Berani

“i just try to be honest and open”

 

Bukan untuknya

tapi untukku

terbuka untuk bicara

terbuka untuk mengungkap

terbuka untuk menjadi berani

untuk kemudian menjadi tenang

hingga mampu melangkah maju

Iklan

Bukan Miliknya Lagi

Seorang gadis tumbuh dewasa lebih matang dari yang semua orang perkirakan. Ibunya berpikir gadis manjanya tak mungkin jadi semandiri sekarang. Kawan-kawannya berpikir dia akan terus menjadi bocah yang tak pernah serius menghadapi hidup. Bahkan dirinya sendiri tak pernah menginkan loncatan tinggi atau ambisi tentang posisi.

Sekali dia berkata dengan jelas. Aku hanya orang biasa, yang ingin jadi biasa, menjalani hidup biasa dan sederhana

Sejelas hijaunya daun di pagi hari, sejelas itu pula dia menetapkan diri sebagai manusia tanpa ambisi. tak pernah ia pasang mimpi terlalu tinggi, hanya menetapkan target yang hampir pasti dapat dia raih. Setidaknya begitulah hidupnya berjalan hingga pertengahan usia 20-an.

Tapi bukan hidup namanya jika ia tidak mempermainkan. Ketika ekspektasi datang satu per satu tiada henti. hingga dia merasa hidupnya bukan miliknya lagi.

Hilang

Marah, Sakit, Kecewa,

Rasanya menjadi berlipat-lipat ganda ketika tidak terungkapkan

Menahan api yang tidak mungkin padam

Menahan lelehan luka yang perihnya tak mungkin hilang

Menahan berjuta pertanyaan mengapa, tanpa pernah memiliki jawaban masuk akal.

 

Ah, rasanya begitu ingin menenggelamkan kepala dalam-dalam

berharap bisa meredakan sakit yang telah bersarang

syukur-syukur tak perlu muncul lagi

agar Hilang segala rasa yang menyakiti

Berisik

Cinta

Semua orang selalu berisik tentang cinta. Tentang yang membuat bahagia, namun tak jarang menghadirkan air mata. Perasaan yang katanya luar biasa, tak bisa diungkapkan kata-kata. Hanya bisa dirasa, dinikmati, atau mungkin disesali. Apapun rasanya, dia tetap dipuja. Dibicarakan, diperebutkan, diperdebatkan. Romansanya diperbincangkan di mimbar akademik, hingga lokalisasi pinggir statsiun tengah malam. dipertahankan mati-matian dijungjung tinggi seolah hal paling penting di dunia. Dewa dari segala dewa, Tuhan dari segala Tuhan.

 

Aku bosan

 

Nyatanya romansa tak datang pada setiap orang. Dan itu bukan sama sekali petaka. Cinta hanyalah tentang sebuah mindset. Sebuah kata yang meligitimasi perasaan menye-menye hingga hasrat sex yang menggebu. Komoditas yang laku setiap 14 Februari, atau sekedar perayaan malam minggu. Dibentuk iklan-iklan di tabloid hingga surat kabar. Film-film picisan, atau lagu-lagu mendayu. Membentuk khayalan, membangun keyakinan, yang sesungguhnya kita buat sendiri.

Berisik

Konsekuensi

Kadang kita tidak sadar pada jiwa yang tak berkembang meski usia terus bertambah.

Pada tanggung jawab yang membesar tanpa kita tahu ukuran kesanggupan yang kita miliki.

Tapi segala pilihan diambil bersamaan dengan konsekuensi.

Sementara waktu takkan pernah berputar mundur.

Maka menghadapi konsekuensi adalah satu-satunya pilihan yang bisa dijalani

Perempuan Pertama

“Telepon dari siapa? Serius sekali sepertinya.”

“Dia, Hmm, aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Dia laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi kami tidak pernah memiliki komitmen. Tiba-tiba saja meneleponku. Bertanya apakah aku mau menikah dengannya.”

Gadis ini. Entah apa yang dia lakukan padaku. Ini baru kedua kalinya kami bertemu. Tapi benakku tak pernah kehilangan wajahnya. Dia masih sangat muda dengan semangat yang begitu menyala. Kadang terlihat malu-malu, tapi ketegasan di matanya tak pernah bisa bersembunyi.

