Luka

Saya lahir di akhir tahun 1987. Sudah jauh dari angka 65. Sungai-sungai tak lagi berdarah. Kuburan massal telah tertutup ilalang.

 

Tapi Luka

Tersisa tanpa mampu diobati.

Kurasakan saat tetes air matanya bercerita. Atau ketika wajah tuanya gemetaran hanya karena mendengar suara truk. Teringat truk yang membawa Kakak laki-laki, satu-satunya perlindungan bagi dia saat itu. Setelah Ayahnya dikejar di setiap semak dan tikungan, dan Ibunya ditahan di balik jeruji.

 

Luka

Masih bisa kurasakan ketika dia bercerita. Tentang kebencian yang ditebarkan, menjauhkan saudara dan teman-teman. Menyudutkannya dalam tuduhan berkepanjangan. Harus dia tanggung meski di usia belianya tak ada politik yang ia mengerti. Terpisah dari orang-orang tercinta hanya untuk mencari selamat. Kehilangan dan menghilang dari orang-orang kesayangan. Menahun tak berkabar. Saling menduga telah tertelan kematian.

 

Luka

Ketika harapan demi harapan tepupuskan. Di masa senjanya masih berkeliling menjari kuburan. Desa ke desa mencari informasi. Bertanya-tanya masih bisakah bertemu sang Ayah, meski jika sudah berupa tanah dan batu nisan.

 

Luka yang terasa nyata meski 51 tahun telah lewat. Tak ada obat. Takkan pernah ada. Takkan pernah bisa.

Home

Packing, Bongkar, Cuci, Packing lagi

Belakangan rasanya berputar-putar saja dari aktivitas di atas. Tiap kali packing mau pulang, ingin rasanya teriak, ‘Yeiy, I’m coming home.’ Tapi dalam hati malah bertanya-tanya, mana yang sebenarnya saya sebut ‘home?’ Toh selang tak berapa lama harus menyusun pakaian di dalam tas, dan kemudian pergi lagi.

Apa yang saya sebut dengan rumah?

Apakah rumah masa kecil di mana orang tua saya berada, di mana terdapat limpahan kasih sayang tak terhingga, tapi sekaligus tempat di mana saya sering merasa tersingkir. Karena beberda.

Atau tempat saya istirahat hampir setiap malam ketika saya berada di Jakarta? Sebuah rumah petak sederhana, kecil dan juga bukan milik saya. Hanya setiap bulan saya bayar uang sewa.

Atau bangunan ini? Bentuknya rumah, besar dengan banyak kamar. Semua terisi dengan meja kerja, kursi, sofa, pendingin udara, dan beberapa Kasur busa. Tempat saya juga seringkali bermalam ketika berada di Jakarta. Tempat saya langsung ‘pulang’ meluncur dari bandara setiap menghabiskan perjalanan di udara.

Apa yang harus saya sebut rumah?

Sementara tempat saya paling bisa tidur nyenyak adalah kursi pesawat.

Mungkin jiwa saya telah tercecer dalam setiap perjalanan yang saya tempuh. Tertinggal sedikit demi sedikit hingga yang tersisa semakin sempit. Sesak.

Terlewat

5, 10, 15 tahun lagi. Entah apakah aku akan memendam penyesalan. Padahal sesal adalah satu kata yang kularang keras untuk ada di kamus hidupku. Aku membayangkan kamu. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya sejak ku tersadar ada rasa yang begitu membuncah, begitu sulit tuk kukendailkan. Meski seperti jutaan kali kucoba menghilangkan, dan dia seolah-olah benar-benar hilang. Tapi kerap muncul kembali hanya karena satu dua sapa yang kau sampaikan.

 

Hari ini kamu datang lagi. Dengan tatapan mendalam yang seperti biasanya. Tidak pernah berubah sekalipun, yang kukenal sejak berbelas-belas tahun lamanya. Menghilangkan segala kata yang sudah kusiapkan, segala tindak yang sebelumnya kutekadkan untuk kulakukan. Nyatanya aku hanya diam, setengah mati menahan diri, ketakutan debar jantungku dapat kau dengar.

 

“Jadi gimana kerjaan?”

“Biasalah.”

“Lo tau ga sih soal si…..”

