Sekali Lagi Saja

Sekali Lagi Saja

 

Pa,

Udah 12 hari Papa pergi. Rasanya masih kayak mimpi. 12 hari bukan cuma sekedar hitungan hari yang terus berganti. Tapi selama 12 hari, setiap harinya, adalah penantian penuh harap. Setiap hari Nisaa masih merasa Papa akan kembali. Nisaa bisa lihat papa ketawa lagi, liat Papa ngajak becanda dan ngasih joke yang meski kadang-kadang suka garing.

 

Pa,

Nisaa pengen banget karokean. Tapi karokeannya sama Papa. Kayak biasanya aku yang atur kita nyanyi gantian. Dari Be gees ke Lady Gaga, atau dari Ebit G Ade ke Maudy Ayunda. Terakhir kita karokean bareng udah lama lho pah. Akhir 2015 pas Nisaa ulang tahun. Terus ga kesampean lagi kita mau karokean. Padahal hari Selasa, terakhir Nisaa pulang, 2 hari sebelum Papa pergi, Papa udah bolak balik ngasih kode buat kita karokean. Tapi aku malah cuek sibuk Whats app-an entah sama siapa.

 

Maaf ya Pa.

Maaf karena aku selalu cuek dan jarang mikirin perasaan Papa. Maaf karena aku, tanpa sadar udah ngumpetin memori-memori menyenangkan aku sama Papa. Sekarang kenangan demi kenangan itu muncul satu-satu, indah tapi menyiksa hati inchi demi inchi.

Waktu dulu Papa sering nyanyiin aku lagu Permata Hatiku

Waktu Papa tiba-tiba dateng ke kelas, minta izin sama guruku bilang ada saudara yang kena musibah, padahal Papa ajak aku nonton teater

Waktu aku pingsan dan kepalaku menimpa pecahan toples kaca, cuma Papa yang berani nyabut kaca yang menancap itu dan melarikanku ke rumah sakit

Ketika pertama kali naik gajah, sama Papa.

Ketika pertama kali ke Taman mini liat istana boneka, juga sama Papa

Ketika pertama kali naik bom-bom Car, disetirin sama Papa

Teater-teater yang kita tonton bareng

Konser-konser musik yang kita nikmatin bareng

Liburan sama-sama seluruh keluarga

Ataupun moment-moment kecil ketika tiap malam kita ngumpul bareng di kamar Mama Papa. Berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi kekesalan, bahkan terkadang saling meledek.

 

Pa, dari semua itu, yang paling aku sesali adalah diriku sendiri. Betapa lambannya aku belajar memahami. Betapa lemahnya aku untuk mampu keluar dari perasaan kecewa yang kutimbun bertahun-tahun lamanya. Rasanya baru sekitar satu setengah tahun belakangan aku bisa mencair. Berdamai dengan rasa sakit yang kupupuk sendiri. Berharap punya kesempatan untuk memelukmu, menciummu, dan menunjukkan betapa aku sayang Papa.

 

Tapi sekali lagi betapa lambannya aku Pa. betapa bodohnya aku melewatkan setiap kesempatan yang tersedia di hadapan. Betapa hancurnya aku ketika aku baru menciummu saat tubuhmu telah dingin membeku.

 

Sungguh aku sangat bodoh Pa, sungguh aku sangat tinggi hati hingga menunjukkan rasa sayang saja aku tak mampu.

Aku ingin berteriak sekencang-kecangnya merutuki, dan mencaci maki diriku sendiri. Berteriak dengan sangat kencang, hingga Papa bisa mendengar. Menoleh sedikit saja. Menoleh sekali lagi saja. Kalaupun Papa tak kembali lagi, setidaknya Papa tahu betapa aku sayang Papa. Sayang sekali Pa.

 

Mengalir

Suara aliran sungai dini hari ini mengingatkanku pada hidup yang terus mengalir. Kadang deras kadang biasa. Namun pertanyaannya sejauh mana kita terbawa arus, atau kita tetap mampu memegang kendali atas aliran tersebut.

 

Berada di antara rutinitas seringkali membuat kita terlena pada aliran yang kita biarkan tanpa kuasa. Mengikutinya berkelok, tanpa tahu di mana sungai itu akan berujung, kapan kita berhenti untuk mengalir, atau setidaknya sejenak beristirahat pada riak-riak kecil.

 

Aliran ini tentunya bukannya stagnan, aku tetap maju dengan lancarnya. Meski harus meninggalkan pohon-pohon, bebatuan, maupun pemandangan pinggir sungai di belakang. Aku terlarut dalam aliran ini. Bukan tanpa kehendak. Aku membiarkan saja diri terseret tanpa peduli yang kutinggalkan jauh di belakang.

 

Pada titik ini, prioritas harus ditetapkan jelas. Terlalu naif bila kubilang masih mencari. Harusnya aku tak lagi goyah, tak pernah goyah.

