Kebohongan, Kesaksian, dan Rasa

Pondok Gede, 30 September 2017

Lubang Buaya tentu saja ramai. Lapangan Pondok gede pun padat demi sebuah film propaganda kebohongan yang dibuat untuk mempertahankan kekuasaan dengan memelihara kebodohan.

Nyatanya kita masih harus berhadapan dengan hal-hal tak logis yang bisa dengan begitu mudahnya menyulut kemarahan dengan keberingasan. Nyatanya pendidikan dan bangku sekolah tak melulu menghasilkan kemauan berpikir apalagi daya kritis terhadap informasi di hadapan. Nyatanya laju teknologi informasi justru lebih mudah digunakan untuk menyulut kemarahan dengan kebohongan, daripada pencapaian tujuan ilmu pengetahuan.

Selamat memperingati hari yang menjadi gerbang kejatuhan bangsa ini. Jatuh semakin miskin karena sumber daya dieksploitasi, bumi dirusak, manusia diperbudak.

Kawan, benar sekali katamu.

Kita bisa bertemu lagi dalam keadaan hidup rasanya begitu takjub.

Kamu memeluk erat sekali tubuhku.

Seakan berkata nyaris saja kita tak lagi bisa bertemu.

Minggu, 17 September 2017

Tubuh ini tidak mau menyerah pada lelah. Meski baru 1,5 jam menginjak rumah Mama, sudah kutinggalkan untuk berangkat ke LBH Jakarta. Syukurlah, kali ini Mama begitu memahami kenapa anaknya harus pergi cepat sekali.

Sekitar pukul 13:20, saya sampai di sana, mulai menyiapkan acara Asik Asik Aksi bersama kawan-kawan muda lainnya. Dari mulai angkat meja, mengatur panggung, sampai mengatur rundown acara, dengan harapan kami bisa mulai tepat waktu. Malam sebelumnya kegiatan ini baru direncanakan. Beberapa pengisi acara setuju untuk hadir meski diberitahu dadakan. Selebihnya kami siapkan sendiri, bersama Kawan-kawan LBH Jakarta.

Keterlibatanku di sana tentu saja bukan kebetulan. Siapa tak marah mendengar Gedung YLBHI diserbu polisi. Apalagi menyusul larangan sebuah diskusi yang diselenggarakan para korban 65. Mereka yang kehilangan kehormatan, kehilangan keluarga, namun tidak kehilangan harapan. Tak ada percakapan tentang isme-isme apalagi hendak membangkitkan sebuah ideologi. Diskusi diselenggarakan semata-mata untuk mencari kebenaran, menelusuri sejarah, memahami peristiwa, mencoba menemukan keping-keping jawaban dari berbagai pertanyaan mereka yang kehilangan orang-orang tersayang. Dibunuh, diculik, disiksa, dipenjara, diperkosa, dihinakan.

Kegiatan pun berjalan lancar meski dibuka sedikit lebih lambat dari waktu yang tertera di publikasi. Peserta begitu ramai. Kami tak menyangka begitu banyak Kawan dan Solidaritas yang hadir. Bercerita, membaca puisi, menyanyi. Anak-anak, remaja, dewasa, tua, mereka berbicara tentang kecintaan pada negeri, mereka berekspresi untuk demokrasi. Tak lupa kawan-kawan dari berbagai organisasi hadir membacakan pernyataan bersama. Sebuah pernyataan yang dibuat seorang Kawan. Sebuah pernyataan untuk mengajak agar bersama menjadi berani, menjadi terang yang menyilaukan bagi tirani dan represi namun di saat yang bersamaan menghangatkan perjuangan untuk peradaban kemanusiaan. [1]

Sekitar pukul 21.15

Acara hampir selesai.  Aku tersenyum kepada dua orang Kawan. Kami takjub betapa persiapan yang tak sampai 12 jam, tapi dengan hasil yang melebihi ekspektasi kami. Lega. Sudah terbayang segera pulang dan istirahat. Apalagi keesokan paginya tugas memfasilitasi Sekolah Kepemimpinan Feminis telah menanti.

