Ngelindur

Adakah kiranya sisa energi yang bisa kau bagi? Di tengah hari penuh kehampaan di mana jemari hanya bisa bergerak menurut perintah sang otak. Bersemburan kata demi kata yang melintas begitu saja tanpa dirangkaikan. Malam sudah lewat. Dini hari masih menjelang. Mata tak mengantuk. Meski lelah telah menggantung siap menghadang. Apalah aku ini di antara miliaran manusia yang masing-masing berjalan ke arah yang berlainan. Kadang dengan tujuan, kadang mengikuti saja kaki melangkah.

 

Ah, kakiku yang mulai kebas. Mataku yang mulai berkedut. Rambutku yang tidak rontok namun helainya kian menipis. Rasa-rasanya menjadi lebih tua dari usia. Tak bisa dicegah, meski setengah mati mencari jalan. lalu sampai kapan bisa bertahan? Mana aku tahu?

 

Sejauh mana manusia punya kuasa atas dirinya? Sedang hidup mati saja tak berani diputuskan sendiri. Lalu haruskah kita menyerah dan mengakui akan adanya kuasa besar yang mencengkram hidup kita? Adakah kita memang hanya wayang, meski sang dalang tak pernah kelihatan wujudnya?

 

Untuk apa hidup? Hidup untuk apa? Itu saja yang menari-nari menjadi tanya. Tanya yang mungkin bisa saja dijawab. Tapi bahkan diri ini yang mengajukan tanya, hanya ingin lemparkan tanya. Tanpa ada keinginan untuk menjawabnya.

 

Apalah yang bisa dijawab? Memangnya jika terjawab lalu mau apa? Apa bisa mengubah kuasa? Apa bisa mengubah langkah-langkah yang setiap hari itu-itu saja? Langkah setia menyusuri jalan dengan tujuan tak berwujud. Jalan terus sekedar untuk mengisi hidup.

 

Malam telah lewat, Kawan. Dini hari pun belum datang.

Dan ngelindur menjadi satu-satunya yang mampu dilakukan.

Pembelajaran, Energi, dan Persahabatan yang Jujur

WhatsApp Image 2018-10-15 at 23.41.49

Persahabatan yang jujur adalah adalah alat politik utama dari pergerakan kita

(Komunike Musyawarah “Dunia Warga Yang Melampaui Kuasa Bank”)

Rasa-rasanya merupakan kalimat yang repesentatif menggambarkan pembelajaran yang didapatkan selama berproses dalam perlawanan terhadap Bank Dunia, IMF, dan sistem ekonomi global. Ini tentunya bukan sekedar kegiatan. Karena World Beyond Banks sendiri tidak dirancang untuk hanya sekedar menjadi kegiatan. Bukan hanya melalui World Beyond Banks, perlawanan juga digelorakan melalui beberapa kegiatan lainnya seperti Festival Pangan Perempuan, dan Feminist Carnival.

WhatsApp Image 2018-10-15 at 23.41.53

Persahabatan yang jujur.

Ini telah menjadi refleksi besar dan dalam sejak sebelum kegiatan dimulai. Tentu saja persahabatan yang jujur tidak bisa didapat lewat senyum pemerintah yang tak pernah berpihak pada rakyatnya. Persahabaran yang jujur juga selayaknya tegas berposisi terhadap ruang keterlibatan yang disediakan oleh aktor-aktor serupa Bank Dunia dan IMF. Atas nama perbaikan mekanisme, atas nama perbaikan standard pengamanan, nyatanya menambah deretan legitimasi agar ia bisa terus melancarkan serangan. Merampas tanah, air, dan sumber-sumber kehidupan, menenggelamkan desa, merusak tatanan sosial, budaya dan ilmu pengetahuan, membunuh manusia, dan menambah lapisan penindasan perempuan.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.02

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.26

Maka pilihan kami kemudian menjadi tegas. Sejak awal gagasan World Beyond Banks dibangun dengan kesepakatan bahwa kami tidak mengkritisi Bank Dunia dan IMF sebagai institusi, melainkan sebagai sebuah ideologi. Ideologi yang kemudian menghadirkan paham-paham serupa ekstrativisme, infrastrukturisme, moneteisme, dan komodifikasi.

