Sementara

Malam ini semesta kembali menyapa

Membisikanku sesuatu melalui lirik sebuah lagu

“Sementara , teduhlah hatiku, tidak lagi jauh, Belum saatnya kau jatuh

Sementara, ingat lagi mimpi, juga janji-janji, jangan kau ingkari lagi.

Percayalah hati lebih dari ini pernah kita lalui

Jangan henti di sini.”

– Float, Sementara

NB:

Walaupun keseluruhan liriknya ga nyambung, tapi sepenggal lirik di atas cukup membuatku terpana di tengah situasi yang lagi dialami saat ini

Untuk Mary Jane

Mata itu menatap sendu

Berkaca, berair mata

Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat itu

Apakah sejumlah baju bagus yang menyebabkan dia harus membeli koper baru?

Ataukah proses sidang demi sidang yang dia jalani tanpa ia mengerti sepenuhnya

Atau mungkin, dia sedang mengingat senyum dua bocah yang ia tinggalkan di kampun halaman sana?

 

Usianya 30 tahu saja

Sepanjang hidupnya yang dia tahu hanya berjuang

 

Ketika tidak ada lagi lapangan pekerjaan di negaranya

Ketika dia harus berangkat ke negeri antah berantah

Lalu hampir diperkosa

 

Bisakah kamu membayangkan rasanya?

Sakit.. Takut.. Trauma

Yang hanya bisa terobati saat ia mendarat di dalam peluk kedua anaknya

 

Ah, sekejap saja

Peluk itu memang obat

Tapi mereka butuh makan

Sejenak saja

Peluk itu memang penawar

Tapi mereka harus bertahan

 

Dan pergilah dia

Mencari pekerjaan mempertahankan kehidupan

Terbuai akan angan-angan, diperdaya oleh janji manis

 

Begitu terperdaya

Hingga tak sadar memikul berat heroin yang tersembunyi di dalam tasnya

 

Tuhan

Lihatlah anakmu yang menangis

Lihatlah anakmu yang lima tahun ini terus didera hingga belajar memupuskan harapan

 

Gerakkanlah tanganmu Tuhan

Gerakanlah sedikit saja

Buatlah manusia yang ingin mengambil alih kuasamu

Buatlah orang-orang yang merasa berhak menentukan hidup mati orang lain

Buatlah mereka jera

Buatlah mereka sadar akan kuasa yang sebetulnya adalah tanggung jawab mereka

 

Tuhan

Hari ini kami bicara tidak dengan suara lantang

Hari ini kami setengah berbisik karena hampir kehilangan harapan

Hari ini kami menangis merintih

Karena hampir kehabisan daya

Maka pada kuasamu kami meminta

 

Untuk perempuan-perempuan yang berjuang

Untuk ibu-ibu tunggal yang mencari penghidupan

Untuk mereka yang tertindas oleh kemiskinan

Untuk yang menjadi korban kegagalan negaran dalam melindungi warganya

Untuk Mary Jane

 

Selamatkan

Selamatkan

Untuk yang Terkasih

Untuk yang terkasih

Saat ini sudah memasuki tanggal 17 April 2015. Tengah malam telah lewat, jam di sisi kiri bawah leptopku menunjukan pukul 12.57. Tapi mata ini tetap tidak mau terpejam. Sedari tadi kucoba habiskan tenagaku. Kucari lelah agar bisa membuai tubuhkan dalam tidur yang lelap. Berjalan kaki, mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga, kukira akan membuat energiku habis. Tapi upayaku gagal total.

Siang ini, kabar dari Rembang datang. Memupuskan harapan yang baru mulai kutancapkan. Beberapa hari yang lalu saja. Saat bertemu mereka, perempuan-perempuan hebat, ibu-ibu tangguh. Menggugah semangat, menjanjikan harapan dengan manisnya pertunjukan gejug lesung dan tembang halus.