21.36

Informasi baru masuk. Depan gedung YLBI kedatangan Laskar-laskar. Kami pun berbagi tugas. Beberapa melihat situasi, beberapa bertahan mengawal acara di dalam. Aku masih terus menyanyi.

Dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu. Tuk mengingatnya di saat dia taka da. Esok pasti jumpa[2]

Tak lama kemudian

Seorang kawan memanggilku, berbisik

Ca, per sel ya, lantai 2 dan lantai 3. Aku terdiam. Aku tahu persis apa yang dia maksud, tapi aku tak tahu harus berpikir apa, hanya berusaha untuk tenang.

Hingga akhirnya acara dihentikan, satu persatu peserta menaiki tangga menuju lantai 2 dan 3. Aku pun mengikuti mereka, masuk ke dalam ruangan di lantai 3. Sesampainya di sana, yang coba kami lakukan adalah menenangkan peserta. Banyak di antara mereka kawan-kawan mahasiswa yang masih sangat muda. Mereka yang mungkin belum pernah terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi, atau kegiatan diskusi politik. Hari itu mereka harus menunda kepulangan, meski sudah begitu malam.

Awalnya kami mencoba mencairkan suasana, mengobrol ringan, memberikan senyuman, dan sapaan, sekedar untuk menenangkan. Aku cek persediaan air di dalam ruangan, setengah di satu galon, dan setengah di tempat air (p*re it) lainnya. Gelas plastik ada beberapa. Bisa juga kami gunakan bergantian. Semoga cukup untuk kami semua di ruangan lantai 3 yang ternyata berjumlah lebih dari 50 orang.

Ada sekitar 4 atau 5 orang panitia yang ada di sana, berusaha berbagi tugas, dan melakukan apapun yang bisa kami lakukan. Menjaga pintu, menyiapkan sofa dan kursi-kursi tepat di depan pintu.

Kami terus memantau informasi dari bawah, sambil memberikan informasi kepada Kawan-kawan di luar yang terlanjur tahu keadaan kami. Situasi masih aman, aku merasa kami hanya tinggal menunggu negosiasi, agar kami semua bisa pulang.

Malam semakin larut. Mungkin sudah lewat tengah malam. Aku tidak lagi mengecek waktu. Suara di bawah semakin terdengar. Suasana pun mulai mencekam. Kami mulai mematikan lampu dengan tujuan agar tak terlihat.

Entah berapa jumlah mereka, yang jelas suaranya cukup banyak. Aku sungguh tak bisa membayangkan. Puluhan? Ratusan? Baru berhari kemudian aku dapat jawaban bahwa kami dikepung sekitar 1500 massa di malam itu.

Massa di luar menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kami mendengarnya dengan jelas. Tiba-tiba lagu Indonesia Raya terdengar dari dalam ruangan. Peserta yang ada di lantai 3 pun panik ketakutan. Mendorong sofa agar pintu tak bisa dibuka dari luar. Berlarian menuju ruangan yang tak seberapa besar. Merapat saling berdekatan. Aku berada di tengah ruangan. Mengenggam tangan seorang kawan. Kita tidak boleh panik, agar apapun yang terjadi, kita bisa putuskan tindakan kita secara jernih.

Syukurlah tak berapa lama ada kawan dari bawah yang mengabarkan. Tadi yang bernyanyi di dalam bukan massa. Melainkan kawan-kawan di bawah yang ikut menyanyikan Indonesia Raya. Hendak mengingatkan massa bahwa kita sama Indonesia. Tak ada massa yang masuk ke dalam gedung. Ketegangan sedikit reda. Tapi tidak hilang.

Kemudian ada peserta yang sakit, vertigo, sesak nafas. Ada juga yang menangis, sembari memeluk lengan temannya. Berusaha tetap tersenyum ketika mataku menyapa. Dua orang kawan mengajak peserta membentuk lingkaran. Saling berbagi perasaan, saling berbagi dukungan.

