Menemukan Hidup

Hidup dengan pengetahuan dan melihat langsung realita sosial seringkali memang membuat frustasi. Rasanya seperti waktu tidur yang hanya 3-6 jam setiap hari, berjibaku dengan berbagai dokumen, hingga debu-debu jalanan, berpikir keras untuk tak sekedar mengkritik tapi memberikan konsep-konsep hingga pasal demi pasal draft UU tandingan itu tidak mampu mendorong roda ini untuk bergerak.

bukan tidak ada gerakan memang. kemenangan-kemenangan kecil, soal gugatan yang dikabulkan, gagalnya Raperda yang akan melegitimasi lebih banyak perampasan lahan, terjadi satu dua, mungkin belasan kali. tapi kemudian apa yang kita hadapi tetap lebih besar dan seperti tidak bisa dilawan. sistem ekonomi, hukum, apalagi politik sudah jelas keberpihakan. dilanggengkan pula dengan sistem sosial, serta apa yang dipercaya sebagai agama.

Satu kali menang ketika MK mencabut aturan yang mengkriminalisasi benih, dan melanggengkan privatisasi Sumber Daya Air. Langkah berikutnya Indonesia kegenitan untuk ikut serta dalam RCEP, dan TPP, mekanisme perdagangan bebas yang menjadikan kebijakan proteksi menjadi ilusi.

Sementara gerakan makin abu-abu, terkubu-kubu cuma gara-gara eleksi yang kepentingannya pun tak kan menguntungkan rakyat banyak. mereka yang mengklaim bicara HAM dan kemanusian, hingga hak perempuan menjadi setuju bahwa HAM itu sendiri terbagi-bagi. di satu sisi menentang fundamentalisme yang mengancam demokrasi, keberagaman dan hak sipil politik, tetapi menutup mata akan pelanggaran HAM secara masif yang terjadi akibat penggusuran dan proyek reklamasi. sementara di sisi lainnya berteriak atas nama rakyat yang digusur, tetapi lupa bahwa teriakan itu bisa ada karena kebebasan bicara. kebebasan berpendapat yang bisa jadi hilang bila sekelompok orang yang merasa mayoritas dan merasa paling benar memberangus keberagaman, demokrasi, dan toleransi.

Rasanya semakin ingin berhenti. ketika sebuah keyakinan yang sekian lama dipertahankan menjadi tercabik-cabik oleh realita yang menenggelamkan.

tapi kemudian bersentuhan langsung dengan mereka memberikan harapan untuk hidup. Hidup yang seharusnya tak sekedar makan, minum, mencari uang, membeli pakaian dan segala barang yang tak diperlukan tapi diinginkan semata-mata karena iklan di televisi.

hidup ada pada suara mereka yang mulai berani menceritakan berbagai persoalan ketidakadilan yang dialami setelah sebelumnya selalu diam

hidup ada pada air mata mereka yang meskipun menangis, tetapi siap melanjutan hidup, menapaki masa depan, keluar dari siklus kekerasan yang bernama poligami

hidup ada pada lantunan teriakkan mereka ketika menyerukan tuntutan pada debu-debu jalanan dan teriknya matarhari

hidup ada pada komitmen mereka yang berkata, “saya bicara karena tidak ingin saudara-saudara saya, perempuan buruh migran yang lain mengalami apa yang saya alami.”

hidup ada pada nyala mata mereka yang bersemangat ketika berdiskusi tentang bagaimana merebut lagi tanah yang dirampas perkebunan tebu.

Maka jika kerumitan ibu kota mematikan segala hasrat untuk hidup, maka aku menemukan hidup yang kuat dan menguatkan, hidup dan menghidupi. panjang umur perjuangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s