Pembelajaran, Energi, dan Persahabatan yang Jujur

WhatsApp Image 2018-10-15 at 23.41.49

Persahabatan yang jujur adalah adalah alat politik utama dari pergerakan kita

(Komunike Musyawarah “Dunia Warga Yang Melampaui Kuasa Bank”)

Rasa-rasanya merupakan kalimat yang repesentatif menggambarkan pembelajaran yang didapatkan selama berproses dalam perlawanan terhadap Bank Dunia, IMF, dan sistem ekonomi global. Ini tentunya bukan sekedar kegiatan. Karena World Beyond Banks sendiri tidak dirancang untuk hanya sekedar menjadi kegiatan. Bukan hanya melalui World Beyond Banks, perlawanan juga digelorakan melalui beberapa kegiatan lainnya seperti Festival Pangan Perempuan, dan Feminist Carnival.

WhatsApp Image 2018-10-15 at 23.41.53

Persahabatan yang jujur.

Ini telah menjadi refleksi besar dan dalam sejak sebelum kegiatan dimulai. Tentu saja persahabatan yang jujur tidak bisa didapat lewat senyum pemerintah yang tak pernah berpihak pada rakyatnya. Persahabaran yang jujur juga selayaknya tegas berposisi terhadap ruang keterlibatan yang disediakan oleh aktor-aktor serupa Bank Dunia dan IMF. Atas nama perbaikan mekanisme, atas nama perbaikan standard pengamanan, nyatanya menambah deretan legitimasi agar ia bisa terus melancarkan serangan. Merampas tanah, air, dan sumber-sumber kehidupan, menenggelamkan desa, merusak tatanan sosial, budaya dan ilmu pengetahuan, membunuh manusia, dan menambah lapisan penindasan perempuan.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.02

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.26

Maka pilihan kami kemudian menjadi tegas. Sejak awal gagasan World Beyond Banks dibangun dengan kesepakatan bahwa kami tidak mengkritisi Bank Dunia dan IMF sebagai institusi, melainkan sebagai sebuah ideologi. Ideologi yang kemudian menghadirkan paham-paham serupa ekstrativisme, infrastrukturisme, moneteisme, dan komodifikasi.

Sejak hari pertama pun Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional sudah ‘dimatikan’ sebagaimana yang tertuang di dalam narasi dan video framing. Maka pilihan kami tegas bahwa yang banyak perlu disuarakan adalah korban, komunitas yang mengalami langsung berbagai persoalan ketidakadilan dan penidasan akibat sistem ekonomi yang dibangun berdasarkan ideologi keruk ini. Mereka yang juga memiliki geliat dan inisiatif tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga melawan seraya melestarikan sistem hidup yang adil, setara, serta menjaga keberlangsungan alam dan kehidupan.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.50

WhatsApp Image 2018-10-14 at 14.24.41

Sejak awal pun kami memiliki kesepahaman bahwa perempuan bukanlah sektor, maka suara perempuan harus ada di setiap sesi, situasi perempuan harus disuarakan dalam setiap diskusi. Maka aku mengulum senyum ketika seorang jurnalis asal Korea bercerita kepadaku: “Tadi saya wawancara juga peserta perempuan yang dari Korea, dia bilang surprise sekali melihat ada banyak perempuan yang aktif bicara pada forum ini.”

Sejak awal gagasan World Beyond Banks sebagai gerakan pun dipahami seluruh pihak. Maka kawan-kawan musisi dari berbagai negara, tidak sekedar datang untuk performance. Melainkan untuk mengikuti seluruh proses, mendengarkan cerita, terinspirasi dan menciptakan sebuah karya. Pada akhirnya, sebuah lagu berjudul World Beyond Banks pun dinyanyikan bersama.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.29.18

WhatsApp Image 2018-10-12 at 14.36.38

Sejak awal kami tahu persis bahwa kapitalisme menciptakan pemerintahan oligraki. Menghancurkan demokrasi, bahkan megkooptasi gerakan rakyat. Para pengusaha di balik pemerintah, kriminalisasi rakyat yang memperjuangkan haknya, pembubaran diskusi di mana-mana, hingga penurunan dan perusakan baliho, yang terjadi menjelang pertemuan bank dunia dan IMF. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tak lebih dari alat untuk menyerang warga negaranya demi kepentingan mereka yang melihat Indonesia tak lebih sebagai keuntungan yang bisa dikeruk.

