Kain Batik untuk Simbok

Terinspirasi dari kisah nyata seorang Pekerja Rumah Tangga, Marlena
 
Anak perempuan itu. Tak lebih dari 14 tahun usianya, Remaja, Belia
Di saat kawan-kawan seusianya sibuk dengan buku dan pena, Marlena meninggalkan bangku sekolah. Dia tinggalkan rumah sederhananya di Tuban, menuju kota Surabaya. Untuk bekerja. Untuk mencari nafkah. Untuk menghidupi keluarganya.
 
Dalam setiap langkahnya menuju Surabaya. Ada cita-cita yang dia gantungkan setinggi bintang, ada harapan yang ia tanam dalam-dalam. “aku ingin kehidupan yang lebih baik, ingin punya uang, ingin belikan Simbok kain batik, Sepeda untuk Bapak, dan permen besar yang kemarin waktu di pasar, dipandangi Adik sampai air liurnya menetas.”
 
Marlena tersenyum. Langkah kanak-kanaknya yang riang, mengantarkannya ke kota besar. Membuatnya luluh pada keramaian yang menjanjikan, kesibukan yang melenakan.
 
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, kabar pun datang dari Marlena. Bukan, bukan kabar tentang cita-cita, bukan kabar tentang kain batik, sepeda, ataupu permen besar. Surat kabar Surabaya, menulis begini:
 
“Korban sering dihukum, tidak diberi makan selama berhari-hari dan sering dipaksa makan makanan membusuk dan dipaksa minum air bekas cucian,”
 
“Gajiannya dibawa majikan. Kalau korban melakukan kesalahan seperti mencuci pakaiannya dan luntur, gajinya langsung dipotong. Lemari es rusak dan diservice, tapi biaya service diklaim ke korban karena tersangka menuduh lemari es itu dirusakkan korban.
 
“Korban sering disiksa, dipukuli dengan sapu, alat penggorengan yang masih panas, diinjak, disiram air panas, dicubit, ditendang dan dirantai yang dilakukan tersangka pada waktu berurutan dan disiksa secara perorangan kadang kala bersama-sama diantara tersangka,”
 
korban yang pernah disekap dan tidak diberikan makan dan minum selama seminggu itu, disuruh tidur bersama anjing herder. Kandang anjing itu juga kotor dan bau pesing. Korban hanya tidur berlaskan bekas daun pintu yang terbuat dari triplek.
 
“Dengan kondisi kaki dirantai, korban disuruh ngepel mulai pagi sampai malam hari. Kalau salah, langsung ditendang dan injak-injak,”
 
“Marlena mengalami cacat tubuh permanen. Tubuhnya mengalami luka bakar permanen, memar, melepuh. Bagian tubuh yang mengalami luka, antara lain, kaki, tangan, dan punggung. bahkan paha remaja itu terancam diamputasi akibat luka yang sangat parah.”
 
Marlena. Itukah Marlena kita yang lugu dan plos? Yang usianya tak lebih dari 14 ketika meninggalkan rumah sederhananya di desa?
 
Di saat kawan-kawan seusianya tengah mencapai puncak remaja, merangkai cita, menggapai cinta. Marlena kita terbaring tak berdaya di rumah sakit. Tubuhnya tak lagi sama dengan berbagai legam, dan bilur. Dalam tidurnya Marlena melihat rumahnya yang teramat sederhana. Tapi di rumah sederhana itu, ada Simbok, ada Bapak ada adik. Mereka sedang tersenyum, seraya merentangkan tangan, menyongsong kedatangan Marlena dengan pelukan

(Sumber berita yg dikutip: detik.com Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s