 

Percakapan biasa. Selalu tentang yang lain, selalu mampu mengalihkan segala rencana tuk sekedar memancing obrolan tentang kita. Tentang perasaanmu, tentang adakah kesempatan untukku ungkapkan segala perasaan.

 

“When you love someone, just be brave to say”

“Malam jadi saksinya kita berdua di antara kata yang tak terucap”

“You don’t know how long I have waited, and I was going to tell you tonight”

“What if I never Love again?”

 

Lirik demi lirik menyergapku dalam kebimbangan luar biasa. Tetap saja kelu. Akhirnya satu malam kembali hilang. Dia tetap tak tersampaikan.

 

 

“But the secret is still my own, and my love for you is still unknown
Alone..”

 

“Dibiarkannya yang tak terucapkan, diserap akar pohon bunga itu”

Sebuah Impian

Sejak belasan tahun lalu, impianku untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin sudah kutetapkan. Sejak bertahun-tahun lalu pun sudah kutetapkan kampus dan jurusan impian untuk melanjutkan studi. Seolah tegas dan pasti akan kucapai tanpa sedikit pun keraguan.

 

Tahun demi tahun berlalu, aku merasa belajar di kampus kehidupan. Tidak ada kampus yang akan mampu mengajarkanku bagaimana membiasakan diri dengan kondisi yang berbeda. Berbicara tentang Konvensi dengan Bahasa sederhana yan bisa dipahami oleh Ibu-ibu akar rumput. Tinggal di rumah penduduk dengan fasilitas kamar dan kamar mandi seadanya. Bergaul di tengah sawah atau di tengah tambak. Melatih diri untuk lebih banyak mendengar, mengamati, menganalisis, dan sekedar menyebarkan energi postif pada wajah-wajah yang sebelumnya lesu, menangis tersedu.

 

Kadang ada perasaan sedih, iri, ketika melihat satu demi satu kawan mengumunkan akan melanjutkan studinya. Namun selalu teralih tatkala aku kembali ke kampung-kampung, berdiskusi dengan orang-orang hebat, hingga merumuskan strategi yang berdampak pada kepentingan orang banyak.

 

Sedih pun terobati

 

Hingga setahun yang lalu, seorang peneliti, calon doktor dari luar negeri mewawancaraiku. Bertanya seputar apa saja yang kami lakukan untuk isu Perlindungan Pekerja Rumah Tangga di dalam dan luar negeri. Usai wawancara dia memberiku kartu nama. Sebuah kartu dengan logo kampus impianku. Aku pun tak bisa menahan bicaraku bahwa aku ingin sekali melanjutkan studiku di sana. Dia berpesan, aku harus mengejarnya.

 

Peristiwa itu seakan mengingatkanku pada satu impian yang hamper kulupakan.  Meski aku tak pernah menyesal dengan jalan yang kini aku pilih. Meski kuakui ada banyak pembelajaran yang teramat berharga yang aku dapatkan dari apa yang aku lakukan saat ini. Melebihi apapun, bahkan mungkin melebihi kesempatan untuk bersekolah di manapun. Tapi ternyata impian itu tidak pernah pergi. Keinginan itu tetap terpatri kuat, tetapi kuyakini akan mampu kutempuh di suatu hari nanti.

 

Maka ketika hari ini seorang adik kelas mengumumkan akan melanjutkan studinya di kampus itu. Hatiku sedikit gerimis. Bahagia untuknya tentu, tapi juga rindu untuk segera mencapai impianku. Tapi di sinilah aku. Masih di tempat yang aku pilih. Bersama para perempuan hebat. Perempuan Buruh Migran yang siap berjuang dan melawan. Di sinilah aku berada sekarang, disadarkan oleh pertanyaan-pertanyaan kritis mereka. Ada visi yang berusaha tuk kuwujudkan, yang masih menjadi prioritasku saat ini melebihi dari impian manapun di dunia.

 

Sumbawa, 3 Juli 2016

Sedikit Demi Sedikit

Di sinilah aku

Seperti bertahun-tahun lalu. Terlibat bersama mereka, individu-individu yang luar biasa. Perempuan yang teramat tangguh meski seringkali tak menyadarinya. Berbagi pengalaman, tawa, air mata, semangat dan kekuatan.

