Luka

Saya lahir di akhir tahun 1987. Sudah jauh dari angka 65. Sungai-sungai tak lagi berdarah. Kuburan massal telah tertutup ilalang.

 

Tapi Luka

Tersisa tanpa mampu diobati.

Kurasakan saat tetes air matanya bercerita. Atau ketika wajah tuanya gemetaran hanya karena mendengar suara truk. Teringat truk yang membawa Kakak laki-laki, satu-satunya perlindungan bagi dia saat itu. Setelah Ayahnya dikejar di setiap semak dan tikungan, dan Ibunya ditahan di balik jeruji.

 

Luka

Masih bisa kurasakan ketika dia bercerita. Tentang kebencian yang ditebarkan, menjauhkan saudara dan teman-teman. Menyudutkannya dalam tuduhan berkepanjangan. Harus dia tanggung meski di usia belianya tak ada politik yang ia mengerti. Terpisah dari orang-orang tercinta hanya untuk mencari selamat. Kehilangan dan menghilang dari orang-orang kesayangan. Menahun tak berkabar. Saling menduga telah tertelan kematian.

 

Luka

Ketika harapan demi harapan tepupuskan. Di masa senjanya masih berkeliling menjari kuburan. Desa ke desa mencari informasi. Bertanya-tanya masih bisakah bertemu sang Ayah, meski jika sudah berupa tanah dan batu nisan.

 

Luka yang terasa nyata meski 51 tahun telah lewat. Tak ada obat. Takkan pernah ada. Takkan pernah bisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s