 

“Wow, isn’t it good? Bagaimana perasaanmu padanya?”

“Aku menyayanginya. Kami berteman baik belasan tahun.”

“Lalu? Apakah hanya sayang sebatas teman?”

“Tidak juga. Lebih. Perasaan seperti ini tidak pernah ada untuk yang lainnya.”

 

Nafasku menjadi tertahan. Seperti ada yang sesak di dada.

 

“Lalu apa yang membuatmu ragu?”

“Entahlah. Orang bilang menikah adalah untuk selamanya. Memangnya ada perasaan yang untuk selamanya?”

Aku seperti melihat diriku yang dulu. Takut akan komitmen. Awalnya tak menjadi masalah karena pernikahan sesama jenis tak bisa dilakukan di negara ini. Tapi begitu bisa dilakukan, aku menikah dengan perempuan yang telah menjadi pacarku selama 6 tahun. Perempuan yang namanya terukir di cincin kawin yang selalu kukenakan.

“Apakah itu mudah? Memutuskan untuk menikah, dan berkomitmen panjang padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan?”

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Ketiba-tibaannya menyambar pintu kejujuranku, membuka segala kata yang ingin meluncur sejak kami pertama bertemu.

“Menikah memang soal merawat komitmen. Sementara perasaan akan datang dan pergi tanpa kita punya kendali. Kadang kita menemukan cinta yang lain. Seperti saat ini aku jatuh cinta padamu.”

“Maksudmu?”

“Isn’t it obvious?”

“Is it?”

“I am Madly in love with you.”

Dia hanya tersenyum. Tak menjawab perasaanku. Tapi juga tak menjauh dariku.

Cinta dan pernikahan tak selalu berjalan segaris. Aku bisa saja jatuh cinta pada gadis yang belum kukenal lama ini. Tapi ada nama yang terukir pada cincin di jemariku. Pada nama itu aku mengikatkan komitmen. Pada nama itu akan pulang.

Aku hanya bisa tersenyum. Tak bisa menjawab karena tak akan pernah ada jawaban yang tepat. Dia sudah menikah. Cincinnya sudah bicara sejak awal kami bertemu. Meski pengakuannya beberapa hari yang lalulah yang membuat pupus harapanku.

Ini malam terakhir kami bertemu. Besok aku akan kembali ke kotaku, dia pun akan kembali ke negaranya dalam beberapa hari ke depan. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain saling menatap lekat, saling melemparkan senyum. Aku kehilangan kata-kata. Dia pun seperti tak berhasrat tuk bicara.

Jika malam ini lewat, maka berakhir sudah waktuku bersamanya. Aku tak ingin memeluknya apalagi mencumbunya. Aku hanya ingin menikmati wajahnya, menghafal relung-relung senyumnya. Aku hanya ingin menatapnya lekat-lekat dan lama-lama. Merekam tatapan matanya yang begitu manis. Membiarkannya merasuk dan menghangatkan hingga ke dalam lubuk hatiku.

Dari Tepi Sungai Rhein

Tepi sungai Rhein, 18 November 2017

Jembatan sungai Rhein begitu terkenal dengan kisah tentang gembok cinta. Permukaannya dipenuhi berbagai bentuk gembok dengan berbagai nama. Tapi bagiku cerita paling menarik tentang sungai Rhein justru diceritakan oleh Bude.

Pada suatu masa, sungai ini menjadi pemisah antara si miskin dan si kaya. Kisah tentang ketidaksetaraan yang telah berjalan sekian lama. Kisah yang tak pernah berakhir, tetapi justru terus menguat hingga hari ini.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.54 AM

“Buk, Pak, aku keterima beasiswa! Tiga bulan lagi sudah harus berangkat ke kampus khayalan di negeri impian.”

Ibu dan Bapak memelukku. Aku bisa merasakan air mata mereka menetas perlahan. Kabar ini memang tak akan bisa membayar perjuangan mereka membesarkanku anak semata wayangnya. Mati-matian mereka bertani, menggarap sawah kami yang tak seberapa hingga aku bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Tapi setidaknya aku bisa meringankan sedikit beban mereka dengan sebuah kebanggaan.

