Melawan Bersama, Menari Bersama, Bangkit Bersama

Saat membuka mata, dan menatap ke atas, rupanya tanganku tidak sendirian. Dia hanya satu di antara lebih dari tiga ratus tangan lainnya. Menujuk awan, menunjuk harapan: Hapusnya kekerasan dari muka bumi.

Sekitar sebulan yang lalu, aku bertemu dengan mereka. Para penggagas One Billion Rising di Jakarta, dan kawan-kawan lainnya yang terlibat. Tepatnya di Kedai Lentera tanggal 12 Januari 2013. itulah pertama kali kami berkumpul, dan berlatih gerakan OBR, dengan lagu One Billion Hands.

Pertemuan-pertemuan berikutnya lebih banyak digunakan untuk berlatih. Biasanya kami berlatih di kawasan apartemen Kalibata City. aku merasa ada suasana yang berbeda di sana. Rasanya nyaman berada di antara kawan-kawan OBR. Diambah, aku berkenalan dengan orang-orang hebat, yang sebelumnya belum pernah kutemui. And making friends is always fun! Kami tidak hanya berbagi bangku kendaraan (nebeng) tapi juga berbagi pengetahuan dan cerita-cerita hebat dari berbagai tema. Alasan itulah yang membuatku sebisa mungkin datang latihan. Tak hanya di Kalibata City, aku juga latihan di kantor, bersama kawan-kawan SP, dan sekali latihan di LBH Jakarta. Suasananya selalu menyenangkan, selalu bersemangat. Hangat, bersahabat.

Lathan terakhir sebelum Hari H, @ Kalibata City

Lathan terakhir sebelum Hari H, @ Kalibata City

14 Februari 2013. Tentu saja ini bukan tentang hari kasih sayang. Jelas, aku tidak merayakan Valentines Day. Yang aku rayakan adalah bukti adanya kesadaran kolektif. Sejumlah orang yang sadar bahwa kekerasan terhadap perempuan harus dihentikan. Kekerasan atas nama apapun, terutama kekerasan budaya, yang melihat posisi perempuan sebagai subordinat dari laki-laki yang ada di sekitarnya.

OBR dari Kak Donna

Di Jakarta, Tugu Monas menjadi saksi. Tua, muda, laki-laki, perempuan, dan lainnya, mahasiswa, siswa, aktivis NGO, seniman,  maupun karyawan swasta. Aku bertemu dengan banyak wajah-wahjah hebat. Wajah-wajah yang pernah kutemui sebelumnya, maupun yang belum. Wajah orang-orang yang menolak untuk diam, dan memilih untuk melawan kekerasan. Melawan bukan dengan kepalan tanggan, namun dengan menari bersama, bermusik bersama, berpuisi bersama. Kami berefleksi, kami membebaskan diri, dan berkomitmen untuk terus melawan kekerasan, mulai dari diri sendiri, dan kekerasan di manapun.

OBR 3

Tanganku yang menunjuk ke atas, hanyalah satu dari tiga ratus tangan yang bangkit melawan kekerasan di Monas kemarin. Namun ternyata Tiga ratus tangan itu juga hanyalah sebagian kecil, dari ‘1Miliar Tangan’ di seluruh dunia. Serentak di hari yang sama, ataupun di sekitar tanggal 14 februari 2013. Di Indonesiapun, One Billion Rising tidak hanya diselenggarakan di Jakarta. Jogjakarta, Solo, Surabaya, Malang, Poso, Mataram, Bali, Bandung, dan beberapa kota lainnya bangkit bersama melawan kekerasan.

Sementara di dunia, Ada 202 negara yang terlibat dalam gerakan global ini. 10 Februari 2013 Buruh Migran Indonesia di Hong Kong menari bersama di Victoria Park. Berbarengan dengan Buruh Migran Filipina di Hong Kong, di lokasi lainnya. India, Nepal, Bangladesh, Italia, UK, Belanda, Australi, dan Negara-negara lainnya, semua bangkit melawan kekerasan.

Hari itupun ditutup dengan ‘saling pamer’ sama Bude. Budeku yang tinggal di Aachen, mengirimkan sejumlah foto OBR di Aachen. Ada sekitar 200-300 orang yang ikut serta, menerjang salju yang terus turun, untuk menari bersama. Aku tentunya tak mau kalah. Maka kukirimkan pula beberapa foto One Billion Rising di Jakarta.

OBR di Aachen :)

OBR di Aachen🙂

Ah, betapa bangganya saya menjadi bagian dari gerakan hebat ini

OBR SP

Menari bersama Idola

Sebenarnya ada cerita lain di balik One Billion Rising. Beberapa tahun ini aku mengidolakan Kartika Jahja, Vokalis Tika n d dissidents. Sayangnya, aku selalu gagal menonton dia secara langsung. ada saja hambatannya. Lalu tiba-tiba, aku bisa berkenalan dengannya, ngobrol, foto bareng, dan menonton dia performance secara langsung, dari jarak yang sangat dekat.

performance tika

Tak hanya itu, aku bahkan bisa menari bersama dia, persis di sampingnya. Ya, lagi-lagi ini terjadi di 14 Februari 2013. Setelah pertemuan pertama membuatku salah tingkah dan ga berani menyapa. Lalu ikut berbincang bersamanya  10 Februari lalu (dilengkapi dengan foto bareng). Akhirnya nari bareng dan nonton performance nya di 14 Februari.

me with Tika 1

Aku benar-benar merasa bersyukur bisa mengenalnya secara personal. Tak hanya suara dan karya-karyanya yang hebat, Tika punya pemikiran yang keren, dan kepribadian yang humble, juga menyenangkan. Berada lebih dekat sama dia, membuatku semakin mengaguminya, semakin mencintainya, dan menantikan karya-karyanya.

OBR 2

OBR 2OBR 4

me with tika 2

One response to “Melawan Bersama, Menari Bersama, Bangkit Bersama

  1. Ping-balik: Kenapa OBR | Berbagi Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s