 

Aliran ini tidak pernah menjanjikan terang di ujung sana. Tapi dia menuntut ketotalan. Ketundukkan yang paling tinggi yang pernah aku lakukan. Satu-satunya yang aku lakukan. Lebih tunduk dari mereka yang menunggu fatwa pimpinan. Tapi tentu saja bukan naif, karena mensyaratkan kesadaran penuh.

 

Tapi ketotalan ini masih terganjal. Hingga aku harus lepas, bebas dan mendobrak ganjalan itu. Lepas dari segala prasangka dan penghakiman, bebas berpikir tanpa peduli yang mereka pikir. Menjadi diri sendiri, bergantung hanya pada diri sendiri. Maka aku akan bisa tunduk secara total.

Angel-Demon

Seorang kawan tiba-tiba bertanya

“Ca, lo bipolar ya?”

Aku yakin dia sendiri tidak memahami apa itu bipolar sehingga bertanya begitu kepadaku. Pertanyaan itu sesungguhnya semata-mata dipicu perubahan penampilanku. Dua penampilan yang menurut banyak orang seperti melihat dua orang yang sepenuhnya berbeda.

Manusia selalu punya dua sisi yang berbeda

Bukan dua sebenarnya. Banyak.

Bahkan lebih banyak lagi sudut-sudut tersembunyi yang tak terlihat

Sama seperti menikmati kesendirian dalam keramaian

Atau berdiri teguh pada hati yang rapuh

Beberapa yang meng-klaim mengenalku bisa jadi kebingungan

Menuduh aku bukan kawan yang dia kenal, berubah karena pergaulan

Sebagian lagi menuding plin plan, kerap berubah bentuk,

Tanpa terbaca pola dan tujuan

Tapi aku memang bukan untuk dimengerti. Aku hidup, berkembang, dinamis.

Kerap berubah bukan berarti tengah mencari.

Karena di titik-titik perbedaan paling ekstrim yang kujalani saat ini.

Justru di sinilah aku paling merasa menjadi diri sendiri.cf13409e939f519502e07f7fcf0eb75d

Luka

Saya lahir di akhir tahun 1987. Sudah jauh dari angka 65. Sungai-sungai tak lagi berdarah. Kuburan massal telah tertutup ilalang.

 

Tapi Luka

Tersisa tanpa mampu diobati.

Kurasakan saat tetes air matanya bercerita. Atau ketika wajah tuanya gemetaran hanya karena mendengar suara truk. Teringat truk yang membawa Kakak laki-laki, satu-satunya perlindungan bagi dia saat itu. Setelah Ayahnya dikejar di setiap semak dan tikungan, dan Ibunya ditahan di balik jeruji.

 

Luka

Masih bisa kurasakan ketika dia bercerita. Tentang kebencian yang ditebarkan, menjauhkan saudara dan teman-teman. Menyudutkannya dalam tuduhan berkepanjangan. Harus dia tanggung meski di usia belianya tak ada politik yang ia mengerti. Terpisah dari orang-orang tercinta hanya untuk mencari selamat. Kehilangan dan menghilang dari orang-orang kesayangan. Menahun tak berkabar. Saling menduga telah tertelan kematian.

 

Luka

Ketika harapan demi harapan tepupuskan. Di masa senjanya masih berkeliling menjari kuburan. Desa ke desa mencari informasi. Bertanya-tanya masih bisakah bertemu sang Ayah, meski jika sudah berupa tanah dan batu nisan.

 

Luka yang terasa nyata meski 51 tahun telah lewat. Tak ada obat. Takkan pernah ada. Takkan pernah bisa.

Home

Packing, Bongkar, Cuci, Packing lagi

Belakangan rasanya berputar-putar saja dari aktivitas di atas. Tiap kali packing mau pulang, ingin rasanya teriak, ‘Yeiy, I’m coming home.’ Tapi dalam hati malah bertanya-tanya, mana yang sebenarnya saya sebut ‘home?’ Toh selang tak berapa lama harus menyusun pakaian di dalam tas, dan kemudian pergi lagi.

Apa yang saya sebut dengan rumah?

Apakah rumah masa kecil di mana orang tua saya berada, di mana terdapat limpahan kasih sayang tak terhingga, tapi sekaligus tempat di mana saya sering merasa tersingkir. Karena beberda.

Atau tempat saya istirahat hampir setiap malam ketika saya berada di Jakarta? Sebuah rumah petak sederhana, kecil dan juga bukan milik saya. Hanya setiap bulan saya bayar uang sewa.

Atau bangunan ini? Bentuknya rumah, besar dengan banyak kamar. Semua terisi dengan meja kerja, kursi, sofa, pendingin udara, dan beberapa Kasur busa. Tempat saya juga seringkali bermalam ketika berada di Jakarta. Tempat saya langsung ‘pulang’ meluncur dari bandara setiap menghabiskan perjalanan di udara.

Apa yang harus saya sebut rumah?

Sementara tempat saya paling bisa tidur nyenyak adalah kursi pesawat.

Mungkin jiwa saya telah tercecer dalam setiap perjalanan yang saya tempuh. Tertinggal sedikit demi sedikit hingga yang tersisa semakin sempit. Sesak.

