Dua Jam Dua Belas Menit

Secangkir kopi pekat itu tak tersentuh. Padahal kopi itu kopi terbaik favoritnya. Kopi asli, tanpa campuran gula. Yang biasa ia nikmati di antara ketikan dokumen yang harus ia selesaikan

Hari ini to do list nya tak juga berkurang. Layar laptopnya masih memunculkan warna putih dari program Microsoft word yang sudah dia buka sejak dua jam dua belas menit yang lalu. Kosong, seperti pandangan si empunya yang juga kosong.

Perlahan dia menghela nafas, mencoba menggerakan jemarinya untuk menari di keyboard. Tapi fokusnya tetap buyar. Pandangannya malah kabur dengan air mata yang perlahan membanjir. Dadanya disesaki penyesalan

Seandainya dua jam dua belas menit yang lalu itu dia hanya membuka Microsoft word. Seandainya dia tak tergoda untuk membuka laman social media itu.

Tak harus dia menyaksikan foto-foto itu. sosok yang begitu ia kenal, tatapan mata yang begitu ia rindukan. Yang teriring senyum bahagia, seraya memakaikan cincin tunangan ke jemari seorang perempuan.

Sosok, tatapan mata, senyum dalam foto, yang sekarang membuatnya kosong. Sama kosongnya dengan halaman dokumen yang sudah dibuka sejak dua jam dua belas menit yang lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s