Romansa di Tanah Anarki

Pukul 7 pagi

Sepagi ini kita sudah bangun. Kucoba memaksamu memakan roti dengan selai coklat seadanya. Seperti biasa kamu menolak. Bilang akan mencari gorengan dalam perjalanan.

 

Sebuah kecupan mendarat begitu lekat di keningku. Kutatap dalam tatapan matamu, membelai lesung pipitmu sejenak, sebelum melepaskan langkahmu ke luar pintu.

 

Pukul 9 pagi

Pesan pendek masuk melalui whats app. “Hari ini aku berangkat ke Semarang, ada konflik petani dengan tentara.” Aku sudah tahu, tidak pernah ada opsi untuk melarang. Maka yang bisa kukirim hanya satu frasa pesan: “Hati-hati.”

 

Pukul 10 pagi

Rapat bulanan dimulai. Program demi program, kegiatan demi kegiatan kami bahas bersama. Lengkap dengan capaian maupun tantangan. Perkembangan maupun persoalan. Tak lupa solusi penyelesaian.

 

Pukul 2 siang

Break Rapat. Televisi menayangkan berita. Tentang demonstrasi besar berkedok agama, tentang dilarangnya perayaan natal, ataupun hasil tanding bola semalam.

 

Padahal di sebuah tempat, di mana seorang pemimpin telah mengeluarkan surat izin untuk perusahaan yang merampas lahan rakyatnya.

 

Petani sedang berjuang mempertahankan tanahnya. Berhadapan dengan pentungan dan gas air mata. Perempuan-perempuan maju di garis terdepan seraya menangis dan berteriak, anak-anak pun ketakutan.

 

Tak ada beritanya. Seolah berjuang dalam senyap.

 

“Ras, pacarmu ke Semarang?” kawanku bertanya.

Aku hanya mengangguk perlahan.

“Semoga aman di sana ya”

Aku tersenyum. Berharap yang sama.

 

Pukul 4 sore

Rapat baru saja selesai. Baru kulihat sebuah pesan pendek di ponselku.

“Kamu dapet salam dari Bu Diah. Dia kangen.”

“Bilang aku juga kangen. Gimana kondisi di sana?”

Tak ada jawaban

 

Pukul 6 petang

Pesanmu baru datang, “Apapun yang terjadi memang harus terjadi.”

Deg.

Aku tak bisa mencegah gelisah. Resah menjalar di sekujur tubuh. Tapi aku bisa apa?

Kucoba menyibukkan diri tenggelam dalam berbagai diskusi, koordinasi, dan dokumen yang harus diselesaikan. Sejenak melupakan.

 

Pukul 8 malam

Ponsel tak lepas dari tangan dan pandangan. Berharap datang sebuah pesan atau panggilan. Namun dia hanya memberiku sunyi. Menambah gelisah yang kian menyergap, membuatku tak bisa bergerak.

 

Pukul 11 malam

Belum juga ada kabar, hingga ku langkahkan kaki tuk pulang.

 

Kutatap sepetak kecil kontrakan yang sudah kita tinggali 3 tahun belakangan. Baru kusadar pintu lemari telah kamu perbaiki. Begitupun kunci kamar mandi yang sempat rusak. Kusentuh mereka seakan ingin merasakan sentuhanmu. Mencari jejak-jejak kehadiranmu meski hanya melalui benda-benda yang selama ini telah menjadi saksi bisu.

 

Kucoba membaringkan tubuh seraya mendekap guling kesayanganmu. Menghirup sedikit aroma yang tertinggal. Berharap bisa terlelap dan bermimpi kamu mendekap.

 

Pukul 1 pagi

Pesan pendek masuk. Dari Bu Diah.

“Nak, Masmu sama Bapak dipukuli dan ditangkap aparat. Kita harus bagaimana?”

 

Aku harus bagaimana?

 

inspirasi dari Sunset di Tanah Anarki (Superman is Dead) and beberapa situasi saat ini.

Sejenak Menepi

Kalaulah pengetahuan itu dirasa kekayaan, seharusnya dia menjadi penawar dahaga, atau setidaknya  mengatasi sejenak penat yang menjegal begitu hebat.