Aku tak bisa lagi mengingat kejadian detik per detik malam itu. tak sanggup mengingat rasanya. Namun yang jelas suara-suara di bawah begitu membekas

Bakar

Ganyang  — dengan nada yang biasa kami gunakan ketika aksi tolak WTO

Suara pecahan kaca mulai terdengar bertubi-tubi . Ya, mereka tak hanya berteriak. Mereka melempari dengan batu, kayu, benda-benda yang entah mereka dapatkan dari mana. Bisa jadi sudah sengaja mereka bawa.

Dan suara yang juga paling sering adalah

Allahu Akbar

Sempat sejenak aku terdiam

Bagaimana bisa manusia yang mengingat Tuhan adalah manusia yang sama yang hendak membunuh manusia lainnya?

Lalu dalam bayanganku muncul kobaran api hingga sejenak panasnya bisa kurasakan

Pikirku, bagaimana aku bisa meyakinkan kawan-kawan di sini, sementara aku pun meragu. Malam itu bisa jadi saat terakhirku di dunia. Aku menarik nafas panjang. Mengalihkan pikiran dengan kembali melihat mereka yang bersama satu ruangan denganku. Mencari apa yang bisa kulakukan. Menyibukkan pikiranku agar tak dilintasi bayangan-bayangan menakutkan.

Kejadian-kejadian berikutnya begitu cepat, penuh kepanikan dan tekanan. Proses evakuasi sedapat mungkin kami lakukan dengan tertib. Kawan-kawan yang sakit, kawan-kawan yang ekspresinya rentan, kawan-kawan mahasiswa, dan publik umum, baru kami yang aktivis. Hampir semua muda, hampir semua adalah perempuan. Semua berharap melihat jalan pulang. Tapi nyatanya kami masih harus duduk di sudut gang. Di sudut gang, di mana kami bisa saja diserang dari dua jalan. Di situ kami menunggu evakuasi hingga pagi menjelang. Tersudut. Tertekan. Ketakutan.

18 September 2017

Menjelang Subuh aku sampai di kantor. Berpelukan, dan mencoba istirahat sejenak, sebelum masuk sesi SKF tepat jam sembilan. Pikirku aku baik-baik saja. Aku tak tahu benar apa yang kurasakan. Marah? Marah pada siapa? Pada massa yang terbakar fitnah? Aku tak bisa marah pada mereka. Apakah aku sedih? Apakah aku takut? Apakah aku lelah? Apakah aku trauma? Aku tidak tahu apa yang kurasa. Bercerita pun aku bingung mulai dari mana. Aku hanya tahu hari harus berjalan seperti biasanya.

Barulah beberapa hari setelahnya, ketika bertemu mereka yang juga berada di tempat kejadian, seorang kawan berkata: Kita bisa ketemu lagi, kita masih hidup.

Aku baru sadar sejadi-jadinya. Bahwa aku takut, bahwa aku marah, bahwa aku sedih, bahwa aku bingung, bahwa aku kecewa, bahwa aku ingin menangis. Menangis sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya.

Tuhan kasih kita hidup untuk terus berjuang. Bukan untuk melangkah mundur.

[1] Penggalan pernyataan sikap bersama yang dibacakan oleh beberapa organisasi pro demokrasi yang hadir pada Asik Asik Aksi. Pernyataan ini disusun oleh seorang perempuan aktivis muda yang telah bertahun-tahun berjuang bersama korban-korban pelanggaran Hak Asasi Manusia

[2] Lagu Banda Neira berjudul Esok Pasti Jumpa. Malam itu dinyanyikan Ananda Badudu sesaat sebelum evakuasi ke lantai 2 dan 3.

