kadang suka garing.

 

Pa,

Nisaa pengen banget karokean. Tapi karokeannya sama Papa. Kayak biasanya aku yang atur kita nyanyi gantian. Dari Be gees ke Lady Gaga, atau dari Ebit G Ade ke Maudy Ayunda. Terakhir kita karokean bareng udah lama lho pah. Akhir 2015 pas Nisaa ulang tahun. Terus ga kesampean lagi kita mau karokean. Padahal hari Selasa, terakhir Nisaa pulang, 2 hari sebelum Papa pergi, Papa udah bolak balik ngasih kode buat kita karokean. Tapi aku malah cuek sibuk Whats app-an entah sama siapa.

 

Maaf ya Pa.

Maaf karena aku selalu cuek dan jarang mikirin perasaan Papa. Maaf karena aku, tanpa sadar udah ngumpetin memori-memori menyenangkan aku sama Papa. Sekarang kenangan demi kenangan itu muncul satu-satu, indah tapi menyiksa hati inchi demi inchi.

Waktu dulu Papa sering nyanyiin aku lagu Permata Hatiku

Waktu Papa tiba-tiba dateng ke kelas, minta izin sama guruku bilang ada saudara yang kena musibah, padahal Papa ajak aku nonton teater

Waktu aku pingsan dan kepalaku menimpa pecahan toples kaca, cuma Papa yang berani nyabut kaca yang menancap itu dan melarikanku ke rumah sakit

Ketika pertama kali naik gajah, sama Papa.

Ketika pertama kali ke Taman mini liat istana boneka, juga sama Papa

Ketika pertama kali naik bom-bom Car, disetirin sama Papa

Teater-teater yang kita tonton bareng

Konser-konser musik yang kita nikmatin bareng

Liburan sama-sama seluruh keluarga

Ataupun moment-moment kecil ketika tiap malam kita ngumpul bareng di kamar Mama Papa. Berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi kekesalan, bahkan terkadang saling meledek.

 

Pa, dari semua itu, yang paling aku sesali adalah diriku sendiri. Betapa lambannya aku belajar memahami. Betapa lemahnya aku untuk mampu keluar dari perasaan kecewa yang kutimbun bertahun-tahun lamanya. Rasanya baru sekitar satu setengah tahun belakangan aku bisa mencair. Berdamai dengan rasa sakit yang kupupuk sendiri. Berharap punya kesempatan untuk memelukmu, menciummu, dan menunjukkan betapa aku sayang Papa.

 

Tapi sekali lagi betapa lambannya aku Pa. betapa bodohnya aku melewatkan setiap kesempatan yang tersedia di hadapan. Betapa hancurnya aku ketika aku baru menciummu saat tubuhmu telah dingin membeku.

 

Sungguh aku sangat bodoh Pa, sungguh aku sangat tinggi hati hingga menunjukkan rasa sayang saja aku tak mampu.

Aku ingin berteriak sekencang-kecangnya merutuki, dan mencaci maki diriku sendiri. Berteriak dengan sangat kencang, hingga Papa bisa mendengar. Menoleh sedikit saja. Menoleh sekali lagi saja. Kalaupun Papa tak kembali lagi, setidaknya Papa tahu betapa aku sayang Papa. Sayang sekali Pa.

 

Mengalir

Suara aliran sungai dini hari ini mengingatkanku pada hidup yang terus mengalir. Kadang deras kadang biasa. Namun pertanyaannya sejauh mana kita terbawa arus, atau kita tetap mampu memegang kendali atas aliran tersebut.

 

Berada di antara rutinitas seringkali membuat kita terlena pada aliran yang kita biarkan tanpa kuasa. Mengikutinya berkelok, tanpa tahu di mana sungai itu akan berujung, kapan kita berhenti untuk mengalir, atau setidaknya sejenak beristirahat pada riak-riak kecil.

 

Aliran ini tentunya bukannya stagnan, aku tetap maju dengan lancarnya. Meski harus meninggalkan pohon-pohon, bebatuan, maupun pemandangan pinggir sungai di belakang. Aku terlarut dalam aliran ini. Bukan tanpa kehendak. Aku membiarkan saja diri terseret tanpa peduli yang kutinggalkan jauh di belakang.

