Menuju Matang

Izinkanlah kali ini saya memperlakukan blog saya ini sebagai buku diary (padahal mah udah banyak curhatan picisan di blog ini :p). Karena keresahan hati ini sangat ingin saya bagi. Bisa jadi hanya butuh tercurahkan, atau mungkin siapa tahu bisa juga jadi pembelajaran.

Belakangan ini banyak hal yang membuatku menjadi begitu mudah mengeluarkan air mata. Mulai dari kisah-kisah yang kusaksikan, atau dengarkan, hingga tantangan hidup yang kini terasa begitu nyata. Di usiaku yang tak lagi dini ini mungkin aku tengah menghadapi tahap yang menguji kematanganku. Kematangan hidup ataupun kematangan berpikir. Karena tantangan yang aku hadapi bukan sekedar persoalan ece-ece, apalagi picisan. Ini soal ideology, soal prinsip, soal pilihan hidup. Namun bersama dengan tantangan-tangan itu muncul pembelajaran yang membuahkan Harapan.

Akhir-akhir ini aku banyak bersentuhan dengan isu kekerasan seksual. Lewat film, Berita, maupun korbannya langsung. Cerita mereka, trauma dan kesedihan, hingga perasaan bersalah dan ingin bunuh diri tidak hanya menguras air mata, tapi juga marah dan geram. Cukup marah untuk memantapkan sebuah komitmen. Bahwa aku tidak akan diam.

Namun di balik semua kisah sedih tentang kekerasan terhadap perempuan, di tahap ini aku juga bertemu banyak orang yang memberikan pembelajaran. Tak hanya perempuan, survivor, pendamping yang hebat. Tapi juga para laki-laki yang terlibat. Mereka yang sepenuhnya sadar bahwa perempuan bukan atribut laki-laki, bahwa laki-laki juga harus berperan dalam penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Kehebatan mereka bukan Cuma di pemikiran, mereka berbuat, mereka tidak diam, maka kami perempuan tidak sendirian.

Lalu ke tantangan pribadiku. Ketika generasi berganti, dan paradigm generasi sekarang jauh berbeda dengan sebelumnya. Well, soal ini mungkin tidak bisa digeneralisasi menjadi persoalan antar generasi. Tapi setidaknya persoalan inilah yang terjadi. Antara aku dan mama.

Belum lama ini sebuah pesan masuk melalui Whatsapp. Beberapa jam setelah Mama melarangku pulang ke rumah dengan alas an malu kalau hansip melihatku pulang pukul 2 pagi. Pesan yang lebih serius dari peringatan-peringatan mama sebelumnya. Lengkap dengan ungkapan ‘kalau kamu masih ngerasa punya mama,’ dan kata-kata lainnya yang membuatku merasa bersalah sekaligus geregetan. Intinya soal mama merasa aku anak bungsu kesayangannya ini sudah mulai melenceng. Soal pulang tengah malam, soal ‘keluar rumah’ padahal belum kawin, sampai soal bagaimana pandanganku mengenai perkawinan itu sendiri. Yah, kalau memang ukurannya pendapat mainstream nan feodal dan konservatif si mau bilang apa? Malah aneh kalau aku ga melenceng, hehe.

Tapi masalah menjadi rumit ketika Mama menimpakan semua kesalahan pada dunia kerjaku. Beliau berkeyakinan kalau melencengnya aku itu akibat lingkungan kerjaku, dunia orangt-orang feminis, haha. Sehingga permintaannya yang tidak bisa ditawar adalah untuk aku segera meninggal dunia aktivitas (baca:kerjaku) sekarang.

Di satu sisi, aku telah meyakini pilihan yang sudah kuambil. Aku telah mantap dan sangat bersyukur dengan jalan yang aku tapaki saat ini. Namun di sisi lain, mama telah sukses membuatku merasa bersalah. Sukses membuatku merasa telah membuatnya sedih. Seandainya mama tahu cintaku padanya begitu dalam. Bahkan karena cintaku padanya lah yang membuatku tak bisa diam. Membuatku ingin terus bergerak, berjuang, menggeliat di jalan yang kupilih saat ini.

Lalu ada cerita tentang beberapa kawan. Bukan hanya aku kawan, begitu banyak orang yang mengalami tantangan, menghadapi pertentangan perspektif dan keinginan dengan orang tua. Di sini aku banyak belajar. dari mereka yang harus menghadapi keluarga hingga berujung ke pengusiran. Mereka yang memilih profesi berbeda dari ekspektasi. Mereka yang menikah tidak dengan yang seagama. Mereka yang menyatakan orientasi seksual tidak seperti yang diharapkan orang tua.mereka bertahan, seraya berusaha tetap berbakti pada orang-orang yang meraka sayangi. Sulit memang. Tapi mereka bertahan.

Usiaku tak lagi dini, maka hidupku memang tak lagi soal remeh dan picisan. Hidupku adalah proses menuju kematangan. Berpikir, memilih, berideologi, bersikap. Keempatnya harus matang. Namun ada satu yang akan terus menjadi proses tanpa akhir. Yaitu perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s