Setidaknya yang kutahu susah sejak 2006. Sejak 2006 rakyat di sana berjuang mati-matian. Bukan untuk menjadi kaya raya, bukan untuk menumpuk harta. Sekedar mempertahankan tanah mereka, sumber daya alam di mana tanah, air, hutan sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Menyatu, dan terikat kuat.

Malam hari, berita ekskusi mati seorang Buruh Migran Perempuan di Arab Saudi menusuk memilu hati. Peristiwa kedua, hanya selang saru hari dari eksekusi BMP lainnya. Tak sanggup lagi kugambarkan bagaimana rasanya. Tak kutahu lagi bagaimana menepis segala kekalutan dan perasaan hampir frustasi yang kurasakan.

Tapi, tahukah Engkau?

Ibu-ibu dan masyarakat di Rembang itu tidak kehilangan semangat untuk berjuang. Tidak juga jutaan perempuan yang harus mencari nafkah di luar negeri sebagai Pekerja Rumah Tangga. Mereka tetap berjuang untuk kehidupan mereka, mencapai hak, menghidupi keluarga.

Maka izinkan aku untuk juga tidak berhenti. Untuk setidaknya tetap ada di jalan ini. Setidaknya menggunakan dayaku meski mungkin yang kumiliki hanya sedikit saja.

Tak mudah memang. Segala kekhawatiran yang engkau utarakan begitu beralasan. Aku tidak pernah bisa menjajikanmu kebahagian. Bahkan kebagiaanku sendiri entah apakah akan kucapai.

Wahai engkau yang sangat aku sayangi,

Beberapa waktu lalu kau tawarkanku sebuah hangat pelukan. Katamu, kapanpun aku bisa pulang kedekapanmu yang nyaman. Janjimu, apapun yang terjadi, engkau akan selalu ada untuk ku.

Maka di dalam dekapmu yang kukhayalkan malam ini. Pintaku satu padamu. Restumu. Karena hanya dengan restu itu, langkah ini tak akan pernah terseok. Menapaki jalan yang kuanggap benar, yang kuanggap pantas. Dengan restumu.

Naik

Ada yang secepat roket

Lurus melaju seakan tanpa rintangan menghadang

Ke atas melampaui langit hingga tak mampu terlihat

Tapi jalan ini, bagaikan menapaki tangga tuk menggapai bintang

Satu persatu, anak tangga demi anak tangga

Seraya memastikan kaki ini tetap menjejak

Tak bisa cepat

Karena ada yang dibawa dari setiap anak tangga

Cerita, pengalaman, impian

Satu demi satu dikumpulkan dari anak tangga pertama

Dibawa ke anak tangga kedua

Bertambah di anak tangga kedua

Lalu dibawa ke anak tangga ketiga

Begitu seterusnya

Lelah

Luka

Keniscayaan dalam jalan di mana pengorbanan demi pengorbanan dikompromikan

Tapi langkah yang diambil,

Meski setapak demi setapak

Dia tidak pernah gentar

Karena janji yang terpatri berakar begitu kuat

Bukan untuk siapa, tapi tertanam di dalam diri sendiri

Aku siap

betapa nilai penghargaan terhadap sesuatu yang sifatnya material tu sudh merasuk sampai sumsum tulang budaya kita.

Mungkin sulit untuk menerima ide bahwa mencari kebahagiaan itu tidak sama dengan mencari uang. Bahwa mungkin ada kebahagiaan tanpa menghitung materi yang kita timbun.

Padahal punya kuasa untuk mengambil keputusan dalam setiap langkah hidup itu lebih membahagiakan dibandingkan rumah mewah bertingkat. Padahal punya otoritas atas tubuh pikiran dan hasil kerja itu jauh lebih membebaskan daripada punya mobil mewah keluaran terbaru.

Selama ini kita selalu dituntut untuk mengejar materi. Bukan hanya uang, tapi juga jabatan, karier yang cemerlang, ijazah tinggi, atau bahkan membangun keluarga dengan suami yang ‘materi’ nya juga dianggap baik.

