Perkosaan oleh Hukum dan Masyarakat

Diperkosa 15 Orang, Rahim Korban Membusuk

http://regional.kompas.com/read/2014/01/28/1017386/Diperkosa.15.Orang.Rahim.Korban.Membusuk

Pertama membaca berita di atas, perasaan tu rasanya kecabik-kecabik. Kasus ini menunjukan betapa hukum, masyarakat, budaya, dan banyak aspek lainnya tidak berpihak pada perempuan, dalam hal ini perempuan korban perkosaan.

Ketika di berita diungkapkan bahwa LBH Bandar Lampung tidak lagi mendampingi korban dengan alasan korban tidak kooperatif pada saat menjalani pemeriksaan, saya kembali teringat pengalaman beberapa orang kawan:

“Dia ga mau lagi ke penyidik, karena dia merasa ditelanjangi lagi ketika ditanya oleh penyidik.”

“Sama polisi itu, bahkan ditanya alas kaki apa yang kita pakai. Waktu aku bilang pakai sandal jepit, dia menuduhku berbohong dan aku pasti menggunakan high heels.”

Dari dua pernyataan di atas, bisa dibayangkan situasi yang dihadapi ketika korban perkosaan berhadapan dengan hukum, juga apa yang ada di pikiran para penyidik? Bagaimana mereka malah cenderung mencari-cari sebab perempuan diperkosa. Apakah bajunya, apakah alas kakinya, apakah prilakunya. Pendeknya, mereka justru berusaha dengan segala cara untuk menyalahkan korban.

“Lagian kalaupun pelakunya dihukum paling beberapa tahun, ga sebanding sama perasaan diperkosa berkali-kali.”

Berapa banyak si kasus perkosaan yang benar-benar berakhir dengan keadilan bagi para korban? Seberat apa si mereka dihukum? Padahal mau seberat apapun hukuman mereka, tetap tidak akan sebanding dengan trauma seumur hidup yang dialami oleh korban.

Beberapa tahun yang lalu, waktu masih kuliah, sempat ada kasus perkosaan yang dialami kakak kelasku oleh dosen pembimbingnya yang juga dosenku. Seorang pengacara terkenal yang baru-baru ini muncul kembali di televisi karena membela seorang koruptor.

Lalu bagaimana dengan kasus perkosaannya? Dia dipecat. Itu saja. Proses hukumnya tidak dilanjutkan dengan alasan pembuktian yang sulit. Selesai. Dia kembali berkarier, sementara sang korban kehilangan keceriaan yang dulu menjadi ciri khasnya.

Pasal untuk perkosaan yang tidak mengakomodir seluruh bentuk perkosaan, proses pembuktian yang sulit, dan perspektif aparat penegak hukum yang cenderung menyalahkan perempuan. Itulah dunia hukum kita. Namun kita tidak akan selesai jika hanya berbicara masalah hukum. Hukum buatan manusia, didasari oleh cara pandang yang ada di masyarakat, diwakili oleh para pejabat yang merumuskan kebijakan-kebijakan.

Ketika perkosaan dianggap biasa, ketika bahkan banyak laki-laki yang melakukan perkosaan, merasa berhak melakukannya.

 

“Bayangkan saja kalau orang naik Mikrolet duduknya pakai Rok Mini, kan agak gerah juga” (Fauzi Bowo- saat itu Gubernur DKI Jakarta)
“Soalnya ada yang sengaja, kadang-kadang ada yang sama-sama senang, mengaku diperkosa,” (M. Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)
“Yang diperkosa dengan yang memerkosa ini sama-sama menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati.” (Daming Sunusi, Calon Hakim Agung, Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin)

Pada kasus yang sebutkan di awal, keluarga, dalam hal ini ayah korban yang mengambil keputusan atas perkosaan terhadap anaknya, memilih untuk berdamai dengan pelaku. Mungkin karena perkosaan dianggap biasa, atau mungkin karena yang memiliki kuasa untuk mengambil keputusan adalah sang ayah, bukan yang mengalami perkosannya. Entahlah.

Untuk kasus RW yang juga ramai diberitakan media. Bagaimana kita melihat media justru memperkosa korban berkali-kali dengan pemberitaan-pemberitaan yang menyudutkan.

SPEKTANEWS (Jakarta) Mahasiswi berinisial RW (22) yang hamil diakibatkan hubungan asmaranya dengan seorang penyair, Sitok Srengenge bersikap cukup membingungkan. Pasalnya ia tak ingin Sitok bertanggung jawab dengan cara menikahinya. (http://www.spektanews.com/2013/12/tak-sudi-dinikahi-sitok-rw-harus-ungkap.html)

Lalu kembali ke kasus yang terjadi ketika aku kuliah. Bahkan dukungan bagi korban terdengar terlalu samar dari fakultas kami. Sebuah seminar tentang kekerasan seksual justru dilakukan di Fakultas sebelah. Dan yang paling mencengangkan bagiku ketika mendengar komentar seorang adik kelas ketika si pelaku berpamitan di kelasnya, karena tidak lagi bisa mengajar.

“Sedih banget deh tadi bg TN (pelaku) pamitan, semua angkatan gw juga pada sedih dia ga bisa ngajar lagi.”

Karena perkosaan dianggap biasa? Karena mereka merasa si pelaku berhak mempekosa, maka kepergian si pelaku yang mendapat sanksi tidak lagi bisa mengajar pantas disesali dan disedihkan? Entahlah.

Padahal trauma itu lekatnya seumur hidup. Aku merasa perasaan yang dialami oleh korban perkosaan tidak bisa dirasakan oleh orang lain yang tidak merasakannya. Maka setiap berhadapan dengan mereka, aku tak pernah mengatakan bahwa aku memahami apa yang kamu rasakan, atau aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Tidak. Aku tidak sanggup merasakannya.

“Termasuk 7 (tujuh) kali perkosaan, mulai dari pelaku, masyarakat, pendamping korban, agama (institusi/individu), polisi, pengadilan, dan media.”

2 responses to “Perkosaan oleh Hukum dan Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s