 

Melihat air mata berubah menjadi senyum

Kemarahan berubah menjadi tawa

 

Bagiku luar biasa

 

Mungkin untuk kamu yang terjadi di hadapanku adalah hal yang biasa. Bukan apa-apa, tak bisa dianggap suatu capaian. Apalagi untukmu yang memberi batas tegas antara sukses dan kekalahan seperti hitam dan putih. Permohonan diterima adalah berhasil, permohonan ditolak adalah gagal. Tanpa melihat bahwa yang gagal itu sempat memperkuat gerakan yang sebelumnya tercerai berai. Bahwa ada individu-individu yang sadar, berjuang, berlawan. Hingga kekalahan sebenarnya tetap menyimpan kemenangan-kemenangan kecil

 

Kemenangan kecil yang tidak pernah disadari.

Oleh kamu yang menganggap bahwa perubahan haruslah besar

 

Bukan gerakan jika tidak bisa membawa ribuan orang ke hadapan istana

Bukan keberhasilan jika tidak bisa menumbangkan sebuah undang-undang

 

Sementara aku di sini

Cukuplah hatiku senang melihat seorang Ibu yang mulai sadar akan situasi ketidakadilan yang dia alami. Mulai terbuka menceritakan diskriminasi dan pelabelan negatif yang ia terima ketika menjadi buruh migran. Mulai banyak bercerita setelah sehari sebelumnya memilih untuk lebih banyak diam

 

Kecil memang.

Perubahan-perubahan yang tidak pernah kamu hitung

Tak pernah kamu lihat.

 

Seperti perubahan yang ada pada diriku

Yang sedikit demi sedikit menyayangimu

Negeri Dijajah Negara

Padamu negeri kami berjanji

Padamu negeri kami berbakti

Padamu negeri kami mengabdi

Bagimu negeri jiwa raga kami

 

Rasanya tidak sulit untuk mencintai negeri ini. Negeri di mana aku lahir dan tumbuh, makan dari tanahnya, minum dari airnya.

 

Sebentar.

Makan dari tanahnya? Well, negeri ini kebanjiran pangan import si. Jangankan makanan khas negeri lain, atau buah. Beras pun membeli dari negara tetangga. Ikan pun tak lagi didapat dari perairan kita. Bahkan padi yang ditanam di sini benihnya entah dari mana, yang jelas merk nya mosanto.

 

Yah, setidaknya minum masih dari sumber mata air Indonesia. Hanya saja sudah diolah dan dikemas oleh berbagai perusahaan. Paling banyak si aqua, danone. Duh, bukan lagi milik Indonesia. Apakah kalau tidak ada mereka, lantas kita tidak bisa minum?

 

Aku jadi ingat di masa kecilku

Ketika air diambil dari keran rumah, dimasak, dan diminum. Salah satu tugas rumahku adalah memindahkan air dari panci ke teko minum. Sebagian teko diletakkan di kulkas, sehingga airnya dingin. Segar. Saat itu, tanpa ada aqua dan kawan-kawannya, kebutuhan minumku dan keluargaku sudah terpenuhi.

 

Dulu juga para petani, terutama perempuan memiliki peran untuk pemuliaan benih. Dari hasil panen, mereka memilih benih terbaik, dipelihara hingga siap untuk ditanam kembali. Hasilnya pun baik, tanpa rekayasa genetik.

 

Berarti, apa yang terjadi saat ini adalah Mosanto dan Danone menjajah negeri? Kenapa petani sekarang harus tergantung dengan Mosanto. Kita pun menjadi sangat tergantung dengan air minum kemasan.

 

Katanya si ada aturan yang bilang bahwa Teknologi itu harus didaftarkan sebagai paten. Termasuk teknologi terkait benih. Aturan dari Organisasi Perdagangan Dunia dengan rezim hak kekayaan intelektualnya. Organisasi yang sama yang bilang bahwa subsidi bagi petani dan tarif untuk barang import adalah bentuk persaingan usaha tidak sehat. Jadi harus dihilangkan, sehingga petani tradisional dan produsen pangan skala kecil bisa ‘bersaing bebas’ dengan petani-petani modern dengan produksi massal dan teknologi canggihnya.

