Menua

Rasanya saya menua begitu cepat. Kehilangan usia muda yang lewat begitu saja. Usia yang meledak-ledak penuh arogansi khas darah muda. Sudah berganti dengan menit demi menit yang dilewati dnegan kontepelasi, berpikir panjang, dan kadang-kadang stuck pada  dilema berkepanjangan.

Saya kehilangan makna dari umpatan spontan, caci maki yang mengalir begitu lancar. Pun kini mengumpat atau mencaci mesti ada yang dituju. Tak mau sembarangan, beralih menjadi orang setengah robot. Terancang dalam kata sikap perbuatan. Bahkan kadang lebih banyak berpikir ini itu, lalu kreativitas ikut menguap tak bersisa. Tak spontan.

Saya bukannya kehilangan bersenang-senang. Kesenangan muda yang naïf itu yang hilang. Berganti kesenangan dewasa, musik, keramaian, kegilaan. Kesenangan yang gila, namun tetap tidak spontan. Ada koridor yang harus diikuti, tanggung jawab namanya.

Saya kehilangan kesenangan mengumpat dan mencaci maki. Berganti menjadi merutuki diri sendiri. Mempertanyakan konsistensi atas segala kontradiksi yang saat ini ditemui. Tenggelam dalam perang berkepanjangan antara idealisme dan kebutuhan. Kebutuhan tentu bukan berarti uang, lebih pada ambisi dan capaian, yang kadang melesat jauh meninggalkan kemurnian hati nurani.

Rasanya saya menjadi lebih tua dari usia saya 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s