Bukan Miliknya Lagi

Seorang gadis tumbuh dewasa lebih matang dari yang semua orang perkirakan. Ibunya berpikir gadis manjanya tak mungkin jadi semandiri sekarang. Kawan-kawannya berpikir dia akan terus menjadi bocah yang tak pernah serius menghadapi hidup. Bahkan dirinya sendiri tak pernah menginkan loncatan tinggi atau ambisi tentang posisi.

Sekali dia berkata dengan jelas. Aku hanya orang biasa, yang ingin jadi biasa, menjalani hidup biasa dan sederhana

Sejelas hijaunya daun di pagi hari, sejelas itu pula dia menetapkan diri sebagai manusia tanpa ambisi. tak pernah ia pasang mimpi terlalu tinggi, hanya menetapkan target yang hampir pasti dapat dia raih. Setidaknya begitulah hidupnya berjalan hingga pertengahan usia 20-an.

Tapi bukan hidup namanya jika ia tidak mempermainkan. Ketika ekspektasi datang satu per satu tiada henti. hingga dia merasa hidupnya bukan miliknya lagi.

Iklan