Sejak hari pertama pun Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional sudah ‘dimatikan’ sebagaimana yang tertuang di dalam narasi dan video framing. Maka pilihan kami tegas bahwa yang banyak perlu disuarakan adalah korban, komunitas yang mengalami langsung berbagai persoalan ketidakadilan dan penidasan akibat sistem ekonomi yang dibangun berdasarkan ideologi keruk ini. Mereka yang juga memiliki geliat dan inisiatif tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga melawan seraya melestarikan sistem hidup yang adil, setara, serta menjaga keberlangsungan alam dan kehidupan.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.50

WhatsApp Image 2018-10-14 at 14.24.41

Sejak awal pun kami memiliki kesepahaman bahwa perempuan bukanlah sektor, maka suara perempuan harus ada di setiap sesi, situasi perempuan harus disuarakan dalam setiap diskusi. Maka aku mengulum senyum ketika seorang jurnalis asal Korea bercerita kepadaku: “Tadi saya wawancara juga peserta perempuan yang dari Korea, dia bilang surprise sekali melihat ada banyak perempuan yang aktif bicara pada forum ini.”

Sejak awal gagasan World Beyond Banks sebagai gerakan pun dipahami seluruh pihak. Maka kawan-kawan musisi dari berbagai negara, tidak sekedar datang untuk performance. Melainkan untuk mengikuti seluruh proses, mendengarkan cerita, terinspirasi dan menciptakan sebuah karya. Pada akhirnya, sebuah lagu berjudul World Beyond Banks pun dinyanyikan bersama.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.29.18

WhatsApp Image 2018-10-12 at 14.36.38

Sejak awal kami tahu persis bahwa kapitalisme menciptakan pemerintahan oligraki. Menghancurkan demokrasi, bahkan megkooptasi gerakan rakyat. Para pengusaha di balik pemerintah, kriminalisasi rakyat yang memperjuangkan haknya, pembubaran diskusi di mana-mana, hingga penurunan dan perusakan baliho, yang terjadi menjelang pertemuan bank dunia dan IMF. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tak lebih dari alat untuk menyerang warga negaranya demi kepentingan mereka yang melihat Indonesia tak lebih sebagai keuntungan yang bisa dikeruk.

Maka ketika tindakan-tindakan represif mulai datang. Sembayang diintimidasi, pemakaian tempat dibatalkan sepihak, kami tahu persis bahwa kami tak ingin masuk pada jebakan mereka. Menyikapi sesuai porsi menjadi pembelajaran yang begitu berharga di tengah kemarahan dan keinginan untuk mengamuk segera.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.27.37

WhatsApp Image 2018-10-19 at 12.59.24 (1)

Pun aku belajar menerima tentang apa yang disebut seorang kawan sebagai berantakan. Rundown yang tak kunjung final, penerjemah dan alatnya yang tak tersedia di semua forum paralel, tenda panggung utama yang begitu panas, video yang tidak terlihat, dan masih banyak deretan kekurangan lainnya, selayaknya diterima sebagai kekurangan tanpa perlu embel-embel tetapi. Berbagai keterbatasan yang membuat mata dan rasaku menyaksikan mereka yang bekerja begitu keras. Berdiskusi siang malam, berpikir substansi hingga teknis. Mereka yang ringan tangan meski tidak berasal dari panitia, bahkan tak berasal dari Indonesia. Mereka yang aku yakin bergerak karena merasa turut memiliki forum ini.

