Mafia TKI

Pernahkah kamu merasakan rasanya jadi keluarga Buruh Migran? Merasakan degup jantung yang kencang setiap mobil travel datang. Harap-harap cemas adakah keluarganya yang telah lama tidak dijumpai  di dalam rombongan mobil tersebut. Aku berada di sana. Di tengah kecemasan menanti kepulangan yang tercinta, merasakan debaran jantung kencang, meski belum mengenal sosok yang kutunggu saat itu.

2 Januari 2012. Hari pertama masuk kantor setelah liburan tahun baru. Begitu sampai, aku mendapat kabar bahwa salah satu Buruh Migran dampingan kami di Solidaritas Perempuan telah tiba di Bandara. Sebut saja namanya Rina. Dia berangkat ke Suriah awal Desember 2009 lalu. Kondisi Negara yang sedang perang, membuat dia ingin pulang.

Kami baru mendapatkan kabar kepastian kepulangannya pada saat dia sudah tiba di bandara. Sayangnya, komunikasi kami tidak lancar, sehingga dia meminta dijemput di pintu tol Karawang Barat, bukan di bandara. Dari cerita RIna kemudian baru kami ketahui bahwa dia dilarang dijemput di bandara oleh petugas. Ketika turun dari pesawat, dia langsung ‘digiring’ ke tempat pendataan, kemudian ke mobil travel, oleh dua orang berseragam dengan helm putih.

Kamipun janjian dengan keluarga Rina, dan pendamping mereka dari Karawang, di pintu tol Karawang Barat. Sekitar pukul 13.00 kami hampir sampai, di tempat yang dijanjikan. Tiba-tiba kami mendapat kabar bahwa Rina masih di bandara, dan baru akan berangkat dengan travel. Namun, karena khawatir akan selisih jalan, maka kami memutuskan untuk tetap menunggu di pintu tol Karawang Barat.

Pukul 15.00 pihak keluarga kembali menghubungi Rina, yang sudah berada di mobil travel. Kali ini keluarga berbicara langsung dengan sopirnya, dan janjian di sebuah rumah makan ‘Murah Rejeki’ di daerah Cikampek. Kamipun langsung meluncur ke tempat tersebut.

Awalnya, dalam bayanganku, rumah makan tersebut adalah rumah makan biasa, sehingga kami bisa menunggu sambil menikmati sejumlah hidangan yang dijual di sana. Namun, sesampainya kami di sana rumah makan tersebut terkesan tertutup dan sepi. Ketika kami masuk, pelayan mengatakan rumah makan tersebut belum buka, dan baru akan buka pada pukul 19.

Kami pun menunggu di depan rumah makan. Tak lama, mobil yang kami parkir diminta pindah parkir ke lapangan beberapa meter dari Rumah Makan tersebut. Sekitar satu jam kemudian, sebuah mobil travel masuk ke halaman Rumah Makan. Aku dan rombongan keluarga Rina segera mendekat, melihat satu per satu Buruh Migran yang keluar dari mobil tersebut. Namu Rina tidak di sana.

Akhirnya kami kembali menunggu sambil mencari informasi tentang Rina kepada para Buruh Migran yang baru tiba. Beberapa dari mereka juga dipulangkan dari Suriah. Namun kami tidak juga mendapatkan informasi mengenai Rina, maupun beberapa Buruh Migran dampingan kami yang minta dipulangkan dari Suriah.

Aku dan seorang temanku sempat menghampiri seorang Buruh Migran Perempuan yang menunggu di sebuah bilik sendirian. Awalnya aku ingin mengisi baterai HPku, namun rupanya stop kontak yang ada tidak berfungsi. Kami pun mengobrol soal pengalamannya pulang dari luar negeri. Rupanya dia salah masuk travel sehingga harus ‘keliling’ dari malam sebelumnya, dan baru akan diantarkan ke rumahnya. Kali ini adalah pengalaman keempatnya ke luar negeri. Menurutnya, setiap pulang naik mobil travel, mereka pasti dimintai bayaran lagi di tengah jalan. Jika tidak memberikan maka mereka diancam akan diturunkan di tengah jalan. Terkait jumlah, biasanya sopir akan mengatakan seikhlasnya. Namun pada saat kepulangan sebelumnya, sopir travel protes ketika diberikan Rp300ribu. Padahal, di bandara, mereka sudah membayar sejumlah uang untuk jasa travel.

Coba bayangkan, banyak di antara Buruh Migran yang datang, mengalami masalah. Contohnya Buruh Migran yang akan kami jemput berasal dari Suriah, sebuah Negara yang sedang berperang sehingga membahayakan kemanan bahkan nyawanya. Sudah berada di dalam bahaya di Negri orang, sampai Indonesia pun masih mengalami pemerasan dan ancaman, oleh bangsanya sendiri.

Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba dua orang pria menghampiri. Mereka menanyakan apakah kami penjemput Buruh Migran? Ketika kami iyakan, mereka pun mengusir kami, dan meminta kami menunggu di tempat mobil kami diparkir. Ketika menanyakan kenapa, mereka hanya mengatakan itulah aturannya. Kemudian mereka mengatakan, takut tertukar antara penjemput dan Buruh Migran.

Akhirnya kami mengalah. Namun kami tetap menunggu di area Rumah Makan tersebut. Kami mendengar informasi dari orang sekitar, bahwa memang rumah makan tersebut khusus untuk TKI dan sopir yang mengantar. Biasanya di sinilah transaksi jemput menjemput TKI dilakukan, yang juga diikuti dengan transaksi uang. Penjemput biasanya harus membayar minimal Rp200ribu.

Tak hanya itu kami juga mendengar bahwa tempat tersebut memang ‘dijaga’ oleh preman. Seorang aktivis Buruh Migran sempat melakukan ivestigasi. Hasilnya, dia dikejar-kejar, karena mengambil beberapa gambar dengan kameranya. Selanjutnya, kameranya direbut lalu dihancurkan. Berbagai media lokal pun kabarnya sempat memberitakan rumah makan tersebut . Namun tidak pernah ada tindakan lebih lanjut.

Sekitar pukul 17.48, sebuah mobil travel kembali masuk ke halaman Rumah Makan ‘Murah Rejeki.’ Keluarga Rina pun segera bergerombol, bersama beberapa orang lainnya untuk menyambut para Buruh Migran yang akan diturunkan. Ternyata Rina adalah salah satu Buruh Migran yang keluar dari mobil tersebut. Tangisan haru langsung mewarnai pertemuan Rina dengan keluarganya. Terutama dengan putrinya yang sekarang sudah berusia 4,5 tahun. Rina memeluk Putrinya, seakan tak mau melepasnya lagi.

Setelah keluarganya bergantian memeluk Rina, mereka pun memperkenalkan kawan-kawan dari Solidaritas Perempuan (SP) dan Solidaritas Buruh Migran Karawang (SBMK). Tak lama, orang yang sebelumnya mengusirku dan kawanku, kembali datang, dan kembali mengusir kami. Rina lansung disuruh masuk, dan kami diminta menunggu di lapangan parkir. Kami pun berdebat dengan orang tersebut, dan beberapa kawannya yang datang kemudian. Mereka berdalih bahwa berdasarkan peraturan, Buruh Migran tidak boleh dijemput di tempat tersebut. Karena itu, ‘transaksi ‘ akan dilakukan di lapangan tempat mobil parkir. Mereka juga sempat menyebut-nyebut pengawas. Memang ketika mobil travel itu datang, kami sempat melihat ada Polisi Militer yang datang, kemudian pergi lagi.

Tentu saja, kami tidak bisa menerima keterangan tersebut. Aneh, kami hanya ingin menjemput Rina, dan membawanya pulang bersama keluarganya. Apalagi keluarga yang datang juga termasuk Ibu kandung Rina. Kami juga mendengar, di dalam Rina menolak untuk makan. Dia bilang ingin pulang bersama kami. Tapi orang-orang itu melarangnya.

Masih kesal, kami tetap ada di depan rumah makan. Orang-orang yang mengusir kami sempat pergi, lalu kembali bersama sopir travel. Tiba-tiba sopir tersebut berbicara dengan suara keras dan intonasi tinggi kepada kami. Dia keberatan karena kami bilang mereka mempersulit kepulangan Rina. Lagi-lagi dia marah atas nama aturan dan pengawas. Dia pun mengancam kami tidak boleh menjemput Rina, dan Rina akan diantarkan ke rumahnya langsung. Kami berdebat (menjurus ke cekcok) cukup panjang., sampai akhirnya si sopir kembali ke dalam.

Tak lama, Ibu Rina dipanggil ke dalam, katanya untuk tanda tangan. Foto copy KTP nya pun diminta. Dengan mempertimbangkan kondisi keluarga yang sudah lelah, takut, dan berpikir yang penting Rina bisa cepat pulang. Saya dan kawan saya pun memutuskan untuk tidak memperpanjang urusan lagi. Urusan selanjutnya kami serahkan ke pihak keluarga. Kemudian kami ketahui bahwa pihak keluarga dimintai bayaran sejumlah Rp 300 ribu. Namun karena hanya mengantongi Rp50 ribu, maka hanya sejumlah itulah uang yang diserahkan. Pihak keluarga ternyata tidak dimintai tanda tangan.

