What If

Seperti yang sering aku katakan, aku adalah seorang pemimpi. Impianku banyak, dan teramat indah. Hingga aku takkan pernah rela melepaskan mimpi-mimpiku begitu saja, tak pernah rela apabila mereka terlewatkan, tidak tercapai, tanpa upaya.

Tapi tiba-tiba aku berpikir,
Bagaimana jika Tuhan menakdirkan langkahku tak sampai pada mimpi-mimpi itu?
Bagaimana jika aku meninggal dalam waktu dekat?
Bagaimana jika tangan, kaki, mata, tubuh ini tiba-tiba tak dapat berfungsi?
Dan bagaimana jika akalku lenyap entah kemana?

Atau bagaimana jika aku ditakdirkan untuk tidak berpasangan,
Hingga tak bisa memiliki buah hati?

Lalu aku menatap Arsa, bayi kecil yang tengah tertidur di pelukanku. Sekejap kukecup pipinya yang ‘penuh’. Tangannya mencengkeram kain blouse ku, seakan tak mau terpisah dari pelukanku.

Tuhan telah begitu baik mempertemukanku dengan Arsa, si kembar Dylan-Derryl, Muthia, Raditya, Tristan, dan Kirana.

Dan selama lebih dari 25 tahun sudah, aku menghirup udara, merasakan detak jantung, yang menandakan aku hidup.

Lebih dari 25 tahun aku memiliki tubuh yang ‘sempurna.’ Tak indah memang. Tapi kaki ini, tangan ini, mata ini, telah berbuat sedemikian rupa, meraih berbagai keindahan.

Lebih dari 25 tahun juga kugunakan akalku. Untuk berpikir, untuk bernalar, & memerintahkan tubuhku bertindak. Hingga tahap demi tahap kukerjakan hingga mencapai keberhasilan.

Maka tugasku sekarang hanyalah berbuat. Berbuat dengan segala yang diititipkan-Nya padaku. Berbuat sampai waktu yang ditetapkan-Nya untukku..

Bekasi, 29 Desember 2012, 22.56

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s