Maka ketika tindakan-tindakan represif mulai datang. Sembayang diintimidasi, pemakaian tempat dibatalkan sepihak, kami tahu persis bahwa kami tak ingin masuk pada jebakan mereka. Menyikapi sesuai porsi menjadi pembelajaran yang begitu berharga di tengah kemarahan dan keinginan untuk mengamuk segera.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.27.37

WhatsApp Image 2018-10-19 at 12.59.24 (1)

Pun aku belajar menerima tentang apa yang disebut seorang kawan sebagai berantakan. Rundown yang tak kunjung final, penerjemah dan alatnya yang tak tersedia di semua forum paralel, tenda panggung utama yang begitu panas, video yang tidak terlihat, dan masih banyak deretan kekurangan lainnya, selayaknya diterima sebagai kekurangan tanpa perlu embel-embel tetapi. Berbagai keterbatasan yang membuat mata dan rasaku menyaksikan mereka yang bekerja begitu keras. Berdiskusi siang malam, berpikir substansi hingga teknis. Mereka yang ringan tangan meski tidak berasal dari panitia, bahkan tak berasal dari Indonesia. Mereka yang aku yakin bergerak karena merasa turut memiliki forum ini.

WhatsApp Image 2018-10-14 at 17.11.37

Betapa komunitaslah yang mendukung kami berkumpul dan menyelenggarakan musyawarah ini. Hingga panganan sepiring 15 ribu namun dengan menu yang luar biasa lezatnya. Dilengkapi teh manis dingin dengan cita rasa tinggi, memberimu energi di bawah langit Bali yang begitu terik. Dimasak dan disiapkan dengan cinta oleh Bu Tini, meski sebelumnya dia sempat diintimidasi dan ditanya macam-macam soal kegiatan seputaran mengkritik Bank Dunia dan IMF.

Pun Komunitas Jatijagat Kampung Puisi, yang menyambut kami dengan rangkulan persahabatan. Memberikan ruang dan karyanya untuk bersama-sama melawan. Saling menjaga, saling menguatkan.

WhatsApp Image 2018-10-14 at 21.51.24

Maka di forum ini kami tak hanya saling berbagai cerita dan pembelajaran. Tetapi juga berbagi energi untuk saling menguatkan. Seperti ketika bernyanyi bersama Kawan-kawan komunitas SP diiringi petikan gitar Mas Budi Pego. Atau ketika menggenggam tangan Ibu Asnir menatap senyumnya yang mencuat di sela-sela kegelisahan memikirkan kampung halaman. Juga tetap setia mendengar cerita bu Halimah, yang terus setia melawan privatisasi air. Energi yang begitu hangat tersebut, sesungguhnya merupakan kemewahan yang tiada tara.

Persahabatan yang jujur

Ketika di akhir hari seseorang memelukku dan berkata, “Mbak, jangan bosan mempersatukan gerakan.” Kami pun bersepakat. Mempersatukan apa yang memang selayaknya diperjuangkan. Dalam sebuah solidaritas ideologis. Pertemanan yang jujur. Jumlah kami memang kecil, tapi kami layak untuk terus ada. Semakin kuat. Semakin solid.