WhatsApp Image 2018-10-14 at 17.11.37

Betapa komunitaslah yang mendukung kami berkumpul dan menyelenggarakan musyawarah ini. Hingga panganan sepiring 15 ribu namun dengan menu yang luar biasa lezatnya. Dilengkapi teh manis dingin dengan cita rasa tinggi, memberimu energi di bawah langit Bali yang begitu terik. Dimasak dan disiapkan dengan cinta oleh Bu Tini, meski sebelumnya dia sempat diintimidasi dan ditanya macam-macam soal kegiatan seputaran mengkritik Bank Dunia dan IMF.

Pun Komunitas Jatijagat Kampung Puisi, yang menyambut kami dengan rangkulan persahabatan. Memberikan ruang dan karyanya untuk bersama-sama melawan. Saling menjaga, saling menguatkan.

WhatsApp Image 2018-10-14 at 21.51.24

Maka di forum ini kami tak hanya saling berbagai cerita dan pembelajaran. Tetapi juga berbagi energi untuk saling menguatkan. Seperti ketika bernyanyi bersama Kawan-kawan komunitas SP diiringi petikan gitar Mas Budi Pego. Atau ketika menggenggam tangan Ibu Asnir menatap senyumnya yang mencuat di sela-sela kegelisahan memikirkan kampung halaman. Juga tetap setia mendengar cerita bu Halimah, yang terus setia melawan privatisasi air. Energi yang begitu hangat tersebut, sesungguhnya merupakan kemewahan yang tiada tara.

Persahabatan yang jujur

Ketika di akhir hari seseorang memelukku dan berkata, “Mbak, jangan bosan mempersatukan gerakan.” Kami pun bersepakat. Mempersatukan apa yang memang selayaknya diperjuangkan. Dalam sebuah solidaritas ideologis. Pertemanan yang jujur. Jumlah kami memang kecil, tapi kami layak untuk terus ada. Semakin kuat. Semakin solid.

Kejahatan ini dilakukan secara global. Maka perlawanannya pun harus global, menembus ruang, waktu, dengan keberlanjutan yang konsisten dan kesetaraan antar generasi. Meski global, perlawanan itu harus tetap terasa dekat. Perlawanan itu melekat dengan tekad di dalam hati kita. Mengisi setiap jengkal tubuh kita. Mengalir seperti darah. Sedekat nadi yang berdenyut. Begitu ia terasa.

Di atas langit Denpasar menuju Jakarta, 17 Oktober 2018

 WhatsApp Image 2018-10-19 at 12.59.24

 

 

18 September 2017

Menjelang Subuh, 18 September, Setahun yang lalu

Kami berhasil ke luar

Tapi ada luka yang membekas di dalam

 

Tepat menjelang subuh, saya sampai di kantor. Kawan-kawan memeluk. Saya tersenyum dan tertawa. Tenang, saya baik-baik saja. Kami pun istirahat sejenak sebelum melanjutkan sesi Sekolah Kepemimpinan Feminis di pagi hari.

 

Pukul 09:00

Mulai memfasilitasi kegiatan yang sudah berlangsung selama beberapa bulan. Sekilas aku bisa merasakan tatapan yang berbeda dari mereka. Terkadang terasa seakan hanya sekilas, namun betul-betul berbeda. Mati-matian aku mencoba meyakinkan. menangkap energi baik dari setiap jengkal ruangan. Menghadirkan senyum di segala sudut. Sekedar hendak menyampaikan: Tenang. Saya baik-baik saja.

 

Siang hari tangis pertama pun pecah. Lalu muncul rasa bersalah. Bahkan rasa sesal tak mampu kuhindari.

Menjelang malam, takut itu datang. Disusul lemah, kalah. Bertubi kata-kata itu menyesak di kepalaku. Membuat sesak dadaku. Semakin sesak karena marah kemudian juga datang. Menghimpit, sekaligus mengguncang.

 

Hari ini

Sudah satu tahun,

Berbagai berbagai perasaan masih saling mengikat, bercampur, mencampuri, dan enggan pergi. Takut tidak pernah benar-benar meninggalkan. Sesak masih datang sesekali. Marahpun kadang datang tanpa diundang.

