Hilang

Marah, Sakit, Kecewa,

Rasanya menjadi berlipat-lipat ganda ketika tidak terungkapkan

Menahan api yang tidak mungkin padam

Menahan lelehan luka yang perihnya tak mungkin hilang

Menahan berjuta pertanyaan mengapa, tanpa pernah memiliki jawaban masuk akal.

 

Ah, rasanya begitu ingin menenggelamkan kepala dalam-dalam

berharap bisa meredakan sakit yang telah bersarang

syukur-syukur tak perlu muncul lagi

agar Hilang segala rasa yang menyakiti

Iklan

Berisik

Cinta

Semua orang selalu berisik tentang cinta. Tentang yang membuat bahagia, namun tak jarang menghadirkan air mata. Perasaan yang katanya luar biasa, tak bisa diungkapkan kata-kata. Hanya bisa dirasa, dinikmati, atau mungkin disesali. Apapun rasanya, dia tetap dipuja. Dibicarakan, diperebutkan, diperdebatkan. Romansanya diperbincangkan di mimbar akademik, hingga lokalisasi pinggir statsiun tengah malam. dipertahankan mati-matian dijungjung tinggi seolah hal paling penting di dunia. Dewa dari segala dewa, Tuhan dari segala Tuhan.

 

Aku bosan

 

Nyatanya romansa tak datang pada setiap orang. Dan itu bukan sama sekali petaka. Cinta hanyalah tentang sebuah mindset. Sebuah kata yang meligitimasi perasaan menye-menye hingga hasrat sex yang menggebu. Komoditas yang laku setiap 14 Februari, atau sekedar perayaan malam minggu. Dibentuk iklan-iklan di tabloid hingga surat kabar. Film-film picisan, atau lagu-lagu mendayu. Membentuk khayalan, membangun keyakinan, yang sesungguhnya kita buat sendiri.

Berisik

Konsekuensi

Kadang kita tidak sadar pada jiwa yang tak berkembang meski usia terus bertambah.

Pada tanggung jawab yang membesar tanpa kita tahu ukuran kesanggupan yang kita miliki.

Tapi segala pilihan diambil bersamaan dengan konsekuensi.

Sementara waktu takkan pernah berputar mundur.

Maka menghadapi konsekuensi adalah satu-satunya pilihan yang bisa dijalani