betapa nilai penghargaan terhadap sesuatu yang sifatnya material tu sudh merasuk sampai sumsum tulang budaya kita.

Mungkin sulit untuk menerima ide bahwa mencari kebahagiaan itu tidak sama dengan mencari uang. Bahwa mungkin ada kebahagiaan tanpa menghitung materi yang kita timbun.

Padahal punya kuasa untuk mengambil keputusan dalam setiap langkah hidup itu lebih membahagiakan dibandingkan rumah mewah bertingkat. Padahal punya otoritas atas tubuh pikiran dan hasil kerja itu jauh lebih membebaskan daripada punya mobil mewah keluaran terbaru.

Selama ini kita selalu dituntut untuk mengejar materi. Bukan hanya uang, tapi juga jabatan, karier yang cemerlang, ijazah tinggi, atau bahkan membangun keluarga dengan suami yang ‘materi’ nya juga dianggap baik.

Padahal hidup tanpa ambisi materi itu bukan berarti hidup tanpa tujuan. Kenapa begitu sulit menerima bahwa hidup yang maju itu bukan berarti melompat dari anak tangga satu ke anak tangga yang lebih tinggi. Entah anak tanga jabatan, atau anak tangga gaji yang dimaksud.

Memangnya kenapa kalau saya cuma mau begini-begini saja? Kenapa kalau target saya hanya ingin melakukan apa yang saya bisa  lakukan,  seoptimal mungkin untuk apa yang saya percaya benar?

Sederet Angka

“Faktanya tidak begitu, Kenyataannya hanya sedikit yang kehilangan pekerjaan, yaitu beberapa perempuan pengupas kerang.” (seorang pejabat badan lingkungan hidup Daerah Sulawesi Selatan)

Seorang ayah membawa kedua anak perempuannya untuk ikut bersamanya mengelilingi kota Makassar dengan angkutan umum tuanya. Usia kedua anak perempuannya mungkin hanya terpaut 1 tahun. 4 dan 3 sekitar . Salah satunya tertidur pulas. Namun yang satu lagi menangis tak mau berhenti. Mungkin lelah dan mengantuk setelah mengantar rombongan kami ke sejumlah tempat sebelum kembali ke Jakarta.

“Ibunya bekerja di Pabrik, jadi setiap hari mereka ikut Ayahnya,” ungkap salah satu kawanku yang berasal dari Makassar.

Si Ayah berusaha keras menenangkan putrinya. Berulang kali kami meminta agar putri kecilnya kami yang gendong. Untuk kami timang dan kami tenangkan. Namun si ayah tidak mau. Dia tetap memeluk putrinya sambil susah payah mengendalikan laju mobil.

“Mereka sekeluarga adalah korban penggusuran di desa Pandang Raya, 12 September lalu. Sampai saat ini mereka masih tinggal di sana. Rumah mereka sudah rata dengan tanah, mereka tinggal di tenda. “

Kami yang berada di dalam mobil menahan geram. Membayangkan dua anak sekecil itu kedinginan setiap malam. Tidur di dalam tenda tanpa fasilitas sanitasi, tanpa kebersihan yang memadai.

“Sudah ada satu anak yang meninggal. Dia sakit, dan karena kondisi di tenda tidak bagus, akhirnya dia tidak kunjung sembuh dan meninggal.”

—————————– II——————————–

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa hubungannya kutipan yang saya tulis di atas, dengan cerita tentang penggusuran yang dialami keluarga si sopir angkutan umum. Kutipan di atas adalah pernyataan seorang pejabat BPLHD Sulsel ketika ditanyakan mengenai salah satu proyek yang merusak lingkungan dan merampas sumber-sumber penghidupan perempuan. Pertanyaan yang dia jawab dengan hanya sedikit perempuan pengupas kerang yang terkena dampaknya. Sedikit katanya. Mungkin baginya tidak apa-apa atau bahkan bukan apa-apa.

Seringkali pejabat melihat rakyatnya hanya berupa deretan angka. Berapa banyak korban banjir, berapa banyak jumlah pengangguran, berapa banyak remitansi yang dikirimkan oleh Buruh Migran untuk mendukung pembangunan desa.

