Negeri Dijajah Negara

Padamu negeri kami berjanji

Padamu negeri kami berbakti

Padamu negeri kami mengabdi

Bagimu negeri jiwa raga kami

 

Rasanya tidak sulit untuk mencintai negeri ini. Negeri di mana aku lahir dan tumbuh, makan dari tanahnya, minum dari airnya.

 

Sebentar.

Makan dari tanahnya? Well, negeri ini kebanjiran pangan import si. Jangankan makanan khas negeri lain, atau buah. Beras pun membeli dari negara tetangga. Ikan pun tak lagi didapat dari perairan kita. Bahkan padi yang ditanam di sini benihnya entah dari mana, yang jelas merk nya mosanto.

 

Yah, setidaknya minum masih dari sumber mata air Indonesia. Hanya saja sudah diolah dan dikemas oleh berbagai perusahaan. Paling banyak si aqua, danone. Duh, bukan lagi milik Indonesia. Apakah kalau tidak ada mereka, lantas kita tidak bisa minum?

 

Aku jadi ingat di masa kecilku

Ketika air diambil dari keran rumah, dimasak, dan diminum. Salah satu tugas rumahku adalah memindahkan air dari panci ke teko minum. Sebagian teko diletakkan di kulkas, sehingga airnya dingin. Segar. Saat itu, tanpa ada aqua dan kawan-kawannya, kebutuhan minumku dan keluargaku sudah terpenuhi.

 

Dulu juga para petani, terutama perempuan memiliki peran untuk pemuliaan benih. Dari hasil panen, mereka memilih benih terbaik, dipelihara hingga siap untuk ditanam kembali. Hasilnya pun baik, tanpa rekayasa genetik.

 

Berarti, apa yang terjadi saat ini adalah Mosanto dan Danone menjajah negeri? Kenapa petani sekarang harus tergantung dengan Mosanto. Kita pun menjadi sangat tergantung dengan air minum kemasan.

 

Katanya si ada aturan yang bilang bahwa Teknologi itu harus didaftarkan sebagai paten. Termasuk teknologi terkait benih. Aturan dari Organisasi Perdagangan Dunia dengan rezim hak kekayaan intelektualnya. Organisasi yang sama yang bilang bahwa subsidi bagi petani dan tarif untuk barang import adalah bentuk persaingan usaha tidak sehat. Jadi harus dihilangkan, sehingga petani tradisional dan produsen pangan skala kecil bisa ‘bersaing bebas’ dengan petani-petani modern dengan produksi massal dan teknologi canggihnya.

 

Masih menurut organisasi yang sama, air menjadi salah satu barang komoditas yang memiliki nilai investasi. Sejak masuknya perusahaan-perusahaan air minum kemasan, sumber air yang bisa diakses masyarakat menjadi kering. Bukan hanya tidak bisa minum, tapi air yang tadinya menghidupi pertanian mereka pun tidak lagi tersedia. Saya masih ingat cerita seorang Teteh yang pernah menjadi buruh migran. Di desanya di Karawang, dulu pertanian masih bisa dilakukan ketika air masih tersedia. Sejak masuk Aqua, secara bertahap air berkurang hingga habis. Pertanian pun kering sehingga lahan-lahan tidak lagi bisa digarap. Perempuan di sana pun kemudian terpaksa menjadi Pekerja Rumah Tangga di luar negeri. Melintasi batas negara menghadapi berbagai kekerasan dan pelanggaran hak.

 

Ya, negeri kita dijajah. Tidak hanya oleh mosanto, danone, dan perusahaan-perusahaan multi nasional lainnya. Tidak hanya oleh Organisasi Perdagangan Dunia. Tetapi juga oleh negara, dengan Undang-undang, kebijakan, maupun program yang dirancang untuk memfasilitasi dan mendukung kepentingan mereka.