 

Pada titik ini, prioritas harus ditetapkan jelas. Terlalu naif bila kubilang masih mencari. Harusnya aku tak lagi goyah, tak pernah goyah.

 

Aliran ini tidak pernah menjanjikan terang di ujung sana. Tapi dia menuntut ketotalan. Ketundukkan yang paling tinggi yang pernah aku lakukan. Satu-satunya yang aku lakukan. Lebih tunduk dari mereka yang menunggu fatwa pimpinan. Tapi tentu saja bukan naif, karena mensyaratkan kesadaran penuh.

 

Tapi ketotalan ini masih terganjal. Hingga aku harus lepas, bebas dan mendobrak ganjalan itu. Lepas dari segala prasangka dan penghakiman, bebas berpikir tanpa peduli yang mereka pikir. Menjadi diri sendiri, bergantung hanya pada diri sendiri. Maka aku akan bisa tunduk secara total.

Angel-Demon

Seorang kawan tiba-tiba bertanya

“Ca, lo bipolar ya?”

Aku yakin dia sendiri tidak memahami apa itu bipolar sehingga bertanya begitu kepadaku. Pertanyaan itu sesungguhnya semata-mata dipicu perubahan penampilanku. Dua penampilan yang menurut banyak orang seperti melihat dua orang yang sepenuhnya berbeda.

Manusia selalu punya dua sisi yang berbeda

Bukan dua sebenarnya. Banyak.

Bahkan lebih banyak lagi sudut-sudut tersembunyi yang tak terlihat

Sama seperti menikmati kesendirian dalam keramaian

Atau berdiri teguh pada hati yang rapuh

Beberapa yang meng-klaim mengenalku bisa jadi kebingungan

Menuduh aku bukan kawan yang dia kenal, berubah karena pergaulan

Sebagian lagi menuding plin plan, kerap berubah bentuk,

Tanpa terbaca pola dan tujuan

Tapi aku memang bukan untuk dimengerti. Aku hidup, berkembang, dinamis.

Kerap berubah bukan berarti tengah mencari.

Karena di titik-titik perbedaan paling ekstrim yang kujalani saat ini.

Justru di sinilah aku paling merasa menjadi diri sendiri.cf13409e939f519502e07f7fcf0eb75d

Luka

Saya lahir di akhir tahun 1987. Sudah jauh dari angka 65. Sungai-sungai tak lagi berdarah. Kuburan massal telah tertutup ilalang.

 

Tapi Luka

Tersisa tanpa mampu diobati.

Kurasakan saat tetes air matanya bercerita. Atau ketika wajah tuanya gemetaran hanya karena mendengar suara truk. Teringat truk yang membawa Kakak laki-laki, satu-satunya perlindungan bagi dia saat itu. Setelah Ayahnya dikejar di setiap semak dan tikungan, dan Ibunya ditahan di balik jeruji.

 

Luka

Masih bisa kurasakan ketika dia bercerita. Tentang kebencian yang ditebarkan, menjauhkan saudara dan teman-teman. Menyudutkannya dalam tuduhan berkepanjangan. Harus dia tanggung meski di usia belianya tak ada politik yang ia mengerti. Terpisah dari orang-orang tercinta hanya untuk mencari selamat. Kehilangan dan menghilang dari orang-orang kesayangan. Menahun tak berkabar. Saling menduga telah tertelan kematian.

 

Luka

Ketika harapan demi harapan tepupuskan. Di masa senjanya masih berkeliling mencari kuburan. Desa ke desa mencari informasi. Bertanya-tanya masih bisakah bertemu sang Ayah, meski jika sudah berupa tanah dan batu nisan.

 

Luka yang terasa nyata meski 51 tahun telah lewat. Tak ada obat. Takkan pernah ada. Takkan pernah bisa.

Home

Packing, Bongkar, Cuci, Packing lagi

Belakangan rasanya berputar-putar saja dari aktivitas di atas. Tiap kali packing mau pulang, ingin rasanya teriak, ‘Yeiy, I’m coming home.’ Tapi dalam hati malah bertanya-tanya, mana yang sebenarnya saya sebut ‘home?’ Toh selang tak berapa lama harus menyusun pakaian di dalam tas, dan kemudian pergi lagi.

Apa yang saya sebut dengan rumah?