Kejahatan ini dilakukan secara global. Maka perlawanannya pun harus global, menembus ruang, waktu, dengan keberlanjutan yang konsisten dan kesetaraan antar generasi. Meski global, perlawanan itu harus tetap terasa dekat. Perlawanan itu melekat dengan tekad di dalam hati kita. Mengisi setiap jengkal tubuh kita. Mengalir seperti darah. Sedekat nadi yang berdenyut. Begitu ia terasa.

Di atas langit Denpasar menuju Jakarta, 17 Oktober 2018

 WhatsApp Image 2018-10-19 at 12.59.24

 

 

Ke-millenial-an dan Perlawanan terhadap Penindasan Global

“Minke itu millennial, tapi pada masanya. Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun. Memang anak-anak muda, buku ini pun bicara tentang gejolak anak muda.” (Pernyataan Hanung Bramantyo di Konpers Film Bumi Manusia)

 

“Pertama kali membaca Bumi Manusia saat kuliah. Waktu saya baca novel ini merasa apa yang disampaikan sangat penting sekali. Pada saat membaca, saya menjadi remaja yang keren kemudian terbawa dan menemui Pak Pram.” (pernyataan Hanung Bramantyo sebagaimana dikutip di kapanlagi.com).[1]

Berbeda dengan Hanung, saya yang waktu itu adalah anak kemarin sore dan begitu dangkal pemahaman mengenai Pram dan tetralogi Burunya justru merasa keheranan. Ada ekspektasi saya, meski saat itu masih begitu minim membaca karya-karya Pram (Bumi Manusia adalah karya Pram keempat yang saya baca setelah Arok Dedes, Gadis Pantai, dan Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer), yang tak terpenuhi. Membaca Bumi Manusia membuat saya berpikir, kenapa tokoh di dalam novel ini, begitu tergila-gila dengan pendidikan Eropa, begitu menyanjung Belanda. Saya pun bertanya-tanya, di mana perlawanan terhadap kolonialisme yang seharusnya ada. Meski, kesadaran-kesadaran tentang ketidakdilan telah tersaji dengan jelas. Baru kemudian setelah membaca 3 buku berikutnyalah saya takjub dengan bagaimana Pram membawa kita pada proses kesadaran Minke, hingga menetapkan keberpihakan dan melakukan perlawanan nyata terhadap penjajahan.

 

Adil sejak dalam pikiran nyatanya memang sulit. Apalagi untuk tidak mengadili sutradara hingga pemain utamanya. Tapi saya akan berusaha tidak menghakimi apa yang sedang dibuat oleh Hanung dkk. Saya hanya bertanya-tanya apa yang dimaksud Hanung dengan, “Waktu saya baca novel ini merasa apa yang disampaikan sangat penting sekali.” Atau apa yang membuat dia merasan sebagai remaja yang keren? Apakah karena memahami pergolakan batin Minke yang berusia 20 tahun di Bumi Manusia, lalu mampu merasakan dan menganalisis kegelisahan yang sama pada dirinya sebagai remaja usia kuliah? Atau merasa keren dengan sekedar sudah membaca karya dari satu-satunya sastrawan Indonesia yang diusulkan sebagai peraih Nobel Sastra?

Millenial

“Minke itu millennial, tapi pada masanya,” kata Hanung. “Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun.”[3]

“Iqbaal dan Mawar anak milenial, yang sadar dengan kebudayaan.”[2]

Bumi Manusia adalah seri pertama dari tetralogi Buru, menceritakan Minke yang meski pada awalnya sangat menggilai Eropa (kemudian dianggap Millenial), lalu memperoleh kesadarannya atas penindasan akibat penjajahan dan kolonialisme. Tak hanya itu, dia melakukan perlawanan terhadap penjajahan tersebut dengan cara menulis, dan mendirikan surat kabarnya sendiri hingga dinobatkan sebagai Bapak Pers Indonesia.