2 + 2 Bukan 4

Ada banyak hal yang tidak bisa mengikuti hitungan ilmu pasti. Ketika 2 + 2 bisa jadi hasilnya bukan 4. Begitupun hitungan-hitungan lainnya.

 

Mari kita bicara soal kemiskinan di sekitar kita. Apakah mereka miskin karena mereka malas? Malas bekerja, atau malas ketika sekolah hingga tidak memiliki cukup ilmu untuk meraih jenjang kehidupan yang lebih baik?

 

Nyatanya, siapa yang kita sebut miskin ini seakan-akan mendapatkan warisan kemiskinan secara turun menurun. Apakah mereka juga menurunkan kemalasan secara turun menurun?

 

Nyatanya, siapa yang kita sebut miskin seringkali bangun lebih pagi dari si kaya. Entah menggarap sawah yang tidak mereka miliki sendiri, mengais-ngais tempat sampah, menawarkkan jasa membawakan barang belanjaan di pasar, atau mulai mengolah ikan dan hasil tangkapan laut lainnya.

 

Mereka bekerja, berkeringat demi uang yang tak seberapa. Tidak kalah rajin dan bekerja keras dengan Anda yang sehari-hari bermain dengan deretan huruf ataupun angka. Menghitung laba dan posisi saham, atau meninjau tempat untuk investasi berikutnya.

 

Lalu kenapa mereka terus menerus miskin, seakan-akan kemiskinan itu mengakar begitu kuat di dalam setiap tulang, dan mengalir di dalam darah yang kemudian akan ikut menurun ke keturunan-keturunan mereka?

 

Harusnya kita tidak heran.

Ketika yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin miskin.

Ketika yang kaya juga terus punya akses untuk segala hal. Pendidikan yang berkualitas, kesehatan dengan fasilitas nomor satu, gizi, akses informasi dan pengetahuan tanpa batas. Semua yang si miskin tak pernah miliki.

 

Tak hanya sampai di situ. Akses yang luas juga memberikan jalan cengkraman mereka untuk mengatur sebuah negara. Lihat saja berapa banyak kebijakan yang bertujuan untuk menenggelamkan Indonesia di dalam banjirnya investasi. Dari mulai paket kebijakan ekonomi, hingga dihapuskannya berbagai kebijakan daerah maupun nasional demi mempermudah investasi. Bahkan izin Analisis Dampak Lingkungan yang menjadi benteng pertahanan bumi ini pun kian dipermudah.

 

Lalu, berapa banyak kebijakan yang berpihak untuk si miskin? Subsidi pendidikan yang tidak seberapa dan masih banyak menemui pelanggaran? Skema jaminan sosial lewat BPJS yang sangat jauh dari konsep negara kesejahteraan? Bantuan modal atau program atas nama pemberdayaan masyarakat lainnya?

 

Sementara program-program itu dijalankan, si miskin tetap tergusur akibat berdirinya pabrik baru, ekspansi perkebunan skala besar, dan eksploitasi pertambangan. Atau mungkin proyek reklamasi yang tidak hanya merampas tempat tinggal dan wilayah kelola rakyat, tetapi juga merusak ekosistem dan lingkungan.

 

Merusak sumber kehidupan mereka

Memiskinkan mereka

 

Bukan kemiskinan, tapi pemiskinan.

 

Dan dalam situasi demikian, perempuan selalu mengalami situasi ketidakadilan dan penindasan yang berlapis

 

Sendiri

Kesendirian seringkali membuat orang menjadi khawatir. Seperti Mama yang hari ini bilang, “Mama suka sedih aja kalo lagi buka dan sahur kita satu kota tapi kamu sendirian.”

 

Padahal bagi sebagian orang, sendiri itu justru kondisi yang paling diharapkan dan ditunggu-tunggu. Seperti setelah menyelesaikan serial meeting, bertemu dan bersosialisasi dengan banyak orang yang sungguh menguras energi, waktu pulang ke rumah dan bisa sendirian pasti dinanti-nanti.

