Home

Packing, Bongkar, Cuci, Packing lagi

Belakangan rasanya berputar-putar saja dari aktivitas di atas. Tiap kali packing mau pulang, ingin rasanya teriak, ‘Yeiy, I’m coming home.’ Tapi dalam hati malah bertanya-tanya, mana yang sebenarnya saya sebut ‘home?’ Toh selang tak berapa lama harus menyusun pakaian di dalam tas, dan kemudian pergi lagi.

Apa yang saya sebut dengan rumah?

Apakah rumah masa kecil di mana orang tua saya berada, di mana terdapat limpahan kasih sayang tak terhingga, tapi sekaligus tempat di mana saya sering merasa tersingkir. Karena beberda.

Atau tempat saya istirahat hampir setiap malam ketika saya berada di Jakarta? Sebuah rumah petak sederhana, kecil dan juga bukan milik saya. Hanya setiap bulan saya bayar uang sewa.

Atau bangunan ini? Bentuknya rumah, besar dengan banyak kamar. Semua terisi dengan meja kerja, kursi, sofa, pendingin udara, dan beberapa Kasur busa. Tempat saya juga seringkali bermalam ketika berada di Jakarta. Tempat saya langsung ‘pulang’ meluncur dari bandara setiap menghabiskan perjalanan di udara.

Apa yang harus saya sebut rumah?

Sementara tempat saya paling bisa tidur nyenyak adalah kursi pesawat.

Mungkin jiwa saya telah tercecer dalam setiap perjalanan yang saya tempuh. Tertinggal sedikit demi sedikit hingga yang tersisa semakin sempit. Sesak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s