Apakah rumah masa kecil di mana orang tua saya berada, di mana terdapat limpahan kasih sayang tak terhingga, tapi sekaligus tempat di mana saya sering merasa tersingkir. Karena beberda.

Atau tempat saya istirahat hampir setiap malam ketika saya berada di Jakarta? Sebuah rumah petak sederhana, kecil dan juga bukan milik saya. Hanya setiap bulan saya bayar uang sewa.

Atau bangunan ini? Bentuknya rumah, besar dengan banyak kamar. Semua terisi dengan meja kerja, kursi, sofa, pendingin udara, dan beberapa Kasur busa. Tempat saya juga seringkali bermalam ketika berada di Jakarta. Tempat saya langsung ‘pulang’ meluncur dari bandara setiap menghabiskan perjalanan di udara.

Apa yang harus saya sebut rumah?

Sementara tempat saya paling bisa tidur nyenyak adalah kursi pesawat.

Mungkin jiwa saya telah tercecer dalam setiap perjalanan yang saya tempuh. Tertinggal sedikit demi sedikit hingga yang tersisa semakin sempit. Sesak.

Sebuah Impian

Sejak belasan tahun lalu, impianku untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin sudah kutetapkan. Sejak bertahun-tahun lalu pun sudah kutetapkan kampus dan jurusan impian untuk melanjutkan studi. Seolah tegas dan pasti akan kucapai tanpa sedikit pun keraguan.

 

Tahun demi tahun berlalu, aku merasa belajar di kampus kehidupan. Tidak ada kampus yang akan mampu mengajarkanku bagaimana membiasakan diri dengan kondisi yang berbeda. Berbicara tentang Konvensi dengan Bahasa sederhana yan bisa dipahami oleh Ibu-ibu akar rumput. Tinggal di rumah penduduk dengan fasilitas kamar dan kamar mandi seadanya. Bergaul di tengah sawah atau di tengah tambak. Melatih diri untuk lebih banyak mendengar, mengamati, menganalisis, dan sekedar menyebarkan energi postif pada wajah-wajah yang sebelumnya lesu, menangis tersedu.

 

Kadang ada perasaan sedih, iri, ketika melihat satu demi satu kawan mengumunkan akan melanjutkan studinya. Namun selalu teralih tatkala aku kembali ke kampung-kampung, berdiskusi dengan orang-orang hebat, hingga merumuskan strategi yang berdampak pada kepentingan orang banyak.

 

Sedih pun terobati

 

Hingga setahun yang lalu, seorang peneliti, calon doktor dari luar negeri mewawancaraiku. Bertanya seputar apa saja yang kami lakukan untuk isu Perlindungan Pekerja Rumah Tangga di dalam dan luar negeri. Usai wawancara dia memberiku kartu nama. Sebuah kartu dengan logo kampus impianku. Aku pun tak bisa menahan bicaraku bahwa aku ingin sekali melanjutkan studiku di sana. Dia berpesan, aku harus mengejarnya.

 

Peristiwa itu seakan mengingatkanku pada satu impian yang hamper kulupakan.  Meski aku tak pernah menyesal dengan jalan yang kini aku pilih. Meski kuakui ada banyak pembelajaran yang teramat berharga yang aku dapatkan dari apa yang aku lakukan saat ini. Melebihi apapun, bahkan mungkin melebihi kesempatan untuk bersekolah di manapun. Tapi ternyata impian itu tidak pernah pergi. Keinginan itu tetap terpatri kuat, tetapi kuyakini akan mampu kutempuh di suatu hari nanti.

 

Maka ketika hari ini seorang adik kelas mengumumkan akan melanjutkan studinya di kampus itu. Hatiku sedikit gerimis. Bahagia untuknya tentu, tapi juga rindu untuk segera mencapai impianku. Tapi di sinilah aku. Masih di tempat yang aku pilih. Bersama para perempuan hebat. Perempuan Buruh Migran yang siap berjuang dan melawan. Di sinilah aku berada sekarang, disadarkan oleh pertanyaan-pertanyaan kritis mereka. Ada visi yang berusaha tuk kuwujudkan, yang masih menjadi prioritasku saat ini melebihi dari impian manapun di dunia.

 

Sumbawa, 3 Juli 2016