Iklan

Revolusi Agraria

Sesungguhnya aku malu Eyang,

Tapi juga bingung

Berkali teriakkan Reforma Agraria

Padahal sejak tahun 1961 sudah engkau kritik habis-habisan

Katamu UU Pokok Agraria tidak akan bisa menyelesaiankan persoalan ketimpangan yang telah terjadi

Katamu yang kita butuhkan adalah Revolusi Agraria

Katamu sejak tahun enam satu

 

Seaandainya aku punya kesempatan berdiskusi denganmu, Yang

atau setidaknya menemukan literatur-literatur tentang pemikiran Eyang.

Kita Semua Korban 65

Saya adalah keluarga korban 65

Eyang Kakung hilang tak ada kabar

Kalau masih hidup tak tahu berada di mana

Kalau sudah meninggal pun entah di mana kuburannya

 

Saya adalah keluarga korban 65

Mama masih gemetaran setiap mendengar suara truk

Teringat waktu Pakde malam-malam diciduk

 

Saya adalah keluaga korban 65

Pakde, Bude, Mama, Om semua tercerai berai

Puluhan tahun berjauhan lintas benua

Tak saling tahu kabar, saling diam dalam ketakutan

Bersembunyi dalam kesunyian

 

Saya sendiri juga korban 65

Merasakan hidup penuh ketakutan, terbungkam

Jangan pernah bilang siapa kamu!

Jangan ikut-ikutan organisasi ini itu!

 

“Kamu cuma akan diperalat politik, politik itu jahat!”

Teriak Ibunda menangis histeris

ketika mengetahui aku berdemo menentang Undang-undang Privatisasi Pendidikan

 

Tapi, bukankah kita semua korban 65?

Ketika keran ekploitasi dan penjajahan lewat investasi dibuka lebar atas nama pembangunan

Ketika gerakan-gerakan kritis dibungkam, ditindas, dimatikan atas tuduhan pemberontakan

 

Sawah-sawah dirampas

Tanah-tanah dikuasai oleh mereka yang punya kuasa

Rakyat dimiskinkan

Perempuan diperkosa dan mengalami berlapis-lapis ketidakadilan

 

Bukankah kita semua korban 65?

Masa ketika rezim tirani berkuasa

Rakyat yang mempertahankan haknya langsung ditumpas

Suara-suara kritis langsung dibungkam

 

Rezim yang kita pikir telah mati-matian berusaha kita gulingkan

Tapi ternyata

masih berlanjut sampai sekarang

 

Sampai hari ini

Demokrasi nyaris mati

 

Kita semua korban 65

Satu Lagi, Hilang

Saya pengen nyekolahin Ayip sampe kuliah

Saya juga pengen punya rumah layak, ga gede gapapa, tapi layak

WhatsApp Image 2017-08-23 at 11.00.55 PM

Dari semburat jingga langit sore Karawang yang tengah menantimu

Ayip adalah anak laki-laki semata wayangnya, yang akhirnya lahir setelah tujuh tahun dalam perkawinan menantikan kehamilan. Saat ini Ayip sudah lulus dari SMA nya, tengah menunggu ijazah. Ketika ditanya apakah ia ingin kuliah, ia mengatakan ingin bekerja. Jikalau memungkinkan bekerja sambil kuliah, barulah dia terpikir akan kuliah juga.

 

Rumah mereka adalah bangunan kota sekitar 2 x 3 meter saja. Temboknya sudah retak-retak, catnya terkelupas di mana-mana. Lantainya rusak, bisa diduduki karna dilapisi tikar sederhana. Hanya ada 1 kamar tidur tanpa peralatan rumah tangga seperti TV, kulkas, ataupun kompor gas. Kamar mandinya tak lagi bisa dipakai. Semenjak banjir beberapa tahun lalu, pintunya lapuk tak bisa dipasang, sistem pembuangannya pun rusak tak lagi berjalan. Selama ini Teteh, suami dan anaknya menumpang kamar mandi di musola seberang jalan.