Maka mengaitkannya dengan Ke-Milenial-an seharusnya hendak menyampaikan pesan penting serupa ‘penjajahan’ itu masih terus berlangsung di Indonesia. Ketimpangan negara-negara utara dan negara selatan terus berlanjut, bahkan di berbagai meja perundingan dunia. ‘Kolonialisme’ masih berwujud di mana segala sistem ekonomi kita diarahkan dan dikendalikan untuk kepentingan kapital atau mereka yang bermodal besar. ‘Tanam Paksa’ masih dipraktikkan melakukan Praktik Perkebunan Kelapa Sawit, atau Perkebunan Tebu milik BUMN (PTPN), yang merampas lahan masyarakat, menyebabkan masyarakat menjadi buruh di tanahnya sendiri, dan menanam komoditas yang bukan untuk kepentingan kita, demi memperkaya yang sudah begitu kaya. Pun Poligami, Perkawinan Anak, hingga kontrol terhadap keputusan, dan kehidupan perempuan yang merupakan penindasan terhadap seksualitas perempuan tetap berlangsung hingga hari ini. Maka mengaitkannya dengan Ke-Milenilai-an sejatinya mengandung pesan, bahwa di tengah gempuran ekonomi politik global, perlawanan harus dilakukan, dan bukannya sekedar simbol-simbol serupa baju adat, kereta kuda, apalagi soal anak pribumi yang jatuh cinta pada bule.

“Saya tidak perlu kasih buku tebal ke Iqbaal, tinggal pakaikan baju adat, yah jadilah Minke,” [4]

Foto Preskon ‘Bumi Manusia’ Para Pemain Datang Naik Kereta Kuda[5]

Novel ini menceritakan kisah roman Minke, seorang pribumi di zaman kolonial Belanda, yang jatuh cinta kepada Annelies, anak blasteran seorang Belanda dengan seorang nyai bernama Nyai Ontosoroh. Ceritanya berlatar belakang sekitar tahun 1890 sampai 1918. [6]

WhatsApp Image 2018-05-27 at 15.52.41

sumber gambar: Sebuah Grup Whatsap, verified

 

[1] https://www.kapanlagi.com/showbiz/film/indonesia/saat-mahasiswa-hanung-pernah-ditolak-pramoedya-adaptasi-2268364732bumi-manusia22683648482-fb3906.html

[2] https://www.viva.co.id/showbiz/film/1040104-alasan-hanung-bramantyo-pilih-iqbaal-di-film-bumi-manusia

[3] Pernyataan Hanung di Konpers, sebagaimana dikutip di https://www.vice.com/id_id/article/evkvak/tak-terima-iqbaal-ramadhan-jadi-minke-santai-kalau-ga-kontroversial-bukan-film-bumi-manusia-dong

[4] https://www.dream.co.id/showbiz/alasan-hanung-bramantyo-pilih-iqbaal-di-bumi-manusia-1805252.html

[5] https://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/indonesia/66924cast_bumi_manusia-20180525-005-bintang.html

[6] http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2018/05/25/film-bumi-manusia-segera-digarap-iqbaal-tertantang-perankan-minke-424948

Ketika Sri Mulyani Melupakan Marsinah

Berada di organisasi perempuan dengan banyak kesempatan untuk bersentuhan langsung dan berinteraksi dengan perempuan akar rumput di berbagai konteks mengajarkan saya bahwa persoalan perempuan tidak pernah sederhana.

WhatsApp Image 2018-03-08 at 11.17.23 PM

Berkata bahwa Marsinah dibunuh dan diperkosa semata-mata karena dia perempuan sama tidak tepatnya dengan berkata bahwa ia dibunuh dan diperkosa semata-mata karena dia buruh dan miskin. Berbagai identitas perempuan nyatanya menambah lapisan penindasan yang dialami serupa kulit bawang merah yang setiap kupas lapisannya menjadi semakin pedas.