Padahal hidup tanpa ambisi materi itu bukan berarti hidup tanpa tujuan. Kenapa begitu sulit menerima bahwa hidup yang maju itu bukan berarti melompat dari anak tangga satu ke anak tangga yang lebih tinggi. Entah anak tanga jabatan, atau anak tangga gaji yang dimaksud.

Memangnya kenapa kalau saya cuma mau begini-begini saja? Kenapa kalau target saya hanya ingin melakukan apa yang saya bisa  lakukan,  seoptimal mungkin untuk apa yang saya percaya benar?

Sederet Angka

“Faktanya tidak begitu, Kenyataannya hanya sedikit yang kehilangan pekerjaan, yaitu beberapa perempuan pengupas kerang.” (seorang pejabat badan lingkungan hidup Daerah Sulawesi Selatan)

Seorang ayah membawa kedua anak perempuannya untuk ikut bersamanya mengelilingi kota Makassar dengan angkutan umum tuanya. Usia kedua anak perempuannya mungkin hanya terpaut 1 tahun. 4 dan 3 sekitar . Salah satunya tertidur pulas. Namun yang satu lagi menangis tak mau berhenti. Mungkin lelah dan mengantuk setelah mengantar rombongan kami ke sejumlah tempat sebelum kembali ke Jakarta.

“Ibunya bekerja di Pabrik, jadi setiap hari mereka ikut Ayahnya,” ungkap salah satu kawanku yang berasal dari Makassar.

Si Ayah berusaha keras menenangkan putrinya. Berulang kali kami meminta agar putri kecilnya kami yang gendong. Untuk kami timang dan kami tenangkan. Namun si ayah tidak mau. Dia tetap memeluk putrinya sambil susah payah mengendalikan laju mobil.

“Mereka sekeluarga adalah korban penggusuran di desa Pandang Raya, 12 September lalu. Sampai saat ini mereka masih tinggal di sana. Rumah mereka sudah rata dengan tanah, mereka tinggal di tenda. “

Kami yang berada di dalam mobil menahan geram. Membayangkan dua anak sekecil itu kedinginan setiap malam. Tidur di dalam tenda tanpa fasilitas sanitasi, tanpa kebersihan yang memadai.

“Sudah ada satu anak yang meninggal. Dia sakit, dan karena kondisi di tenda tidak bagus, akhirnya dia tidak kunjung sembuh dan meninggal.”

—————————– II——————————–

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa hubungannya kutipan yang saya tulis di atas, dengan cerita tentang penggusuran yang dialami keluarga si sopir angkutan umum. Kutipan di atas adalah pernyataan seorang pejabat BPLHD Sulsel ketika ditanyakan mengenai salah satu proyek yang merusak lingkungan dan merampas sumber-sumber penghidupan perempuan. Pertanyaan yang dia jawab dengan hanya sedikit perempuan pengupas kerang yang terkena dampaknya. Sedikit katanya. Mungkin baginya tidak apa-apa atau bahkan bukan apa-apa.

Seringkali pejabat melihat rakyatnya hanya berupa deretan angka. Berapa banyak korban banjir, berapa banyak jumlah pengangguran, berapa banyak remitansi yang dikirimkan oleh Buruh Migran untuk mendukung pembangunan desa.

Angka, angka, dan angka. Tanpa melihat bahwa di balik angka itu, ada anak-anak yang kehilangan keceriaan karena diusir dari rumahnya. Ada trauma yang dirasakan saat melihat rumah penuh kenangan itu dibongkar dan diratakan dengan tanah. Ada kehilangan hak untuk bermain, belajar, dan merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya yang terbebani dengan berbagai persoalan hidup. Bahkan ada nyawa yang seorang anak yg dikorbankan, akibat dirampasnya hak atas perumahan, dan udara yang bersih yang seharusnya dinikmati setiap hari.

Semua tertimbun dengan sederet angka yang hanya dihitung setiap tahunnya. Sederet angka yang hanya berujung pada data statistic, seakan-akan tanpa makna.