Sindrom Seperempat Abad

Setelah tertunda lebih dari seminggu, akhirnya kesampaian juga mengabadikan momen menjelang 25 tahunku ini melalui tulisan. Jadi, sebulan yang lalu sempat kepikiran juga soal hidup. Soal lifeplan, capaian, dan yang terutama langkah-langkah ke depan. Karena itu, aku merencanakan ‘perayaan’ ulang tahunku yang jatuh pada tanggal 22 November dengan cara yang istimewa. Aku ingin melewati malam pergantian usiaku sendirian, di luar rumah, di bawah bintang. Supaya aku bisa berdiskusi dengan diriku sendiri, bertanya apa maunya, bagaimana mewujudkan si mau, dan komitmen-komitmen apa yang perlu dilakukan atau diperbarui. Akhirnya, rencana memang tak sepenuhnya menjadi kenyataan. Beginilah perayaan seperempat abadku dilakukan:

Pengantar

21 November setelah lewat tengah hari

Pukul 13.30 aku melangkahkan kaki ke luar rumah. Rencananya hari itu akan memoderatori launching sebuah buku bertajuk Hari-hari Salamander yang ditulis oleh sepuluh orang perempuan dan diterbitkan secara independen. Namun sebelumnya aku terpaksa mampir ke mall di dekat rumah, karena keypad BBku ngambek, huruf a nya tidak mau keluar. Seraya menunggu BBku dibongkar, aku pun iseng-iseng menato sementara punggung tangan kiriku. Setelah memilih beberapa gambar, aku sempat mempertimbangkan gambar tinker bell, tapi akhirnya aku memilih kalajengking, yang menjadi lambang zodiakku. Tato kalajengking, kuanggap itu kado pertama untuk diriku, meski terlalu awal.

tato

Selesai dengan tato, aku mampir ke Toko Buku. Sayangnya waktuku sempit. Aku hanya hendak membeli sebuah buku tulis untuk kugunakan malam nanti. Saat itu dalam hati, aku masih berharap akan menjalankan rencanaku untuk merayakan ulang tahunku yang ke 25. Terpaksa aku menahan diriku dari buku-buku yang terpajang menggiurkan.

buku coklat

Kedai Tjikini, 15.50

Sampai di Kedai Tjikini bertemu dengan beberapa aktivis perempuan, dan berdiskusi dengan mereka sebelum acara launching dimulai. Sayangnya acara baru dimulai sekitar pukul 17.30 (jadwalnya 17.00) lantaran narasumber terhalang oleh kondisi jalan yang macet. Namun launching dan diskusi berlangsung sangat seru. Hari-hari Salamander menunjukan betapa kisah perempuan, seringkali sederhana, atau kadang kala sangat detil dan rumit. Namun pengalaman perempuan sangatlah kaya, dan mendokumentasikannya ke dalam buku bisa jadi cara yang efektif untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

Bersama penulis, tim penerbit, dan narasumber Hari-Hari Salamander

Bersama penulis, tim penerbit, dan narasumber Hari-Hari Salamander

Usai acara, aku masih terlibat diskusi dengan beberapa orang kawan. Temanya macam-macam, dari aborsi sampai Pekerja Rumah Tangga. Puas berdiskusi, kemudian seorang kawan yang membawa kendaraan menanyakan tujuanku selanjutnya, seraya menawarkan tumpangan Akupun teringat, aku belum memutuskan akan kemana. Bimbang, sore hari hujan turun dengan deras. Tak ada bintang di langit. Tempat yang tadinya hendak kutuju pun pasti basah kuyup. Namun di sisi lain, rasanya sayang menggagalkan rencanaku.

Tanpa pikir panjang, akhirnya aku meminta temanku mengantarkanku ke sebuah tempat. Bukan tempat yang kurencakan sebelumnya, tapi aku harap tetap tak mengurangi ‘perayaan’ seperempat abadku.

Menjelang Seperempat Abad

Diringkas dari catatan di buku coklat baruku

20.10

Aku mulai membuka buku baruku. Di sebuah warung, memesan minuman hangat. HPku sudah kumatikan, agar aku benar-benar sendirian, tidak ada yang menganggu, baik di dunia nyata, ataupun di dunia maya. Aku pun menulis apa saja yang bisa kutulis, toh hal tersulit adalah memulai. Namun begitu sudah dimulai, jariku seakan tak mau berhenti bergerak mengisi buku baruku. Sayang, aku mendapatkan kabar buruk. Tempat itu akan segera tutup artinya, aku harus mencari tempat lainnya, segera.

20.33

Akhirnya aku mendapat tempat yang cukup terang, dekat bioskop, dan lumayan berisik sebenarnya. Karena tidak jauh dari tempatku duduk, ada dua sanggar berbeda yang sedang latihan. Keramaian itu justru bagus karena aku jadi merasa aman. Lagipula, kadang kesepian di tengah keramaian tu jauh lebih syahdu.

Well, melihat anak-anak ini menyanyi dan menari, kelihatan kalau mereka menikmati apa yang mereka lakukan. Coba dari kecil aku begitu. Mampu mengidentifikasikan diriku sendiri, mauku apa, apa yang aku suka, dan apa yang aku inginkan dalam hidup. Ah, tapi tidak ada kata terlambat kok, apalagi untuk mencapai kebahagiaan. Untuk itu juga kan aku ada di sini, buat ngobrol sama diri sendiri, dan untuk bisa benar-benar memahami harapan dan keinginan diri sendiri.

