22 November 2015

28 tahun!

Tapi berasanya si masih 22 tahun. Haha.

Apa yang spesial di ulang tahun, tahun ini? Well, sebenernya biasanya moment ultah buatku bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Tapi kenapa kali ini sampai aku tulis, karena memang ada yang berbeda.

Beberapa tahun belakangan aku selalu merayakan ultah bersama temen-temen. Tahun lalu bareng beberapa temen kantor, tahun lalunya lagi sama temen-temen kuliah. Ngerayain sama keluarga tu kayaknya udah ga kepikiran. Bahkan 2 tahun yang lalu, ketika ponakan-ponakanku udah nyiapin surprise dengan kue dan lilin, mereka malah sampe ketiduran karna aku pulang terlalu malam.

Tapi ya, beberapa bulan belakangan ini memang banyak yang terjadi di keluarga. Bukan hal yang menyenangkan. Satu persatu persoalan muncul, dari yang besar, sampai persoalan kecil sehari-hari. Tapi justru yang kami hadapi itu malah mengikat kami satu sama yang lain. Sebelumnya jarang ngobrol serius, kali ini beberapa kali harus diskusi mendalam sama kakak-kakak soal satu dua tiga hal yang lagi terjadi. Dalam proses itu, aku menanggalkan kebungsuanku, sebisanya mengambil bagian dari tanggung jawab yang bisa kuambil.

Lalu ketika ulang tahunku mulai dekat, aku tidak berada di tanah air. Aku ingat bagaimana wajah mereka satu persatu muncul. Mama, papa, mbak kie, mbak rie, mbak sie, mas puji. Wajah kedelapan ponakanku pun tak ketinggalan. Rasanya aku sangat merindukan mereka. Rasanya aku ingin berada di dekat mereka.

Maka meski sangat lelah lantaran aktivitas yang padat tanpa sempat libur selama dua minggu. Ditambah penerbangan tertunda akibat rombongan APEC yang diprioritaskan. Meski biasanya aku akan memilih tidur panjang untuk memulihkan tenaga. Hari itu, aku bangun sepagi kubisa, kemudian meluncur ke rumah Mama.

Hari itu sangat singkat, tak lebih dari 8 jam aku hadir di tengah mereka. Tapi hari itu hatiku dipenuhi dengan kehangatan dan kasih sayang.

Tak satupun dari delapan malaikatku absen hari itu. Mereka hadir dan bernyanyi bersama. Memelukku, mendekapku, mengecupku.

Lalu ucapan-ucapan dari orang tua dan kakak-kakakku yang kudapatkan hari itu, adalah hadiah paling berharga di ulang tahunku. Telepon Papa, pernyataan kakak-kakaku yang menungguku pulang ke rumah, dukungan dan semangat untuk menjalani hidup, serta doa tulus yang mereka berikan.

Rasanya panjang sekali sampai aku mendapatkan dukungan dari keluargaku. Hingga tahun lalu pun, yang kuhadapi hanya tantangan. Ketidaksetujuan akan jalan yang aku pilih. Penolakan ketika keinginan kuatku di dalam aktivisme yang kulalui sama sekali berbeda dengan ekspektasi mereka.

Tapi tahun ini, segala perhatian dan dukungan yang mereka berikan menjadi sebuah semangat baru. Tidak ada lagi debat soal materi yang harus dikejar, atau soal peran lebih yang mereka harapkan. Yang ada hanya dukungan. Dukungan untuk si bungsu, untuk terus menjalani apa yang telah dipilih. Dukungan itu menjadi kemewahan termahal yang pernah aku dapatkan, pernah aku nikmati.

They deserve my love more than anyone…

*Celebrating with beloved persons: checked!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s