 

Beberapa bulan sebelum lebaran, Teteh ingin berangkat ke Brunei Darusallam. Bekerja, menjadi Buruh Migran. Sang suami sempat melarang. Tak mengizinkan, tak menandatangani surat izin suami yang menjadi persyaratan. Namun keinginan Teteh untuk menguliahkan anak, impian Tetah untuk punya rumah yang layak meruntuhkan keteguhan sang suami. Izin pun diberikan.

 

Teteh pun mencari sponsor setempat. Namun si sponsor hanya bisa memberangkat ke Malaysia atau Singapur. Teteh cuma mau ke Brunei Darussalam. Tempat dia pernah bekerja bertahun-tahun silam, pekerjaan rumah tangga hingga menjual sayuran. Tempat yang menurutnya masih lebih baik, ketimbang negara yang gemar menyiksa dan melarang Buruh Migrannya ke luar rumah. Satu-satunya alternatif bagi Teteh meski dia sadar kerentanan yang akan dia hadapi sebagai Buruh Migran. Dia pun mencari sponsor lain, hingga ke Kranji, Bekasi.

 

Teteh sempat dinyatakan unfit. Artinya dia tidak bisa bekerja menjadi Buruh Migran. Namun dia tetap berusaha, berobat selama empat bulan, di Jakarta. Dua minggu sekali dia pulang ke Karawang. Meski gajinya akan dipotong 5 bulan untuk mengganti biaya rumah sakit. 3 hari sebelum lebaran, Teteh pun berangkat ke Brunei Darussalam.

 

Senin malam kemarin, Teteh menelepon suaminya. Hanya bilang ingin pulang. Suaminya pun mengiyakan.

Selasa, sekitar jam 10 malam, telepon datang dari sopir travel. Teteh sakit, dalam perjalanannya melalui dari Brunei ke Indonesia lewat Malaysia. Dadanya sesak dan telah dilarikan untuk dirawat di rumah sakit di Malaysia.

Rabu, sekitar 1.30 pagi telepon suami Teteh berdering tidak terangkat. Sopir travel yang menelepon pun beralih ke nomor Ayip. Mengabarkan Teteh sudah tak lagi bersama kita, hilang, tak lagi merasa sakit, pergi.

 

Tak ada lagi Teh Ipah yang tomboy dan ceplas ceplos

Teh Ipah yang ceria dan selalu membuat suasana ramai

Teh Ipah yang menyenangkan dan penuh kasih sayang

 

Sudah bertahun lalu kita bertemu, Teh

Rencana ke rumahmu terpaksa dipercepat. Bukan untuk bertemu, tetapi untuk melepasmu

Conflict of Interest in UNFCCC: Pull Out Polluters from Negotiation

*Ini short article terkait salah satu topik yang mengemuka di Konferensi Iklim, Mei lalu di Bonn. Versi bahasa Indonesia yang (direncanakan) lebih lengkap akan menyusul.

2

Climate negotiation has been happening since 1991, while UN Framework Convention of Climate Change (UNFCCC) was entered into force on 21 March 1994. This negotiation is expected to produce real solution to solve climate crisis and save the planet, including people who are already impacted by climate crisis. In fact, after 23 years, UNFCCC still not come up with strong commitments to truly solve the root problems of climate crisis, both in its policies, and projects. Moreover, UNFCCC keep producing false solutions that cause more problems to people. Resulted solutions from this negotiation are only benefits to industrial countries, transnational corporations and international financial institutions. For example, REDD and REDD+ in Indonesia have been impacted to our people, women and men who have to loss their livelihood resources, evicted, as well experience economic and social impact caused by the projects. Meanwhile, through Smart Climate Agriculture, government is only accommodating interests of agri-business, and grab farmers’ sovereignty over their production by creating dependency to big company’s seeds and fertilizers.

The active engagement of corporations/private companies on the negotiation table is believed as one of the factors that create these profit-driven solutions. We all know that to solve climate crisis, we need to addressing the root causes of climate change, which is to reduce emissions drastically from the source, i.e. industrial activities and the changing patterns of production and consumption that relies on fossil fuels, one of them by cutting off the investment in fossil fuels. But how it is possible, when companies like Big Oil Gas and Coal Company are parts of the negotiation.

