Perempuan Pertama

“Telepon dari siapa? Serius sekali sepertinya.”

“Dia, Hmm, aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Dia laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi kami tidak pernah memiliki komitmen. Tiba-tiba saja meneleponku. Bertanya apakah aku mau menikah dengannya.”

Gadis ini. Entah apa yang dia lakukan padaku. Ini baru kedua kalinya kami bertemu. Tapi benakku tak pernah kehilangan wajahnya. Dia masih sangat muda dengan semangat yang begitu menyala. Kadang terlihat malu-malu, tapi ketegasan di matanya tak pernah bisa bersembunyi.

 

“Wow, isn’t it good? Bagaimana perasaanmu padanya?”

“Aku menyayanginya. Kami berteman baik belasan tahun.”

“Lalu? Apakah hanya sayang sebatas teman?”

“Tidak juga. Lebih. Perasaan seperti ini tidak pernah ada untuk yang lainnya.”

 

Nafasku menjadi tertahan. Seperti ada yang sesak di dada.

 

“Lalu apa yang membuatmu ragu?”

“Entahlah. Orang bilang menikah adalah untuk selamanya. Memangnya ada perasaan yang untuk selamanya?”

Aku seperti melihat diriku yang dulu. Takut akan komitmen. Awalnya tak menjadi masalah karena pernikahan sesama jenis tak bisa dilakukan di negara ini. Tapi begitu bisa dilakukan, aku menikah dengan perempuan yang telah menjadi pacarku selama 6 tahun. Perempuan yang namanya terukir di cincin kawin yang selalu kukenakan.

“Apakah itu mudah? Memutuskan untuk menikah, dan berkomitmen panjang padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan?”

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Ketiba-tibaannya menyambar pintu kejujuranku, membuka segala kata yang ingin meluncur sejak kami pertama bertemu.

“Menikah memang soal merawat komitmen. Sementara perasaan akan datang dan pergi tanpa kita punya kendali. Kadang kita menemukan cinta yang lain. Seperti saat ini aku jatuh cinta padamu.”

“Maksudmu?”

“Isn’t it obvious?”

“Is it?”

“I am Madly in love with you.”

Dia hanya tersenyum. Tak menjawab perasaanku. Tapi juga tak menjauh dariku.

Cinta dan pernikahan tak selalu berjalan segaris. Aku bisa saja jatuh cinta pada gadis yang belum kukenal lama ini. Tapi ada nama yang terukir pada cincin di jemariku. Pada nama itu aku mengikatkan komitmen. Pada nama itu akan pulang.

Aku hanya bisa tersenyum. Tak bisa menjawab karena tak akan pernah ada jawaban yang tepat. Dia sudah menikah. Cincinnya sudah bicara sejak awal kami bertemu. Meski pengakuannya beberapa hari yang lalulah yang membuat pupus harapanku.

Ini malam terakhir kami bertemu. Besok aku akan kembali ke kotaku, dia pun akan kembali ke negaranya dalam beberapa hari ke depan. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain saling menatap lekat, saling melemparkan senyum. Aku kehilangan kata-kata. Dia pun seperti tak berhasrat tuk bicara.

Jika malam ini lewat, maka berakhir sudah waktuku bersamanya. Aku tak ingin memeluknya apalagi mencumbunya. Aku hanya ingin menikmati wajahnya, menghafal relung-relung senyumnya. Aku hanya ingin menatapnya lekat-lekat dan lama-lama. Merekam tatapan matanya yang begitu manis. Membiarkannya merasuk dan menghangatkan hingga ke dalam lubuk hatiku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s