 

Bagi sebagian orang, bertemu dengan banyak orang, bersosialisasi, dan bergaul bisa jadi energinya. Menjadi pusat perhatian bisa memicu semangat dan prestasi. Tapi bagi sebagian orang lainnya itu justru menghabiskan energi. Maka sendiri, ditemani buku di dalam ruang tertutup kemudian bisa menjadi semacam charger untuk kembali mengumpulkan energi.

 

Maka untuk jenis orang kedua, ketika ruang-ruang ‘sendiri’ semakin sempit dan terbatasi, rasanya jadi lebih cepat lelah, dan bertambah lelah untuk menghadapi berbagai pertanyaan kenapa.

 

Mungkin begitu sulit untuk dimengerti. Tapi aku pun tak berharap semua bisa mengerti. Hanya berharap bisa dibiarkan sendiri.

A: Kenapa lo nangis?

B: ya ngeliat kondisi Ibu-ibu lah

A: Selama ini kan situasi-situasi kayak gini udah sering kita liat.

B: Ya tapi kan bukan berarti kemanusiaan gw lantas mati.

IMG-20160413-WA0001

Sumber: berbagai grup WA

 

Lagi dan lagi. Kita dihadapkan oleh Reizm yang terus merampas rakyatnya. Merampas tanah kita, milik kita, sumber kehidupan kita. Tanpa ampun.

Reklamasi pantai menjadi ancaman tidak hanya di Bali dan Jakarta tetapi juga sejumlah wilayah lainnya. Sementara isunya meninggi justru karena konstelasi politik, isu korupsi, dan dimanfaatkan oleh sejumlah pihak yang orientasinya hanya kekuasaan.

Lihat saja di koran-koran, fisik maupun virtual. bisa juga di media-media sosial. semua ribut soal siapa kenal siapa. soal berapa lama diperiksa, atau soal haters vs cyber army

Orang masih ribut
Luar Batang digusur
Rata
Tak peduli seorang ibu masih kebingungan mencari anaknya
Diiringi tangis dan raungan perempuan yang dicerabut
Bukan hanya tanah ataupun ekonomi
Tapi dicerabut dari kehidupan mereka.

Lalu malam ini,
9 perempuan yang kakinya ditanam di dalam semen
Simbol keterpasungan hidup mereka oleh tambang semen

Lalu tidak bolehkahku sekedar menangis?
Meski menangis tidak bisa menghasilkan apa-apa

 

Sederhana

Aku merindukan masa-masa di mana semuanya jauh lebih sederhana
Sesederhana inginku untuk berada di tempat paling terpencil pun di dunia
melakukan apa yang bisa kulakukan, karena ingin kulakukan, karena membuatku bahagia jika bisa melakukannya
cukup itu saja

sesederhana konsep yang menurut sebagian besar manusia tak pantas untuk dipertahankan
bagi mereka yang percaya bahwa hidup adalah anak tangga, yang harus dinaiki satu per satu hingga mencapai puncaknya

aku merinedukan konsep yang ‘biasa’
Bukan karena tuntutan memberat
Bukan karena tantangan meningkat

Tapi karena
aku mulai seperti mereka
mengejar yang lain selain yang sederhana
lalu cemburu
juga rasa-rasa yang meracuni kesederhanaanku

ah,, aku merindukan masa-masa di mana semuanya jauh lebih sederhana

Hujan

Hujan

Banyak orang bicara tentang hujan

Ada yang bilang benci hujan karena menggeser cerah cahaya

Tapi lebih banyak yang bicara suka

Tentang bulir-bulirnya yang menjadi sumber kehidupan

Atau titik-titiknya yang jatuh ke wajah

Hingga samarkan air mata kesedihan

 

Benci atau suka

Perasaan kita bukan urusannya

Biar dia menderap menapaki jejak-jejak gelap

Seraya menjanjikan tidur lelap bagi yang bisa terlelap