Kota Sejuta Sudut

Kota ini bisa begitu kejam pada penghuninya. Ramai sendiri tak pernah berhenti, tanpa peduli bahwa ada orang-orang kesepian yang tersesat di dalam keramaiannya. Tidak, aku bukan salah satunya. Aku sendirian, tapi bukan berarti kesepian apalagi tersesat.

 

Bagikut Jakarta justru bisa menjadi pelarian sempurna. Sudut-sudutnya kerap mengelabui dan mengaburkan jarak dan waktu. Kamu bisa berada dekat tapi seolah-olah jauh. Mengaku telah menempuh jarak waktu yang panjang dengan alasan kemacetan, padahal baru terbangun dari lelap yang membuai.

 

Berada di tempat yang begitu dikenal tetapi tak ada satu pun yang tahu. Padahal sekali mengeluarkan pengumuman kawan bisa jadi datang satu per satu. Itulah Jakarta yang istimewa. Terlalu banyak tempat, terlalu banyak pilihan. Kadang kita bisa bersembunyi dari satu sama lain tanpa harus berlari jauh. Namun kadang dengan randomnya bisa bertemu di satu tempat yang tak direncanakan sama sekali.

 

Tempat ini dengan pemandangan jalanannya telah menjadi teman sehari-hari. Kutelusuri lika likunya beribu kali. Entah berapa cerita juga telah tertumpah. Sedih, amarah, kecewa, tak luput tawa riang meski jarang sekali keluar dari hati.

 

Dia dengan setianya menerima segala luapan perasaan. Tetap menyediakan malam yang tak pernah terlalu gelap. Hingga kaki ini tak pernah ragu melangkah meski tengah malam telah lewat. Suara deru kendaraan dengan warna warni mobil yang lalu lalang, menjadi sebuah lukisan kehidupan yang selalu kunikmati sejenak. Di sela-sela seruputan kopi pahit tanpa gula, dan istirahatnya jari jemari yang mengetik dengan lincahnya.

 

Jakarta di malam hari dengan aktivitas ramainya

Seringkali menahan tetesan air mata dengan suksesnya. Menyingkirkan lelah meski untuk sementara. Menguatkan hati setidaknya agar bertahan sehari lagi saja.

 

Meski di saat-saat tertentu lelah itu seringkali tak bisa ditangkal. Ungkapan lelah hidup pun terucap tak beraturan. Seandainya hidup bisa diakhiri sesederhana istirahat di siang hari. Tapi kita masih punya tanggung jawab, masih ingin mengejar impian, masih memikirkan orang-orang yang disayang.

 

Ah, tapi apa urusannya dengan itu semua. Bilang saja masih takut mati. Takut akan apa yang dirasakan pada saat kematian, atau apa yang akan terjadi setelah kematian. Toh dunia akan berputar sebagaimana mestinya. Kalaupun ada yang kehilangan waktu akan mengobati dan mereka akan bertahan.

 

Jakarta, 24 September 2017

Iklan

Kita yang Takkan Lagi Ada

Tentang cinta yang menggunakan logika. Tentang pilihan yang tak melulu karena cinta

 

Aku dan dia telah kenal cukup lama. Lebih dari 12 tahun setidaknya. Saling bercerita, berusaha saling mengerti, dan mendukung satu sama lain.

 

Masih ingat di tahun pertama kami saling mengenal, kami duduk bersisian sepanjang malam. Bercerita panjang lebar tentang diri, impian, dan rencana-rencana hidup ke depan. Aku lebih banyak bicara ketika itu, dia lebih banyak diam. Mendengarkan dengan seksama, tersenyum sembari sesekali melemparkan komentar.

 

“Aku masuk kampus ini karena sering melihat mahasiswa-mahasiswinya demo di tivi-tivi. Terlihat gagah dengan jaket berwarna terang mereka,” ucapku bersemangat. Sejak dulu aku ingin sekali jadi aktivis. Orang tuaku dulu ikut turun ke jala di tahun 50-an. Kakakku pun sering cerita kisah tentang reformasi. Dia ikut rapat-rapat menjelang aksi, juga aktif mengumpulkan bantuan dana, dan membelanjakannya untuk kebutuhan konsumsi ataupun logistik mahasiswa yang tengah aksi.

 

Aku selalu bercerita betapa aku ingin terlibat di organisasi pergerakan mahasiswa. Aku selalu membayangkan diriku berdiri di atas Mobil Komando yang tinggi. Berorasi dengan lantang dan disambut sorakan ribuan massa yang mendengarkan dengan bersemangat.

 

Dia? Dia jelas pelajar sejati. Darinyalah kudapatkan catatan-catatan penting berbagai mata kuliah. Kalau dia tidak ingatkan, tugas-tugas kuliah pasti lupa kukerjakan. Dia mengajariku banyak hal, meski yang kuperhatikan hanya sebagian.

