Perempuan di Tengah Konflik

Bebrapa hari yang lalu, SP menyelenggarakan konferensi pers terkait 16 hari anti kekerasan tergadap perempuan. saya masih ingat proses diskusi untuk mempersiapkan acara tersebut, salah satunya adalah ketika menentukan tema. Saat itu, kami juga membicarakan serangan Israel terhadap palestina, dimana perempuan dan anak-anak banyak menjadi korban. diskusi kami pun terus mengalir betapa di berbagai konflik yang ada, perempuan kerap menjadi korban.

Para perempuan tidak hanya kehilangan suami atau ayahnya. Kadang mereka pun menjadi korban serangan, dan kehilangan nyawanya. Namun yang juga ironis adalah di dalam peperangan/konflik banyak perempuan yang diperkosa, atau dipaksa melayani nafsu para pria yang terlibat dalam konflik dan peperangan tersebut.

Kita sama-sama tahu bahwa Komisi Nasional Anti kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dibentuk pasca terjadinya kerusuhan Mei 98. Berbagai penelitian yang dilakukan telah membuktikan banyaknya perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa ketika itu. Sayangnya, banyak pihak yang menolak penelitian tersebut, dengan alasan selama ini korbannya ‘tidak kelihatan.’ Tampaknya banyak yang tidak memahami bahwa pemerkosaan pasti menimbulkan trauma kepada perempuan, dan sangat wajar apabila banyak perempuan korban perkosaan yang tidak mau muncul di publik.

Ketika menceritakan kejadian yang membuat trauma, tentunya akan membuat kita merasakan lagi sakit yang kita rasakan ketika mengalami kejadian tersebut. Artinya, ketika korban pemerkosaan menceritakan kasusnya, maka dia akan merasa seperti diperkosa lagi. Apalagi, perspektif publik soal seksualitas kerap menyalahkan perempuan. sehingga korban perkosaan, cenderung dihakimi dan dicari kesalahannya oleh masyarakat.

Contoh  lainnya adalah ketika saya menonton The Act of Killing, sebuah film documenter tentang Algojo 65. Ada satu adegan yang buat saya paling menjijikan. Ketika mereka mempraktikan peristiwa penyerbuan terhadap sebuah kampung, seorang tokoh Pemuda Pancasila menyatakan apabila ada perempuan muda, bisa diperkosa. Dia bahkan menyatakan dulu ‘mendapatkan’ korban usia belasan. Pernyataan itu diikuti dengan komentar-komentar yang jelas-jelas menempatkan perempuan sebagai objek seks.

Dalam  kasus 65, perempuan menjadi korban tidak hanya soal kekerasan fisik dan seksual. Putu Oka sempat mendokumentasikannya dalam sebuah buku bertajuk Istana Jiwa. Dalam buku tersebut dia menggambarkan bagaimana istri-istri kehilangan suaminya dan harus mengambil alih peran sebagai ‘breadwinner.’ Padahal, selama ini perempuan dilekatkan pada peran domestik, dan dibatasi akses ekonominya.  Dalam buku tersebut digambarkan bagaimana sebuah keluarga yang Ibunya menjadi tulang punggung keluarga harus bekerja keras agar bertahan hidup. Si Ibu juga berjuang untuk bertemu suaminya yang berada di penjara, membawa makanan, dan mencarinya lagi ketika sang suami dipindahkan ke rumah tahanan lain.

Ketika si suami akhirnya pulang, dia melihat sang istri telah berhasil melewati masa-masa sulit tanpa dia. Kerja keras sang istri untuk menghidup keluarga mereka, sementara dia kesulitan mendapatkan penghasilan, membuat dia frustasi. Akhirnya dia pergi dari rumah, dan menikah dengan perempuan lain.

Begitulah perempuan, dengan kerentanan dan kekerasan yang kompleks. Kalau mendengar kekerasan terhadap perempuan, kita hanya terbayang kekerasan fisik atau seksual saja, sesungguhnya kekerasan terhadap perempuan jauh lebih kompleks dan memiliki dimensi yang beragam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s