Laki-laki Feminis?

Laki-laki Feminis?

 

Pertanyaan ini makin sering menggelitik seiring dengan berbagai kegiatan dan program (yang katanya) untuk perempuan, tetapi menyasar laki-laki sebagai ‘pelaku’ utama atas nama keterlibatan. Saya sendiri belajar feminis, betul-betul melalui proses panjang, dari pemahaman sekedarnya, mencoba memfasilitasi berbagai ruang penguatan pemahaman dan kesadaran feminis, dan masih terus berproses hingga sekarang. Dalam proses tersebut, pemikiran saya pun menggeliat dengan begitu dinamis. Hasil bacaan, yang mayoritas bukan saya dapatkan dari buku, melainkan buah dari proses refleksi mendalam terkait pengalaman saya sendiri, maupun pengalaman perempuan lainnya.

 

Refleksi Pengalaman Perempuan kemudian menjadi kunci. Kenapa? Karena feminisme itu sendiri merupakan ideologi yang berbasis pengalaman perempuan. Karena pengalaman itu sendiri, tidak bisa disamakan, digeneralkan, ataupun diklaim juga bisa dirasakan orang lain. Pengalaman sangat menyangkut rasa, personal, sehingga bekas yang digoreskan pun menjadi begitu personal, dan lekat, tanpa bisa ditukar semata-mata hanya melalui cerita lisan, atau deretan kata di buku bacaan. Pengalaman perempuan yang mengalami ketertindasan karena berbagai struktur kuasalah yang akan mampu menghadirkan kesadaran feminis. Kesadaran feminis yang kemudian menggerakkan kita untuk berjuang melawan berbagai ketertindasan tersebut.

 

Lalu, siapa yang mengalami pengalaman perempuan, sehingga bisa merefleksikan ketertindasan perempuan?

 

Ya, Perempuan.

 

Jadi siapa yang paling tahu strategi apa yang harus dilakukan, agenda apa yang menjadi target, dan bagaimana memimpin gerakan?

 

Ya, Perempuan

 

Bahwa salah satu tujuan feminis adalah betul untuk perubahan nilai, dengan menghapuskan budaya patriarki. Bahwa perubahan nilai perlu dilakukan dan didukung oleh semua orang tidak terkecuali laki-laki di dalam setiap ranah, dan aspek kehidupan. Maka keterlibatan laki-laki, serta idelogisasi feminis untuk laki-laki adalah benar dibutuhkan. Bahwa para our supporting brother selalu bisa bergerak bersama dan mendukung di belakang kita.

 

Namun demikian, mengubah budaya patriarki sendiri berarti merombak struktur kuasa. Tidak akan cukup hanya bicara pola relasi, ataupun ketimpangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki. Pada struktur kuasa yang berlapis-lapis tersebut, perempuan dengan berbagai keragaman identitasnya telah menjadi yang disubordinasi di dalam setiap lapisannya.

 

Ruang perempuan telah sedemikian sempit, bukan hanya terkait ruang aman untuk tidak mengalami kekerasan, tetapi juga ruang untuk bergerak, bersuara, ber-ide dan menuangkan gagasannya, merancang, merumuskan, apalagi memimpin. Sedemikian sempit dalam berbagai sektor dan aspek kehidupan. Dari mulai menentukan apakah dia ingin sekolah atau menikah, ingin punya anak atau tidak, menentukan tanaman yang ingin ditanam, dengan benih yang mana, menentukan akan menjual tanah yang selama ini digarap, atau mempertahankannya, menentukan hendak dibuat apa uang hasil berkerjanya, apalagi bicara menentukan arah pembangunan, kebijakan publik dan pemerintahan.

 

Di tengah ruang perempuan yang telah sedemikian sempit di atas, kemudian muncul He for She, atau program lainnya yang bertajuk Man for Woman. For adalah untuk. Dia (laki-laki) untuk dia (perempuan), Laki-laki untuk perempuan. Seolah-olah hanya kelelakianlah yang bisa berbuat sesuatu untuk perempuan, maka persoalan perempuan akan bisa selesai. Lagi-lagi, laki-laki menjadi subjek, yang (dianggap) mampu/bisa melakukan sesuatu untuk perempuan. Cara pandang yang demikian mereplikasi objektifikasi perempuan yang dilanggengkan oleh patriarki. Dengan mengatasnamakan program perempuan, semata-mata hanya menargetkan perempuan sebagai objek, bukan subjek utama yang bergerak apalagi memimpin gerakan.

 

Tidak hanya itu, jengah rasanya melihat atau mendengar berbagai kegiatan yang berbicara tentang perempuan, tetapi justru di-narasumber-i oleh mayoritas (bahkan seluruhnya) laki-laki. Berapa kali saya dengar orasi dan pidato laki-laki membicarakan tentang perempuan, masalah perempuan, dan bagaimana gerakan perempuan harus dijalankan.

 

Mari kembali bicara soal struktur kuasa. Maka ‘hadirnya’ laki-laki sebagai yang terus bicara dan harus didengar, sebagai yang memimpin dan menggurui tentang perempuan dan gerakan perempuan. Ini adalah contoh nyata bagaimana struktur kuasa bekerja. Mendominasi, merebut, membungkam, mempersempit ruang perempuan. Dan yang menyakitkan, mereka hadir dengan mendompleng gerakan perempuan. Atas nama keterlibatan, atas nama kesetaraan, atas nama sebagai laki-laki feminis, mereka tengah menjalankan struktur kuasa, persis yang diciptakan oleh budaya patriarki.

 

 

Catatan: Tulisan ini dibuat berdasarkan refleksi dan kegelisahan terkait gerakan feminis, yang diperkaya melalui diskusi dengan beberapa kawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s