Rupanya, pemerasan terhadap Buruh Migran tidak hanya berlangsung di terminal khusus TKI di bandara (terminal 4). Pemerasan itu terus mengikuti Buruh Migran di jalur-jalur pemulangan, hingga mereka sampai ke dalam rumah. Namun mau sampai kapan kondisi ini terus dibiarkan dan ditolerir? Lokasi rumah makan Murah Rejeki berhadapan persis dengan Dinas Kesehatan, yang di sebelahnya juga berdiri kantor kecamatan. Artinya, rumah makan ini sangat dekat dengan aparat pemerintah setempat. Pertanyaannya, kenapa Premanisme dan pemerasan buruh Migran di tempat yang sangat terjangkau pemerintah setempat itu dibiarkan terus terjadi? Atau jangan-jangan pemerintah setempat justru menjadi bagian dari ‘mafia TKI?’

‘Aturan’ yang Justru Mempersulit

Ketika berdebat dengan sopir maupun orang-orang di rumah makan, mereka terus menerus menyatakan bahwa aturannya demikian, tidak boleh menjemput di tengah jalan (meski mereka memfasilitasi penjemputan di lapangan parkir setelah pendataan dilakukan di rumah makan). Kami sempat bertanya, aturannya siapa? Aturannya BNP2TKI? Kamipun sempat menyatakan, besok kami akan tanya ke BNP2TKI, apakah memang aturannya demikian?

Kami merasa, ’aturan’ tersebut justru mepersulit. Karena kami sendiripun meragukan keamanan Buruh Migran di mobil travel. Bukankah lebih aman dan baik ketika Buruh Migran (dengan kemauannya sendiri tentunya), pulang bersama keluarganya? Apalagi berdasarkan keterangan yang kami dapat, buruh migran seringkali dimintai uang di tengah jalan, dan diancam akan diturunkan apabila tidak memberikan uang.

Tak hanya itu, saat ini kita sudah memiliki Permenakertrans no 16 tahun 2012 mengenai Tata Cara Kepulangan TKI dari Negara Penempatan Secara Mandiri ke Daerah Asal, yang memungkinkan buruh migran yang pulang tidak harus melalui terminal khusus yang eksploitatif. Sehingga berbagai aturan dan kebijakan seharusnya memiliki paradigma yang sama, yaitu menjamin hak Buruh Migran dalam menentukan pilihannya dalam proses kepulangan.

Rumah Makan Murah Rejeki di kawasan Cikampek, biasa menjadi tempat penjemputan TKI

Rumah Makan Murah Rejeki di kawasan Cikampek, biasa menjadi tempat penjemputan TKI

IMG-20130102-00408

Plang Rumah Makan Murah Rejeki

mobil travel yang mengantarkan Rina (bukan nama sebenarnya)

mobil travel yang mengantarkan Rina (bukan nama sebenarnya)

Letak rumah makan berdekatan dengan kantor Kecamatan

Letak rumah makan berdekatan dengan kantor Kecamatan

5 responses to “Mafia TKI

  1. Wow, amat memilukan yg terjadi pd buruh migran Rina (nama samaran)
    Para Petugas, Sopir Travelnya dan Pengawas benar2 biadab, walau berbagai dalih tetap para biadab memperkosa kemerdekaan, menjadikan hati orang lain tdk nyaman.
    Mari kita lawan kebiadaban mereka, meraka penjajah sudah sepatutnya mereka para biadab tdk hidup dinegara merdeka ini.
    Salam tuk para budiman.

    • yup, dan ini tidak hanya terjadi pada RIna. tapi kondisi terebut sudah berlangsung sejak lama. terminal khusus yang dibuat dengan alasan perlindungan TKI justru menjadi tempat pemerasan TKI besar-besaran yang melibatkan banyak pihak.

      Karena itulah penting untuk kita terus mendesak perbaikan sistem perlindungan bagi Buruh MIgran, dan penting buat kita semua, semua pihak untuk terus membuka mata, dan mencoba melihat sekeliling kita apabila terjadi eksploitas atau pelanggaran hak TKI yang terjadi.

      TKI adalah bagian dari bangsa indonesia, dengan jumlahnya yang besar mereka memberikan kontribusi yang besar pula bagi pembangunan Indonesia. kita wajib berperan untuk mereka🙂

    • Kalau memang bisa dikontak TKInya, janjian aja dijemput Mas, Sampaikan informasi ke TKInya bahwa saat ini sudah ada Permenakertrans yang mengatur bahwa TKI bisa melalui jalur kepulangan secara mandiri. Jadi ga harus lewat terminal Selapajang, dan juga ga harus naik travelnya BNP2TKI. Apabila mereka tetap memaksa, atau ada tindakan laiinya, catat nama petugas dan kita laporkan. Bisa minta organisasi-organisasi yang menyediakan layanan TKI juga untuk pendampingan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s