 

Sudah setahun

Pemikiran berkelindan saling menimbulkan pertanyaan. Tidak hanya soal ‘kenapa,’ lebih banyak ‘untuk apa.’ Untuk apa hidup, atau hidup untuk apa? Bisakah kita punya daya untuk bertahan, sementara kuasa mereka begitu besar?

 

Sudah Satu tahun

Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk bisa memetik pembelajaran dari setiap peristiwa yang aku lalui. Karena aku yakin, semua yang terjadi mengandung hal penting. Asal kita mau belajar.

 

Belajar menerima diri dengan segala kelemahan, kekurangan, ketakutan, ketidaksempurnaan. Menerima diri sebagai manusia, mencoba lepas dari segala konstruksi yang ada.

 

Sudah satu tahun

Hidup tak pernah menjadi lebih mudah sejak hari itu

Tak juga lebih ramah, tak juga adil

 

Tapi kita hanya tahu berjalan

Meski membawa luka yang takkan padam

 

Cerita kejadian di: https://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2017/09/30/kebohongan-kesaksian-dan-rasa/

Pilihan

Ketika kata kunci ‘Ciri ciri Depresi’ di google membawaku pada sebuah artikel[1]:

 

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM-V), diagnosis depresi dapat diberikan (hanya melalui pemeriksaan oleh profesional, seperti psikolog/ psikiater!) jika terjadi kemunculan atas setidaknya 5 gejala dari set gejala berikut selama dua minggu berturut-turut:

 

– Merasa tertekan (sedih, kosong)

– Kehilangan minat beraktivitas

– Nafsu makan/ berat badan terganggu

– Masalah tidur

– Gangguan psikomotorik

– Merasa lelah atau tidak berenergi

– Merasa tidak berharga/ bersalah

– Sulit berpikir/ konsentrasi/ mengambil keputusan

– Berpikir tentang kematian atau mencoba bunuh diri.

Setidaknya enam dari sembilan, kini begitu sering menghampiri

 

Bagaimana melihat batas antara depresi dengan kelelahan sesaat? Ketika saya memang tidak menangis selama 2 minggu berturut-turut, namun perasaan gagal kerap datang dan pergi selama 2 minggu, 3 hari, apa artinya? Depresi? Atau cemas sesaat saja? Atau ketika sesekali pikiran tentang mati terlintas, namun semua aktivitas tidak pernah terlewat. Atau ketika mata berkedut terus menerus, namun nafsu makan justru meningkat. Atau ketika bersikap biasa sepanjang hari, rapat, mengetik, berdiskusi, sambil setengah mati menahan air mata yang hampir menyeruak ke luar.

 

Apakah saya depresi, atau lelah sesat? Atau mungkin juga saya tengah menyerah. Bahwa lemah adalah keniscayaan. Bahwa menjadi kuat bukan kewajiban. Bawa menerima kekalahan adalah pilihan.

[1] Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Apakah Saya Depresi? Kenali Tanda-tandanya”, https://sains.kompas.com/read/2015/02/05/100320523/apakah-saya-depresi-kenali-tanda-tandanya. Penulis : Retha Arjadi, M.Psi

Semua Konstruksi, Kadang Ilusi

Pada pagi yang bersinar, sering kukatakan aku tak mau kalah dari sinarnya

Pernahkah kamu merasa sebagai orang yang gagal? Sesederhana menutup mata dan telinga, tapi ngiang kegagalan itu melompoat-lompat di dalam benak.

Semenjak kecil, kata kuat menjadi berhala. padahal lemah adalah bagian dari hidup, yang sulit diakui, tapi begitulah adanya.

“Kita harus kuat”

“Jadi perempuan itu harus kuat”

“Hidup itu menanjak, dan belajar, dan berproses, menjadi lebih baik, menjadi lebih hebat, menjadi lebih kuat”

“dia saja bisa, masa saya ga bisa?”