Corporate Accountability International (CAI) reports that more than 250 Business and Industry Non-Governmental Organizations (BINGOs) have currently been admitted to the climate talks.[1] Meanwhile, based on UNFCC website, 13,9% from Observers are coming from BINGOs. It is a huge number compared with the number of observers coming from impacted communities and groups, such as Indigenous People, Farmer, Women, and Youth.[2] Involvement of BINGOs itself had also bring conflict of interests, since they represent the interests of corporation that basically are polluters for decades. As a respond, Civil Society including environment NGOs, Women’s group as well as Indigenous People, bring voices and raising awareness about the issues of Corporate’s Conflict of Interest in UNFCCC. The discussion about conflict of interest is continuing in the  Bonn Climate Change Conference – May 2017.[3]

This issue was brought to In Session Workshop on Opportunities to Further Enhance Effective Engagement of Non-Party Stakeholder. Kaliyani Raj, from All India Women’s Conference and represent Women and Gender constituency as one of the speakers said that it is Important to adopt clear mechanism to see different between stakeholder who represent public interests and right based groups, versus they who represent the business interests. This statement also supported by some feedbacks from Ecuador Delegation, Walter Schuldt-Espinel, Indigenous groups, Women and Gender Constituency, Climate Justice Now, and Indigenous group. Besides, someone from UN secretariat who’ve been involved in the process of Convention of Tobacco Control also share the experience as an important lesson learn. In that Convention negotiation process, they realized that there is fundamental conflict between tobacco industry and public health interests, so limiting role of tobacco industry in negotiation is very necessary. In the context of UNFCCC, we need to limit the role of actors that might be ‘polluting’ the process.

In the other hand, to create true solution, we need to encourage more spaces for Society and produce people centered solutions. Indigenous People, Peasant, Fisher Folk, already have their initiatives in saving the earth. For example, women live around forest in Kalimantan and Central Sulawesi, Indonesia who use nature’s product such as pandan/screw pine and rattan as material for making handcraft. They will only harvest big pandan/screw pine, with limited amount as needed and then will replant the trees. This initiative is taken to guarantee and the sustainability for the next generations.

This issue also brought to UNFCCC through the in-session Workshop that have objective to discuss opportunity to build relationship between stakeholder to enhance climate commitment into an action. Through the workshop, representative from Indigenous Groups also share how they already took initiatives as ‘guardian of the land.’ They are maintaining and governing it for a long time with their own funding/resources. But ironically public funding distributed through Green Climate Fund is put more in to industries, while Indigenous People are on the ground trying to guard their land.

1

To recognize and support people perspective and initiatives in solving climate crisis, it is important to ensure meaningful participation of people, but off course with a clear understanding that there is a different between who represent people’s interests and business’s interests. In the parallel discussion, civil society had also share about their experiences, knowledge, and ideas to enhance participation and involvement of civil society, particularly the impacted groups.  Some ideas and thought also identified, such as ensure national mechanism of parties to give information and spaces for civil society to be able to involve meaningfully, capacity building and awareness raising, translated documents so local people can understand about the negotiation, as well the recognition of CSO as participant instead of observers. It is also important to see and consider specific situation of women, who have limited access and control in many aspects and create affirmative action to encourage their involvement.

This process showed that civil society has been succeed, at least in making ‘noise’ about the issue. Therefore, it is important to monitor the follow up of the workshop and keep making noise and raising awareness, until UNFCCC really take it into account and bring it in the negotiation. Business Sectors should be regulated and obligated in Climate Actions, but not to involve and use their power to influence Climate negotiations.

