2 + 2 Bukan 4

Ada banyak hal yang tidak bisa mengikuti hitungan ilmu pasti. Ketika 2 + 2 bisa jadi hasilnya bukan 4. Begitupun hitungan-hitungan lainnya.

 

Mari kita bicara soal kemiskinan di sekitar kita. Apakah mereka miskin karena mereka malas? Malas bekerja, atau malas ketika sekolah hingga tidak memiliki cukup ilmu untuk meraih jenjang kehidupan yang lebih baik?

 

Nyatanya, siapa yang kita sebut miskin ini seakan-akan mendapatkan warisan kemiskinan secara turun menurun. Apakah mereka juga menurunkan kemalasan secara turun menurun?

 

Nyatanya, siapa yang kita sebut miskin seringkali bangun lebih pagi dari si kaya. Entah menggarap sawah yang tidak mereka miliki sendiri, mengais-ngais tempat sampah, menawarkkan jasa membawakan barang belanjaan di pasar, atau mulai mengolah ikan dan hasil tangkapan laut lainnya.

 

Mereka bekerja, berkeringat demi uang yang tak seberapa. Tidak kalah rajin dan bekerja keras dengan Anda yang sehari-hari bermain dengan deretan huruf ataupun angka. Menghitung laba dan posisi saham, atau meninjau tempat untuk investasi berikutnya.

 

Lalu kenapa mereka terus menerus miskin, seakan-akan kemiskinan itu mengakar begitu kuat di dalam setiap tulang, dan mengalir di dalam darah yang kemudian akan ikut menurun ke keturunan-keturunan mereka?

 

Harusnya kita tidak heran.

Ketika yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin miskin.

Ketika yang kaya juga terus punya akses untuk segala hal. Pendidikan yang berkualitas, kesehatan dengan fasilitas nomor satu, gizi, akses informasi dan pengetahuan tanpa batas. Semua yang si miskin tak pernah miliki.

 

Tak hanya sampai di situ. Akses yang luas juga memberikan jalan cengkraman mereka untuk mengatur sebuah negara. Lihat saja berapa banyak kebijakan yang bertujuan untuk menenggelamkan Indonesia di dalam banjirnya investasi. Dari mulai paket kebijakan ekonomi, hingga dihapuskannya berbagai kebijakan daerah maupun nasional demi mempermudah investasi. Bahkan izin Analisis Dampak Lingkungan yang menjadi benteng pertahanan bumi ini pun kian dipermudah.

 

Lalu, berapa banyak kebijakan yang berpihak untuk si miskin? Subsidi pendidikan yang tidak seberapa dan masih banyak menemui pelanggaran? Skema jaminan sosial lewat BPJS yang sangat jauh dari konsep negara kesejahteraan? Bantuan modal atau program atas nama pemberdayaan masyarakat lainnya?

 

Sementara program-program itu dijalankan, si miskin tetap tergusur akibat berdirinya pabrik baru, ekspansi perkebunan skala besar, dan eksploitasi pertambangan. Atau mungkin proyek reklamasi yang tidak hanya merampas tempat tinggal dan wilayah kelola rakyat, tetapi juga merusak ekosistem dan lingkungan.

 

Merusak sumber kehidupan mereka

Memiskinkan mereka

 

Bukan kemiskinan, tapi pemiskinan.

 

Dan dalam situasi demikian, perempuan selalu mengalami situasi ketidakadilan dan penindasan yang berlapis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s