Si Miskin Susah Sekolah: Melihat Rezim UU Pendidikan Tinggi melalui Teater

“Maklumlah pak, kami sudah tidak mendapatkan subsidi, karena lembaga harus mencari uangnya sendiri. PTN jadi serasa BUMN.” (Si Miskin Susah Sekolah)

Si Miskin Susah Sekolah

Tajuk di atas merupakan pementasan Teater yang dimainkan oleh Tjelah Teater di Taman Ismail Marzuki 27-28 November 2012. Secara ajaib saya ditawarkan tiket gratisnya, pada tanggal 27 November, dan memutuskan untuk menonton pada hari itu juga. Bagi saya, menonton teater ini seperti menyaksikan realita pendidikan tinggi yang benar terjadi di Indonesia.

Sinopsis

Si Miskin Suka Sekolah (S3) menceritakan tentang sebuah keluarga pedagang kelontong di pasar belimbing. Anak semata mayang mereka, Marwan ingin sekali melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. sementara Priyo, ayah Marwan menganggap kuliah tidak penting. Dia merasa Marwan sudah yang paling pintar di Pasar Belimbing dengan pendidikannya yang lulus SMA. Namun berkat desakan Ana, Ibu Marwan, dan juga mendengar impian Marwan yang begitu berapi-api, akhirnya Priyo merestui Marwan kuliah.

Restu Priyo menjadi awal perjuangan dari keluarga kecilnya mewujudkan cita-cita untuk hidup yang lebih baik. Dalam kesempatan pertama Marwan gagal ujian. Orang tuanya lantas  memasukan Marwan ke sebuah bimbingan belajar yang ternama, yang memberikan garansi uang kembali apabila muridnya gagal ujian. Akhirnya, di kesempatan keduanya, Marwan mendapatkan hasil B, yang artinya baik, dan lebih bagus dari sekedar L (lulus).

Meski dinyatakan B, belum menjamin Marwan bisa masuk ke kampus tersebut. Atas inisiatif Ana, Priyo mendatangi Kepala adminsitrasi Universitas untuk memberikan ‘uang pelicin.’ Sang kepala administrasi secara tegas menyatakan bahwa Universitas mereka bersih dari KKN. Bahwa staf-staf yang ada adalah staf terpilih. Lucunya, setelah menyatakan demikian, dia menyodorkan sejumlah dokumen mengenai syarat pembayaran, dari mulai uang pangkal, uang semesteran, uang buku, hingga uang jaket almamater. Tak hanya itu, dia bahkan memberikan dokumen untuk sumbangan, dengan tiga paket yang berbeda (merah, biru, dan hijau). Semua biaya itu harus dibayar melalui transfer.

Ketika Priyo menanyakan perihal besarnya biaya yang harus dibayar, sang kepala administrasi berucap, “Maklumlah pak, kami sudah tidak mendapatkan subsidi, karena lembaga harus mencari uangnya sendiri. PTN jadi serasa BUMN.”

Dengan keterbatasannya sebagai pedang kelontong, Priyo melunasi seluruh biaya, kecuali sumbangan. Sayangnya, pada hari yang seharusnya menjadi hari pertama Marwan menjadi mahasiswa, nama Marwan tidak terdaftar di Universitas tersebut. Marwan dan Priyo justru menghadapi penghinaan dari kepala Administrasi.

Ibu Marwan yang tidak kenal putus asa, lantas ingin membawa Marwan pergi ke kota mencari universitas-universitas lainnya. rencana tersebut tentunya ditentang oleh Priyo. Namun dengan semangat dan keyakinan untuk menggapai cita-cita, akan hidup yang lebih baik, Ana berusaha meyakinkan Priyo. Akhirnya, pergilah Marwan dan Ana ke Bandung untuk mencari kampus yang bisa menerima Marwan. Sementara Priyo tetap tinggal di rumah menjaga tokonya.

Selama enam bulan, belum ada kabar yang melegakan. Dalam salah satu smsnya, Marwan mengabari Priyo, “Keringanan biaya berat syaratnya, surat miskin, rekening listrik, rekening koran, foto rumah, mereka pikir asal orang punya rumah, terus langsung bisa kuliah.”

Menanggapi kabar Marwan, Priyo berkata, “Apakah tidak ironois, kalau batasan finansial sama dengan batasan cita-cita atau harapan?” Priyo menolak untuk percaya. Karena batasan itu buatan manusia, bukan buatan Tuhan.