In conclusion, pull out Business Sectors from the negotiation is a very important issue. As long as they have opportunity to use their power in influencing negotiation, UNFCCC will keep continue producing false solutions that strengthening Inequality and impoverishment. All this time, the negotiation has been reflected as a manifestation of inequality between capital owners who destroy the earth and the people who forcedly evicted from their livelihood in the name of climate change mitigation. Indigenous people, peasant, and fisher folk in global south already impacted by climate crisis, but all of climate projects are not able to save them and solve the root cause. Moreover, they have to loss their livelihood resources and forced to conduct or involve in project that not giving any benefit for them, to conserve the earth from the disaster that not caused by them. For women, who also experience the impact of climate change and climate projects, they even face layered of impact and injustice caused by social, economic, political and cultural barriers that limit their access to and control over resources, capacities and decision making.

3

[1] http://www.thebigissue.co.ke/index.php/2017/05/23/conflict-interest-threatens-climate-change-talks/amp/

[2] http://unfccc.int/parties_and_observers/observer_organizations/items/9545.php

[3] The forty-sixth sessions of the Subsidiary Body for Implementation (SBI 46) and  Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA 46) as well as the third part of the first session of the Ad Hoc Working Group on the Paris Agreement (APA 1-3), conducted from 8 to 18 May 2017, in Bonn, Germany.

Sekali Lagi Saja

Sekali Lagi Saja

 

Pa,

Udah 12 hari Papa pergi. Rasanya masih kayak mimpi. 12 hari bukan cuma sekedar hitungan hari yang terus berganti. Tapi selama 12 hari, setiap harinya, adalah penantian penuh harap. Setiap hari Nisaa masih merasa Papa akan kembali. Nisaa bisa lihat papa ketawa lagi, liat Papa ngajak becanda dan ngasih joke yang meski kadang-kadang suka garing.

 

Pa,

Nisaa pengen banget karokean. Tapi karokeannya sama Papa. Kayak biasanya aku yang atur kita nyanyi gantian. Dari Be gees ke Lady Gaga, atau dari Ebit G Ade ke Maudy Ayunda. Terakhir kita karokean bareng udah lama lho pah. Akhir 2015 pas Nisaa ulang tahun. Terus ga kesampean lagi kita mau karokean. Padahal hari Selasa, terakhir Nisaa pulang, 2 hari sebelum Papa pergi, Papa udah bolak balik ngasih kode buat kita karokean. Tapi aku malah cuek sibuk Whats app-an entah sama siapa.

 

Maaf ya Pa.

Maaf karena aku selalu cuek dan jarang mikirin perasaan Papa. Maaf karena aku, tanpa sadar udah ngumpetin memori-memori menyenangkan aku sama Papa. Sekarang kenangan demi kenangan itu muncul satu-satu, indah tapi menyiksa hati inchi demi inchi.

Waktu dulu Papa sering nyanyiin aku lagu Permata Hatiku

Waktu Papa tiba-tiba dateng ke kelas, minta izin sama guruku bilang ada saudara yang kena musibah, padahal Papa ajak aku nonton teater

Waktu aku pingsan dan kepalaku menimpa pecahan toples kaca, cuma Papa yang berani nyabut kaca yang menancap itu dan melarikanku ke rumah sakit

Ketika pertama kali naik gajah, sama Papa.

Ketika pertama kali ke Taman mini liat istana boneka, juga sama Papa

Ketika pertama kali naik bom-bom Car, disetirin sama Papa

Teater-teater yang kita tonton bareng

Konser-konser musik yang kita nikmatin bareng

Liburan sama-sama seluruh keluarga

Ataupun moment-moment kecil ketika tiap malam kita ngumpul bareng di kamar Mama Papa. Berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi kekesalan, bahkan terkadang saling meledek.

 

Pa, dari semua itu, yang paling aku sesali adalah diriku sendiri. Betapa lambannya aku belajar memahami. Betapa lemahnya aku untuk mampu keluar dari perasaan kecewa yang kutimbun bertahun-tahun lamanya. Rasanya baru sekitar satu setengah tahun belakangan aku bisa mencair. Berdamai dengan rasa sakit yang kupupuk sendiri. Berharap punya kesempatan untuk memelukmu, menciummu, dan menunjukkan betapa aku sayang Papa.