 

Marsinah tidak sendiri. Marsinah adalah perempuan, Marsinah adalah kita. Perempuan yang mengalami penindasan berlapis sejak kita kecil, bahkan sebelum kita terlahir. Kita yang tanahnya dirampas, pesisirnya diprivatisasi, yang lautnya direklamasi. Kita adalah perempuan yang lingkungannya dihancurkan, airnya dicemari dan diambil perusahaan. Kita perempuan yang sumber-sumber kehidupannya dirampas, diusir dari tanah kita sendiri, menjadi pekerja rumah tangga dan buruh migran, didera kekerasan dan penyiksaan. Kita adalah perempuan yang diperkosa namun disalahkan ketika memakai rok pendek, yang dikeluarkan dari kampus ketika mengenakan cadar. Kita adalah perempuan yang dicambuk di depan umum hanya karena berdekatan dengan laki-laki, diperkosa karena mencintai sesama perempuan, dikejar di gang-gang oleh Satpol PP dan Wilayatul Hisbah hanya karena kita perempuan yang lahir dengan penis.

 

Lalu ada perempuan-perempuan yang juga mengalami diskriminasi dan kekerasan. Tetapi memiliki privilege lebih dibandingkan perempuan-perempuan lainnya. Mereka yang bersekolah tinggi, hingga mendapat kesempatan sebagai pengambil kebijakan. Iya, mereka perempuan. Tapi apakah keperempuanannya menjadi jaminan untuk mengakui, menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak perempuan lainnya?

 

Memperjuangkan hak-hak perempuan adalah memperjuangkan pengakuan bahwa perempuan memiliki posisi setara, punya hak untuk berpendidikan tinggi, dan berkiprah di ruang publik hingga mengurus negara. Memperjuangkan hak-hak perempuan adalah bersuara bahwa tidak ada seorang perempuan pun boleh mengalami kekerasan, perempuan tidak boleh dipukul, disakiti, diperkosa, dilecehkan, dan lain sebagainya. Memperjuangkan hak-hak perempuan adalah memberikan pilihan sepenuhnya pada perempuan, apa yang mau dikenakan, kemana dia akan pergi, dengan siapa dia jatuh cinta, apakah dia ingin mengambil peran sebagai ibu atau tidak, dan sebagainya.

 

Itu betul. Tapi tidak cukup.

 

Bagaimana dengan perempuan miskin yang tanahnya dirampas karena proyek-proyek yang didanai World Bank, ADB atau Lembaga Keuangan Internasional Lainnya. Mereka yang hutan, laut, airnya tercemar akibat investasi yang setengah mati dibela dan digadang-gadang oleh mereka (termasuk perempuan) atas nama mengoleksi pajak untuk pertumbuhan ekonomi. Bagaimana dengan perempuan yang menjadi pekerja rumah tangga migran karena tanah, hutan, dan lautnya dirampas, diprivatisasi untuk investasi? Perempuan buruh yang keringatnya diperas tanpa gaji layak, semata-mata karena pemerintah (di mana perempuan ada di dalamnya) lebih senang memperlancar investasi ketimbang mewujudkan perlindungan hak-hak buruh.

Bagaimana dengan perempuan yang ditangkap dan dikriminalisasi saat memperjuangkan tanahnya yang dirampas perusahaan. Perempuan yang miskin, mengalami trafficking, kemudian dihukum mati karena mengantar narkoba tanpa dia tahu apa yang dia bawa. Perempuan yang nyata-nyata menghadapi penderitaan, bukan hanya karena dia perempuan, tapi juga karena pemiskinan struktural yang dihasilkan sejumlah proyek dan kebijakan yang juga turut dibanggakan oleh sebagian perempuan.

 

Memperjuangkan perempuan adalah tentang membangun solidaritas. Menembus batas-batas ke-aku-an dan ke-dia-an. Bahwa perempuan yang mengalami penindasan semenjak dahulu, sejatinya mampu merasakan penindasan yang dialami perempuan lain.

