Seandainya Kartini Masih Hidup

Bertahun-tahun yang lalu, Kartini menulis demikian:

Seorang perempuan yang sungguh-sungguh terpelajr, tidak mungkin bahagia di masyarakat bumiputera, selama masyarakat masih seperti sekarang.

 

Hari ini, 20 April 2013, aku kembali beradu mulut dengan seorang pria yang seharusnya paling aku hormati. Emosiku tersulut lantaran sebuah kalimat, “Bagaimanapun perempuan yang minta cerai itu dosa.”

–II–

Seorang kawan beberapa waktu yang lalu pernah bertanya padaku, “kalau saja Ibu Kartini masih hidup, apakah dia senang melihat perempuan sudah bebas seperti sekarang?”

Aku tak menjawab pertanyaan tersebut. Di dalam hatiku, malah timbul berbagai pertanyaan,

Seandainya Kartini masih hidup, bagaimana perasaannya? Ketika hari lahirnya dirayakan setiap tahun, dan mayoritas dari kita merayakannya hanya sebatas sanggul dan kebaya.

Seandainya Kartini masih hidup, bagaimana perasaannya? Ketika namanya diagung-agungkan sebagai pahlawan emansipasi perempuan, namun pemikiran kritisnya terhadap agama dan feodalisme banyak disembunyikan dari publik,

Seandainya Kartini masih hidup, bagaimana perasaannya? Melihat kaumnya yang hidup berpuluh-puluh tahun kemudian, masih saja menjadi kaum nomor dua.

Menjalani peran dengan berbagai tuntutan yang tak kunjung henti. Harus patuh pada suami. Tak boleh membantah, diam ketika ditindas, tak melawan ketika dipukuli.

Mencari nafkah, sekaligus mengurus rumah tangga. Kerap disalahkan ketika anak dianggap nakal. Dibilang berdosa ketika meminta cerai. Dan ketika diceraikan masih juga disalahkan. Hanya karena daster sedehana yang mampu dibeli dari sisa uang belanja. Hanya karena tubuh yang baunya tak lagi segar setelah seharian bergumul dengan dapur dan mengurus anak yang jumlahnya lima orang.

 “Makanya kalau suami pulang, jangan mengenakan daster rombeng, tapi dandan yang cantik, dan wangi.”

Pertanyaan terakhirku tak hanya kepada Kartini. Tetapi pada diriku sendiri. Atau mungkin kepada kamu, kepada kami, kepada kita?

Bagaimana kita, perempuan masa kini yang terpelajar, bisa bahagia, kalau  musuh terbesar justru ada di tempat yang seharusnya kita merasa nyaman. Rumah kita sendiri.

­­–II—

Tetapi bagaimana mungkin hidup selaras dengan laki-laki, jika aturan perkawinan kami hanya untuk laki-laki (surat kartini 1899)

NB: Terima Kasih untuk Mbak Olin Monteiro yang telah men-share kutipan surat Kartini melalui Linimassa, juga untuk acara Resending Letter to Kartini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s