Nyatanya semua adalah konstruksi. bentukan. yang kadang kala malah mendekati ilusi

 

Hey, gagal pun tak mengapa..

Satu-satunya yang merugi adalah yang tak pernah mencoba.

Ke-millenial-an dan Perlawanan terhadap Penindasan Global

“Minke itu millennial, tapi pada masanya. Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun. Memang anak-anak muda, buku ini pun bicara tentang gejolak anak muda.” (Pernyataan Hanung Bramantyo di Konpers Film Bumi Manusia)

 

“Pertama kali membaca Bumi Manusia saat kuliah. Waktu saya baca novel ini merasa apa yang disampaikan sangat penting sekali. Pada saat membaca, saya menjadi remaja yang keren kemudian terbawa dan menemui Pak Pram.” (pernyataan Hanung Bramantyo sebagaimana dikutip di kapanlagi.com).[1]

Berbeda dengan Hanung, saya yang waktu itu adalah anak kemarin sore dan begitu dangkal pemahaman mengenai Pram dan tetralogi Burunya justru merasa keheranan. Ada ekspektasi saya, meski saat itu masih begitu minim membaca karya-karya Pram (Bumi Manusia adalah karya Pram keempat yang saya baca setelah Arok Dedes, Gadis Pantai, dan Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer), yang tak terpenuhi. Membaca Bumi Manusia membuat saya berpikir, kenapa tokoh di dalam novel ini, begitu tergila-gila dengan pendidikan Eropa, begitu menyanjung Belanda. Saya pun bertanya-tanya, di mana perlawanan terhadap kolonialisme yang seharusnya ada. Meski, kesadaran-kesadaran tentang ketidakdilan telah tersaji dengan jelas. Baru kemudian setelah membaca 3 buku berikutnyalah saya takjub dengan bagaimana Pram membawa kita pada proses kesadaran Minke, hingga menetapkan keberpihakan dan melakukan perlawanan nyata terhadap penjajahan.

 

Adil sejak dalam pikiran nyatanya memang sulit. Apalagi untuk tidak mengadili sutradara hingga pemain utamanya. Tapi saya akan berusaha tidak menghakimi apa yang sedang dibuat oleh Hanung dkk. Saya hanya bertanya-tanya apa yang dimaksud Hanung dengan, “Waktu saya baca novel ini merasa apa yang disampaikan sangat penting sekali.” Atau apa yang membuat dia merasan sebagai remaja yang keren? Apakah karena memahami pergolakan batin Minke yang berusia 20 tahun di Bumi Manusia, lalu mampu merasakan dan menganalisis kegelisahan yang sama pada dirinya sebagai remaja usia kuliah? Atau merasa keren dengan sekedar sudah membaca karya dari satu-satunya sastrawan Indonesia yang diusulkan sebagai peraih Nobel Sastra?

Millenial

“Minke itu millennial, tapi pada masanya,” kata Hanung. “Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun.”[3]

“Iqbaal dan Mawar anak milenial, yang sadar dengan kebudayaan.”[2]

Bumi Manusia adalah seri pertama dari tetralogi Buru, menceritakan Minke yang meski pada awalnya sangat menggilai Eropa (kemudian dianggap Millenial), lalu memperoleh kesadarannya atas penindasan akibat penjajahan dan kolonialisme. Tak hanya itu, dia melakukan perlawanan terhadap penjajahan tersebut dengan cara menulis, dan mendirikan surat kabarnya sendiri hingga dinobatkan sebagai Bapak Pers Indonesia.

