Menangis di Tengah Ritme ‘Riang’

Pijar Api Nyanyi Sunyi Bukit Duri.

 

Bukti Duri menjadi begitu sunyi dengan sisa-sia puing reruntuhan di sepanjang kali. Namun tidak sunyi dari semangat perlawanan, meski yang terdengar adalah sisa-sisa senandung dari energi yang terus digerus. Rumah rata dengan tanah, intimidasi dan hinaan, bahkan tenda medis pun dihancurkan.

 

Hadir di sana tentu harus siap menghadapi getir sakit hati. Bagaimana tidak, dari jauh pun tangisan sudah menyesak mengalir terus menerus. Membayangkan perempuan-perempuan yang menatap nanar bangunan tempat berlindungnya dihancurkan. Memikirkan bagaimana anak-anak dapat hidup layak, bagaimana dapat mempertahankan senyum ceria mereka sementara teriakkan, kekerasan menjadi kenangan di kepala.

 

Malam tadi

Satu dua lagu Marjinal kunikmati meski liriknya memang mengiris hati. Hingga sampai ke Darah Juang, aku terhenyak. Lagu yang sudah sangat sering kunyanyikan menjadi begitu menusuk segala perasaan.

 

Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar

 

Maka air mata yang setengah mati kutahan tak bisa terbendung lagi. Mengalir meski tanpa isak, tapi sulit sekali tuk kuhentikan.

 

Lalu Marjinal mengubah ritme nya menjadi lebih cepat, terkesan riang, orang-orang menyanyikannya seraya melompat.

 

Mereka yang ada di hadapanku, warga bukit duri, aktivis, seniman, film maker, perempuan dan laki-laki yang tengah berjuang dengan semangat bukan hanya memperjuangkan apa yang terjadi hari ini di Bukit Duri. Ini bukan ceremonial belaka. Aku kenal betul sebagian besar dari mereka.

 

Sesungguhnya mereka juga tidak berjuang untuk diri sendiri. Jika pun kita percaya dunia yang lain, dunia yang adil bisa terwujud mungkin itu baru terjadi 20, 50, seabad atau bahkan berabad-abad lagi. Mereka berjuang untuk sesuatu yang mungkin tak dapat disaksikan sampai mereka mati.

 

Maka aku bicara di dalam hati. Masih perlukah kita bertanya apa yang sedang dilakukan, untuk apa kita berjuang, apa yang kita dapat dari semua yang diperjuangkan?

Perjuangan tidak memerlukan sejuta alasan. Puing-puing yang berantakan, nyanyian sunyi, dan semangat yang dijaga setengah mati. Mampukah kita menerima hidup harus berjalan seperti ini? Tidakkah itu cukup untuk menggerakkan? Untuk kita kemudian melawan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s