Angka, angka, dan angka. Tanpa melihat bahwa di balik angka itu, ada anak-anak yang kehilangan keceriaan karena diusir dari rumahnya. Ada trauma yang dirasakan saat melihat rumah penuh kenangan itu dibongkar dan diratakan dengan tanah. Ada kehilangan hak untuk bermain, belajar, dan merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya yang terbebani dengan berbagai persoalan hidup. Bahkan ada nyawa yang seorang anak yg dikorbankan, akibat dirampasnya hak atas perumahan, dan udara yang bersih yang seharusnya dinikmati setiap hari.

Semua tertimbun dengan sederet angka yang hanya dihitung setiap tahunnya. Sederet angka yang hanya berujung pada data statistic, seakan-akan tanpa makna.

Dua Jam Dua Belas Menit

Secangkir kopi pekat itu tak tersentuh. Padahal kopi itu kopi terbaik favoritnya. Kopi asli, tanpa campuran gula. Yang biasa ia nikmati di antara ketikan dokumen yang harus ia selesaikan

Hari ini to do list nya tak juga berkurang. Layar laptopnya masih memunculkan warna putih dari program Microsoft word yang sudah dia buka sejak dua jam dua belas menit yang lalu. Kosong, seperti pandangan si empunya yang juga kosong.

Perlahan dia menghela nafas, mencoba menggerakan jemarinya untuk menari di keyboard. Tapi fokusnya tetap buyar. Pandangannya malah kabur dengan air mata yang perlahan membanjir. Dadanya disesaki penyesalan

Seandainya dua jam dua belas menit yang lalu itu dia hanya membuka Microsoft word. Seandainya dia tak tergoda untuk membuka laman social media itu.

Tak harus dia menyaksikan foto-foto itu. sosok yang begitu ia kenal, tatapan mata yang begitu ia rindukan. Yang teriring senyum bahagia, seraya memakaikan cincin tunangan ke jemari seorang perempuan.

Sosok, tatapan mata, senyum dalam foto, yang sekarang membuatnya kosong. Sama kosongnya dengan halaman dokumen yang sudah dibuka sejak dua jam dua belas menit yang lalu

Tentangku

Ingatkah ketika kita berjalan beriringan. Berpapasan dengan rintik hujan yang masih tersisa. Bermain menarik dahan pohon hingga basah menyiram tubuh kita

Kamu, aku, mereka, kita.

Senyummu ketika itu adalah senyum yang terus kukenal hingga tiga bulan kemarin. Setia menyapa hari, menghampiri, mendekap langkahku agar terus menyertaimu

Meski ku tak pernah tahu kemana kaki ini kan kau bawa melangkah

Kita tak lagi kita

Akupun memilih tuk tak kecewa. Meski terlalu banyak kenangan tertinggal. Kamu tahu? Hampir setiap menit kulewati dengan adegan demi adegan yang pernah terjadi selama 12 tahun ini. Adegan yang bahkan sebelumnya tak pernah kuingat. Tiba-tiba mereka menyeruak.

Aku memilih tuk tak kecewa, tak mendendam, apalagi mengungkapkan amarah.

Karena ini bukan tentang kamu, bukan tentang dia, bukan tentang kalian

Ini pun bukan tentang kita

Ini tentangku. Dengan sejuta perasaan yang terus kupendam. Dengan harapan yang hanya berani kugantungkan setingi bintang tanpa kukejar

Ini tentangku

Ini tentangku

10 Tahun

Suatu hari dia bercerita. Ibunya sudah 10 tahun tak ada berita. Bahkan paras sang Ibu hanya bayangan semu hasil ingatan yang tak terang saat terakhir bertemu di usianya yang masih enam tahun. Sejenak kuperhatikan matanya menerawang. Pikirannya melayang seraya bertutur pelan.

“Dulu Ibu ikut ke Malaysia sama tetangga. Bilang mau cari uang, untuk aku sekolah tahun depan. Janji cepat pulang supaya bisa menemaniku beli seragam. Kata Ibu, aku boleh pilih tas gambar apapun yang kusuka.”