Sebuah Impian

Sejak belasan tahun lalu, impianku untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin sudah kutetapkan. Sejak bertahun-tahun lalu pun sudah kutetapkan kampus dan jurusan impian untuk melanjutkan studi. Seolah tegas dan pasti akan kucapai tanpa sedikit pun keraguan.

 

Tahun demi tahun berlalu, aku merasa belajar di kampus kehidupan. Tidak ada kampus yang akan mampu mengajarkanku bagaimana membiasakan diri dengan kondisi yang berbeda. Berbicara tentang Konvensi dengan Bahasa sederhana yan bisa dipahami oleh Ibu-ibu akar rumput. Tinggal di rumah penduduk dengan fasilitas kamar dan kamar mandi seadanya. Bergaul di tengah sawah atau di tengah tambak. Melatih diri untuk lebih banyak mendengar, mengamati, menganalisis, dan sekedar menyebarkan energi postif pada wajah-wajah yang sebelumnya lesu, menangis tersedu.

 

Kadang ada perasaan sedih, iri, ketika melihat satu demi satu kawan mengumunkan akan melanjutkan studinya. Namun selalu teralih tatkala aku kembali ke kampung-kampung, berdiskusi dengan orang-orang hebat, hingga merumuskan strategi yang berdampak pada kepentingan orang banyak.

 

Sedih pun terobati

 

Hingga setahun yang lalu, seorang peneliti, calon doktor dari luar negeri mewawancaraiku. Bertanya seputar apa saja yang kami lakukan untuk isu Perlindungan Pekerja Rumah Tangga di dalam dan luar negeri. Usai wawancara dia memberiku kartu nama. Sebuah kartu dengan logo kampus impianku. Aku pun tak bisa menahan bicaraku bahwa aku ingin sekali melanjutkan studiku di sana. Dia berpesan, aku harus mengejarnya.

 

Peristiwa itu seakan mengingatkanku pada satu impian yang hamper kulupakan.  Meski aku tak pernah menyesal dengan jalan yang kini aku pilih. Meski kuakui ada banyak pembelajaran yang teramat berharga yang aku dapatkan dari apa yang aku lakukan saat ini. Melebihi apapun, bahkan mungkin melebihi kesempatan untuk bersekolah di manapun. Tapi ternyata impian itu tidak pernah pergi. Keinginan itu tetap terpatri kuat, tetapi kuyakini akan mampu kutempuh di suatu hari nanti.

 

Maka ketika hari ini seorang adik kelas mengumumkan akan melanjutkan studinya di kampus itu. Hatiku sedikit gerimis. Bahagia untuknya tentu, tapi juga rindu untuk segera mencapai impianku. Tapi di sinilah aku. Masih di tempat yang aku pilih. Bersama para perempuan hebat. Perempuan Buruh Migran yang siap berjuang dan melawan. Di sinilah aku berada sekarang, disadarkan oleh pertanyaan-pertanyaan kritis mereka. Ada visi yang berusaha tuk kuwujudkan, yang masih menjadi prioritasku saat ini melebihi dari impian manapun di dunia.

 

Sumbawa, 3 Juli 2016

Sedikit Demi Sedikit

Di sinilah aku

Seperti bertahun-tahun lalu. Terlibat bersama mereka, individu-individu yang luar biasa. Perempuan yang teramat tangguh meski seringkali tak menyadarinya. Berbagi pengalaman, tawa, air mata, semangat dan kekuatan.

 

Melihat air mata berubah menjadi senyum

Kemarahan berubah menjadi tawa

 

Bagiku luar biasa

 

Mungkin untuk kamu yang terjadi di hadapanku adalah hal yang biasa. Bukan apa-apa, tak bisa dianggap suatu capaian. Apalagi untukmu yang memberi batas tegas antara sukses dan kekalahan seperti hitam dan putih. Permohonan diterima adalah berhasil, permohonan ditolak adalah gagal. Tanpa melihat bahwa yang gagal itu sempat memperkuat gerakan yang sebelumnya tercerai berai. Bahwa ada individu-individu yang sadar, berjuang, berlawan. Hingga kekalahan sebenarnya tetap menyimpan kemenangan-kemenangan kecil

 

Kemenangan kecil yang tidak pernah disadari.

Oleh kamu yang menganggap bahwa perubahan haruslah besar

 

Bukan gerakan jika tidak bisa membawa ribuan orang ke hadapan istana

Bukan keberhasilan jika tidak bisa menumbangkan sebuah undang-undang

 

Sementara aku di sini

Cukuplah hatiku senang melihat seorang Ibu yang mulai sadar akan situasi ketidakadilan yang dia alami. Mulai terbuka menceritakan diskriminasi dan pelabelan negatif yang ia terima ketika menjadi buruh migran. Mulai banyak bercerita setelah sehari sebelumnya memilih untuk lebih banyak diam

 

Kecil memang.

Perubahan-perubahan yang tidak pernah kamu hitung

Tak pernah kamu lihat.

 

Seperti perubahan yang ada pada diriku

Yang sedikit demi sedikit menyayangimu