Negeri ini sungguh makmur. Kesejahteraannya tergambar dari teknologi di berbagai hal. Transportasi publik yang jadualnya tak meleset meski semenit. Mobil yang mesinnya mati otomatis setelah berhenti sekian detik. Budaya tepat waktu, hingga disiplin di jalan raya, juga bersih tanpa sampah.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.54 AM1

Penyesuaian diri bukan proses yang terjadi begitu saja. Jet lag, ketinggalan bus karena tak mampu mengukur cepat langkah kaki. Di negeri ini kamu bisa merencanakan perjalanan dengan sangat mudah. Satu aplikasi menunjukkan jarak, waktu, dan alat tranportasi apa yang bisa kita tempuh. Tapi jangan sekali-sekali percaya dengan prediksi waktu untuk berjalan kaki. Kalau mereka bilang bisa ditempuh dalam 10 menit. Setidaknya kaki pendekku baru bisa sampai dalam 15 menit.

Proses di kelas pun bukan persoalan mudah. Bukannya aku tidak bisa mengikuti pelajaran. Kurikulum di sini sangat mendorong kita untuk berbicara di kelas. Ketika mereka, yang mayoritas dari negara-negara adikuasa, fasih berbahasa inggris dengan percaya dirinya. Sementara aku, perempuan yang lahir di sebuah desa di tengah pulau Jawa. Anak gadis yang terbiasa manut dan diam seribu Bahasa. Lebih terbiasa mendengar dan mengangguk, ketimbang berbicara dan menyanggah. Di ruang kelas ini, pun di kepalaku sesak akan jawaban dan pernyataan yang menyeruak ingin ke luar, aku tetap diam. Tersenyum, dan mendengarkan.

Di malam hari, ketika tugas-tugas sudah berhasil terisi, adalah waktu untuk diriku sendiri. Karena kelelahan sepanjang hari hanya bisa diobati dengan sendirian. Kadang kulewati dengan berjalan sendirian di jalan setapak menuju taman. Sesekali mampir di sebuah bar, sekedar menikmati musik dan sebotol minuman.

Di situlah aku bertemu dia.

Dia menyapa di tengah keramaian, ketika aku hampir jatuh tertabrak orang-orang. Detik itu tubuhku tak jadi roboh, tapi hatiku jelas-jelas jatuh. Dia bukan pria dengan wajah manis dan senyum ramah. Kerutan di dahi melengkapi wajahnya yang selalu terlihat serius. Tapi matanya. Mata di balik bingkai persegi panjang itu terlihat sangat tajam dan menyala.

“Hai, kamu gapapa?”

Aku hanya terpaku. Dia menjulurkan tangannya, memperkenalkan diri, dan mengingatkan bahwa kami ada di kelas yang sama.

Sejak itu, kami sering jalan bersama. Waktu untukku sendiri menjadi sering lenyap. Tapi berdua dengannya, aku tak pernah merasakan lelah. Kami berjalan bersama, seringkali tanpa kata. Menyusuri jalan di taman, atau berdansa menikmati sedikit musik dengan sebotol minuman.

Kami menjadi dekat karena sebuah persamaan. Kami sama-sama berasal dari negara berkembang, berjuang hanya untuk sekedar melanjutkan kehidupan. Berkerja dua kali lipat hanya untuk mendapat uang, makan, dan sedikit lembar pakaian.

Negerinya berada di satu benua dengan negeri adikuasa, di bagian selatannya. Bahasa Spanyol yang menjadi Bahasa sehari-harinya pun buah warisan dari penjajahan 3 abad lamanya.

“Belanda menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Dari penjajahan itulah mereka bisa membangun teknologi demikian dasyat. Menjadi negeri makmur dan maju, meninggalkan kami dalam kondisi miskin dan tereksploitasi.”

