Berdaulat seperti Amba

amba

Baru semalam aku menghabiskan buku berjudul Amba. Sebuah buku berlatar sejarah Buru, dan sekitarnya karya Laksmi Pamuntjak. Biasanya untuk buku setebal hampir 500 halaman itu, aku hanya membutuhkan waktu semalaman. Namun untuk Amba, aku cukup bersabar, membaca kata per kata, menikmati setiap kisah menawan, melompat dari serat centhini, ke berthold brecht. Hingga total tiga hari aku membaca buku ini. meski memang aku tidak membaca terus menerus, melainkan diselingi oleh berbagai kegiatan, dari mulai kondangan sampai mengejar deadline laporan tahunan.

Aku ingin membahas mengenai Amba, meskipun bukan seperti resensi yang akan banyak membahas mengenai isi buku, kelayakan cerita, dan lain-lain. Secara umum, aku pribadi menikmati buku ini. meski memang ceritanya sendiri tidak terlalu istimewa, dan endingnya datar. Namun buku ini mengupas berbagai latar belakang secara detil. Buku ini tidak hanya menceritakan tentang Amba, yang bertunangan dengan Salwa, kemudian berhubungan seks dengan Bhisma, dan akhirnya lari bersama Adalhard. tapi jauh sebelum iu. Bagaimana karakter Amba dibentuk, bagaimana kisah sebuah serat centhini sudah mengukir takdir Amba sejak nama itu dilekatkan kepadanya. Bahkan jauh sebelum itu, buku ini bercerita bagaimana latar belakang Ibu dan Bapak Amba.

Buku ini juga bercerita tentang Bhisma jauh sebelum ia menjadi dokter. Bagaimana si bungsu terbentuk dengan kesehariannya sejak kecil, ketika dia memilih merantau, dan bagaimana akhirnya dia memutuskan untuk mengambil kuliah kedokteran di Leipzig, mengenal Berthold Brecht, dan  Rosa Luxemburg. Buku ini seakan ingin menunjukan, bahwa kadang kala kita hanya melihat segala sesuatu di ujung, atau mungkin di permukaan. Padahal, segala hal datang dengan alasan. Dengan sebab muasabab. Maka kisah Amba Bhisma bukan berawal ketika mereka bertemu di dekat pohon di suah RS Kediri. Tetapi jauh sebelum itu, ketika karakter Amba terbentuk, begitupun Bhisma.

Well, sepertinya pembahasanku sudah meracau kemana-mana. Padahal yang ingin kuraikan di tulisan ini adalah bahwa aku jatuh pada sosok Aba. aku belum pernah membaca serat Centhini, ataupun Mahabarata. Maka Amba yang kukenal melalui buku Amba, adalah Amba yang pertama kukenal.

Amba memperlihatkanku tentang makna berdaulat. Tentang betapa ingingnya seorang perempuan memiliki kedaulatannya sendiri, memiliki otoritas untuk membuat keputusan, menjalankan keputusannya, termasuk segala risikonya. Amba tidak hanya mempercayai ‘keberdayaan’ perempuan tersebut sejak ia kecil. Tapi Amba benar-benar membuktikannya dalam langkah-langkah hidupnya. Bagaimana dia yang lahir di sebuah desa kecil, dengan ayah kepala sekolah, dan Ibu rumah tangga yang mencari hasil tambahan dengan berjualan kue. Tapi Amba punya mimpi. Dia ingin meneruskan pendidikannya sampai ke jenjang kuliah. Maka ketika di usianya yang 19 dia dianggap perawan tua oleh lingkungan, dia memantapkan langkahnya masuk Fakultas Sastra UGM.

Satu hal yang kupelajari sejak dulu, terutama melalui pengalaman, bahwa ketika kita (setidaknya saya), mengambil keputusan sendiri, maka keputusan tersebut lebih mudah untuk dijalani, juga konsekuensi-konsekuensinya, pun konsekuensi itu mengandung hal yang membuat tidak nyaman. Tapi begitulah. Bagiku berdaulat menjadi begitu penting. Bagaimana aku memilih mauku, sikapku, langkahku. Bagaimana aku menentukan apa yang aku lakukan, bagaimana aku mengambil keputusan, dan menjalani keputusan itu beserta segala konsekuensinya.

 

Maka ketika Amba  memilih untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan kehidupan kecilnya dan keluarganya di Kadipura, meninggalkan Salwa, tunangannya yang begitu mencintai dan mempercayainya, juga meninggalkan Bhisma yang telah menanamkan benih di rahimnya. Itulah keputusan Amba, suka tidak suka, manis atau pahit, Amba menjalaninya. Menjalaninya sampai akhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s