Hingga akhirnya Ana, mengabarkan Priyo akan adanya sebuah Universitas yang berbeda, Universitas Terbuka. Biayanya lebih murah, dan hanya uang pangkal saja. Namun, tetap ada masalah. Mereka dihadapkan dengan masalah kuota. Kurang satu orang lagi, agar jurusan yang diinginkan Marwan bisa dibuka. Akhirnya, meski harus bekerja lebih keras, Priyo membiayai Sasa, teman Marwan ketika bimbel. Sasa  yang kebetulan sedang kuliah di Bandung, juga ingin mengambil kulaih di jurusan yang sama dengan Marwan. Meskipun sebelumnya ayah Sasa sempat tidak memberikan izin, dengan alasan “buat apa memasukan sasa ke sekolah kayak gitu, saya bisa memasukan sasa ke sekolah yang saya mau.”

Akhirnya, tiga minggu sudah Marwan dan Sasa kuliah. Namun hari itu, tiba-tiba keduanya pulang ke rumah Marwan pada tengah hari. Rupanya, seluruh mahasiswa sedang mogok kuliah. Mereka memprotes sistem kuota di Universitas, dan menuntut pendidikan yang bebas dan terbuka. Mereka meminta pemerataan pendidikan, kuota yang adil, mutu pendidikan ditingkatkan, kualitas pengajar harus ditingkatkan.

Melalui orasi, maupun dialog antara Marwan, Priyo, Ana, dan Sasa, mengalirlah kalimat-kalimat berikut.

“Pendidikan harus diberikan secara bebas dan terbuka. Tidak ada lagi kemiskinan, tidak ada lagi penindasan. Pendidikan yang bebas, yang mudah yang gratis. Fajar kemajuan telah menyingsing. Ini saatnya tidak ada lagi yang namanya sistem kuota, uang sumbangan wajib, pembatasan buku-buku, dan pembatasan ilmu pengetahuan, Pendidikan itu bebas. Semua orang tidak pantas mengemis untuk pendidikan, harus bebas dan gratis.

Kritik yang Relevan

Sebenarnya ada beberapa hal yang saya tidak terlalu paham. Seperti sistem kuota, ataupun kategori B yang katanya lebih bagus dari lulus, tetapi tetap harus ‘menyumbang’ bila ingin masuk ke universitas tersebut. Mungkin hal ini terkait dengan cerita aslinya sendiri. Sebagaimana yang saya baca di dalam booklet S3, S3 merupakan adaptasi dari naskah terjemahan Rendra tahun 70an yang berjudul SLA (Sekolah Lanjutan Atas).

SLA disadur oleh Arnold Pearl dari cerita pendek Sholom Aleichem. Terjemahan Rendra sendiri berkisah tentang diskriminasi terhadap anak-anak dari kelompok sosial Yahudi dalam pendidikan Rusia pada tahun 1547-1917.di zaman tsar tersebut, sekolah-sekolah menerapkan sistem kuota untuk mencegah masuknya anak-anak dari keluarga Yahudi.

Meski diambil dari naskah terjemahan, film ini sarat kritik yang relevan terhadap pendidikan kita, khususnya pendidikan Tinggi. betapa pendidikan tinggi menjadi barang mahal yang tidak bisa dijangkau oleh sebagian masyarakat. lucunya, banyak dalih yang menyatakan bahwa pendidikan tinggi bukan kewajiban pemerintah. Mungkin kita menutup mata bahwa nyatanya, di Negara ini, lulusan SMA/sederajat sangat sulit mendapatkan pekerjaan. S3 secara gamblang menyatakan bahwa kuliah mejadi hal yang penting di negeri ini. kuliah diperlukan untuk meraih cita-cita, untuk mendapat pengakuan di masyarakat, untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Serasa BUMN

Well, sebagai alumni UI, saya merasa sangat familiar dengan kondisi Universitas yang digambarkan dalam teater ini. apalagi mereka menggambarkan Universitas pertama sebagai Universitas dengan kualitas internasional, namun juga dengan sistem pembayaran yang ‘menipu.’ 12 tahun sudah UI menjadi BHMN dengan kenaikan biaya sangat signifikan. Maka pernyataan sang kepala adminsitrasi tentang Perguruan Tinggi serasa BUMN jelas adanya. Juga bahwa lembaga pendidikan harus mencari sendiri biayanya, itulah yang ebnar terjadi.

Apalagi, pasca diundangkannya UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Maka yang serasa BUMN bukan lagi tujuh Universitas yang saat ini berstatus BHMN. Namun secara bertahap, ke depannya, seluruh Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia akan berbentuk badan hukum atau badan layanan umum. Ke depannya, lembaga pendidikan harus mencari pendanaannya sendiri. Artinya, seluruh perguruan tinggi negeri akan serasa BUMN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s