“Iya, dan penjajahan di negerimu, di negeriku, masih terus terjadi sampai sekarang. Lihat saja sistem perdagangan, yang memang didesain untuk menjadikan kita smakin miskin dan mereka semakin kaya. Petani tradisional, disuruh bersaing dengan teknologi tinggi, ga boleh disubsidi, import pun ga boleh dibatasi meski hanya melalui pajak atau tarif masuk.”

Baru sekarang aku menyadarinya. Di kampusku dulu, aku belajar soal pembangunan. Katanya pembangunan itu untuk kemajuan, supaya manusia bisa semakin terpenuhi kebutuhannya dan hidup semakin layak. Investasi itu katanya alih teknologi. Membuka lapangan pekerjaan dan memberi orang banyak uang.

“Coba kamu sekali-sekali lihat di negerimu. Berapa banyak investasi yang menggusur penduduk? Bukan hanya menggusur rumahnya, tapi juga lahan untuk bertani, atau bahkan menggusur nelayan dari laut tempat mereka mencari ikan. Belum lagi industri yang ekspolitatif, dan begitu merusak lingkungan, membunuh ekosistem termasuk manusianya. Hari ini kita miskin uang. Anak cucu kita nanti bisa jadi sudah tak punya bumi untuk mereka tinggal.”

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.55 AM

Satu hari dia mengajakku ke sebuah tambang batu bara. Jalanan menuju ke sana awalnya adalah perumahan dengan berbagai pohon dan sawah. Namun tiba-tiba kita disuguhkan pada pemandangan tambang yang membuat perasaanku menjadi kering. “Aku dengar di negerimu, ada tambang emas yang lebih parah dari ini.”

Hari lainnya dia mengajakku ke sebuah perpustakaan yang ada di dalam hutan. Hutan itu tidak jauh dari lokasi tambang. “Hutan ini mulai rusak karena tambang. Kami tinggal di sini, mencoba merawatnya. Sekarang kami sudah 40 orang.”

Hutan itu tentu saja dingin, dan jauh dari teknologi yang bisa berjalan sendiri hanya dengan mencemplungkan koin. Tetapi mereka hadir di sini untuk menciptakan kehidupan. Merawat kehidupan dengan kehidupan.

DN4ryCOWkAEw52V.jpg_large

credit: 350 twitter

Awal November 2017. Konferensi tentang Perubahan Iklim diadakan di negeri ini. Kami tentu tak punya akses untuk masuk ke dalamnya. Maka kami melakukan satu-satunya hal yang bisa kami lakukan. Berteriak di jalanan, berdemo, bergabung bersama ribuan orang.

Keep coal in the ground

Keep oil in the soil

We say Hey, Hey, Ho, Ho, Fossil Fuel has got to go

No Deforestation, No False Solution

What do we want? Climate Justice. When we do want it? Now

We are unstoppable, another world is possible

People gonna rise like the water we gonna calm this crisis down

We hear the voices of great granddaughter, saying climate justice now.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.56 AM

Kami berdemo dengan riang. Musik, kostum, patung. Kami menyanyi, menari, berpelukan, dan berciuman. Kami gembira karena kami tahu bahwa kami tak sendirian. Karena kami yakin solidaritas ini adalah kekuatan dalam berjuang.

Minggu ketiga November. Hari ini dia mengajakku bertemu dengan banyak orang. Mereka datang dari berbagai negara untuk masuk ke dalam Konferensi sebagai observer. Hari ini Konferensi Dunia itu hampir selesai. Mereka bilang pemimpin-pemimpin negara akan memberikan pernyataan. Ah, betapa banyak istilah rumit yang mereka sampaikan. Meski aku berusaha setengah mati, nyatanya tak banyak yang bisa kumengerti

Aku sampai ke kamar, ketika malam sudah datang. Kunyalakan ponselku yang baterainya sudah habis berjam-jam lalu. Ketika sebuah sms kuterima. Dari Bibiku:

“Nak, pulang Nak. Bapak Ibumu mati. Ditembak tentara yang mau ambil tanahmu untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Di televisi, kulihat seorang menteri dari sebuah negeri.

“Kami siap untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi. Kami siap meningkatkan produksi kelapa sawit, sebagai bio energi.”

Dan orang-orang di dalam ruangan itu bertepuk tangan.