The Globalization Tapes: Kelapa Sawit dan Pemotongan Subsidi Pangan

Apa hubungannya ‘World Bank’ dengan Pemiskinan?

Pada sebuah pemutaran The Act of Killing, satu jam sebelumnya, panitia memutar film lain yang juga ‘dibuat’ oleh Joshua Oppenheimer, bertajuk The Globalization Tapes. Buat gw, film ini seperti: ini dia ni yang bisa ngejelasin ke orang-orang bagaimana World Bank, dan kawan-kawan itu memiskinkan masyarakat.

Film TGT ini sendiri ada dan bisa diunggah di Youtube. Dia dibagi menjadi delapan bagian. Sayangnya, saya baru menonton sampai bagian kelima, dan belum sampai bagian akhir. Meski demikian, saya tertarik untuk menuliskan ulasannya di sini, karena saya menemukan banyak pernyataan menarik, dan buat saya menjadi kunci dalam memahami tentang globalisasi itu sendiri.

Film yang dibuat oleh Buruh Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera Utara ini diawali pemahaman mengenai globalisasi. Mereka menggambarkan bagaimana Negara kolonial menjadikan bangsa kita budak, dengan cara penjajahan. Namun rupanya penjajahan ini tidak berhenti setelah tahun 45. Juga tidak berhenti pada saat agresi militer pertama dan kedua dilancarkan di bumi Indonesia. penjajahan ini bahkan terus berlanjut hingga sekarang, atas nama GLOBALISASI.

Dalam satu sekmen, film ini mempertanyakan ungkapan yang selama ini menyatakan bahwa globalisasi merupakan suatu kodrat  yang tidak bisa dihindari. Nyatanya, mereka meyakini bahwa globalisasi merupakan sistem yang mereka (pemodal) ciptakan untuk kepentingan mereka. Dan sebenarnya globalisasi bisa dihindari dan ditiadakan.

Para buruh kelapa sawit ini tidak hendak berbicara jauh dari kehidupan mereka. Mereka mengungkapkan skema ekonomi global, justru melalui pengalaman mereka sehari-hari. Mereka menyebut industri kelapa sawit sebagai ledakan industri dengan rencana perluasan secara cepat. Perusahaan atau pemodal dalam industri ini kebanyakan mendapat dana pinjaman dari bank-bank besar seperti Citibank, HSBC, dan juga Bank Dunia.

Setidaknya ada tiga akibat yang mereka identifikasikan dari perluasan lahan besar-besaran dalam industri kelapa sawit tersebut:

1. Terjadinya pengambilalihan tanah secara paksa yang mengakibatkan penduduk kehilangan tanahnya

2. Penghancuran Hutan dimana-mana

3. Gaji Buruh di Indonesia paling rendah dibandingkan Negara penghasil kelapa sawit lainnya

Sebagai salah satu gambaran, seorang buruh yang sudah bekerja di perusahaan kelapa sawit selama dua puluh tahun. Setiap harinya, dia mengangkut 1 ton kelapa sawit, dan hanya dibayar sebesar Rp12 ribu (film ini dibuat pada tahun 2001). Pihak perusahaan tidak menyediakan alat untuk mempermudah pengangkutan. Anaknya yang ikut membantu bekerja tidak digaji sama sekali, dan tidak mendapatkan jaminan kesehatan dan keselamatan kerja.

Selain itu, seorang buruh perempuan mengeluhkan suatu zat kimia bernama gromoxone. Setiap harinya, dia bersama teman-temannya harus menyemprotkan zat tersebut ke tanaman di perkebunan, yang mengakibatkan mata mereka pedih, bau, rambut rontok, dan pantat gatal-gatal. Sebagai kompensasi dari risiko kerja yang mereka alami karena bergaul dengan gromoxone, mereka hanya diberikan susu tiga bulan sekali, yang katanya untuk membuang racun.

