Sederet Angka

“Faktanya tidak begitu, Kenyataannya hanya sedikit yang kehilangan pekerjaan, yaitu beberapa perempuan pengupas kerang.” (seorang pejabat badan lingkungan hidup Daerah Sulawesi Selatan)

Seorang ayah membawa kedua anak perempuannya untuk ikut bersamanya mengelilingi kota Makassar dengan angkutan umum tuanya. Usia kedua anak perempuannya mungkin hanya terpaut 1 tahun. 4 dan 3 sekitar . Salah satunya tertidur pulas. Namun yang satu lagi menangis tak mau berhenti. Mungkin lelah dan mengantuk setelah mengantar rombongan kami ke sejumlah tempat sebelum kembali ke Jakarta.

“Ibunya bekerja di Pabrik, jadi setiap hari mereka ikut Ayahnya,” ungkap salah satu kawanku yang berasal dari Makassar.

Si Ayah berusaha keras menenangkan putrinya. Berulang kali kami meminta agar putri kecilnya kami yang gendong. Untuk kami timang dan kami tenangkan. Namun si ayah tidak mau. Dia tetap memeluk putrinya sambil susah payah mengendalikan laju mobil.

“Mereka sekeluarga adalah korban penggusuran di desa Pandang Raya, 12 September lalu. Sampai saat ini mereka masih tinggal di sana. Rumah mereka sudah rata dengan tanah, mereka tinggal di tenda. “

Kami yang berada di dalam mobil menahan geram. Membayangkan dua anak sekecil itu kedinginan setiap malam. Tidur di dalam tenda tanpa fasilitas sanitasi, tanpa kebersihan yang memadai.

“Sudah ada satu anak yang meninggal. Dia sakit, dan karena kondisi di tenda tidak bagus, akhirnya dia tidak kunjung sembuh dan meninggal.”

—————————– II——————————–

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa hubungannya kutipan yang saya tulis di atas, dengan cerita tentang penggusuran yang dialami keluarga si sopir angkutan umum. Kutipan di atas adalah pernyataan seorang pejabat BPLHD Sulsel ketika ditanyakan mengenai salah satu proyek yang merusak lingkungan dan merampas sumber-sumber penghidupan perempuan. Pertanyaan yang dia jawab dengan hanya sedikit perempuan pengupas kerang yang terkena dampaknya. Sedikit katanya. Mungkin baginya tidak apa-apa atau bahkan bukan apa-apa.

Seringkali pejabat melihat rakyatnya hanya berupa deretan angka. Berapa banyak korban banjir, berapa banyak jumlah pengangguran, berapa banyak remitansi yang dikirimkan oleh Buruh Migran untuk mendukung pembangunan desa.

Angka, angka, dan angka. Tanpa melihat bahwa di balik angka itu, ada anak-anak yang kehilangan keceriaan karena diusir dari rumahnya. Ada trauma yang dirasakan saat melihat rumah penuh kenangan itu dibongkar dan diratakan dengan tanah. Ada kehilangan hak untuk bermain, belajar, dan merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya yang terbebani dengan berbagai persoalan hidup. Bahkan ada nyawa yang seorang anak yg dikorbankan, akibat dirampasnya hak atas perumahan, dan udara yang bersih yang seharusnya dinikmati setiap hari.

Semua tertimbun dengan sederet angka yang hanya dihitung setiap tahunnya. Sederet angka yang hanya berujung pada data statistic, seakan-akan tanpa makna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s