Gundah

Sebotol teh dingin dan wafer coklat. Berharap bisa membantuku untuk menghilangkan kegundahan yang hampir meluap. Bukan karena rasa gundah itu sendiri yang kurasa tak nyaman. Tapi keinginan agar rasa itu tak terbaca di saat dia begitu membuncah.

Masalahnya gundah mengundang berbagai pikiran buruk. Hampir menyerah, seperti itulah kira-kira. Kenapa juga aku lebih peduli untuk menjaga agar rasa itu tak tumpah ke luar. Padahal di dalam dia telah menggerogoti jengkal demi jengkal. Hingga kopong, hingga kosong.

Kutarik nafas dalam lalu kusesap lagi teh dingin itu. Secuil wafer coklat pun melumer di lidahku. Gundahnya tak hilang. Tapi dia bisa tertahan, terjaga, biar tetap menjadi rahasia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s