 

8 Maret adalah hari kita, adalah ruang konsolidasi kita, adalah solidaritas yang semakin menguat, adalah gerakan yang semakin kuat. Kita perempuan di berbagai konteks di berbagai sektor dengan berbagai pengalaman penindasan, dengan solidaritas membangun perjuangan bersama, memperjuangkan hak-hak, mencapai kedaulatan.

 

Selamat Hari Perempuan Sedunia.

WhatsApp Image 2018-03-08 at 11.16.04 PM

Revolusi Agraria

Sesungguhnya aku malu Eyang,

Tapi juga bingung

Berkali teriakkan Reforma Agraria

Padahal sejak tahun 1961 sudah engkau kritik habis-habisan

Katamu UU Pokok Agraria tidak akan bisa menyelesaiankan persoalan ketimpangan yang telah terjadi

Katamu yang kita butuhkan adalah Revolusi Agraria

Katamu sejak tahun enam satu

 

Seaandainya aku punya kesempatan berdiskusi denganmu, Yang

atau setidaknya menemukan literatur-literatur tentang pemikiran Eyang.

Conflict of Interest in UNFCCC: Pull Out Polluters from Negotiation

*Ini short article terkait salah satu topik yang mengemuka di Konferensi Iklim, Mei lalu di Bonn. Versi bahasa Indonesia yang (direncanakan) lebih lengkap akan menyusul.

2

Climate negotiation has been happening since 1991, while UN Framework Convention of Climate Change (UNFCCC) was entered into force on 21 March 1994. This negotiation is expected to produce real solution to solve climate crisis and save the planet, including people who are already impacted by climate crisis. In fact, after 23 years, UNFCCC still not come up with strong commitments to truly solve the root problems of climate crisis, both in its policies, and projects. Moreover, UNFCCC keep producing false solutions that cause more problems to people. Resulted solutions from this negotiation are only benefits to industrial countries, transnational corporations and international financial institutions. For example, REDD and REDD+ in Indonesia have been impacted to our people, women and men who have to loss their livelihood resources, evicted, as well experience economic and social impact caused by the projects. Meanwhile, through Smart Climate Agriculture, government is only accommodating interests of agri-business, and grab farmers’ sovereignty over their production by creating dependency to big company’s seeds and fertilizers.

The active engagement of corporations/private companies on the negotiation table is believed as one of the factors that create these profit-driven solutions. We all know that to solve climate crisis, we need to addressing the root causes of climate change, which is to reduce emissions drastically from the source, i.e. industrial activities and the changing patterns of production and consumption that relies on fossil fuels, one of them by cutting off the investment in fossil fuels. But how it is possible, when companies like Big Oil Gas and Coal Company are parts of the negotiation.

Corporate Accountability International (CAI) reports that more than 250 Business and Industry Non-Governmental Organizations (BINGOs) have currently been admitted to the climate talks.[1] Meanwhile, based on UNFCC website, 13,9% from Observers are coming from BINGOs. It is a huge number compared with the number of observers coming from impacted communities and groups, such as Indigenous People, Farmer, Women, and Youth.[2] Involvement of BINGOs itself had also bring conflict of interests, since they represent the interests of corporation that basically are polluters for decades. As a respond, Civil Society including environment NGOs, Women’s group as well as Indigenous People, bring voices and raising awareness about the issues of Corporate’s Conflict of Interest in UNFCCC. The discussion about conflict of interest is continuing in the  Bonn Climate Change Conference – May 2017.[3]

This issue was brought to In Session Workshop on Opportunities to Further Enhance Effective Engagement of Non-Party Stakeholder. Kaliyani Raj, from All India Women’s Conference and represent Women and Gender constituency as one of the speakers said that it is Important to adopt clear mechanism to see different between stakeholder who represent public interests and right based groups, versus they who represent the business interests. This statement also supported by some feedbacks from Ecuador Delegation, Walter Schuldt-Espinel, Indigenous groups, Women and Gender Constituency, Climate Justice Now, and Indigenous group. Besides, someone from UN secretariat who’ve been involved in the process of Convention of Tobacco Control also share the experience as an important lesson learn. In that Convention negotiation process, they realized that there is fundamental conflict between tobacco industry and public health interests, so limiting role of tobacco industry in negotiation is very necessary. In the context of UNFCCC, we need to limit the role of actors that might be ‘polluting’ the process.