“Kita senasib sepenanggungan terhimpit dalam ……… zaman. Bergantung pada masa depan. Sebab di sana ada harapan”

(lirik lagu yang dinyanyikan sambil menari oleh anak-anak yang sedang berlatih)

21.00

Latihan menari dan menyanyi yang ada di dekat tempatku duduk sudah selesai. Mereka pun berangsur pulang. Mayoritas mereka dijemput oleh orang tua atau anggota keluarga yang lain. Aku menggeser duduku ke tempat yang lebih tersembunyi. Namun tetap cukup terang untuk menulis, dan dalam jarak 100 meter masih terlihat orang lain. Aku harap kafe di depan bioskop ini buka 24 jam, sehingga aku bisa tetap ‘aman’ di sini.

Tanganku terus menggoreskan pulpen ke kertas. Mulai menyusun impian-impian yang aku simpan. Ada yang aku coret, ada yang tetap kuputuskan untuk menjadi impian. Tahun-tahun mulai mengisi masing-masing impian. Beberapa target sudah ditetapkan.

21. 33

Ternyata kafe 21 itu tidak buka 24 jam. Petugasnya mulai merapihkan beberapa kursi, suasanapun mulai sepi. Mungkin paling lambat pk 22.00 aku sudah harus hengkang. Namun tampaknya resolusiku pun tak lama lagi akan rampung. Maka aku terus menulis dan menulis.

Setelah lima belas halaman yang terdiri dari brainstorming dan RTL (Rencana Tindak Lanjut), akhirnya aku selesai. Termasuk di dalamnya komitmen-komitmen jangka pendek, terkait keuangan, pola hidup, target membaca, menulis, dan lain-lain. Aku selesai, semua sudah diputuskan.  Aku memutuskan meninggalkan tempatku menumpahkan segala pemikiran dan berdiskusi dengan diriku sendiri. Namun waktu masih jauh dari pergantian umurku. Kuputuskan untuk berjalan, kemanapun, sesuai kaki ini berkehendak.

Taman Ismail Marzuki, 21 November 2012, 22.10 WIB

—II—

Kakiku sudah terasa pegal, bahkan merasa hampir kram. Entah sudah berapa lama waktu kulalui seraya berjalan kaki. Namun aku tetap melangkah, dengan tekad melewatkan pergantian usia sendirian, di luar rumah. Sejak kapan momen pertambahan umur menjadi sesentimentil ini? entahlah.

22.48

Entah kenapa, kakiku berbelok ke tempat ini. setelah berjalankaki dari TIM hampir 40 menit aku memutuskan untuk singgah. Tempat di mana orang-orang tidur bergelimpangan. Hanya beralas tikar, berselimut kain sarung, beralaskan seperi kanopi berbahan triplex yang setengah terbuka. Pembicaraan di sini seputar angka. Angka puluhan ribu rupiah yang keluar setiap hari, yang tak cukup untuk mendapatkan tempat singgah yang layak sekedar untuk beristirahat. Sehingga di sinilah mereka, berusaha tidur di tengah udara dingin dan nasib yang tidak menentu.

22 November  2012, 00.00 WIB

Selamat ulang tahun Nisaa. Akhirnya sampai ke usia 25. Aku melewatkan seperempat abadku seraya membaca sebuah buku, diiringi berbagai cerita yang kebanyakan sendu. Aku menyongsong seperempat abadku bersama cerita seorang ibu yang kerabatnya mengalami kecelakaan. Sang kerabat tidak memiliki jaminan sosial, dengan gaji tidak mencapai UMR sebagai satpam di sebuah yayasan. Sesekali aku mendengar Ibu dan Bapak lainnya, mengabarkan pada kawan di sebelahnya bahwa kerabat mereka belum mendapatkan kamar. Penuh kerap menjadi alasan.

Akupun memutuskan untuk beranjak pulang. Setelah ‘merayakan’ ulang tahunku sendirian, rencananya pukul 10.00 aku akan ‘merayakan’ ulang tahunku bersama puluhan ribu buruh. Maka aku harus beristirahat, agar kondisi kesehatanku pun optimal. Namun sebelumnya aku mampir ke kamar kecil, yang letaknya agak jauh. Mengejutkan, karena ternyata ada lebih banyak lagi orang yang tidur bergelimpangan beralaskan tikar. Di sepanjang lorong yang kulewati, selalu penuh dengan perempuan/laki-laki, tua/muda yang mengisi lantai. Sebagian menggunakan tikar, namun tak sedikit yang menggunakan koran. Ah, Indonesiaku jika pendidikan, rumah, dan kesehatan menjadi begitu sulit untuk diakses, maka apa fungsimu wahai negaraku?

RSCM, 22 November 2012, 00.46

Catatan Tambahan: ulang tahunku kali ini juga menjadi sangat istimewa, itulah pertama kalinya aku berorasi di hadapan ribuan buruh, merasakan semangat dan solidaritas mereka. Merasakan gema dasyat ketika suara mereka mengikuti ucapanku

Hidup Buruh

Hidup Buruh Migran

Hidup Pekerja Rumah Tangga

Hidup Perempuan

merayakan ulang tahun dengan ribuan buruh

merayakan ulang tahun dengan ribuan buruh

 

One response to “Sindrom Seperempat Abad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s