 

Suatu hari dia mengajakku ekskursi. Jalan-jalan berdua, tapi tak mengunjungi tempat wisata. Dia malah mengajakku ke kantor-kantor pemerintahan. Menceritakan bagaimana orang-orang di dalamnya sesungguhnya adalah pejuang. Mereka abdi negara yang mati-matian berusaha mengubah sistem dari dalam. Dia bertanya, ketika aku berteriak-teriak dari luar, mengkritik pemerintah, sampai di manakah suaraku dapat terdengar. Sementara aku punya peluang untuk berbuat sesuatu. menjadi abdi negara, mengubah sistem dari dalam. Sebelum pulang, dia bekali aku sejumlah buku. Buku tentang tokoh-tokoh bangsa. Orang-orang terkenal yang memimpin negara ini. Beberapa presiden, beberapa Perdana Menteri, beberapa gubernur, beberapa menteri.

 

Sampai di rumah aku berpikir sangat panjang. Buku-buku itu pun kubaca, dan kukunyah pelan-pelan. Nama-nama tokoh itu mulai merasuk benakku begitu dalam. Meninggalkan keinginan untuk menjadi mereka, atau setidaknya mengikuti jejak mereka. Aku harus jadi menteri pendidikan. Aku bisa jadi gubernur. Atau bahkan presiden?

 

Sejak hari itu, kutanggalkan jaket almamaterku. Bersamanya kubaca buku-buku kuliah beserta berbagai referensi dari majalah hinga website-website di internet. Tujuanku cuma satu. Belajar, mendapat nilai baik, lulus tes PNS, dan menjalani karier sebaik-baiknya, hingga waktunya aku jadi pemimpin dan mengubah Negara ini.

 

Kita pun lulus dengan nilai cukup baik. Tidak sampai cum laude memang, tapi melebihi rata-rata. PNS di Kementerian Pendidikan Nasional pun aku tembus. Sementara dia, memilih untuk langsung melanjutkan sekolah di negeri Ratu Elizabeth.

 

3 tahun yang lalu, giliranku melanjutkan kuliah. Satu tahun saja. Sepulangnya aku dari sana begitu merindunya. Rasanya ingin segera mendiskusikan berbagai teori dan kajian yang kudapatkan dari kampus. Ilmu yang buatku semakin mantap untuk terus berkiprah di pemerintahan, atau mungkin menjadi politisi sekalian.

 

Kami bertemu. Ada yang berbeda dengan dirinya kala itu. matanya begitu gelisah. Rambutnya kali ini gondrong tak beraturan. Pakaiannya seperti tak terseterika. Aku tanya apakah dia baik-baik saja. Dia bilang tidak apa-apa. Hari itu aku sekaligus menyampaikan kepadanya. Aku ditawari naik jabatan. Masalahnya kalau aku terima, aku akan lebih sering pergi ke luar kota. Waktuku akan menjadi sangat terbatas, dan akan semakin sulit bertemu dengannya.

 

“Bagaimana dengan kita?

 

Tanyaku padanya. Tapi dia meyakinkanku bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan selalu ada kita. Kita akan tetap bersama. Aku harus terus maju dan meniti karierku hingga ke puncak. Aku pun akhirnya mengiyakan. Mengejar impianku meski tak lagi memiliki banyak waktu. Kami semakin sedikit bertemu. Semakin jauh, semakin berjarak.

 

Hingga satu saat seorang Kawan mengabarkan sempat bertemu dengannya di Jawa Tengah. Kawanku bilang dia sangat aktif di rapat-rapat masyarakat yang menentang pendirian pabrik semen di sana. Kawanku bilang, dia ikut mendirikan tenda bersama mereka, berdemo di hadapan kantor Gubernur. Aku tertawa. Jelas tak percaya. Dia berdemo? Jelas sekali itu bukan dia. Kawanku pasti salah melihat atau mengira.

 

Nyatanya

Fakta itu kutemukan berkali-kali. Informasi kuterima dari banyak orang, bahkan kusaksikan sendiri melalui televisi. Itu dia. Meski brewoknya menutupi sebagian wajah, tak menghilangkan tatapan mata yang selalu kukenal. Meski suaranya menjadi lantang karena TOA, jelas itu suara yang sama yang mengajariku tentang menjadi anak bangsa bermanfaat. Tentang berjuang membenahi sistem. Tentang menjadi pemimpin yang menggerakkan banyak orang, dan punya kuasa untuk menentukan masa depan.

 

Kini

Siapakah dia kini

Adakah ku saja yang tak kumengerti

 

Dia pergi

Dia menjaraki

Dan ‘kita’ tak akan ada lagi