Untuk yang Terkasih

Untuk yang terkasih

Saat ini sudah memasuki tanggal 17 April 2015. Tengah malam telah lewat, jam di sisi kiri bawah leptopku menunjukan pukul 12.57. Tapi mata ini tetap tidak mau terpejam. Sedari tadi kucoba habiskan tenagaku. Kucari lelah agar bisa membuai tubuhkan dalam tidur yang lelap. Berjalan kaki, mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga, kukira akan membuat energiku habis. Tapi upayaku gagal total.

Siang ini, kabar dari Rembang datang. Memupuskan harapan yang baru mulai kutancapkan. Beberapa hari yang lalu saja. Saat bertemu mereka, perempuan-perempuan hebat, ibu-ibu tangguh. Menggugah semangat, menjanjikan harapan dengan manisnya pertunjukan gejug lesung dan tembang halus.

Setidaknya yang kutahu susah sejak 2006. Sejak 2006 rakyat di sana berjuang mati-matian. Bukan untuk menjadi kaya raya, bukan untuk menumpuk harta. Sekedar mempertahankan tanah mereka, sumber daya alam di mana tanah, air, hutan sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Menyatu, dan terikat kuat.

Malam hari, berita ekskusi mati seorang Buruh Migran Perempuan di Arab Saudi menusuk memilu hati. Peristiwa kedua, hanya selang saru hari dari eksekusi BMP lainnya. Tak sanggup lagi kugambarkan bagaimana rasanya. Tak kutahu lagi bagaimana menepis segala kekalutan dan perasaan hampir frustasi yang kurasakan.

Tapi, tahukah Engkau?

Ibu-ibu dan masyarakat di Rembang itu tidak kehilangan semangat untuk berjuang. Tidak juga jutaan perempuan yang harus mencari nafkah di luar negeri sebagai Pekerja Rumah Tangga. Mereka tetap berjuang untuk kehidupan mereka, mencapai hak, menghidupi keluarga.

Maka izinkan aku untuk juga tidak berhenti. Untuk setidaknya tetap ada di jalan ini. Setidaknya menggunakan dayaku meski mungkin yang kumiliki hanya sedikit saja.

Tak mudah memang. Segala kekhawatiran yang engkau utarakan begitu beralasan. Aku tidak pernah bisa menjajikanmu kebahagian. Bahkan kebagiaanku sendiri entah apakah akan kucapai.

Wahai engkau yang sangat aku sayangi,

Beberapa waktu lalu kau tawarkanku sebuah hangat pelukan. Katamu, kapanpun aku bisa pulang kedekapanmu yang nyaman. Janjimu, apapun yang terjadi, engkau akan selalu ada untuk ku.

Maka di dalam dekapmu yang kukhayalkan malam ini. Pintaku satu padamu. Restumu. Karena hanya dengan restu itu, langkah ini tak akan pernah terseok. Menapaki jalan yang kuanggap benar, yang kuanggap pantas. Dengan restumu.

Naik

Ada yang secepat roket

Lurus melaju seakan tanpa rintangan menghadang

Ke atas melampaui langit hingga tak mampu terlihat

Tapi jalan ini, bagaikan menapaki tangga tuk menggapai bintang

Satu persatu, anak tangga demi anak tangga

Seraya memastikan kaki ini tetap menjejak

Tak bisa cepat

Karena ada yang dibawa dari setiap anak tangga

Cerita, pengalaman, impian

Satu demi satu dikumpulkan dari anak tangga pertama

Dibawa ke anak tangga kedua

Bertambah di anak tangga kedua

Lalu dibawa ke anak tangga ketiga

Begitu seterusnya

Lelah

Luka

Keniscayaan dalam jalan di mana pengorbanan demi pengorbanan dikompromikan

Tapi langkah yang diambil,

Meski setapak demi setapak

Dia tidak pernah gentar

Karena janji yang terpatri berakar begitu kuat

Bukan untuk siapa, tapi tertanam di dalam diri sendiri

Aku siap

betapa nilai penghargaan terhadap sesuatu yang sifatnya material tu sudh merasuk sampai sumsum tulang budaya kita.

Mungkin sulit untuk menerima ide bahwa mencari kebahagiaan itu tidak sama dengan mencari uang. Bahwa mungkin ada kebahagiaan tanpa menghitung materi yang kita timbun.

Padahal punya kuasa untuk mengambil keputusan dalam setiap langkah hidup itu lebih membahagiakan dibandingkan rumah mewah bertingkat. Padahal punya otoritas atas tubuh pikiran dan hasil kerja itu jauh lebih membebaskan daripada punya mobil mewah keluaran terbaru.

Selama ini kita selalu dituntut untuk mengejar materi. Bukan hanya uang, tapi juga jabatan, karier yang cemerlang, ijazah tinggi, atau bahkan membangun keluarga dengan suami yang ‘materi’ nya juga dianggap baik.

Padahal hidup tanpa ambisi materi itu bukan berarti hidup tanpa tujuan. Kenapa begitu sulit menerima bahwa hidup yang maju itu bukan berarti melompat dari anak tangga satu ke anak tangga yang lebih tinggi. Entah anak tanga jabatan, atau anak tangga gaji yang dimaksud.

