Hujan

Hujan

Banyak orang bicara tentang hujan

Ada yang bilang benci hujan karena menggeser cerah cahaya

Tapi lebih banyak yang bicara suka

Tentang bulir-bulirnya yang menjadi sumber kehidupan

Atau titik-titiknya yang jatuh ke wajah

Hingga samarkan air mata kesedihan

 

Benci atau suka

Perasaan kita bukan urusannya

Biar dia menderap menapaki jejak-jejak gelap

Seraya menjanjikan tidur lelap bagi yang bisa terlelap

Kala malam telah lewat, oh sayangku

Mata sendu itu tetap pekat di hadapku

Andai bisa kugeser sendumu ke luar pintu

Hingga merekah seulas senyum di bibirmu

 

Kala pagi mulai datang menjanjikan harapan

Tapi kita tetap lekang dari segala ingatan

Hanya kita berdua saling tatap hingga petang

Satu hari kembali hilang tanpa mimpi tergapai rengkuhan

 

DNY-280116-00.44

#latepost

Gundah

Sebotol teh dingin dan wafer coklat. Berharap bisa membantuku untuk menghilangkan kegundahan yang hampir meluap. Bukan karena rasa gundah itu sendiri yang kurasa tak nyaman. Tapi keinginan agar rasa itu tak terbaca di saat dia begitu membuncah.

Masalahnya gundah mengundang berbagai pikiran buruk. Hampir menyerah, seperti itulah kira-kira. Kenapa juga aku lebih peduli untuk menjaga agar rasa itu tak tumpah ke luar. Padahal di dalam dia telah menggerogoti jengkal demi jengkal. Hingga kopong, hingga kosong.

Kutarik nafas dalam lalu kusesap lagi teh dingin itu. Secuil wafer coklat pun melumer di lidahku. Gundahnya tak hilang. Tapi dia bisa tertahan, terjaga, biar tetap menjadi rahasia.

Nyaman

Hari ini diawali dengan sebuah konversasi soal comfort zone. Soal usia yang hendak meninggalkan muda, dengan berbagai tawaran tentang ‘mapan’ yang menggiurkan. Aku percaya diri. Merasa masih jauh dari kompromi.

Sore menjelang petang, kepercayaan diriku mulai pudar. Seseorang mengingatkanku tentang impian masa lalu. Seorang kawan lama, yang bersama keluarganya merintis sebuah PAUD di Tasikmalaya. PAUD itu didirikan melihat ketiadaan pelayanan serupa. Separuh siswanya tidak bisa membayar biayanya, yang hanya 10.000-15.000 per bulan. Kawanku datang meminta bantuan. Utang keluarganya untuk membangun PAUD berjumlah belasan juta. Uang itu digunakan untuk membeli perlengkapan. Meja, kursi, membangun ruang kelas, dan sebagainya. Jika dia tidak bisa melunasinya, maka ada setidaknya 22 anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar.

Kawanku itu juga bercerita. Kurikulum yang diterapkan adalah kombinasi. Sebagian dia ambil dari standar nasional pendidikan yang termuat di dalam sebuah Perpres. Namun dia tambahkan muatan keadilan gender meski sederhana. Tak lupa juga soal cinta lingkungan.

Cerita soal PAUD itu mendatangkan sebuah ingatan. Kala itu, aku membayangkan sebuah sekolah untuk anak jalanan. Sekolah untuk mereka yang terlanggar hak atas pendidikannya bisa mengecap pendidikan. Pendidikan bukan sekedar matematika, atau sejarah putih yang penuh manipulasi. Bukan pula soal agama atau moralitas yang sering dijadikan legitimasi kekerasan. Aku membayangkan sebuah ruang aman. Tempat mereka berbagi cerita, berbagi pengetahuan dan pengalaman, berbagi ide dan gagasan, hingga merancang kemandirian dan masa depan.

Tahun 2008, mimpi itu kupancangkan begitu tinggi. 2014 menjadi target tahun tuk kupenuhi. Tapi sore ini, mimpi itu terasa layaknya asap rokok yang kuhembuskan. Pekat sesaat, menyesak, lalu menguap tak terlihat.

Pembahasan mengenai comfort zone kembali menyeruak. Apa sebenarnya definisi dari comfort zone? Atau jangan-jangan, posisiku sekarang ada di comfort zone? Apakah proses ‘struggling’ itu sendiri bisa berubah menjadi sebuah kenyamanan? Apakah tantangan dari berbagai pihak, pelabelan, underestimate, protes sana protes sini, justru menjadi sebuah klaim bahwa kita bertahan dari zona nyaman? Padahal jangan-jangan segala caci maki itu sudah menjadi bagian dari kenyamanan yang kita rasakan?

Jadi apa yang dimaksud dengan zona nyaman?

Bebas, mandiri, punya otoritas untuk ngambil keputusan-keputusan terkait hidup, karier, dll, single (ga berkeluarga), punya uang secukupnya buat setiap bulannya bayar kontrakan, hidup sehari-hari, sepotong pakaian, nonton, karokean, dan sesekali ganti warna rambut, punya ruang berekspresi dan aktualisasi diri, secara bertahap menggapai sesuatu yang masih relevan untuk ada dalam jangkauan.

Tidakkah itu nyaman?

Tengah malam, 28 Desember 2015-29 Desember 2015.

Tak Harus

Ada kerja-kerja yang tak perlu diberi deadline.

Dia tercetus, menggerakan hati dan pikiran, lalu ter follow up langsung dengan tindakan.

Mungkin itu kenapa menjadi pemimpin harus menjadi pilihan.

Pilihan untuk iya bagi yang menginginkan,

tetapi tidak semua orang harus menjadi pimpinan.

apalagi terjebak lika liku manajemen yang seringkali membosankan

Karena laporan donor, sudah diberi deadline pun masih enggan tuk disentuh dan dikerjakan

Lebih baik berdiskusi sepanjang malam, lalu aksi di pagi hingga petang.