Sementara itu, Pengusaha diuntungkan dengan bahan baku murah, buruh murah, tidak adanya aturan mengenai lingkungan, serta akses yang luar terhadap pasar loakal. Selain itu, pembayaran utang dengan bunga menyebabkan upah rendah, pemotongan subsidi pangan, dan biaya pangan yang melonjak naik. Pinjaman uang ke IMF dan Bank Dunia, harus dibayarkan dengan mengorbankan buruh dan lingkungan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Amerika Latin, Arfika, dan Negara Asia tenggara lainnya. Karena itulah, untuk mengimbangi pemodal yang multinasional, maka serikat buruh juga harus multinasonal.

Menariknya, mereka juga mencoba mensimulasikan kepada penduduk sekiar, bagaimana Worls Bank dan IMF bekerja. Seorang agen mendatangi penduduk yang memiliki warteg, dll, dan menawarkan pinjaman. Untuk membayar pinjaman mereka, sang agen menawarkan berbagai cara memperluas usaha mereka, dari mulai menggususr penduduk, membayar buruh dengan upah murah, dan lain-lain.

Kritik terhadap pembangunan dengan menggunakan pinjaman luar negeri, dikemukakan dalam bentuk pertanyaan mengenai pinjaman itu sendiri. Pasalnya bank-bank itu meminjamkan uang untuk memperbesar perusahaan yang sudah besar, sehingga membunuh usaha lokal yang kecil. Dengan pinjaman-pinjaman itu pulalah orang kaya dapat membeli tanah yang tadinya dimiliki orang miskin, sehingga tanah yang tadinya ditanami dengan beras dan tanaman bangan lainnya, diganti menjadi sawit.

65 dan Pembungkaman Gerakan Buruh

Sebagai film yang dibuat oleh pekerja untuk pekerja, TGT juga menyoroti tentang mati surinya gerakan buruh pasca terjadinya pembantaian 65. Mereka meyakini pengusiran Soekarno terhadap Bank Dunia, dan IMF, serta nasionalisasi perusahaan asing lah yang mendorong terjadinya kudeta tahun 65. Menurut mereka, negara-negara maju dan pemilik modal memiliki kepentingan, bagaimana mereka bisa berusaha leluasa tanpa tantangan dan kendala di Indonesia. karena itu mereka membutuhkan pemimpin yang mendukung ‘pengusaha.’ Pada masa itulah banyak orang yang dibunuh hanya karena bergabung di serikat Buruh Independen. Padahal mereka bergabung di serikat buruh untuk melawan penindasan.  “Perjuangan PKI yang sebenarnya itu, belum ada saksi mata yang berani menyatakan perjuangannya.”

Di bawah ini, saya menyadur sebuah analogi yang dituliskan di dalam TGT:

Once upon a time

Colonial Provided

Cheap Raw materials

For Foreign Masters

Later The old masters

Still wanted

Cheap raw materials

They said, grow palm oil

And you’ll be rich like us

In no time at all

We’ll lend you the money

To rip up your rice fields

And grow

Palm oil

Coffee

Rubber

Chocolate

(everything master needs)

Okay okay

We’ll grow pam oil

And ship it to you

But they said the same

To all the former colonies

So we all plant

Palm oil

Coffee

Rubber

Chocolate

Too much of everything!

Overproduction!

Price crash

The prices are so low

How can we survive?

We can’t afford imported

Food

Machinery

Medicine

We all borrow more money

We all plant more

Palm oil

Coffee

Rubber

Chocolate

To keep up with

Interest payments

Price crash!

How can we manage?

We all borrow money

We all plant more

To pay the bank interest

Price Crash!

Borrow…

(pay the bank interest)

Plant…

(pay the bank interest)

Crash!

(pay the bank interest)

Borrow

(pay the bank interest)

Plant

(pay the bank interest)

Crash

(cut basic food subsidies)

Borrow

(cut health and education

Plant

(pay the bank interest)

Crash

(privatize the national bank)

Borrow

(privatize everything)

Plant

(don’t forget to pay the bank interest)

CRASH!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s