 

Masih menurut organisasi yang sama, air menjadi salah satu barang komoditas yang memiliki nilai investasi. Sejak masuknya perusahaan-perusahaan air minum kemasan, sumber air yang bisa diakses masyarakat menjadi kering. Bukan hanya tidak bisa minum, tapi air yang tadinya menghidupi pertanian mereka pun tidak lagi tersedia. Saya masih ingat cerita seorang Teteh yang pernah menjadi buruh migran. Di desanya di Karawang, dulu pertanian masih bisa dilakukan ketika air masih tersedia. Sejak masuk Aqua, secara bertahap air berkurang hingga habis. Pertanian pun kering sehingga lahan-lahan tidak lagi bisa digarap. Perempuan di sana pun kemudian terpaksa menjadi Pekerja Rumah Tangga di luar negeri. Melintasi batas negara menghadapi berbagai kekerasan dan pelanggaran hak.

 

Ya, negeri kita dijajah. Tidak hanya oleh mosanto, danone, dan perusahaan-perusahaan multi nasional lainnya. Tidak hanya oleh Organisasi Perdagangan Dunia. Tetapi juga oleh negara, dengan Undang-undang, kebijakan, maupun program yang dirancang untuk memfasilitasi dan mendukung kepentingan mereka.

2 + 2 Bukan 4

Ada banyak hal yang tidak bisa mengikuti hitungan ilmu pasti. Ketika 2 + 2 bisa jadi hasilnya bukan 4. Begitupun hitungan-hitungan lainnya.

 

Mari kita bicara soal kemiskinan di sekitar kita. Apakah mereka miskin karena mereka malas? Malas bekerja, atau malas ketika sekolah hingga tidak memiliki cukup ilmu untuk meraih jenjang kehidupan yang lebih baik?

 

Nyatanya, siapa yang kita sebut miskin ini seakan-akan mendapatkan warisan kemiskinan secara turun menurun. Apakah mereka juga menurunkan kemalasan secara turun menurun?

 

Nyatanya, siapa yang kita sebut miskin seringkali bangun lebih pagi dari si kaya. Entah menggarap sawah yang tidak mereka miliki sendiri, mengais-ngais tempat sampah, menawarkkan jasa membawakan barang belanjaan di pasar, atau mulai mengolah ikan dan hasil tangkapan laut lainnya.

 

Mereka bekerja, berkeringat demi uang yang tak seberapa. Tidak kalah rajin dan bekerja keras dengan Anda yang sehari-hari bermain dengan deretan huruf ataupun angka. Menghitung laba dan posisi saham, atau meninjau tempat untuk investasi berikutnya.

 

Lalu kenapa mereka terus menerus miskin, seakan-akan kemiskinan itu mengakar begitu kuat di dalam setiap tulang, dan mengalir di dalam darah yang kemudian akan ikut menurun ke keturunan-keturunan mereka?

 

Harusnya kita tidak heran.

Ketika yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin miskin.

Ketika yang kaya juga terus punya akses untuk segala hal. Pendidikan yang berkualitas, kesehatan dengan fasilitas nomor satu, gizi, akses informasi dan pengetahuan tanpa batas. Semua yang si miskin tak pernah miliki.

 

Tak hanya sampai di situ. Akses yang luas juga memberikan jalan cengkraman mereka untuk mengatur sebuah negara. Lihat saja berapa banyak kebijakan yang bertujuan untuk menenggelamkan Indonesia di dalam banjirnya investasi. Dari mulai paket kebijakan ekonomi, hingga dihapuskannya berbagai kebijakan daerah maupun nasional demi mempermudah investasi. Bahkan izin Analisis Dampak Lingkungan yang menjadi benteng pertahanan bumi ini pun kian dipermudah.

 

Lalu, berapa banyak kebijakan yang berpihak untuk si miskin? Subsidi pendidikan yang tidak seberapa dan masih banyak menemui pelanggaran? Skema jaminan sosial lewat BPJS yang sangat jauh dari konsep negara kesejahteraan? Bantuan modal atau program atas nama pemberdayaan masyarakat lainnya?

 

Sementara program-program itu dijalankan, si miskin tetap tergusur akibat berdirinya pabrik baru, ekspansi perkebunan skala besar, dan eksploitasi pertambangan. Atau mungkin proyek reklamasi yang tidak hanya merampas tempat tinggal dan wilayah kelola rakyat, tetapi juga merusak ekosistem dan lingkungan.

 

Merusak sumber kehidupan mereka

Memiskinkan mereka

 

Bukan kemiskinan, tapi pemiskinan.

 

Dan dalam situasi demikian, perempuan selalu mengalami situasi ketidakadilan dan penindasan yang berlapis