Ketika Sebuah Negeri Menjual Perempuannya*

woman-with-slave-barcode-on-shoulder

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku

Rumahku di desa, tak jauh dari sawah tempatku menggantungkan hidup.
Setiap hari, berjalan kaki beberapa ratus meter, tak pernah terasa lelah. Warna warni bunga mengiringi perjalananku. Hijaunya pepohonan, dengan embun yang menetes, menyegarkan langkah demi langkah kakiku, menuju sawahku tercinta.

Setiap hari dengan suami, kami berbagi petak, berbagi kerja untuk kehidupan keluarga kami, terutama untuk Tole, anak semata wayangku.

Hingga suatu hari, sawah sumber penghidupan kami itu dipagari tembok-tembok dengan kawat berduri. Kami dilarang ke sana. Katanya, sawah itu sudah dibeli untuk dibangun pabrik.

Aku menangis kebingungan. Kenapa sawah tempat kami bekerja diratakan? Sawah itu satu-satunya sumber penghidupan yang kami miliki, yang kami garap seperti merawat anak kami sendiri. Kami taburi bibit, hingga bibit menjadi pohon, pohon menjadi padi. Kerja keras yang diimbal dengan uang secukupnya, asal kami cukup makan. Asal Tole tak merengek kelaparan.

Sawah kami dihancurkan, makanan kami dimusnahkan, masa depan kami dirampas. Entah oleh siapa, yang jelas kami tak punya daya.

Sehari, dua hari, seminggu, kami mulai kelaparan. Tole tak terhitung lagi mengangis di tengah malam, merengek meminta makan. Suamiku tak tahu kemana mencari pekerjaan, hampir seluruh dusun juga kehilangan pekerjaan. Lahan pertanian di desaku hampir habis, musnah bersama tiang-tiang pancang yang mulai ditancapkan.

Aku harus cari kerja! Tapi jadi apa? Sekolah Cuma SD. Pengalamanku ya Cuma nyawah. Tak pernah aku menyentuh alat-alat yang katanya akan memenuhi pabrik-pabrik nanti.

Sempat aku mendengar, si Marni, kawan sepermainanku sejak kecil dulu katanya mau berangkat kerja ke Arab Saudi. Jadi PRT. Iya, jadi PRT. Kalau jadi PRT, aku bisa! Ah, tapi, aku takut. Nanti bagaimana kalau aku kenapa-kenapa. Tetangga sebelah, sudah 10 tahun tidak ada kabarnya. Tetangga depan, pulang-pulang hamil karena diperkosa.

Tapi bagaimana? Aku tidak tahan mendengar rengekan Tole. Tidak tahan melihat air matanya yang bercucuran karena kelaparan.

Lagipula, katanya TKI pahlawan devisa. Menyumbang banyak tak hanya untuk keluarga, tapi juga untuk pembangunan bangsa. Malah, katanya pemerintah tiap tahun punya target pemasukan dari TKI, untuk digunakan bagi pembangunan. Aku mau menjadi bermanfaat. Bisa menghidupi keluargaku, tapi juga berguna buat banyak orang.

Akhirnya aku berangkat juga ke Arab Saudi. Meski melalui proses yang membingungkan. Harus bayar ini, bayar itu. Waktu tes kesehatan disuruh telanjang. Pada saat pelatihan, tenagaku habis dipekerjakan di rumah orang PT. saat mau berangkat utangku malah menumpuk. Mereka bilang buat bayar pendidikan dan pelatihanku. Ya sudahlah, biar saja. Asal aku bisa berangkat bekerja, mencari uang, supaya Tole berhenti merengek dan menangis.

Seminggu, sebulan, setahun, entah berapa pukulan dan tendangan yang mendarat di tubuhku. Perlakuan yang kuterima dengan diam. Setiap rasa sakit kuterima dengan sabar setiap kali kuingat wajah Tole dan Bapaknya. Aku harus kuat, demi Tole, demi keluargaku.

Namun tibalah hari itu. Ketika majikan perempuanku dan anak-anaknya berpergian ke luar kota. Baba, majikan laki-lakiku tiba-tiba menghampiriku. Baba tersenyum tak biasa. merenggut tubuhku, memaksaku diam, merobek pakaianku, melumat habis setiap inchi kulitku, dan mengoyak-ngoyak vaginaku. Hari dimana aku kehilangan segalanya, impian, harapan, kehormatan.

Tahukah Kamu yang terjadi setelah hari itu? Aku ditangkap, aku dimasukan ke penjara. Kehormatanku yang telah dikoyak-koyak oleh Baba, semakin tipis tak bersisa. Mereka, polisi, dan orang-orang di sana, menuduhku zina. Mereka mengurungku di ruang sempit dan gelap bersama puluhan perempuan lainnya. Hingga tak lagi bisa kulihat malam dan siang. Tak lagi Nampak matahari dan rembulan.

Dalam hari-hari penuh ketidakpastian, aku hanya bisa meratap, menyaksikan wajah Tole dan Bapaknya muncul satu per satu dalam benak. Mengenang warna warni bunga yang bermekaran, hijau pepohonan dan embun pagi yang menyegarkan

Selalu kurindukan
Desaku yang permai

*Dibacakan ketika aksi Solidaritas Perempuan, Perempuan menuntut Ekonomi Adil, Tolak Perdagangan Bebas, pada hari perempuan internasional 8 Maret 2013. Monolog ini mencoba memberikan gambaran keberadaan WTO dan perdagangan bebas, yang berdampak pada pemiskinan perempuan. hal itu terjadi atas nama investasi dan pembangunan, dengan merampas lahan dan penghidupan rakyat, hingga ‘memaksa’ perempuan menjadi buruh migran demi menghidupi keluarganya. Mereka harus mengadu nasib ke luar negeri, menghadapi berbagai kerentanan terhadap kekerasan dan pelanggaran hak. Sementara negara hanya menghitung mereka sebagai angka dalam target remintansi dan devisa, tanpa mengedepankan perlindungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s