Di Tengah Ramai

WhatsApp Image 2018-05-17 at 10.44.09 PM

 

Apa yang akan kamu lakukan, kalau kamu bisa memilih menggunakan 8 jam waktu dalam satu hari?

 

Aku?

Akan memilih jam yang paling ramai

Ditemani kopi, buku, dan musik kencang di telingaku

Membaca, menulis, kemudian diam sejenak

 

Selintas mencuri dengar pembicaraan meja sebelah

Tentang dua insan manusia yang saling merayu

Atau meja di depan

Yang penuh ungkapan saling membagakan diri

Banyak bicara tapi sepertinya kurang mendengar

 

Selintas memutarkan pandangan

Menangkap senyum malu-malu

Atau tatapan arogan tak mau mendengar

 

Kadang juga ada gelak tawa

Atau pandangan penuh perhatian yang tulus

Kehangatannya sampai bisa kurasa

 

Manusia,

Selalu menarik untuk diamati

Membuatku nyaman ketika dikelilingi

Asalkan

Tidak harus berinteraksi

Iklan

Kirana

Hidup emang ga pernah mudah, tapi di sela-sela hidup yang begitu rumit, selalu ada kebahagiaan kecil terselip.

 

Di sini sudah lewat tengah malam, ketika aku menerima pesan dari Mama. Lima jam jarak waktu kami. Mama sudah bangun pagi, sementara aku masih berusaha setengah mati untuk bisa tidur.

 

Di tengah kepenatan di antara berbagai terminologi, APA Item 3, article 6 — mitigasi, conflict of interest, navigation tools, NDC, non-market mechanism, corresponding adjustment, gender action plan, (ok, gw harus stop di sini, biar ga balik jadi kebelinger lagi). Belum lagi muncul kabar ga enak dari rumah beberapa hari sebelumnya. Setidaknya malam tadi ada secercah kelegaan yang hadir.

 

Kirana.

Dia mungkin manusia paling spesial di dalam hidupku. Menyaksikan dia tumbuh dari bayi kecil, hingga saat ini berusia 18 tahun, rasanya begitu menakjubkan. Dia memberikan pembelajaran yang begitu dalam. Tidak hanya soal kasih sayang dan ketulusan. Justru dia yang mengajarkan saya untuk menjadi kuar, untuk menjadi tangguh. Sekaligus untuk percaya, untuk mengatasi ketakutan dan kekhawatiran, untuk belajar mengendalikan diri, agar tidak posesif, dan tidak control freak.

 

Dia tumbuh menjadi gadis dewasa yang bertanggung jawab, mengetahui apa yang ia mau, mengejarnya tanpa ragu. Termasuk untuk ujian ke luar kota, di mana Kampus impiannya berada. Berangkat sendiri ke sana, menjadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Sendiri, aku tidak bisa menemani.

 

Ahh, rasa takut dan khawatir itu

Gimana kalo dia ga lulus ujian

Gimana kalo dia kuliah di luar kota? Siapa yang nemenin kalo dia sedih?

Anak ini masih bocah dan lugu, apa bisa menghadapi kehidupan di kampus?

Pokoknya gimana pun dia harus tinggal sama gw, dan cari kampus yang deket dari kontrakan gw.

 

Nyatanya, semua pertanyaan pernyataan itu, salah. Bukan cuma salah, tapi juga politically incorrect. Kirana adalah telaga bagi kami. Dia sudah sanggup menghidupi dan menerangi kami. Tidak ada alasan merasa dia tidak mampu menjalani hidupnya.

 

Malam tadi (atau pagi tadi waktu Indonesia bagian barat), dia mengabariku sedang dalam perjalanan untuk ujian Keterampilan.

Malam tadi (atau pagi tadi waktu Indonesia bagian barat), Mama mengabariku bahwa Kirana lulus di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

 

Di manapun dia lulus ujian nanti, yang manapun yang dia pilih,

 

Kirana sudah siap kuliah

Gadis kecilku sudah dewasa

Gadis kecilku tumbuh dengan mengenal dirinya sendiri, mampu menentukan pilihannya, dan menjalaninya dengan tanggung jawab.

 

Di antara segala keruwetan hidup,

Malam tadi aku menangis lega.

Bonn, 9th of May 2018

A Play

This world is not more than a play. We are puppets. Playing a role. Sometimes we can improvise the script. But we will never able to change the bigger agenda.

 

But, for whom? Who is watching our play? Who is laughing when a ‘clown government’ success to impress their people, without doing nothing than continuing inequality and injustice that have been played for decades? Who is crying when a baby girl killed because there is no food for her. Their land was grabbed; their food was destroyed.

 

What is the reason behind life? What the meaning of living, trying hard to scream, but in fact we can’t change anything? What reflection I can have? What lesson learn I can take?

 

Life is never fair. Life is never easy.

 

Another world is possible? It is! Another world is always possible. Only if people want to share power. Fairly. And that is the main problem.

 

We make them richer, they make us weaker. Indeed, human is the worst creature ever.

Bad Godesberg, 4th of May 2018

Survive

Survival,

Is the strongest power

Sometimes I wonder, how we can survive in this insane world.

 

Sometimes I feel that give up is the easiest way to take.

This life isn’t beautiful

And human is the worst creature ever.

 

If you ever trying

To cut your arm

Or drink poison

Or prepare the rope to hanging yourself

 

Please tell me

How you finally manage to survive

Tell me

Cause it is a precious power to be life

 

Bad Godesberg, 4th of May 2018

Buku

Aku terjebak di antara deretan panjang kata. Tak pernah membingungkan, hanya menenggelamkan. Membuat larut tak tersisa, melupakan dunia di sekitar kita.

 

Berhadapan dengan kata-kata yang tertulis menjadi sebuah zona nyaman. Membaca ekspresi tanpa melihat, memahami perasaan tanpa harus menyentuh dan saling menatap. Kita ada di dunia yang sama, saling berinteraksi tanpa suara. Hanya kedalaman perasaan dan pengertian yang tanpa batas di antara kita. Tak terganggu oleh gimmick yang membuat curiga, atau nada suara yang memekakkan telinga.

 

Biarkan aku berdua saja dengannya. Yang lebih memahamiku daripada kebanyakan manusia di dunia. Membiarkanku menjelajahi lembar demi lembar, menyusuri huruf demi huruf, paragraf demi paragraf, menghadirkan berbagai perasaan yang begitu kaya. Biarkan dia saja yang menjadi duniaku. Di mana aku bisa bereaksi tanpa menimbulkan reaksi, merespon tanpa takut dinilai.

 

Berikan aku buku saja. Boleh juga dengan pena. Biar aku mengukir dunia. Dunia milikku saja. Dunia dimana aku menjadi aku.

Konsekuensi

Kadang kita tidak sadar pada jiwa yang tak berkembang meski usia terus bertambah.

Pada tanggung jawab yang membesar tanpa kita tahu ukuran kesanggupan yang kita miliki.

Tapi segala pilihan diambil bersamaan dengan konsekuensi.

Sementara waktu takkan pernah berputar mundur.

Maka menghadapi konsekuensi adalah satu-satunya pilihan yang bisa dijalani