Memikirkan Mereka

manusia gerobak

Dia bernyanyi sambil memperhatikan kedua anak perempuannya. Memastikan mereka tetap aman, seraya sesekali bercanda dan membuat putri-putrinya tertawa

Suatu malam, sekitar pukul 9. Di perjalanan pulang saya dari salah satu rapat di wilayah Cikini, seorang Ibu dan dua putrinya menaiki kopaja yang saya  tumpangi. Rupanya si Ibu hendak mengamen. Dia menyanyikan dua buah lagu, yang diikuti perlahan oleh kedua putrinya. Usia mereka mungkin tak terpaut jauh, si adik sekitar 7 dan si kakak sekitar 8. Dengan wajah ceria, kadang tubuh mereka bergoyang, mengikuti irama lagu yang dinyanyikan si Ibu.

Mungkin bosan, si kecil mulai merengek. Memanggil-manggil Ibunya, berpindah-pindah tempat duduk, menghadirkan kerutan khawatir di paras Ibunya. Sang Ibu pun membawa si adik ke kursi terdekat dia berdiri. Mengajak si adik bercanda, dengan memberikan ekspresi-ekspresi lucu, sambil terus menyanyikan lagu. Tak hanya adik, kakkakpun turut tertawa.

Usai bernyanyi, ketiganya sempat duduk sebelum turun. Si Ibu berkata, “habis ini kita langsung pulang ya, besok sekolah, sore jam 5 kita ngamen lagi.”

“Iya,” jawab kedua putrinya

“Kakak habis ini belajar, besok ujian,” lanjut sang Ibu. Tak kudengar putrinya menjawab,

Malam itu, si Ibu dengan kedua anaknya bukan pengamen pertama yang kutemui. Ketika makan malam di kedai martabak saja, tiga rombongan pengamen hadir meramaikan. Sepanjang jalan pun, di berbagai tempat begitu banyak pengamen yang bisa kita lihat.

Kalau mengingat-ngingat, secara kasat mata saja, sepertinya jumlah pengamen di Jakarta memang bertambah secara signifikan. Begitu banyaknya sampai kadang-kadang mereka hanya menjadi bagian yang mewarnai keseharian kita, tanpa kita sadar bahwa mereka adalah individu-individu yang juga mengalami kehidupan.

Fenomena pemiskinan dan meningkatnya kemiskinan kadang menjauhkan kita dari kepedulian yang dulu begitu mudah kita berikan. Masihkah kita sekedar berpikir tentang para pengamen, berapa uang yang mereka dapatkan sehari, dimana mereka tinggal, apakah mereka kedinginan, dan lain sebagainya.

Atau tentang pedagang tissue Rp2000,00. Berapa untungnya sehari, cukupkah untuk makan dia, makan keluarganya, atau sekedar untuk segelas minuman pelepas dahaga.

Juga tentang pemulung yang sudah membangun keluarga di atas gerobak rombeng. Dengan tiga anak mereka yang setiap malam tidur beratapkan langit. Adakah yang mencatat kelahiran mereka, mengakui mereka sebagai warga Negara yang memiliki berbagai hak, pendidikan, kesehatan, pangan, dan lainnya yang seharusnya menjadi tanggung jawab Negara.

Seiring dengan meningkatnya angka mereka, semakin menurun pula intensitas kita memikirkan mereka. Memikirkan mereka sebagai detil-detil kehidupan, bukan sekedar pengisi pinggir-pinggir jalan ibukota, apalagi sebagai sampah jalanan.

Mereka manusia

Mereka dengan kehidupan

Mereka dengan kebutuhan

Mereka dengan hak-hak mereka, yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s