Sejenak Menepi

Kalaulah pengetahuan itu dirasa kekayaan, seharusnya dia menjadi penawar dahaga, atau setidaknya  mengatasi sejenak penat yang menjegal begitu hebat.

Nyatanya, semakin tahu semakin aku merasa tak bisa bergerak. terjebak dalam ketidakberdayaan dalam lingkaran kehidupan yang membuat frustrasi.

penggusuran, kekerasan, kebencian.

Tiga kata itu rasanya memonopoli segala pengetahuan yang kupunya. sedikit betambah ilmu di satu hari, segudang tantangan dan ancaman kemudian menanti. entah sampai kapan kita bisa mengejar deraan persoalan yang meembelenggu kehidupan.

tidakkah kita berduka dengan direnggutnya nyawa seorang malaikat kecil, merasa perih dengan tangisan mereka yang tergusur, kesal ketika laut ditimbun, tersakiti ketika mereka dipukul, disetrika, dipenjara, diancam hukuman pancung, marah atas perampasan pembunuhan kriminalisasi yang terjadi.

berada di pusaran pengetahuan tentang negeri yang terjajah, tentang dunia yang tak pernah adil, tentang hidup yang bukan sekedar makan, minum, bekerja, dan menimbun harta.

selalu ada kala-kala sejenak diri ini merasa begitu papa. bertanya mengapa harus tahu, mengapa harus menyaksikan, mengapa harus memahami, mengapa harus sadar. sementara segala daya dan tenaga tuk melawan, seakan hampir habis tuk dikerahkan.

maka biarkan sejenak aku menepi, mencoba tuk tetap teguh berdiri. sejenak saja, hingga ku sanggup berjalan lagi, hingga ku kembali berlari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s