Nyatanya, semakin tahu semakin aku merasa tak bisa bergerak. terjebak dalam ketidakberdayaan dalam lingkaran kehidupan yang membuat frustrasi.

penggusuran, kekerasan, kebencian.

Tiga kata itu rasanya memonopoli segala pengetahuan yang kupunya. sedikit betambah ilmu di satu hari, segudang tantangan dan ancaman kemudian menanti. entah sampai kapan kita bisa mengejar deraan persoalan yang meembelenggu kehidupan.

tidakkah kita berduka dengan direnggutnya nyawa seorang malaikat kecil, merasa perih dengan tangisan mereka yang tergusur, kesal ketika laut ditimbun, tersakiti ketika mereka dipukul, disetrika, dipenjara, diancam hukuman pancung, marah atas perampasan pembunuhan kriminalisasi yang terjadi.

berada di pusaran pengetahuan tentang negeri yang terjajah, tentang dunia yang tak pernah adil, tentang hidup yang bukan sekedar makan, minum, bekerja, dan menimbun harta.

selalu ada kala-kala sejenak diri ini merasa begitu papa. bertanya mengapa harus tahu, mengapa harus menyaksikan, mengapa harus memahami, mengapa harus sadar. sementara segala daya dan tenaga tuk melawan, seakan hampir habis tuk dikerahkan.

maka biarkan sejenak aku menepi, mencoba tuk tetap teguh berdiri. sejenak saja, hingga ku sanggup berjalan lagi, hingga ku kembali berlari.

Percaya

The Great Expectation — menjadi pilihan film yang kita tonton setelah Lollita. Diskusi kita kemudian tidak banyak, dan berujung pada sebuah kesepakatan bahwa Cinta jenis Finn kepada Elle sama sekali tidak nyata.

 

“Percaya?”

Kita sepakat menjawab tidak.

 

Semalam aku disuguhkan lagi cinta model tak masuk akal yang tidak kita percaya. Lewat pertunjukkan teater boneka. Setjangkir Kopi dari Plaja. Diambil dari kisah nyata seorang pemuda yang terpisah dari kekasihnya sejak SMP, karena menuntut ilmu di Uni Soviet. Lalu terjadi peritiwa 65. Terbuang. Tak bisa pulang. Tak bisa bertemu dengan kekasih hati yang sudah dia berikan cincin tunangan. Mirip seperti kisah Surat dari Prague. Memilih melajang hingga usia dimakan massa.

 

Pak Wi. Begitu nama tokoh pemuda yang hari ini tak lagi muda. Dia ada. Nyata. Menghabiskan masa tuanya di Kuba. Tidak menikah karena cintanya yang telah terpisah 50 tahun lamanya.

 

Ah, tapi aku masih tak habis pikir. Bagaimana cinta bisa sebegitu menggerus logika. Menyimpan sendiri segala rasa di dalam hati. Tidak berpaling walau telah dilupakan.

 

Aku setengah mati menahan tangis dan rasa sakit hati melihat adegan demi adegan. Ketika kebanggaan mengemban amanah negara berganti menjadi pengusiran dan keterasingan.

 

Tapi untuk cinta? Aku bilang aku tak percaya.

 

Ah, tapi nyatanya aku menangis juga. Tepat ketika dua tetes air mata mengalir, tepat ketika lampu menyala. Pertunjukkan usai, semua bisa menyaksikan sepasang mata yang basah dan wajah yang kebingungan.

 

“Nangis? Untuk apa? Katanya tidak percaya.”

 

Apakah yang bisa lebih menyedihkan dari menangisi sesuatu yang bahkan tidak kita percaya?

Karena bingung tak mendapat jawaban?

Atau karena hati mulai berkhianat, meninggalkan si tidak percaya, bergerak perlahan menuju percaya?whatsapp-image-2016-10-10-at-7-00-55-pm

Menangis di Tengah Ritme ‘Riang’

Pijar Api Nyanyi Sunyi Bukit Duri.