Itu dulu. Ketika usianya enam. Sekarang usianya sudah 16. Dia masih menunggu, meski suara Ibunya tak lagi pernah dia dengar sejak beberapa bulan pasca keberangkatan sang Ibu.

“Ibu sempat telepon. Sekali. Tiga bulan setelah Ibu pergi. Katanya Ibu sudah sampai ke perkebunan tempat dia akan bekerja. Ibu janji. Akan telepon paling tidak sebulan sekali. Tapi nyatanya, habis itu tak pernah lagi.”

Satu kali saja Ibunya menelepon, lalu hilang sampai sepuluh tahun. Sang Ibu tidak menemani dia membeli seragam pertamanya, ketika akhirnya dia bisa bersekolah SD kelas 1, meski di usianya yang ke 9. Dia tidak jadi memilih tas baru bergambar robot favoritnya. Dia cukup tersenyum puas mendapat sumbangan tas bekas dari yayasan di dekat rumah. Tidak ada genggaman tangan atau pelukan hangat yang menenangkan. Ketika dia melangkah gugup melewati gerbang sekolah barunya.

“Sampai sekarang kalau dengar dering telepon, rasanya deg-degan. Berharap suara Ibu yang akan aku dengar.”

Lalu dia tersenyum. Sejenak saja. Ternyata masih ada harapan yang dia gantungkan. Masih ada impian tuk menjalani kembali kenangan bersama Ibunya. Meski kenangan itu saja begitu samar. Begitu singkat. Tapi dia tetap berharap

Informasi mengenai Buruh Migran Perempuan bisa didapatkan melalui

http://solidaritasperempuan.org/

Konversasi

Hai dunia,
Hidup berjalan seperti biasa. Matahari terbit dari timur, satu mingu tetap hanya berisi tujuh hari, dan presiden baru kami tentu saja belum memperlihatkan perubahan di masa kerjanya yang baru seujung kuku ini.

Hidup berjalan seperti biasa. Dengan tumpukan pekerjaan yang menagih untuk dikerjakan. Dengan to do list yang selalu bberhasil kucoret namun daftarnya tetap terus bertambah. Dengan rutinitas menyenangkan namun terlalu biasa. Penuh tawa dan canda, namun hanya menghadirkan senyum yang biasa. Itu-itu saja.

Hidup berjalan seperti biasa. Dengan perdebatan yang memang dirancang untuk tidak berujung. Dengan harapan yang terus ditumbuhkan setinggi bintang, namun tak dirangcang untuk dicapai karena berjuta alasan.

Aku hanya bagian teramat kecil dari bumi yang katanya terus berotasi ini. Bumi yang semakin tua, sakit-sakitan, dan entah sampai kapan mampu mempertahankan kekuatan. Bumi yang jika aku ajak bicara, lalu bercerita panjang lebar. Tentang seorang ibu yang setiap pagi pergi ke hutan mencari kayu bakar. Tentang seorang anak berusia 6 tahun yang menjaga adiknya dalam kelelapan. Sementara di tanah lainnya, seorang penjahat berdasi sedang menandatangani seuah kertas berisi jutaan hektar tanah akan ditelan. Beribu keluarga yang akan tergusur, ratusan pemudi pemuda yang kehilangan lahan untuk digarap

Aku bagian teramat kecil dari dunia yang tengah berjalan. Dari Kamu, Anda, Kalian yang sibuk menikmati indahnya dunia, dengan atau tanpa menutup mata dari fakta yang telah terpapar. Karena dunia selalu menawarkan sisi manis untuk dikecap. Mampukah aku, mampukah Anda mengecapnya? Ah, aku tidak sedang bertanya pada Anda sebenarnya. Tapi kepadaku sendiri. Kepada sebutir debu yang paling tidak diperhitungkan, yang memang tak pernah meminta untuk perhitungan.

Kadang aku lelah dengan percakapan ini. Percakapan tanpa akhir, tak berujung, karena debat yang dibuat memang tidak untuk diselesaikan, termasuk mendebat diri sendiri. Namun dari sanalah aku tahu aku hidup. Dari sanalah aku tahu bahwa aku berpikir, bahwa aku masih menjalankan fungsiku sebagai manusia. Berpikir, bernalar, bertindak.