In the other hand, to create true solution, we need to encourage more spaces for Society and produce people centered solutions. Indigenous People, Peasant, Fisher Folk, already have their initiatives in saving the earth. For example, women live around forest in Kalimantan and Central Sulawesi, Indonesia who use nature’s product such as pandan/screw pine and rattan as material for making handcraft. They will only harvest big pandan/screw pine, with limited amount as needed and then will replant the trees. This initiative is taken to guarantee and the sustainability for the next generations.

This issue also brought to UNFCCC through the in-session Workshop that have objective to discuss opportunity to build relationship between stakeholder to enhance climate commitment into an action. Through the workshop, representative from Indigenous Groups also share how they already took initiatives as ‘guardian of the land.’ They are maintaining and governing it for a long time with their own funding/resources. But ironically public funding distributed through Green Climate Fund is put more in to industries, while Indigenous People are on the ground trying to guard their land.

1

To recognize and support people perspective and initiatives in solving climate crisis, it is important to ensure meaningful participation of people, but off course with a clear understanding that there is a different between who represent people’s interests and business’s interests. In the parallel discussion, civil society had also share about their experiences, knowledge, and ideas to enhance participation and involvement of civil society, particularly the impacted groups.  Some ideas and thought also identified, such as ensure national mechanism of parties to give information and spaces for civil society to be able to involve meaningfully, capacity building and awareness raising, translated documents so local people can understand about the negotiation, as well the recognition of CSO as participant instead of observers. It is also important to see and consider specific situation of women, who have limited access and control in many aspects and create affirmative action to encourage their involvement.

This process showed that civil society has been succeed, at least in making ‘noise’ about the issue. Therefore, it is important to monitor the follow up of the workshop and keep making noise and raising awareness, until UNFCCC really take it into account and bring it in the negotiation. Business Sectors should be regulated and obligated in Climate Actions, but not to involve and use their power to influence Climate negotiations.

In conclusion, pull out Business Sectors from the negotiation is a very important issue. As long as they have opportunity to use their power in influencing negotiation, UNFCCC will keep continue producing false solutions that strengthening Inequality and impoverishment. All this time, the negotiation has been reflected as a manifestation of inequality between capital owners who destroy the earth and the people who forcedly evicted from their livelihood in the name of climate change mitigation. Indigenous people, peasant, and fisher folk in global south already impacted by climate crisis, but all of climate projects are not able to save them and solve the root cause. Moreover, they have to loss their livelihood resources and forced to conduct or involve in project that not giving any benefit for them, to conserve the earth from the disaster that not caused by them. For women, who also experience the impact of climate change and climate projects, they even face layered of impact and injustice caused by social, economic, political and cultural barriers that limit their access to and control over resources, capacities and decision making.

3

[1] http://www.thebigissue.co.ke/index.php/2017/05/23/conflict-interest-threatens-climate-change-talks/amp/

[2] http://unfccc.int/parties_and_observers/observer_organizations/items/9545.php

[3] The forty-sixth sessions of the Subsidiary Body for Implementation (SBI 46) and  Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA 46) as well as the third part of the first session of the Ad Hoc Working Group on the Paris Agreement (APA 1-3), conducted from 8 to 18 May 2017, in Bonn, Germany.

