Memaknai Hari Kartini

Melihat animo masyarakat terkait hari Kartini, lagi-lagi kita disuguhi bermacam-macam versi. Dari mulai aksi simpati di bundaran HI, acara pembacaan surat dan puisi, hingga seperti yang sudah-sudah, lomba berkebaya, dan bersanggul.

Tak hanya itu, hari Kartini tahun ini juga (kembali) diwarnai dengan adu argumentasi mengenai layak tidaknya Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan. Masih banyak nama-nama pahlawan perempuan yang lain menjadi alasan kebanyakan mereka yang ‘skeptis’ terhadap Kartini.

Terhadap perdebatan di twitter, saya pun tak bisa tidak ikut bicara. Menurut saya, ada dua hal berbahaya terkait dengan hari Kartini. Pertama,  masih banyak masyarakat yang mengenai Kartini hanya dari permukaan. Banyak pemikiran-pemikiran kritis dan cerdas Kartini yang justru selama ini tidak pernah dipublikasikan ke banyak orang.

Kedua, (mungkin salah satu akibat juga dari yang pertama), terjadi penyempitan makna untuk memperingati hari Kartini. Mayoritas dari kita, merayakan hari Kartini sebatas sanggul, selop dan kebaya. Sebatas lomba masak dan berbusana. Atau malah merayakannya dengan lomba lari menggunakan high heels.

Pemikiran Kartini dalam Surat-suratnya

Seorang perempuan yang sungguh-sungguh terpelajr, tidak mungkin bahagia di masyarakat bumiputera, selama masyarakat masih seperti sekarang.

Tetapi bagaimana mungkin hidup selaras dengan laki-laki, jika aturan perkawinan kami hanya untuk laki-laki (surat kartini 1899)

Dua kutipan di atas adalah sedikit contoh dari surat-surat Kartini. Jelas batin Kartini berontak dari feodalisme, dan sistem keluarga yang berlaku saat itu di Jawa. Berontak terhadap sesuatu yang dialaminya langsung, berdasarkan pengalamannya.

Bagi saya, Feminis itu sederhana, menyadari adanya relasi kuasa yg timpang, dan berbuat untuk mencapai keadilan. Kesadaran itulah yang dikenalkan Kartini. Melalui surat-suratnya, melalui pertanyaan-pertanyaannya, menunjukan kesadaran, bahkan pemberontakan yang tumbuh dalam dirinya terkait kondisi yang dia alami, sepertinya kondisi mayoritas perempuan lainnya.

Kesadaran yang belum tentu aku, kamu, kami, kita, dan perempuan modern lainnya miliki. Pernahkah kita memperhatikan bagaimana struktur pengambilan keputusan dalam keluarga? Siapa yang banyak membuat keputusan, siapa yang dilibatkan, siapa saja yang terkena dampak dari keputusan tersebut.

Kepentingan siapa di dalam keluarga yang harus didahulukan, dalam hal alokasi anggaran pendidikan, si kakak laki-lakikah, atau adik perempuannya? Atau hal sesederhana pangan. Ketika makanan yang terhidang pas-pasan, siapa yang mengalah untuk tidak makan.

Bagaimana pembagian peran antar anggota keluarga. Antara ayah dan Ibu, antara si buyung dan si upik. Adilkah?

Bagaimana tanggapan kita melihat betapa banyak peran yang dibebankan kepada perempuan di dalam keluarga? Menjalani peran dengan berbagai tuntutan yang tak kunjung henti. Harus patuh pada suami. Tak boleh melawan, diam ketika ditindas, tak melawan ketika dipukuli.

Mencari nafkah, sekaligus mengurus rumah tangga. Kerap disalahkan ketika anak dianggap nakal. Dibilang berdosa ketika meminta cerai. Dan ketika diceraikan masih juga disalahkan. Tuduhan tidak mampu memiliki anak, hingga tidak mampu melayani suami kerap dijadikan dasar perempuan ditinggalkan. Bisa jadi alasan cerai/poligami terlontar hanya karena daster sedehana yang mampu dibeli dari sisa uang belanja. Hanya karena tubuh yang baunya tak lagi segar setelah seharian bergumul dengan dapur dan mengurus anak yang jumlahnya lima orang.

Pernah saya mendengar penyataan demikian:

“Makanya kalau suami pulang, jangan mengenakan daster rombeng, tapi dandan yang cantik, dan wangi.”

Banyak di antara kita yg menutup mata, menyangkal, merasa keluarga kita baik-baik saja.Tapi di masa lampau, di usianya yang masih belia, ketika masyarakat menganggap poligami adalah wajar, ketika perempuan dianggap barang milik, Kartini sudah memiliki sebuah kesadaran akan ketidakadilan yg eksis di bumiputera. Pemikiran-pemikiran kritis yg dia tujukan untuk feodalisme yg tidak adil terhadap perempuan.

Pertanyaannya kemudian, Beranikah saya? Beranikah saya mnggugat sistem pengambilan keputusan dalam keluarga saya? Beranikah saya mmpertanyakan apa yg ada di kepala saya? Mempertanyakan bukan kepada Anda,tapi kepada diri saya sendiri. Beranikah saya mengakui ketidakadilan yg saya alami, atau bahkan saya mnjd pelakunya? Maka bagi saya, mengagumi Kartini adalah keniscayaan. Mengagumi jiwa yang berontak mempertanyakan ketidakadilan

Melawan Feodalisme dan Patriarki, bukan Laki-laki

Sayangnya, ketidakadilan akibat feodalisme dan budaya patriarki yang dilawan Kartini, masih berlangsung hingga saat ini. Seperti juga masa ketika Kartini hidup, feodalisme dan budaya patriarki itu seringkali dibungkus dalih agama, dianggap sebagai nilai yang benar, dan diwariskan secara turun menurun. Feodalisme dan patriarki itu sendiri menghasilkan relasi kuasa yang timpang di segala aspek, tidak hanya antara perempuan dan laki-laki. Karena itu, yang kami lawan bukan laki-laki.

Relasi kuasa yang timpang juga ada di antara Pekerja Rumah Tangga dengan majikan, antara buruh dengan pengusaha, antara buruh tani /pedagang stasiun dengan aparat yang merampas lahannya/tokonya, juga antara kelompok minoritas, kawan2 LGBT, Ahmadiyah, dan kelompok yang memiliki akses untuk melakukan kekerasan. Juga relasi kuasa timpang yang nyata, antara rakyat dan Negara.

Begitulah feminisme, sangat lokal dan pribadi, sekaligus publik dan umum. Karena personal is political, pribadi saya, bahkan tubuh saya, adalah politik saya. Apa yang diperjuangkan di lapangan, juga tercermin dalam keseharian.

Kritis terhadap kebijakan yang memiskinkan perempuan, juga memperlakukan Pekerja Rumah Tangga di rumah kita sesuai dengan hak-haknya. Menuntut pemerintah untuk lebih responsive gender, juga memperjuangkan hak seksualitas di ranah rumah tangga.

Feminisme juga merupakan proses. Proses untuk sampai pada kesaradan, dan perjuangan. Setiap orang juga pejuang memiliki pengalaman dan prosesnya masing-masing. Kartini sudah sampai pada kesadarannya. Aku, kamu, kita, sudah sampai dimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s