Pilihan

Ketika kata kunci ‘Ciri ciri Depresi’ di google membawaku pada sebuah artikel[1]:

 

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM-V), diagnosis depresi dapat diberikan (hanya melalui pemeriksaan oleh profesional, seperti psikolog/ psikiater!) jika terjadi kemunculan atas setidaknya 5 gejala dari set gejala berikut selama dua minggu berturut-turut:

 

– Merasa tertekan (sedih, kosong)

– Kehilangan minat beraktivitas

– Nafsu makan/ berat badan terganggu

– Masalah tidur

– Gangguan psikomotorik

– Merasa lelah atau tidak berenergi

– Merasa tidak berharga/ bersalah

– Sulit berpikir/ konsentrasi/ mengambil keputusan

– Berpikir tentang kematian atau mencoba bunuh diri.

Setidaknya enam dari sembilan, kini begitu sering menghampiri

 

Bagaimana melihat batas antara depresi dengan kelelahan sesaat? Ketika saya memang tidak menangis selama 2 minggu berturut-turut, namun perasaan gagal kerap datang dan pergi selama 2 minggu, 3 hari, apa artinya? Depresi? Atau cemas sesaat saja? Atau ketika sesekali pikiran tentang mati terlintas, namun semua aktivitas tidak pernah terlewat. Atau ketika mata berkedut terus menerus, namun nafsu makan justru meningkat. Atau ketika bersikap biasa sepanjang hari, rapat, mengetik, berdiskusi, sambil setengah mati menahan air mata yang hampir menyeruak ke luar.

 

Apakah saya depresi, atau lelah sesat? Atau mungkin juga saya tengah menyerah. Bahwa lemah adalah keniscayaan. Bahwa menjadi kuat bukan kewajiban. Bawa menerima kekalahan adalah pilihan.

[1] Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Apakah Saya Depresi? Kenali Tanda-tandanya”, https://sains.kompas.com/read/2015/02/05/100320523/apakah-saya-depresi-kenali-tanda-tandanya. Penulis : Retha Arjadi, M.Psi