Maka mengaitkannya dengan Ke-Milenial-an seharusnya hendak menyampaikan pesan penting serupa ‘penjajahan’ itu masih terus berlangsung di Indonesia. Ketimpangan negara-negara utara dan negara selatan terus berlanjut, bahkan di berbagai meja perundingan dunia. ‘Kolonialisme’ masih berwujud di mana segala sistem ekonomi kita diarahkan dan dikendalikan untuk kepentingan kapital atau mereka yang bermodal besar. ‘Tanam Paksa’ masih dipraktikkan melakukan Praktik Perkebunan Kelapa Sawit, atau Perkebunan Tebu milik BUMN (PTPN), yang merampas lahan masyarakat, menyebabkan masyarakat menjadi buruh di tanahnya sendiri, dan menanam komoditas yang bukan untuk kepentingan kita, demi memperkaya yang sudah begitu kaya. Pun Poligami, Perkawinan Anak, hingga kontrol terhadap keputusan, dan kehidupan perempuan yang merupakan penindasan terhadap seksualitas perempuan tetap berlangsung hingga hari ini. Maka mengaitkannya dengan Ke-Milenilai-an sejatinya mengandung pesan, bahwa di tengah gempuran ekonomi politik global, perlawanan harus dilakukan, dan bukannya sekedar simbol-simbol serupa baju adat, kereta kuda, apalagi soal anak pribumi yang jatuh cinta pada bule.

“Saya tidak perlu kasih buku tebal ke Iqbaal, tinggal pakaikan baju adat, yah jadilah Minke,” [4]

Foto Preskon ‘Bumi Manusia’ Para Pemain Datang Naik Kereta Kuda[5]

Novel ini menceritakan kisah roman Minke, seorang pribumi di zaman kolonial Belanda, yang jatuh cinta kepada Annelies, anak blasteran seorang Belanda dengan seorang nyai bernama Nyai Ontosoroh. Ceritanya berlatar belakang sekitar tahun 1890 sampai 1918. [6]

WhatsApp Image 2018-05-27 at 15.52.41

sumber gambar: Sebuah Grup Whatsap, verified

 

[1] https://www.kapanlagi.com/showbiz/film/indonesia/saat-mahasiswa-hanung-pernah-ditolak-pramoedya-adaptasi-2268364732bumi-manusia22683648482-fb3906.html

[2] https://www.viva.co.id/showbiz/film/1040104-alasan-hanung-bramantyo-pilih-iqbaal-di-film-bumi-manusia

[3] Pernyataan Hanung di Konpers, sebagaimana dikutip di https://www.vice.com/id_id/article/evkvak/tak-terima-iqbaal-ramadhan-jadi-minke-santai-kalau-ga-kontroversial-bukan-film-bumi-manusia-dong

[4] https://www.dream.co.id/showbiz/alasan-hanung-bramantyo-pilih-iqbaal-di-bumi-manusia-1805252.html

[5] https://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/indonesia/66924cast_bumi_manusia-20180525-005-bintang.html

[6] http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2018/05/25/film-bumi-manusia-segera-digarap-iqbaal-tertantang-perankan-minke-424948

Di Tengah Ramai

WhatsApp Image 2018-05-17 at 10.44.09 PM

 

Apa yang akan kamu lakukan, kalau kamu bisa memilih menggunakan 8 jam waktu dalam satu hari?

 

Aku?

Akan memilih jam yang paling ramai

Ditemani kopi, buku, dan musik kencang di telingaku

Membaca, menulis, kemudian diam sejenak

 

Selintas mencuri dengar pembicaraan meja sebelah

Tentang dua insan manusia yang saling merayu

Atau meja di depan

Yang penuh ungkapan saling membagakan diri

Banyak bicara tapi sepertinya kurang mendengar

 

Selintas memutarkan pandangan

Menangkap senyum malu-malu

Atau tatapan arogan tak mau mendengar

 

Kadang juga ada gelak tawa

Atau pandangan penuh perhatian yang tulus

Kehangatannya sampai bisa kurasa

 

Manusia,

Selalu menarik untuk diamati

Membuatku nyaman ketika dikelilingi

Asalkan

Tidak harus berinteraksi