Sendiri

Kesendirian seringkali membuat orang menjadi khawatir. Seperti Mama yang hari ini bilang, “Mama suka sedih aja kalo lagi buka dan sahur kita satu kota tapi kamu sendirian.”

 

Padahal bagi sebagian orang, sendiri itu justru kondisi yang paling diharapkan dan ditunggu-tunggu. Seperti setelah menyelesaikan serial meeting, bertemu dan bersosialisasi dengan banyak orang yang sungguh menguras energi, waktu pulang ke rumah dan bisa sendirian pasti dinanti-nanti.

 

Bagi sebagian orang, bertemu dengan banyak orang, bersosialisasi, dan bergaul bisa jadi energinya. Menjadi pusat perhatian bisa memicu semangat dan prestasi. Tapi bagi sebagian orang lainnya itu justru menghabiskan energi. Maka sendiri, ditemani buku di dalam ruang tertutup kemudian bisa menjadi semacam charger untuk kembali mengumpulkan energi.

 

Maka untuk jenis orang kedua, ketika ruang-ruang ‘sendiri’ semakin sempit dan terbatasi, rasanya jadi lebih cepat lelah, dan bertambah lelah untuk menghadapi berbagai pertanyaan kenapa.

 

Mungkin begitu sulit untuk dimengerti. Tapi aku pun tak berharap semua bisa mengerti. Hanya berharap bisa dibiarkan sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s