 

Bukti Duri menjadi begitu sunyi dengan sisa-sia puing reruntuhan di sepanjang kali. Namun tidak sunyi dari semangat perlawanan, meski yang terdengar adalah sisa-sisa senandung dari energi yang terus digerus. Rumah rata dengan tanah, intimidasi dan hinaan, bahkan tenda medis pun dihancurkan.

 

Hadir di sana tentu harus siap menghadapi getir sakit hati. Bagaimana tidak, dari jauh pun tangisan sudah menyesak mengalir terus menerus. Membayangkan perempuan-perempuan yang menatap nanar bangunan tempat berlindungnya dihancurkan. Memikirkan bagaimana anak-anak dapat hidup layak, bagaimana dapat mempertahankan senyum ceria mereka sementara teriakkan, kekerasan menjadi kenangan di kepala.

 

Malam tadi

Satu dua lagu Marjinal kunikmati meski liriknya memang mengiris hati. Hingga sampai ke Darah Juang, aku terhenyak. Lagu yang sudah sangat sering kunyanyikan menjadi begitu menusuk segala perasaan.

 

Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar

 

Maka air mata yang setengah mati kutahan tak bisa terbendung lagi. Mengalir meski tanpa isak, tapi sulit sekali tuk kuhentikan.

 

Lalu Marjinal mengubah ritme nya menjadi lebih cepat, terkesan riang, orang-orang menyanyikannya seraya melompat.

 

Mereka yang ada di hadapanku, warga bukit duri, aktivis, seniman, film maker, perempuan dan laki-laki yang tengah berjuang dengan semangat bukan hanya memperjuangkan apa yang terjadi hari ini di Bukit Duri. Ini bukan ceremonial belaka. Aku kenal betul sebagian besar dari mereka.

 

Sesungguhnya mereka juga tidak berjuang untuk diri sendiri. Jika pun kita percaya dunia yang lain, dunia yang adil bisa terwujud mungkin itu baru terjadi 20, 50, seabad atau bahkan berabad-abad lagi. Mereka berjuang untuk sesuatu yang mungkin tak dapat disaksikan sampai mereka mati.

 

Maka aku bicara di dalam hati. Masih perlukah kita bertanya apa yang sedang dilakukan, untuk apa kita berjuang, apa yang kita dapat dari semua yang diperjuangkan?

Perjuangan tidak memerlukan sejuta alasan. Puing-puing yang berantakan, nyanyian sunyi, dan semangat yang dijaga setengah mati. Mampukah kita menerima hidup harus berjalan seperti ini? Tidakkah itu cukup untuk menggerakkan? Untuk kita kemudian melawan?

Luka

Saya lahir di akhir tahun 1987. Sudah jauh dari angka 65. Sungai-sungai tak lagi berdarah. Kuburan massal telah tertutup ilalang.

 

Tapi Luka

Tersisa tanpa mampu diobati.

Kurasakan saat tetes air matanya bercerita. Atau ketika wajah tuanya gemetaran hanya karena mendengar suara truk. Teringat truk yang membawa Kakak laki-laki, satu-satunya perlindungan bagi dia saat itu. Setelah Ayahnya dikejar di setiap semak dan tikungan, dan Ibunya ditahan di balik jeruji.

 

Luka

Masih bisa kurasakan ketika dia bercerita. Tentang kebencian yang ditebarkan, menjauhkan saudara dan teman-teman. Menyudutkannya dalam tuduhan berkepanjangan. Harus dia tanggung meski di usia belianya tak ada politik yang ia mengerti. Terpisah dari orang-orang tercinta hanya untuk mencari selamat. Kehilangan dan menghilang dari orang-orang kesayangan. Menahun tak berkabar. Saling menduga telah tertelan kematian.

 

Luka

Ketika harapan demi harapan tepupuskan. Di masa senjanya masih berkeliling menjari kuburan. Desa ke desa mencari informasi. Bertanya-tanya masih bisakah bertemu sang Ayah, meski jika sudah berupa tanah dan batu nisan.

 

Luka yang terasa nyata meski 51 tahun telah lewat. Tak ada obat. Takkan pernah ada. Takkan pernah bisa.