 

Tapi sekali lagi betapa lambannya aku Pa. betapa bodohnya aku melewatkan setiap kesempatan yang tersedia di hadapan. Betapa hancurnya aku ketika aku baru menciummu saat tubuhmu telah dingin membeku.

 

Sungguh aku sangat bodoh Pa, sungguh aku sangat tinggi hati hingga menunjukkan rasa sayang saja aku tak mampu.

Aku ingin berteriak sekencang-kecangnya merutuki, dan mencaci maki diriku sendiri. Berteriak dengan sangat kencang, hingga Papa bisa mendengar. Menoleh sedikit saja. Menoleh sekali lagi saja. Kalaupun Papa tak kembali lagi, setidaknya Papa tahu betapa aku sayang Papa. Sayang sekali Pa.

 

Seandainya Kita Mau Belajar

Semalam di sini ada perayaan Supersemar. Rupanya 19 tahun Reformasi tak membuat bangsa ini belajar. Padahal, literature sudah begitu banyak. Menampilkan versi lain dari sejarah buku putih yang penuh kebohongan. Film kesaksian algojo yang dibuat dengan dasyatnya, seolah tak berarti meski telah melalui riset bertahun-tahun lamanya. Sidang rakyat pun telah digelar meski meminjam negara lain. Hanya diabaikan tak lebih berarti dari angin lalu.

 

Hari ini orang-orang masih berteriak ‘awas bahaya komunis.’ Padahal yang hadir adalah bahaya orba dengan otoritarianismenya. Orang-orang menutup mata dari fakta komunis telah ditumpas habis dengan begitu kejinya. Bahkan mereka yang tak bersalah ikut dibunuh, dihilangkan, dianiaya, dipenjara. Orde baru juga sangat senang dengan bumbu-bumbu kengerian yang dibuat-buat. Tetapi cukup untuk membuat siapapun ketakutan. Takut untuk bicara, takut untuk mengkritik, takut untuk protes, apalagi melawan.

 

Sementara hari ini tumbuh menguat kelompok-kelompok yang merasa paling benar. Menghakimi, megkafirkan, menguasai, melakukan kekerasan dengan menggadang-gadang agama. Bersekongkol dengan kuasa modal menjadi anjing-anjing penjaga asset mereka. Merasa paling berkuasa dan bertindak semaunya. Dan negara diam saja.

 

Ah Negara

Negara tidak berdaya di hadapan mereka

Tetapi negara yang sama menggunakan daya untuk menekan rakyatnya.

 

Rezim ini dimulai ketika tempat aksi diistana semakin dipukul mundur. Begitu pun ruang-ruang aspirasi yang terus dibatasi. Diatur sana-sini. Pembunuhan aktivis pun dibiarkan. Waktu berjalan terus tanpa ada kejelasan. Aksi-aksi kerap dibubarkan. Beribu alasan disiapkan tak satu pun masuk akal. Konstitusi dilangkahi SOP polisi. Rakyat diusir, perempuan ditekan, dihadang, dipelintir.

 

Inilah yang terjadi ketika bangsa ini tak pernah belajar. Tak pernah belajar dari masa lalu saat pembunuhan massal dilakukan dengan dilumuri fitnah-fitnah keji. Tak pernah belajar dari kekejaman orde baru ketika suara dibungkam, kecerdasan dan kekritisan dibunuh, yang progresif ditumpas habis.

 

Apakah kita tengah menjelang kembalinya hari-hari di mana kita dipaksa diam? Bergerombol dengan tidak aman, berbicara pun merasa terancam. Apakah kita akan akan membiatkan negara ini kembali ke masa kegelapan? Menjadi negara pelanggar HAM yang kerap menyerang rakyatnya sendiri.

 

Coba pikirkan

Coba renungkan

Untuk negara yang tak mau belajar ini, setidaknya kita telah belajar. Dan diam jelas bukan pilihan.

WhatsApp Image 2017-03-14 at 12.22.47 AM

Taman Mini, 12 Maret 2017