Seandainya Kita Mau Belajar

Semalam di sini ada perayaan Supersemar. Rupanya 19 tahun Reformasi tak membuat bangsa ini belajar. Padahal, literature sudah begitu banyak. Menampilkan versi lain dari sejarah buku putih yang penuh kebohongan. Film kesaksian algojo yang dibuat dengan dasyatnya, seolah tak berarti meski telah melalui riset bertahun-tahun lamanya. Sidang rakyat pun telah digelar meski meminjam negara lain. Hanya diabaikan tak lebih berarti dari angin lalu.

 

Hari ini orang-orang masih berteriak ‘awas bahaya komunis.’ Padahal yang hadir adalah bahaya orba dengan otoritarianismenya. Orang-orang menutup mata dari fakta komunis telah ditumpas habis dengan begitu kejinya. Bahkan mereka yang tak bersalah ikut dibunuh, dihilangkan, dianiaya, dipenjara. Orde baru juga sangat senang dengan bumbu-bumbu kengerian yang dibuat-buat. Tetapi cukup untuk membuat siapapun ketakutan. Takut untuk bicara, takut untuk mengkritik, takut untuk protes, apalagi melawan.

 

Sementara hari ini tumbuh menguat kelompok-kelompok yang merasa paling benar. Menghakimi, megkafirkan, menguasai, melakukan kekerasan dengan menggadang-gadang agama. Bersekongkol dengan kuasa modal menjadi anjing-anjing penjaga asset mereka. Merasa paling berkuasa dan bertindak semaunya. Dan negara diam saja.

 

Ah Negara

Negara tidak berdaya di hadapan mereka

Tetapi negara yang sama menggunakan daya untuk menekan rakyatnya.

 

Rezim ini dimulai ketika tempat aksi diistana semakin dipukul mundur. Begitu pun ruang-ruang aspirasi yang terus dibatasi. Diatur sana-sini. Pembunuhan aktivis pun dibiarkan. Waktu berjalan terus tanpa ada kejelasan. Aksi-aksi kerap dibubarkan. Beribu alasan disiapkan tak satu pun masuk akal. Konstitusi dilangkahi SOP polisi. Rakyat diusir, perempuan ditekan, dihadang, dipelintir.

 

Inilah yang terjadi ketika bangsa ini tak pernah belajar. Tak pernah belajar dari masa lalu saat pembunuhan massal dilakukan dengan dilumuri fitnah-fitnah keji. Tak pernah belajar dari kekejaman orde baru ketika suara dibungkam, kecerdasan dan kekritisan dibunuh, yang progresif ditumpas habis.

 

Apakah kita tengah menjelang kembalinya hari-hari di mana kita dipaksa diam? Bergerombol dengan tidak aman, berbicara pun merasa terancam. Apakah kita akan akan membiatkan negara ini kembali ke masa kegelapan? Menjadi negara pelanggar HAM yang kerap menyerang rakyatnya sendiri.

 

Coba pikirkan

Coba renungkan

Untuk negara yang tak mau belajar ini, setidaknya kita telah belajar. Dan diam jelas bukan pilihan.

WhatsApp Image 2017-03-14 at 12.22.47 AM

Taman Mini, 12 Maret 2017

 

Debu

Kita adalah debu-debu berterbangan di jalan raya

terlindas mobil, tersepak angin

tak terlihat meski sudah sekian lama berteriak di jalan yang sama

 

Kita adalah sebutir tanah tak terlihat

diinjak disingkirkan

meski telah memberi kehidupan pada mereka di balik tembok sana

 

Senin, kita teriakkan nama-nama para koruptor

Selasa, merundung malang untuk lahan-lahan yang dirampas

Rabu, kelabu oleh air mata perempuan teraniaya

Kamis, mencari mereka yang dihilangkan paksa

Jumat, terus menggugat hak-hak yang tak pernah didapat

Sabtu, kencan pun harus menunggu

Minggu, berteriak pada publik yang lebih banyak tak mau tahu

 

Bagi mereka

Kita cuma debu

Serpihan suara yang tak lebih dari angin lalu

 

Bagi mereka

Kita cuma debu