Memangnya kenapa kalau saya cuma mau begini-begini saja? Kenapa kalau target saya hanya ingin melakukan apa yang saya bisa  lakukan,  seoptimal mungkin untuk apa yang saya percaya benar?

Sederet Angka

“Faktanya tidak begitu, Kenyataannya hanya sedikit yang kehilangan pekerjaan, yaitu beberapa perempuan pengupas kerang.” (seorang pejabat badan lingkungan hidup Daerah Sulawesi Selatan)

Seorang ayah membawa kedua anak perempuannya untuk ikut bersamanya mengelilingi kota Makassar dengan angkutan umum tuanya. Usia kedua anak perempuannya mungkin hanya terpaut 1 tahun. 4 dan 3 sekitar . Salah satunya tertidur pulas. Namun yang satu lagi menangis tak mau berhenti. Mungkin lelah dan mengantuk setelah mengantar rombongan kami ke sejumlah tempat sebelum kembali ke Jakarta.

“Ibunya bekerja di Pabrik, jadi setiap hari mereka ikut Ayahnya,” ungkap salah satu kawanku yang berasal dari Makassar.

Si Ayah berusaha keras menenangkan putrinya. Berulang kali kami meminta agar putri kecilnya kami yang gendong. Untuk kami timang dan kami tenangkan. Namun si ayah tidak mau. Dia tetap memeluk putrinya sambil susah payah mengendalikan laju mobil.

“Mereka sekeluarga adalah korban penggusuran di desa Pandang Raya, 12 September lalu. Sampai saat ini mereka masih tinggal di sana. Rumah mereka sudah rata dengan tanah, mereka tinggal di tenda. “

Kami yang berada di dalam mobil menahan geram. Membayangkan dua anak sekecil itu kedinginan setiap malam. Tidur di dalam tenda tanpa fasilitas sanitasi, tanpa kebersihan yang memadai.

“Sudah ada satu anak yang meninggal. Dia sakit, dan karena kondisi di tenda tidak bagus, akhirnya dia tidak kunjung sembuh dan meninggal.”

—————————– II——————————–

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa hubungannya kutipan yang saya tulis di atas, dengan cerita tentang penggusuran yang dialami keluarga si sopir angkutan umum. Kutipan di atas adalah pernyataan seorang pejabat BPLHD Sulsel ketika ditanyakan mengenai salah satu proyek yang merusak lingkungan dan merampas sumber-sumber penghidupan perempuan. Pertanyaan yang dia jawab dengan hanya sedikit perempuan pengupas kerang yang terkena dampaknya. Sedikit katanya. Mungkin baginya tidak apa-apa atau bahkan bukan apa-apa.

Seringkali pejabat melihat rakyatnya hanya berupa deretan angka. Berapa banyak korban banjir, berapa banyak jumlah pengangguran, berapa banyak remitansi yang dikirimkan oleh Buruh Migran untuk mendukung pembangunan desa.

Angka, angka, dan angka. Tanpa melihat bahwa di balik angka itu, ada anak-anak yang kehilangan keceriaan karena diusir dari rumahnya. Ada trauma yang dirasakan saat melihat rumah penuh kenangan itu dibongkar dan diratakan dengan tanah. Ada kehilangan hak untuk bermain, belajar, dan merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya yang terbebani dengan berbagai persoalan hidup. Bahkan ada nyawa yang seorang anak yg dikorbankan, akibat dirampasnya hak atas perumahan, dan udara yang bersih yang seharusnya dinikmati setiap hari.

Semua tertimbun dengan sederet angka yang hanya dihitung setiap tahunnya. Sederet angka yang hanya berujung pada data statistic, seakan-akan tanpa makna.

Dua Jam Dua Belas Menit

Secangkir kopi pekat itu tak tersentuh. Padahal kopi itu kopi terbaik favoritnya. Kopi asli, tanpa campuran gula. Yang biasa ia nikmati di antara ketikan dokumen yang harus ia selesaikan

Hari ini to do list nya tak juga berkurang. Layar laptopnya masih memunculkan warna putih dari program Microsoft word yang sudah dia buka sejak dua jam dua belas menit yang lalu. Kosong, seperti pandangan si empunya yang juga kosong.

Perlahan dia menghela nafas, mencoba menggerakan jemarinya untuk menari di keyboard. Tapi fokusnya tetap buyar. Pandangannya malah kabur dengan air mata yang perlahan membanjir. Dadanya disesaki penyesalan

Seandainya dua jam dua belas menit yang lalu itu dia hanya membuka Microsoft word. Seandainya dia tak tergoda untuk membuka laman social media itu.

Tak harus dia menyaksikan foto-foto itu. sosok yang begitu ia kenal, tatapan mata yang begitu ia rindukan. Yang teriring senyum bahagia, seraya memakaikan cincin tunangan ke jemari seorang perempuan.

Sosok, tatapan mata, senyum dalam foto, yang sekarang membuatnya kosong. Sama kosongnya dengan halaman dokumen yang sudah dibuka sejak dua jam dua belas menit yang lalu