Teh Oom, Air, dan Buruh Migran

Warga kampung Cikelak, Desa Cintalanggeng harus berjalan sejauh 1 km, untuk mendapatkan air bersih di sungai. Hal ini terjadi setiap musim kemarau datang, karena warga tidak lagi mendapatkan akses terhadap air bersih. Sejak 2000, hingga 2006, warga bisa mendapatkan air bersih. Namun pada tahun 2007 mereka kehilangan air bersih pasca berdirinya pabrik aqua di daerah mereka.

“Pada awalnya, aliran air diberikan secara bergantian, seminggu untuk warga, seminggu untuk aqua. Tapi lama-lama semua untuk aqua,” ungkap Oom Ratna, warga kampung Cikelak. Akibat kesulitan air, warga Cikelak juga harus mengeluarkan uang mencapai Rp3 juta untuk membangun sumur. Sayangnya, sumur hanya bisa berfungsi ketika musim hujan. Saat musim kemarau, sumur itupun mongering.

Jika warga tidak ingin mengambil air di sungai, warga harus memberi air dari warga lain yang menjual air sungai. Rp5 ribu bisa ditukar dengan tiga galon air yang masing-masing berukuran 20 liter. “Kalau teteh sama suami, dan tiga anak, setiap hari isa habis 10 liter,” jelas Oom. Kesulitan air dinilai sangat menghambat bagi warga. Meskipun pabrik aqua sudah tutup sejak setahun terakhir, namun hingga saat ini akses air bersih masih jadi persoalan. “Ya kalau mau air, harus tunggu hujan.” Tukas oom.

Terpaksa ke Luar Negeri

Persoalan air bukan persoalan satu-satunya di Cikelak. Oom mengatakan lahan pertanian di sana semakin sempit. Banyak lahan pertanian yang tadinya ditanami singkong atau kacang-kacangan, kini dibeli dan dialihfungsikan untu tanaman lain, seperti pohon kayu. Berkurangnya lahan pertanian mengakibatkan masyarakat kehilangan sumber mata pencarian. Akhirnya, perempuan-perempuan kampung Cikelak pun terpaksa bekerja sebagai pekerja rumah tangga di luar negeri.

Sayangnya, tingginya angka warga yang bekerja sebagai buruh migran disertai juga dengan banyaknya kasus kekerasan dan pelanggaran hak buruh migran. Oom mengatakan, banyak kasus seperti hilang kontak, gaji tidak dibayar, dipenjara, maupun kekerasan dari majikan yang dialami buruh migran di wilayah tempat tinggalnya. Berbagai kasus tersebut juga tidak direspon secara memadai oleh pemerintah. Sementara, pihak calo maupun perusahaan juga tidak mau bertanggung jawab. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s