Nyaman

Hari ini diawali dengan sebuah konversasi soal comfort zone. Soal usia yang hendak meninggalkan muda, dengan berbagai tawaran tentang ‘mapan’ yang menggiurkan. Aku percaya diri. Merasa masih jauh dari kompromi.

Sore menjelang petang, kepercayaan diriku mulai pudar. Seseorang mengingatkanku tentang impian masa lalu. Seorang kawan lama, yang bersama keluarganya merintis sebuah PAUD di Tasikmalaya. PAUD itu didirikan melihat ketiadaan pelayanan serupa. Separuh siswanya tidak bisa membayar biayanya, yang hanya 10.000-15.000 per bulan. Kawanku datang meminta bantuan. Utang keluarganya untuk membangun PAUD berjumlah belasan juta. Uang itu digunakan untuk membeli perlengkapan. Meja, kursi, membangun ruang kelas, dan sebagainya. Jika dia tidak bisa melunasinya, maka ada setidaknya 22 anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar.

Kawanku itu juga bercerita. Kurikulum yang diterapkan adalah kombinasi. Sebagian dia ambil dari standar nasional pendidikan yang termuat di dalam sebuah Perpres. Namun dia tambahkan muatan keadilan gender meski sederhana. Tak lupa juga soal cinta lingkungan.

Cerita soal PAUD itu mendatangkan sebuah ingatan. Kala itu, aku membayangkan sebuah sekolah untuk anak jalanan. Sekolah untuk mereka yang terlanggar hak atas pendidikannya bisa mengecap pendidikan. Pendidikan bukan sekedar matematika, atau sejarah putih yang penuh manipulasi. Bukan pula soal agama atau moralitas yang sering dijadikan legitimasi kekerasan. Aku membayangkan sebuah ruang aman. Tempat mereka berbagi cerita, berbagi pengetahuan dan pengalaman, berbagi ide dan gagasan, hingga merancang kemandirian dan masa depan.

Tahun 2008, mimpi itu kupancangkan begitu tinggi. 2014 menjadi target tahun tuk kupenuhi. Tapi sore ini, mimpi itu terasa layaknya asap rokok yang kuhembuskan. Pekat sesaat, menyesak, lalu menguap tak terlihat.

Pembahasan mengenai comfort zone kembali menyeruak. Apa sebenarnya definisi dari comfort zone? Atau jangan-jangan, posisiku sekarang ada di comfort zone? Apakah proses ‘struggling’ itu sendiri bisa berubah menjadi sebuah kenyamanan? Apakah tantangan dari berbagai pihak, pelabelan, underestimate, protes sana protes sini, justru menjadi sebuah klaim bahwa kita bertahan dari zona nyaman? Padahal jangan-jangan segala caci maki itu sudah menjadi bagian dari kenyamanan yang kita rasakan?

Jadi apa yang dimaksud dengan zona nyaman?

Bebas, mandiri, punya otoritas untuk ngambil keputusan-keputusan terkait hidup, karier, dll, single (ga berkeluarga), punya uang secukupnya buat setiap bulannya bayar kontrakan, hidup sehari-hari, sepotong pakaian, nonton, karokean, dan sesekali ganti warna rambut, punya ruang berekspresi dan aktualisasi diri, secara bertahap menggapai sesuatu yang masih relevan untuk ada dalam jangkauan.

Tidakkah itu nyaman?

Tengah malam, 28 Desember 2015-29 Desember 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s